NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 26

Cahaya fajar yang pucat merambat masuk melalui celah gorden, menyinari sosok kecil yang tergeletak di atas lantai kayu yang dingin.

Ilwa mengerang pelan, kelopak matanya terasa seberat timah saat ia mencoba membuka mata.

Rasa kaku menjalar di sekujur punggungnya akibat tertidur dalam posisi yang tidak wajar setelah pingsan karena kehabisan mana semalam.

Ia bangkit dengan bertumpu pada tangannya yang masih sedikit gemetar.

Pikirannya langsung melayang pada pertemuan singkat yang mengerikan dengan ular hitam raksasa di alam kesadarannya.

"Satu tarikan... hanya satu tarikan dan seluruh manaku ludes," bisik Ilwa, suaranya parau.

Ia menghela napas panjang, menatap tangannya sendiri. "Ini pertama kalinya dalam dua kehidupan aku merasakan kekosongan total seperti ini. Benar-benar senjata yang rakus."

Meskipun tubuhnya terasa lemas, ada binar ambisi yang tak kunjung padam di matanya. Memiliki senjata jiwa di tahap ini adalah anugerah sekaligus kutukan.

Masalah utamanya sudah jelas: kapasitas mananya saat ini tidak lebih dari sebuah gelas kecil, sementara senjata itu adalah samudra yang haus.

Jika ia ingin menjinakkan ular itu, ia tidak bisa hanya mengandalkan meditasi biasa yang memakan waktu bertahun-tahun. Ia butuh katalisator.

"Metode *Mana-Core Overload*... aku harus memperluas pembuluh manaku secara paksa," gumamnya.

Ia segera mengganti pakaian tidurnya dengan jemeja linen biru pucat dan mantel ringan, bersiap untuk perburuan bahan selanjutnya.

---

Saat Ilwa turun ke lantai bawah, suasana paviliun terasa sedikit sunyi. Aroma roti gandum dan selai buah menyambutnya di ruang makan,

namun sosok Martha tidak terlihat di sana. Hanya ada Lina, yang sedang berdiri dengan postur sempurna di sudut ruangan, memegang baki perak.

Ilwa duduk dan menyantap sarapannya dengan cepat, gerakannya efisien dan tanpa suara.

Setelah selesai, ia menyeka mulutnya dengan serbet porselen dan menatap Lina dengan tatapan datar.

"Lina, siapkan kereta kuda untukku sekarang. Aku harus pergi ke ibu kota," perintah Ilwa tanpa ekspresi.

Lina membungkuk dalam, menyembunyikan kilat rasa ingin tahu di matanya. "Baik, Tuan Muda.

Lina segera bergerak keluar.

Di dalam hatinya, kecurigaan semakin memuncak. "Kemarin dia berlatih seperti kesurupan, semalam dia mengunci diri, dan sekarang dia pergi lagi ke ibu kota tanpa pengawalan Martha? Marc harus tahu tentang ini," batin Lina.

Namun, ia tidak hanya akan melaporkannya; ia memutuskan untuk mengikuti bocah itu secara rahasia.

---

Beberapa puluh menit kemudian, kereta kuda itu berhenti di persimpangan jalan Ibu Kota Valerion.

Ilwa turun dan segera melangkah masuk ke tengah keramaian, menghilang di antara kerumunan pedagang dan petualang.

Di belakangnya, dengan jarak yang terjaga dan teknik penyamaran yang rapi, Lina membuntutinya, melompat dari satu bayangan bangunan ke bayangan lainnya.

Ilwa kembali ke **Apotek Emerald**. Lonceng pintu berbunyi, dan aroma herbal yang akrab kembali menyambut indranya.

Resepsionis wanita yang kemarin melayaninya langsung mengenali sosok mungil dengan aura dingin tersebut.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sapa resepsionis itu dengan senyum ramah yang sedikit canggung,

teringat betapa anehnya pesanan Ilwa sebelumnya. "Ada yang bisa kami bantu hari ini? Apakah mandi herbal Anda berjalan lancar?"

Ilwa tidak membalas basa-basi itu. Ia langsung menuju intinya. "Apakah toko ini menyediakan **Inti Sihir Beast** (*Mana Core*) tingkatan tiga atau dua?"

Resepsionis itu sedikit tersentak.

Inti sihir adalah barang berharga yang biasanya digunakan oleh para penyihir untuk mengisi ulang mana atau sebagai bahan dasar pembuatan artefak, bukan untuk dikonsumsi langsung oleh anak kecil.

Ia segera memeriksa daftar inventaris di bawah meja.

"Mohon maaf, Tuan Muda," ucapnya setelah beberapa saat.

"Untuk tingkat tiga, stok kami sedang kosong karena baru saja diborong oleh akademi sihir pusat. Saat ini kami hanya memiliki Inti Sihir Beast Tingkat 2 dari spesies Serigala Taring Gading."

