Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Suara gunting kain yang besar beradu dengan permukaan meja pola yang keras, menciptakan bunyi krek-krek yang konsisten. Felysha Anindhita menekan kain muslin putih dengan telapak tangan kirinya, memastikan serat kain itu tidak bergeser sedikit pun saat ia memotong mengikuti garis kapur biru. Ia membungkuk cukup rendah, membiarkan fokusnya terkunci sepenuhnya pada ujung gunting.
Studio desain di lantai tiga kampus fashion ini mulai terasa panas karena uap dari mesin setrika industri di meja tengah. Aroma kain mentah, kapur jahit, dan sisa uap air memenuhi ruangan yang dikelilingi jendela-jendela tinggi itu. Di sekelilingnya, mahasiswa lain juga sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang sedang berdebat soal teknik jahit french seam, ada juga yang sedang mengukur manekin dengan pita meteran yang dikalungkan di leher.
Felysha meletakkan guntingnya saat potongan lengan gaun itu selesai. Ia mengusap pelipisnya yang sedikit berkeringat dengan punggung tangan. Arloji di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia harus menyelesaikan toile atau model percobaan ini sebelum Madame Claire masuk untuk evaluasi individu.
Ia meraih bantal jarum yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dengan gerakan cepat, ia mengambil satu per satu jarum pentul dan menusukkannya ke kain muslin yang sudah ia sematkan di manekin kayu miliknya. Bunyi klik halus setiap kali jarum menembus permukaan keras manekin menjadi musik latar yang menenangkan bagi Felysha.
"Fely, kamu sudah mengulang bagian kerah itu tiga kali. Masih belum puas?"
Sophie, mahasiswi asal Lyon yang mejanya bersebelahan dengan Felysha, bertanya sambil menyandarkan punggung pada meja potongnya. Ia sedang menyesap kopi hitam dari gelas kertas.
Felysha tidak langsung menjawab. Ia menarik kain muslinnya sedikit ke atas, memberikan volume pada bagian bahu, lalu menusukkan jarum pentul lagi. "Jatuhnya masih terlalu kaku, Sophie. Aku ingin siluetnya lebih mengalir, seperti ombak."
Sophie tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah di tengah kebisingan studio. "Kamu terlalu perfeksionis. Madame Claire pasti sudah akan memujimu bahkan dengan desain yang sekarang. Lihat punyaku, bagian kelimannya masih berantakan."
Felysha memberikan senyum tipis. Ia melirik ke arah meja Sophie yang dipenuhi potongan kain satin merah yang berantakan. "Desainmu berani, Sophie. Itu yang paling penting di sini."
"Berani saja tidak cukup kalau tidak ada teknis yang benar," Sophie mendekat, memperhatikan sketsa yang disematkan Felysha di sudut mejanya. "Ini desain yang kamu kirim fotonya ke tunanganmu itu?"
Gerakan tangan Felysha terhenti sejenak. Ia meraba jarum pentul di bantal jarumnya. "Bukan. Ini desain yang berbeda. Yang kemarin itu... Julian yang minta diubah bagian dadanya."
Sophie memutar bola matanya, ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat tidak setuju. "Fely, aku benar-benar tidak mengerti kenapa kamu membiarkan pria yang ada di belahan dunia lain mengatur kreativitasmu. Ini seni, bukan kontrak bisnis."
Felysha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak bisa menjelaskan pada Sophie bahwa setiap jengkal kain yang ia potong di sini adalah bentuk utang budi. "Dia hanya peduli pada apa yang menurutnya pantas, Sophie. Tidak perlu dibahas lagi."
Sophie mengangkat bahu, lalu kembali ke mejanya saat pintu studio terbuka lebar.
Madame Claire masuk dengan langkah yang mantap. Wanita paruh baya dengan rambut putih yang disanggul rapi itu mengenakan kacamata yang digantung di lehernya dengan rantai perak. Ia membawa buku catatan besar dan pena hitam. Suasana studio mendadak menjadi jauh lebih tenang. Semua mahasiswa segera kembali ke posisi masing-masing.
Felysha merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat Madame Claire mulai berjalan berkeliling, memeriksa manekin satu per satu. Suara sepatu hak tinggi Madame Claire yang mengetuk lantai kayu terdengar sangat nyaring.
"Felysha Anindhita."
