"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TELINGA YANG TAK BISA LAGI BERBOHONG
Dina meringkuk di atas kasur, mencoba memejamkan mata rapat-rapat, namun kegelapan justru membuat "suara-suara" itu berteriak lebih kencang di telinganya. Rasa perih di ulu hatinya kini bukan lagi sekadar mulas biasa; rasanya seperti disayat sembilu yang panas, menjalar hingga ke punggung dan membuat napasnya tersengal-sengal. Dengan sisa tenaga dan penglihatan yang mulai kabur karena air mata, ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal.
Jarinya bergetar hebat saat menyentuh layar, mencari nama Pak Asep, penjaga kosan yang sudah ia anggap seperti paman sendiri. Begitu sambungan terhubung, suara Dina terdengar parau dan penuh penderitaan.
"Pak... tolong, Pak... tolong sekali," bisik Dina tertahan, tangannya yang bebas meremas perutnya dengan kuat. "Perut saya sakit sekali, Pak... telinga saya... telinga saya berisik sekali. Saya nggak kuat..."
Di seberang telepon, suara Pak Asep yang tadinya terdengar mengantuk langsung berubah panik. "Neng Dina? Neng kenapa? Astagfirullah, tunggu Neng! Bapak ke atas sekarang! Jangan dikunci pintunya, Neng!"
Dina tidak lagi sanggup menjawab. Ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh ke atas lantai kayu dengan suara berdebam kecil. Dalam pandangannya yang mulai meredup, ia melihat bayangan Adrian berdiri di sudut kamar, menatapnya dengan raut wajah yang sangat hancur, seolah pria itu juga merasakan setiap inci rasa sakit yang sedang menyiksa Dina.
"Tolong... Mas..." rintih Dina sebelum kesadarannya perlahan-lahan menipis.
Kurang dari dua menit, suara derap langkah kaki Pak Asep terdengar terburu-buru di koridor kayu, diikuti suara kunci cadangan yang berputar kasar. Saat pintu terbuka, Pak Asep mendapati Dina sudah tergeletak lemas dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Tanpa pikir panjang, Pak Asep segera meraih ponselnya sendiri.
Ia tidak menelepon ambulans, karena ia tahu rumah sakit besar tempat Dokter Arga praktik hanya berjarak beberapa blok dari sana. Pak Asep teringat kartu nama yang sempat dititipkan seorang dokter muda yang tempo hari mengantar Dina pulang.
Pak Asep sempat ragu memegang ponselnya. "Ah, tapi ini nggak penting, di UGD pasti banyak dokter yang jaga," pikirnya cepat. Logikanya berjalan praktis—dalam kondisi darurat seperti ini, yang paling penting adalah membawa Dina secepat mungkin ke tempat medis terdekat, bukan menunggu satu dokter spesifik.
Dengan napas terengah-engah, Pak Asep membopong tubuh Dina yang terasa semakin ringan dan dingin. Kegaduhan di koridor kosan itu memancing keluar beberapa penghuni lain yang belum tidur. Salah satunya Warda, tetangga kamar Dina yang langsung berlari membukakan pintu pagar dan menyiapkan mobilnya di depan.
"Kenapa, Mang? Neng Dina pingsan?" tanya Warda panik sambil membukakan pintu kursi belakang mobil.
Pak Asep menyeka keringat di dahinya, dibantu seorang penghuni lain untuk mendudukkan Dina dengan posisi menyandar. Wajah Dina pucat pasi, matanya terpejam rapat, namun bibirnya sesekali meracau pelan, menyebut nama yang sama berulang kali.
"Sepertinya makin parah, Neng Warda. Penyakit fisiknya kumat, tapi psikisnya juga kena. Tadi dia bilang telinganya berisik sekali, katanya banyak suara-suara yang teriak," jawab Pak Asep dengan nada prihatin yang mendalam. "Badannya sampai gemetar hebat tadi di kamar."
Warda segera masuk ke kursi kemudi, tangannya gemetar saat memutar kunci kontak. "Astagfirullah, itu trauma yang kemarin ya, Mang? Ya sudah, kita langsung ke rumah sakit besar saja yang di depan. Di sana alatnya lengkap, siapa tahu dokter yang tadi siang pegang Neng Dina masih ada di sana."