Ilwa sedikit mengerutkan kening.

Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya yang pucat. Tingkat dua hanya mengandung mana mentah yang terbatas, namun di bawah kondisi *Aura-Lock*, mungkin itu lebih aman daripada memaksakan tingkat tiga yang energinya bisa meledakkan jantungnya.

"Baiklah, berikan aku empat inti sihir tingkat dua itu," kata Ilwa.

Ia kemudian menambahkan, "Dan aku juga butuh dua botol **Ekstrak Bunga Matahari Senja** dan tiga gram **Bubuk Akar Penenang Jiwa**."

Resepsionis itu mencatat dengan cepat. "Tentu. Ekstrak Bunga Matahari Senja untuk menjaga sirkulasi suhu tubuh, dan Bubuk Akar Penenang untuk meredam guncangan mental... pilihan yang sangat spesifik, Tuan Muda."

Lina, yang sedang mengintip dari balik tumpukan karung gandum di luar toko, menajamkan pendengarannya.

"Inti sihir? Untuk apa dia membutuhkan itu? Apakah dia mencoba melakukan pengisian mana paksa? Itu sangat berbahaya bagi penderita Aura-Lock!" pikirnya ngeri.

Tak lama kemudian, resepsionis itu kembali dengan sebuah kotak beludru kecil berisi empat kristal bening berwarna biru pucat yang berdenyut dengan energi mana mentah, beserta dua botol cairan kuning keemasan.

"Semuanya total menjadi **dua belas keping emas klan**," ucap sang resepsionis.

Tanpa banyak bicara, Ilwa meletakkan kepingan emas itu di atas meja.

Suara denting logamnya terdengar berat di tengah kesunyian toko.

Ilwa menerima barang-barangnya, menyimpannya di balik jubahnya dengan hati-hati, dan memberikan anggukan kecil sebelum berbalik keluar.

Ilwa melangkah keluar toko, menatap langit Valerion yang mulai meninggi. Ia tahu risikonya.

Mengonsumsi energi dari inti sihir secara langsung adalah metode kuno yang menyakitkan, namun itu adalah satu-satunya cara untuk memperluas kapasitas mananya dengan cepat sebelum pertemuan berikutnya dengan sang ular hitam.

"Malam ini... aku akan memastikan kau punya cukup makanan untuk bicara lebih lama," gumam Ilwa, sementara di kejauhan,

Lina terus mengawasinya dengan perasaan cemas yang mulai bercampur dengan kekaguman yang tak terduga.

---

Roda kereta kuda berderak membelah keheningan jalanan menuju paviliun keluarga cabang.

Di dalam kabin yang bergoyang pelan, Ilwa duduk diam dengan mata terpejam, jemarinya meraba empat kristal biru di dalam kantong kain di pangkuannya.

Ia bisa merasakan denyut energi mentah yang tidak stabil dari inti sihir tersebut, seolah-olah ada detak jantung binatang buas yang masih tertinggal di dalamnya.

Begitu sampai di depan kediaman, Ilwa turun dengan langkah tenang namun tegas.

Saat memasuki lobi utama, ia melihat Martha berdiri di dekat koridor dengan wajah yang tampak cemas.

Wanita itu menoleh ke kiri dan ke kanan, berkali-kali meremas ujung celemeknya.

"Martha? Apa yang kau cari?" tanya Ilwa, suaranya memecah kebingungan pelayan tua itu.

Martha tersentak kecil, lalu membungkuk hormat. "Ah, Tuan Muda, Anda sudah pulang. Saya... saya sedang mencari Lina. Sejak tadi pagi saya tidak melihatnya di dapur maupun di area jemuran. Saya khawatir dia tersesat atau melakukan sesuatu yang ceroboh."

Ilwa terdiam sejenak. Ingatannya kembali ke jalanan Valerion tadi; instingnya sebagai Albus telah menangkap keberadaan sosok yang membuntutinya dari kejauhan.

"Jadi itu benar kau, Lina," batin Ilwa dingin. Namun, ia tidak berniat membongkar rahasia itu sekarang.

"Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia sedang berada di taman belakang atau tertidur di suatu tempat," ucap Ilwa pendek.

"Aku akan berada di kamar. Jangan biarkan siapapun mendekat, termasuk pelayan baru itu jika dia muncul kembali."

"Baik, Tuan Muda," jawab Martha patuh, meskipun rasa herannya belum sepenuhnya hilang.

Ilwa melangkah menuju kamarnya, menutup pintu, dan memutar kunci besi itu dengan bunyi *klik* yang memuaskan.

Ia tidak membuang waktu. Tas belanjanya diletakkan di atas meja, dan empat buah Inti Sihir Beast Tingkat 2 dikeluarkan satu per satu.

