"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Udara Semarang pagi ini terasa lebih bersahabat, meski matahari mulai memancarkan terik yang khas. Afisa berdiri di depan gedung perkantoran modern di kawasan pusat kota, tempat kantor cabang firma hukumnya berada. Ia mengenakan setelan blazer charcoal yang sangat rapi, dengan rambut yang tertata sempurna. Namun, di balik penampilannya yang otoriter, jantungnya masih berdegup karena sisa ketegangan telepon semalam.
Ia melirik jam tangan pemberian Bintang. Pukul delapan tepat.
“Fokus, Afisa. Kamu di sini untuk membuktikan kapasitasmu, bukan meratapi rindu,” batinnya menyemangati diri.
Begitu melangkah masuk ke lobi, aroma kopi dan kertas baru menyambutnya. Di meja resepsionis, namanya sudah tertera dalam daftar penyambutan Senior Associate baru dari pusat.
Pukul 09.30 WIB — Ruang Kerja Baru.
Ruangan Afisa cukup luas dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah Simpang Lima. Saat ia sedang meletakkan tas kerjanya, pintu ruangannya diketuk dengan pola yang sangat ia kenali.
Tok-tok-tok-tok.
"Masuk, Cit," ucap Afisa tanpa menoleh.
Citra muncul dengan dua gelas kopi di tangan dan senyum lebar. "Gimana? Sudah berdamai sama 'Pak Dokter' semalam? Mukanya nggak sekuyu kemarin sore, nih."
Afisa terkekeh, menerima kopi dari Citra. "Sudah. Tapi ya gitu, Bintang beneran nggak bisa kalau nggak dapet kabar. Rasanya ekuilibrium dia langsung goyang kalau ponselku mati."
"Ya wajar, Fis. Pengantin baru, LDR-nya mendadak, profesinya sama-sama berat lagi," Citra duduk di kursi depan meja Afisa. "Tapi sekarang lo harus pasang mode shark. Sepuluh menit lagi kita ada rapat besar. Pihak lawan di kasus sengketa lahan itu bener-bener licin. Mereka merasa punya 'kandang' di sini."
Afisa menyesap kopinya, tatapan matanya mendadak berubah tajam dan dingin—ciri khasnya saat akan menghadapi lawan di meja hijau. "Biarkan saja. Mereka belum tahu kalau aku ke sini bukan cuma bawa koper, tapi juga bawa draf yang bakal bikin mereka kehilangan kata-kata."
Tepat saat ia berdiri, ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk.
Mas Bintang 🌻: "Semangat hari pertamanya, Nyonya Bintang. Aku tahu kamu pasti bakal menguasai ruang rapat itu. Jam tangannya sudah aku cek, kita masih di detik yang sama. Love you."
Afisa tersenyum tipis, menyentuh jam tangannya sejenak sebelum melangkah keluar dengan penuh percaya diri. Jarak lima ratus kilometer mungkin nyata, tapi dukungan Bintang adalah fondasi yang membuatnya berdiri lebih kokoh.
Ruang Rapat Utama.
Atmosfer di dalam ruangan terasa menekan. Di seberang meja kayu mahoni yang panjang, tiga pria paruh baya dengan setelan mahal menatap Afisa dengan pandangan meremehkan.
"Jadi, ini 'bantuan' dari pusat?" salah satu pengacara lawan, Pak Handoko, membuka percakapan dengan nada merendahkan. "Selamat datang di Semarang, Bu Afisa. Tapi perlu diingat, hukum di sini tidak selalu sama dengan teori-teori manis yang Anda pelajari di gedung pencakar langit Jakarta."
Afisa tidak langsung menjawab. Ia menyesap air mineralnya perlahan, lalu menatap Pak Handoko tepat di matanya—tanpa berkedip.
"Terima kasih atas sambutannya, Pak Handoko," suara Afisa mengalun tenang namun tajam. "Namun, sejauh yang saya pelajari dalam Hukum Agraria dan KUH Perdata, pasal-pasal yang berlaku di Jakarta dan Semarang itu identik. Kecuali jika Anda sedang mengakui bahwa Anda memiliki 'hukum sendiri' yang melangkahi undang-undang negara?"
Citra menahan tawa melihat raut wajah Pak Handoko yang mendadak masam.
"Langsung ke intinya saja," lanjut Afisa sambil menggeser draf tebal ke tengah meja. "Kami sudah membedah sertifikat tanah klien kami dari tahun 1985. Dan menariknya, saya menemukan adanya overlapping data pada akta yang Anda ajukan. Ada tanda tangan yang tidak sinkron pada proses balik nama tahun 2005. Di dunia hukum, Pak Handoko, kami menyebut ini sebagai cacat administrasi yang berbau pidana pemalsuan dokumen."
Afisa memaparkan setiap poin dengan presisi yang mematikan. Ia tidak memberikan celah bagi lawan untuk menyela. Setiap kali mereka mencoba berargumen, Afisa membalasnya dengan yurisprudensi terbaru yang membuat lawan saling berpandangan cemas.
Sepuluh menit berlalu, dan tembok tinggi yang tadi dipasang oleh pihak lawan mulai runtuh.
"Jadi," Afisa menutup mapnya dengan bunyi pelan namun tegas. "Apakah kita mau melanjutkan sandiwara ini ke pengadilan dengan risiko nama baik firma Anda hancur, atau Anda ingin mendengar klausul mediasi yang saya tawarkan sekarang?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Pak Handoko melonggarkan dasinya yang mendadak terasa mencekik. Ia tampak kalah telak di kandangnya sendiri.
Namun, tepat saat Afisa merasa telah memenangkan ronde pertama, sebuah pesan masuk di tabletnya yang masih terhubung dengan sinkronisasi ponsel. Matanya membelalak saat melihat notifikasi singkat dari nomor tidak dikenal:
"Nikmati kemenangan kecilmu, Afisa. Tapi ingat, suamimu di Jakarta tidak sedekat yang kamu kira."
Jantung Afisa mencelos. Ia melirik jam tangannya. Detiknya masih berputar, tapi tiba-tiba ia merasa dunianya baru saja dihantam badai yang lebih besar daripada sekadar sengketa lahan.
Afisa memenangkan rapat, tapi sebuah perang baru baru saja dimulai.