Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRAF PERTAMA
Minggu berikutnya adalah yang paling produktif yang Arsa ingat dalam hidupnya — dan ia hidup dengan produktivitas sebagai standar minimal, jadi itu bukan kalimat yang ia ucapkan sembarangan.
Ia bekerja dua proyek sekaligus: rekonstruksi Pak Wahyu yang sudah masuk fase penulisan, dan outline pameran yang setiap harinya tumbuh dengan kepingan-kepingan baru. Meja kerjanya yang sudah selalu berantakan sekarang memiliki tataran baru di atas berantakannya — sticky notes berwarna, benang merah yang menghubungkan nama-nama di papan gabus yang ia pasang di dinding minggu lalu, foto-foto cetak dari arsip yang tersebar dalam pola yang hanya masuk akal baginya.
Wren datang ke apartemennya untuk pertama kalinya pada hari Rabu.
Bukan direncanakan — Arsa mengirim foto papan gabus itu dengan caption "apakah ini terlihat seperti orang yang obsesif atau orang yang sedang mengerjakan sesuatu" dan Wren membalas "dua-duanya. Saya mau lihat langsung, boleh?"
Ia datang jam tujuh malam membawa kopi dari tempat yang Arsa tidak tahu ada di dekat sana, dan berdiri di depan papan gabus itu selama hampir sepuluh menit tanpa berkata apapun.
"Ini sangat..." ia menunjuk satu benang merah yang menghubungkan nama Pak Wahyu ke foto kotak kayu di pojok kiri. "Ini alur kausalitasnya?"
"Ini lebih ke peta hubungan. Kausalitas ada di timeline yang terpisah." Arsa berdiri di sebelahnya. Dari sudut ini, dengan dua orang memandang papan yang sama, strukturnya terlihat berbeda — lebih masuk akal tapi juga sekaligus lebih besar dari yang ia pikirkan seorang diri.
"Foto-foto Dito sudah ada izin?"
"Ibu Sari konfirmasi kemarin. Ada tujuh belas foto yang bisa digunakan — campuran foto pribadi dan foto-foto langit karyanya yang ditemukan di laptop lama."
"Foto langitnya bagus?"
"Sangat bagus." Arsa mengambil map terpisah, membuka ke halaman yang sudah ditandai. "Ini beberapa yang sudah di-scan."
Wren mengambil map itu. Melihat foto pertama dan ia tidak bergerak selama beberapa detik.
Foto langit — tapi bukan foto langit biasa. Ini foto diambil dari bawah, melalui sela-sela daun pohon besar, sehingga langit terlihat seperti pecahan-pecahan biru di antara hijau. Cahayanya sore hari. Ada sesuatu di komposisinya yang terasa seperti seseorang yang sedang melihat dari dalam sesuatu ke arah luar — bukan foto yang ingin menangkap luasnya langit, tapi foto yang ingin menangkap rasa ingin bebas.
"Dito," kata Wren pelan, seperti menyapa seseorang.
"Ya."
Ia membalik ke foto berikutnya. Langit malam — bintang-bintang yang tidak banyak karena polusi cahaya kota, tapi di sudut atas kanan ada satu bintang yang jauh lebih terang dari yang lain, dan cara Dito membingkainya membuat bintang itu terasa seperti titik awal dari sesuatu bukan titik akhir.
Foto ketiga: langit hujan. Bukan mendung biasa — langit dengan gradien abu-abu yang punya kedalaman, diambil dari jendela yang basah sehingga tetesan air di kaca menjadi bagian dari komposisi. Di pojok bawah, samar-samar, ada bayangan seseorang — hanya siluet, tidak jelas siapa. Tapi ada di sana.
"Siapa ini?" Wren menunjuk siluet itu.
Arsa sudah melihat foto ini beberapa kali. Sudah bertanya ke Ibu Sari. "Tidak ada yang tahu. Mungkin refleksi kaca. Mungkin seseorang yang memang ada di sana."
Wren menatap foto itu lebih lama dari yang lain. "Saya rasa ini Raka."
"Kenapa?"
"Karena cara Dito mengambil foto ini — sudut, komposisi — terasa seperti seseorang yang tahu ada orang lain di ruangan tapi tidak mau mengakuinya secara langsung. Mengabadikan kehadiran tanpa membuat kehadiran itu terlalu eksplisit." Ia mengembalikan map itu. "Seperti cara Raka menulis tentang Dito. Ada tapi tidak secara langsung."