Madame Claire berhenti di depan manekin Felysha. Ia menaikkan kacamatanya, lalu mengamati lipatan kain muslin itu dari berbagai sudut. Ia menyentuh bagian kerah dengan ujung jarinya yang keriput namun lincah.
"Teknikmu sangat bersih, Felysha. Jahitanmu presisi," Madame Claire berbicara tanpa ekspresi. "Tapi kenapa siluetnya terasa seperti sedang menahan napas? Kamu menggunakan material yang seharusnya bisa bergerak bebas, tapi kamu mengikatnya dengan terlalu banyak jarum."
Felysha menelan ludah. "Saya ingin memastikan bentuknya tetap rapi, Madame."
"Rapi bukan berarti mati, Felysha. Pakaian harus memiliki kehidupan. Kamu desainer, bukan arsitek gedung. Jangan takut membiarkan kain itu jatuh dengan caranya sendiri." Madame Claire memberikan coretan di buku catatannya, lalu menatap Felysha tajam. "Aku ingin melihat perubahan pada jam evaluasi sore nanti. Jangan terlalu tegang."
Setelah Madame Claire pergi ke meja Marc, Felysha berdiri terpaku di depan manekinnya. Kata-kata "rapi bukan berarti mati" terasa menusuk tepat di hatinya. Ia menyadari bahwa gaya desainnya mencerminkan hidupnya sendiri—terlalu banyak diatur, terlalu banyak diikat, sampai ia lupa bagaimana rasanya menjadi bebas.
Ia meraih pendedel benang, lalu mulai menarik satu per satu jarum pentul yang baru saja ia sematkan dengan susah payah. Ia membiarkan kain muslin itu jatuh dengan sendirinya. Bunyi gesekan kain yang jatuh ke bawah terasa membebaskan.
Pukul satu siang, kelas istirahat. Felysha memutuskan untuk tetap berada di studio sejenak untuk merapikan mejanya. Ia memasukkan semua peralatan jahitnya ke dalam kotak kayu, memastikan tidak ada yang tertinggal. Ponselnya bergetar di saku celana jinsnya.
Julian: Andre bilang dia sudah menunggumu di gerbang kampus sejak sepuluh menit lalu. Kenapa belum keluar?
Felysha menghela napas lelah. Ia lupa bahwa Julian sudah mengatur agar sopir pribadinya di Paris, Andre, untuk selalu menjemputnya tepat waktu setiap jam istirahat. Ia segera mengambil tasnya, berlari kecil keluar dari studio, menuruni tangga gedung kampus yang sudah berumur ratusan tahun itu.
Saat ia sampai di depan gerbang utama, sebuah sedan hitam mewah sudah terparkir di sana. Andre berdiri di samping pintu mobil, wajahnya sedatar papan kayu. Ia segera membukakan pintu belakang saat melihat Felysha mendekat.
"Selamat siang, Nona Felysha. Tuan Julian meminta saya memastikan Anda makan siang di apartemen hari ini," ucap Andre dengan nada formal.
Felysha masuk ke dalam mobil tanpa menjawab. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang dingin. Ia melihat teman-temannya yang lain berjalan kaki menuju kedai kopi atau taman di dekat kampus, tertawa bebas sambil membawa tas sketsa mereka.
Di dalam mobil yang kedap suara dan beraroma parfum mahal ini, Felysha merasa sangat terasing. Ia merasa seperti tawanan yang sedang dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya.
"Andre, bolehkah kita mampir sebentar ke toko buku di jalan sebelah? Aku ingin mencari referensi desain," tanya Felysha pelan.
"Maaf, Nona. Instruksi Tuan Julian sangat jelas: langsung ke apartemen. Tuan Julian akan menghubungi Anda dalam lima belas menit."
Felysha tidak membantah lagi. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam rasa sesak yang kembali muncul. Mobil melaju dengan halus membelah jalanan Paris yang ramai. Di luar sana, kota cahaya ini sedang bersinar dengan segala kesibukannya, sementara di dalam mobil ini, Felysha Anindhita merasa dunianya sedang meredup perlahan-lahan.
Ia meraba kalung perak di lehernya, mencengkeramnya kuat-kuat. Ia harus bertahan. Ia terus mengulang kata-kata itu di dalam kepalanya seperti mantra. Hanya tinggal beberapa semester lagi, batinnya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa selama ia masih berada di bawah bayang-bayang Julian, tidak akan pernah ada kata bebas baginya.