Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Pagi itu, London masih berselimut kabut tipis saat rutinitas di mansion Lumiere dimulai. Bagi siswa lain, ujian akhir hari pertama mungkin diawali dengan sarapan cepat dan pengulangan materi di menit-menit terakhir. Namun, bagi Salene Lumiere, ini adalah sebuah ritual penyucian.
Tiga hari ke depan adalah medan perang, dan ia harus tampil sebagai pemenang yang tak bercela.
Sejak pukul lima pagi, spa pribadi di lantai bawah mansion sudah dipenuhi uap aromaterapi. Salene berbaring diam sementara terapis profesional melakukan facial oksigen untuk memastikan kulitnya tetap bercahaya tanpa noda kelelahan.
Seorang penata rambut datang khusus untuk menata helai demi helai rambut pirang madunya menjadi sanggul rendah yang sangat rapi, begitu kencang hingga tak ada satu anak rambut pun yang berani keluar.
Madame Lumiere berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap gerak-gerik putrinya dengan tatapan seorang jenderal yang memeriksa pasukannya.
"Ingat aturan dasarnya, Salene," suara Madame dingin, memotong keheningan ruangan. "Duduk tidak boleh bersandar sepenuhnya pada kursi ujian. Punggung harus tegak, sejajar dengan martabat keluargamu. Cara berjalanmu harus stabil, jangan terburu-buru seperti orang yang kehilangan kendali."
Salene hanya mengangguk kecil, membiarkan penata rias memulas bibir pink alaminya dengan pelembab transparan yang mahal.
"Dan yang paling penting," Madame melangkah mendekat, bayangannya jatuh menimpa wajah Salene. "Seni bercakap-cakap. Jangan sampai kau terdengar seperti sahabatmu, Lauren, yang tidak tahu aturan itu. Dia adalah contoh nyata dari kegagalan pendidikan karakter. Dan ingat, jangan pernah menunjukkan emosi berlebih di depan umum, terutama saat kau merasa tertekan oleh soal-soal ujian. Seorang Lumiere tidak pernah terlihat bingung."
Madame mencengkeram bahu Salene, kukunya yang terawat sedikit menekan kulit. "Kau dengar itu, Salene?"
"Iya, Madame. Aku dengar," jawab Salene datar. Suaranya terdengar seperti robot yang diprogram untuk patuh.
"Bagus. Sekarang berangkatlah. Rolls-Royce sudah menunggu."
Halaman St. Jude’s High School tampak lebih tegang dari biasanya. Siswa-siswi berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, membicarakan prediksi soal kalkulus dan literatur. Namun, suasana mendadak senyap saat mobil perak keluarga Lumiere berhenti di depan lobi.
Salene keluar dari mobil. Ia tampak seperti visi kesempurnaan yang menyakitkan untuk dipandang. Wajah angkuhnya terpahat sempurna; dagu terangkat dua derajat, mata yang menatap lurus ke depan tanpa minat pada sekitar, dan langkah kaki yang berirama konstan di atas lantai pualam sekolah. Ia adalah personifikasi dari kekuasaan dan disiplin yang dingin.
Di sudut area parkir, di dekat deretan motor besar yang berkilau, Nikolas Martinez bersandar pada Triumph-nya. Jaket kulitnya terbuka, menampakkan seragam sekolah yang meski bersih, tetap terlihat "liar" di tubuhnya. Matanya terpaku pada sosok Salene yang berjalan melewati kerumunan tanpa melirik siapa pun.
Nik merogoh saku jaketnya, merasakan ponselnya di sana. Semalam, ia sudah mengetik pesan berkali-kali.
“Semangat ujiannya, Tuan Putri. Jangan lupa bernapas di balik korsetmu.”
“Kau akan hebat besok. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Namun, setiap kali jempolnya berada di atas tombol send, ia ragu. Ia teringat ledakan amarah Salene kemarin sore. Ia teringat betapa rapuhnya porselen itu saat ia mencoba memasangkan pengait korsetnya. Nik sungguh tidak berani merusak suasana hati gadis itu. Ia tahu, bagi Salene, fokus adalah segalanya. Mengirim pesan hanya akan membuat dinding yang sudah susah payah dibangun Salene menjadi goyah.
"Apa kalian menjadi asing sekarang, Nik?" suara berat Kent memecah lamunan Nikolas.
Kent berdiri di sampingnya, sedang menyesuaikan letak jam tangannya. Lauren ada di kejauhan, sedang berteriak-teriak histeris karena lupa membawa pensil 2B, membuat beberapa pengawas ujian menggelengkan kepala.
Nikolas menghela napas panjang, matanya masih mengikuti siluet Salene yang kini menghilang di balik pintu aula ujian. "Yah... dari dulu kami memang asing, Kent. Kemarin itu hanyalah sebuah anomali. Seperti gerhana matahari yang hanya lewat sebentar, lalu dunia kembali gelap."
"Kau yakin?" tanya Kent datar. "Aku melihat caramu menatapnya. Itu bukan tatapan untuk orang asing."
Nikolas terkekeh pahit, menghidupkan mesin motornya sejenak hanya untuk mendengar suaranya sebelum masuk ke ruang ujian. "Masalahnya bukan bagaimana aku menatapnya, Kent. Tapi bagaimana dia menolak untuk melihat dirinya sendiri di cermin yang aku berikan."
Dion dan Leonard mendekat, mencoba mencairkan suasana. "Woi! Kenapa wajah kalian seperti orang mau dihukum mati? Ini cuma ujian akhir kelas 11! Ayo masuk, sebelum Nona Porselen itu melaporkan kita pada pengawas karena terlambat satu detik."
Nikolas mengangguk, namun pikirannya tetap tertinggal pada wajah angkuh Salene tadi. Ia tahu, di balik wajah tanpa emosi itu, ada badai yang sedang ditahan sekuat tenaga.
Saat mereka berjalan menuju aula, Nikolas berpapasan dengan Salene di koridor sempit. Untuk sesaat, bahu mereka hampir bersinggungan. Nikolas sengaja melambat, memberikan ruang bagi aroma mawar yang familiar itu untuk menyentuh indranya. Salene tidak berhenti, tidak melirik, bahkan tidak berkedip. Ia terus berjalan dengan punggung yang tegak kaku, persis seperti yang diperintahkan ibunya.
Sangat sempurna, Salene, batin Nik. Sangat sempurna sampai-sampai kau terlihat seperti sedang berhenti bernapas.
Ujian dimulai. Keheningan aula hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan goresan pulpen di atas kertas. Salene duduk di barisan paling depan, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi sedikit pun, persis seperti patung yang sedang menunaikan tugas sucinya.
Sementara di barisan belakang, Nikolas menopang dagu, sesekali melirik punggung tegak itu dan bertanya-tanya: Sampai kapan kau bisa bertahan tanpa bersandar, Salene?
🌷🌷🌷🌷