Arsa mengambil map itu kembali. Menatap foto ketiga lagi.
Mungkin ini Raka.
Siluet kecil di pojok bawah kiri. Seseorang yang ada di ruangan yang sama dengan langit hujan yang sedang diabadikan, tapi tidak di tengah — di pinggir, di batas frame.
Selalu di batas. Tidak sepenuhnya masuk, tidak sepenuhnya keluar.
Tanah dan Langit.
Mereka bekerja sampai jam sebelas malam di apartemen itu — bukan dengan jadwal yang ditetapkan, bukan dengan pembagian tugas yang formal. Lebih organik dari itu: Arsa memproses timeline, Wren duduk di beanbag biru yang tidak ada di apartemen ini tapi yang ada di kepalanya sebagai kontras mental dari beanbag ungu di studionya sendiri — duduk di kursi makan yang ia tarik ke dekat meja Arsa, membaca drafan teks yang Arsa tulis untuk panel pameran, memberikan masukan dengan cara yang tidak pernah terasa seperti kritik tapi selalu menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
"Kalimat ini," kata Wren, menunjuk satu paragraf. "Pak Wahyu Santoso adalah ayah yang tidak selalu tahu cara hadir untuk anaknya. Ini terlalu keras."
"Tapi itu yang dia tulis sendiri di jurnalnya."
"Ia menulis itu tentang dirinya sendiri — dalam konteks penyesalan pribadi. Beda dengan seseorang yang membacanya di panel pameran tanpa konteks itu." Wren memiringkan kepala. "Mungkin: Pak Wahyu Santoso adalah ayah yang belajar arti hadir dengan cara yang tidak ia rencanakan. Itu lebih adil dan lebih akurat."
Arsa mengetik versi baru itu. Membacanya ulang. "Lebih baik."
"Karena tidak menghakimi."
"Pekerjaan Anda membuat Anda sangat sadar tentang nada."
"Hidup saya membuat saya sadar tentang nada." Wren menyandarkan punggungnya. "Saya tumbuh dengan ibu yang komunikasinya hampir sepenuhnya lewat nada, bukan kata. Kata-katanya bisa bilang tidak apa-apa tapi nada suaranya bisa bilang lima hal berbeda sekaligus."
Arsa memutar kursinya untuk menghadap Wren sepenuhnya. "Apakah itu kenapa Anda memilih pekerjaan yang berhubungan dengan suara?"
"Mungkin." Wren tidak menolak pertanyaan itu seperti biasanya ia menolak pertanyaan tentang dirinya. "Atau mungkin karena suara adalah hal yang paling jujur dari seseorang. Lebih dari wajah, lebih dari kata-kata. Orang bisa berbohong dengan ekspresi dan dengan kalimat. Tapi sangat susah berbohong dengan nada."
"Nada suara saya sekarang bilang apa?"
Pertanyaan yang keluar sebelum ia menyaringnya — lagi. Ini sudah menjadi kebiasaan di sekitar Wren: kata-kata keluar sebelum filter bekerja, dan Arsa sudah berhenti mencoba menghentikannya karena sejauh ini hasilnya selalu lebih jujur dari yang difilter.
Wren menatapnya. Ekspresinya bergerak melalui sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia baca — tapi ada komponen senyum di sana, ditekan tapi ada.
"Nada suara Anda sekarang," katanya pelan, "bilang bahwa Anda sedang mencoba tahu lebih banyak tentang seseorang sambil berpura-pura ini masih pertanyaan profesional."
Keheningan di apartemen itu terasa berbeda dari hening-hening lainnya malam itu. Lebih penuh. Lebih sadar akan dirinya sendiri.
"Apakah itu masalah?" tanya Arsa.
Wren berpikir sebentar. Sungguhan berpikir, bukan berpura-pura berpikir untuk mengulur waktu.
"Tidak," katanya akhirnya. "Asal diakui."
"Diakui," kata Arsa. Satu kata. Tapi dengan nada yang — kalau Wren benar tentang suara lebih jujur dari kata-kata — mengandung lebih banyak dari yang bisa masuk dalam satu kata.
Wren menatapnya satu detik lebih lama dari yang diperlukan. Lalu menunduk kembali ke draf di tangannya.
"Kalimat berikutnya," katanya, dengan nada yang sedikit berubah tapi tidak sepenuhnya kembali ke sebelumnya. "Ini juga perlu direvisi."