---

Ilwa duduk bersila di tengah ruangan.

Di hadapannya, empat kristal biru itu berpendar redup, mengeluarkan aura dingin yang kontras dengan suhu ruangan.

Sebelum menyentuh inti tersebut, Ilwa meraih dua botol obat yang dibelinya tadi.

Ia menenggak **Ekstrak Bunga Matahari Senja** hingga tandas.

Rasanya hangat, hampir panas, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya untuk menjaga agar suhu tubuhnya tidak merosot drastis saat bersentuhan dengan mana es Serigala Taring Gading.

Tak lama kemudian, ia menaburkan **Bubuk Akar Penenang Jiwa** ke bawah lidahnya, membiarkan rasa pahit yang tajam menenangkan saraf otaknya dari potensi guncangan mental.

Setelah siap, Ilwa meletakkan kedua telapak tangannya di atas keempat inti sihir tersebut sekaligus.

"Mulai," bisiknya.

Seketika, cahaya biru menyilaukan meledak dari pusat meja.

Energi mana mentah yang liar mulai tertarik keluar dari kristal-kristal tersebut, membentuk pusaran energi biru yang mengelilingi tubuh Ilwa.

Udara di dalam kamar mendadak menjadi sangat berat, terdistorsi oleh tekanan mana yang tidak stabil.

---

Apa yang dilakukan Ilwa saat ini adalah sebuah kegilaan di mata praktisi sihir modern. Biasanya, seorang penyihir akan membawa inti sihir kepada alkemis untuk dimurnikan, dicampur dengan bahan penetral,

dan dibentuk menjadi pil atau cairan eliksir. Mengapa? Karena mana di dalam inti sihir beast adalah **mana yang tercemar**. Ia membawa sisa-sisa kesadaran liar binatang tersebut.

Jika diserap langsung, mana itu bisa merobek sirkuit sihir dari dalam, menyebabkan kegilaan, atau bahkan membuat tubuh penggunanya membeku menjadi patung es.

Namun, Ilwa bukanlah penyihir biasa.

Ia memilih metode penyerapan langsung ini karena ia butuh perluasan sirkuit secara instan, bukan pertumbuhan bertahap.

Pil alkemis memang aman, tapi proses pemurniannya seringkali menghilangkan 50% potensi energi aslinya.

Ilwa tidak punya kemewahan untuk membuang energi sebanyak itu.

Berkat bantuan Ekstrak Bunga Matahari dan Bubuk Penenang, rasa sakit yang seharusnya tak tertahankan itu kini terasa seperti aliran listrik yang bisa ia kendalikan.

Ekstrak tersebut bertindak sebagai bantalan panas di dinding pembuluh darahnya, mencegah mana es dari inti sihir membekukan darahnya.

Sementara itu, Bubuk Penenang mengunci kesadarannya agar tetap jernih saat sisa-sisa insting liar serigala mencoba menyerang mentalnya.

---

Keringat bercucuran dari dahi Ilwa saat energi biru itu masuk melalui ujung jemarinya, merambat paksa menuju inti mananya yang terkunci oleh *Aura-Lock*.

Suara retakan kecil terdengar dari dalam tubuhnya—bukan tulang yang patah, melainkan dinding pembuluh mananya yang dipaksa melebar untuk menampung volume energi yang baru.

"Lebih... banyak lagi..." Ilwa menggertakkan giginya.

Meskipun dua obat tadi bekerja dengan sangat baik untuk Inti Tingkat 2, Ilwa menyadari batasannya.

Kekuatan beast tingkat tinggi membawa "Kehendak Alam" yang jauh lebih ganas. Jika ini adalah Inti Tingkat 4 atau 5, kedua obat sederhana ini akan hancur seketika, dan tubuh Ilwa akan meledak menjadi debu dalam hitungan detik.

Namun untuk saat ini, rencananya berjalan sempurna.

Keempat kristal di bawah tangannya perlahan memucat, kehilangan warnanya seiring dengan energi yang tersedot habis.

Warna biru di sekeliling Ilwa mulai meresap masuk ke dalam pori-porinya, meninggalkan rasa dingin yang menyegarkan sekaligus menyakitkan di saat yang sama.

Ilwa bisa merasakan kapasitas "wadah" mananya kini telah meluas. Jika sebelumnya ia hanya memiliki gelas kecil, kini ia telah memiliki sebuah botol yang mampu menampung lebih banyak energi untuk berkomunikasi dengan ular hitam di dalam belatinya.

Satu jam berlalu hingga sisa-sisa cahaya biru terakhir menghilang.

Empat inti sihir itu kini hancur menjadi debu putih tumpul di atas meja.

Ilwa membuka matanya, dan untuk sekejap, pupil matanya berkilat dengan warna biru es yang tajam sebelum kembali menjadi abu-abu normal.

Bersambung....

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!