Mobil itu melaju membelah sunyinya jalanan Bandung yang mulai berkabut. Di kursi belakang, Pak Asep terus memegangi pundak Dina, mencoba memberikan kehangatan. Sementara itu, Dina berada di ambang antara sadar dan tidak. Di telinganya, suara Adrian bukan lagi bisikan lembut, melainkan teriakan peringatan yang tumpang tindih dengan suara klakson jalanan.
"Jangan pergi, Mas... jangan berisik..." rintih Dina pelan, air matanya jatuh meski matanya terpejam.
Mobil Warda berhenti tepat di depan lobi UGD yang terang benderang. Perawat dengan sigap mendorong brankar, memindahkan tubuh Dina yang lemas ke atas kasur putih tersebut. Bau antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman, namun Dina tetap tidak membuka matanya, ia hanya meringkuk kesakitan sambil terus menutup telinganya dengan tangan yang gemetar.
Dokter jaga malam itu segera menghampiri Warda. Guratan kelelahan di wajah sang dokter tidak menutupi ketegasannya saat mulai melakukan pemeriksaan awal. "Bisa jelaskan kronologinya, Mbak? Pasien punya riwayat sakit apa?"
Warda menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia teringat percakapan mereka di balkon kosan minggu lalu. "Dok, saya ceritakan semua yang saya tahu. Dina pernah bilang ke saya, 'War, kalau suatu saat aku kenapa-napa, tolong ceritakan ini semua sama dokter'. Dia punya trauma berat karena tunangannya meninggal setahun lalu. Sejak itu asam lambungnya sering kumat parah, tapi malam ini beda. Dia bilang telinganya berisik sekali, seperti mendengar suara-suara teriakan yang nggak berhenti."
Dokter jaga itu mengangguk paham sembari mencatat di papan rekam medis. Ia memeriksa denyut nadi dan menekan lembut perut Dina yang mengeras. Setelah beberapa menit instruksi diberikan kepada perawat untuk memasang infus dan obat penenang lambung, dokter itu kembali menghampiri Warda.
"Mbak Warda, melihat kondisi fisik dan psikisnya yang saling tarik-menarik begini, kami akan merujuk Mbak Dina ke dua dokter spesialis sekaligus agar penanganannya tuntas," ucap dokter jaga itu dengan nada serius namun menenangkan.
"Untuk urusan fisiknya, dokter penyakit dalamnya tetap Dokter Arga, karena beliau yang memegang riwayat medis Mbak Dina sejak awal. Besok pagi Dokter Arga akan melakukan kunjungan rutin ke bangsal. Lalu, untuk keluhan 'telinga berisik' dan traumanya, kami tunjuk Dokter Wiyata, spesialis jiwa, yang akan visit besok siang."
Dokter itu menatap Warda dengan penuh harap. "Saya mohon besok Mbak Warda tetap menemani temannya di sini. Takutnya Mbak Dina belum stabil dan belum bisa menjawab pertanyaan dokter dengan jelas, jadi Mbak bisa bantu menjelaskan detailnya agar diagnosanya tepat. Kondisi psikis seperti ini seringkali membuat pasien 'tersesat' di pikirannya sendiri."
Warda mengangguk mantap, meskipun ia tahu malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang baginya di kursi tunggu rumah sakit. Di dalam ruang observasi, Dina mulai sedikit tenang setelah cairan obat masuk ke pembuluh darahnya, namun bibirnya masih membisikkan satu nama yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa pilu.
Cahaya matahari pagi mulai menyusup masuk melalui celah gorden ruang perawatan Seruni, menyinari wajah Dina yang masih tampak pucat. Ia perlahan membuka mata, merasakan sisa kantuk dari obat penenang semalam. Di sudut ruangan, ia melihat Warda sedang merapikan kotak bekal sarapannya di atas meja kecil.
"Mbak Warda... maaf ya, jadi merepotkan sampai menginap di sini," ucap Dina pelan, suaranya masih terdengar serak.
Warda menoleh, lalu tersenyum hangat sambil menghampiri tempat tidur Dina. Ia membetulkan letak selimut sahabatnya itu dengan sayang. "Enggak apa-apa, Din. Tadi malam Mang Asep panik sekali waktu minta tolong. Lagian kamu sudah seperti adik Mbak sendiri di kosan. Yang penting sekarang kamu tenang dulu, jangan banyak pikiran."
Dina terdiam, matanya menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Suara-suara berisik di telinganya memang sudah mereda, namun kekosongan di hatinya tetap terasa nyata.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib