NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Pagi itu, SMA Arcandale diselimuti kabut tipis yang merayap dari perbukitan pinus di pinggiran kota. Bagi para siswa kabut itu hanyalah gangguan yang membuat mereka harus memakai jaket tambahan. Namun bagi Kenzie, kabut adalah selimut yang nyaman, sebuah tabir alami yang membantunya membaur, menghilang dan menjadi tiada.

Kenzie melangkah menyusuri koridor arah barat yang menuju perpustakaan. Ia sengaja memilih jam ini, saat sebagian besar siswa sedang berkumpul di kantin atau lapangan olahraga untuk apel pagi. Ia menyukai kesunyian. Kesunyian tidak menuntut jawaban dan tentunya tidak menanyakan mengapa wajahnya tetap sama sejak empat ratus tahun yang lalu.

Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kets tidak menimbulkan suara di atas lantai ubin yang dingin. Di tangannya, ia memeluk sebuah buku tua bersampul kain yang ia temukan di pasar loak kota sebelumnya, sebuah catatan harian dari abad ke-18 yang ditulis oleh seorang penyair yang mati muda. Kenzie membacanya bukan untuk belajar sastra, tapi untuk mengenang aroma zaman yang pernah ia lalui.

Tiba-tiba, udara di sekitar Kenzie berubah. Secara fisik, tidak ada angin yang berembus di dalam koridor itu. Namun, secara metafisika Kenzie merasakan sebuah tarikan. Seperti kutub magnet yang bertemu dengan lawan yang setara atau seperti permukaan air yang tenang tiba-tiba dijatuhi kerikil besar.

Kenzie berhenti tepat di persimpangan koridor menuju laboratorium Fisika. Dari arah berlawanan, seorang pemuda berjalan dengan langkah yang sangat terukur. Ia mengenakan seragam sekolah yang tampak sedikit terlalu kaku untuk seleranya, namun cara pemuda itu membawa dirinya bukan cara berjalan seorang remaja tujuh belas tahun yang sedang terburu-buru masuk kelas. Ada sebuah gravitasi yang berat dalam setiap langkahnya.

Itu adalah Julian.

Kenzie menahan napas. Selama empat abad, ia telah mengasah instingnya untuk mendeteksi bahaya. Biasanya bahaya berbau seperti niat jahat, nafsu atau rasa ingin tahu manusia yang berlebihan. Namun, apa yang ia rasakan dari pemuda di depannya ini berbeda. Ini merupakan sebuah resonansi.

Saat jarak mereka hanya tersisa lima meter, ruang di antara mereka seolah-olah bergetar. Kenzie merasakan gelombang panas yang merayap di tengkuknya. Di dalam darahnya, kutukan yang diberikan ibunya seolah-olah terbangun, berbisik bahwa ada sesuatu yang mirip dengannya di dekat sini. Sesuatu yang juga tidak tersentuh oleh waktu. Sesuatu yang bersifat abadi.

Julian tidak berhenti melangkah, namun Kenzie menyadari bahwa mata biru pemuda itu sedikit menyipit. Julian tidak menatap wajah Kenzie secara langsung, ia menatap aura di sekitar Kenzie.

Bagi Julian, Kenzie adalah sebuah anomali visual. Di tengah-tengah kerumunan manusia yang tampak seperti lilin yang menyala terang dan cepat habis, Kenzie tampak seperti berlian yang memantulkan cahayanya sendiri. Tidak ada aroma pembusukan seluler yang biasa ia cium dari manusia fana. Gadis itu adalah sebuah keabadian yang membeku.

Mata mereka bertemu selama satu detik yang terasa seperti satu abad. Dalam tatapan singkat itu, sebuah percakapan tanpa kata terjadi.

Kau bukan manusia, batin Kenzie.

Kau juga tidak fana, balas tatapan Julian.

Namun, di dunia di mana penyamaran adalah satu-satunya pelindung, pengakuan adalah maut. Kenzie segera memutuskan kontak mata itu. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan poni rambut hitamnya menutupi ekspresi wajahnya yang terkejut. Kenzie mempercepat langkahnya, merapatkan buku di dadanya seolah-olah itu adalah perisai.

Julian tetap berjalan lurus. Punggungnya tegak, wajahnya kembali menjadi topeng tanpa ekspresi yang sempurna. Ia tidak menoleh ke belakang. Baginya, menoleh berarti menunjukkan ketertarikan dan ketertarikan adalah awal dari keterlibatan.

Jangan terlibat, perintah Julian pada dirinya sendiri. Kau punya Elena yang menunggumu di rumah. Kau punya rahasia yang harus dijaga demi keselamatan anak-anakmu.

Namun, indra-nya menolak untuk mengabaikan Kenzie. Ia bisa merasakan getaran di udara yang ditinggalkan oleh gadis itu, getaran yang sangat murni, sangat bersih, namun menyimpan kesedihan yang sudah mengendap terlalu lama. Gadis itu tidak memiliki energi seperti kaumnya, tapi dia memiliki daya hidup yang konstan.

Di ujung koridor, Kenzie bersembunyi di balik pilar besar. Jantungnya berdegup kencang, sesuatu yang jarang terjadi. Ia menyentuh dadanya, merasakan ritme yang tidak beraturan itu.

"Siapa dia sebenarnya?" bisik Kenzie pada keheningan. "Dia bukan manusia biasa. Auranya terlalu luas untuk wadah sekecil itu."

Selama empat ratus tahun, Kenzie telah bertemu dengan banyak orang, penyihir picik, penipu yang mengaku abadi, hingga orang-orang religius yang menganggapnya iblis. Namun, ia belum pernah bertemu dengan makhluk yang memancarkan ketenangan yang begitu dalam seperti Julian.

Kenzie kini merasa terancam, namun di sudut terkecil hatinya yang sudah membeku, muncul sebuah percikan rasa ingin tahu yang berbahaya. Kali ini, dalam waktu yang sangat lama, ia tidak merasa sendirian di dunia ini. Dan itulah yang membuatnya sangat ketakutan.

Kenzie akhirnya sampai di perpustakaan. Ruangan itu luas, dengan rak-rak kayu tinggi yang menyimpan ribuan buku yang jarang disentuh. Ia duduk di sudut yang paling terpencil, dekat jendela yang menghadap ke hutan pinus.

Kenzie mencoba membaca, namun kata-kata di halaman buku itu hanya tampak seperti tarian semut yang tak berarti. Pikirannya terus kembali ke koridor tadi. Ke tatapan netra biru Julian yang seolah-olah bisa melihat menembus lapisan waktu yang ia bangun.

"Dia tahu." gumam Kenzie. "Dan aku tahu dia tahu."

Di sisi lain sekolah, Julian duduk di laboratorium Fisika yang masih kosong. Ia meletakkan tangannya di atas meja laboratorium yang dingin. Julian bisa merasakan getaran mikroskopis dari atom-atom di sekitarnya, kemampuan sensoriknya yang sering kali menjadi beban.

Julian memikirkan Kenzie. Gadis itu tampak sangat rapuh, namun ia memancarkan kekuatan yang sangat stabil. Jika gadis itu adalah manusia yang stuck di usia tujuh belas tahun, maka dia adalah target yang sempurna bagi siapa pun yang mendambakan keabadian.

"Apakah Stefanny sudah mencium jejaknya?" Julian bertanya-tanya.

Julian tahu bahwa kedamaian di SMA Arcandale ini hanyalah ilusi. Pertemuannya dengan Kenzie di koridor tadi bukan sekadar kebetulan, itu adalah peringatan dari alam semesta. Dua kutub abadi telah bertemu di satu titik koordinat yang sama. Dan biasanya, saat dua hal abadi bertabrakan, dunia fana di sekitar mereka akan hancur menjadi debu.

...•••...

"Hei, Kenzie! Ternyata kau di sini."

Suara Hallen yang nyaring memecah keheningan perpustakaan. Kenzie tersentak, menutup bukunya dengan kasar. Hallen berjalan mendekat dengan seringai khasnya, menyeret kursi dan duduk di hadapan Kenzie tanpa izin.

"Kau menghilang seperti hantu setiap kali bel berbunyi." kata Hallen, matanya berbinar dengan rasa penasaran yang dipancarkan remaja pada umumnya. "Tadi aku melihatmu di koridor dekat lab Fisika. Kau tampak seperti baru saja melihat monster. Wajahmu pucat sekali."

Kenzie menarik napas dalam-dalam, kembali memasang topeng dinginnya. "Aku hanya kurang tidur, Hallen. Bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku sedang ingin membaca."

"Membaca buku kuno ini?" Hallen mengambil buku itu dari tangan Kenzie, mengamati sampulnya. "Ini sangat membosankan. Ayolah, Kenzie. Ada pertandingan basket besok sore. Ikutlah menonton. Jangan jadi gadis gua terus."

Kenzie mengambil kembali bukunya dengan gerakan cepat. "Aku tidak tertarik dengan pertandingan basketmu."

"Kau tahu siapa yang ikut bermain?" Hallen merendahkan suaranya, seolah-olah memberikan informasi rahasia. "Julian. Si kutu buku misterius itu. Katanya dia hebat sekali, tapi dia jarang mau ikut tim. Sore ini dia terpaksa ikut karena kurang pemain."

Nama itu membuat Kenzie terdiam sejenak. Julian Klein. Bermain basket? Makhluk sepertinya mencoba melakukan aktivitas manusia yang begitu sepele?

"Oh iya, berbicara tentangnya. Ku rasa kau dan Julian itu sangat mirip. Dari awal aku satu kelas dengannya, dia sama sekali tidak pernah terlihat berinteraksi dengan teman-teman lainnya. Bahkan sepertinya tidak ada yang tahu tentang kehidupan dia atau latar belakang keluarganya. Julian selalu sendirian, tidak punya teman."

Kenzie tertegun sejenak. Kalimat Hallen menggantung di udara seperti asap yang sulit dihalau.

Julian selalu menyendiri.

Ada rasa simpati yang aneh merayap di dada Kenzie, sebuah perasaan yang seharusnya sudah ia buang ratusan tahun lalu. Kenzie tahu persis bagaimana rasanya menjadi satu-satunya pohon yang tetap tegak sementara hutan di sekelilingnya tumbuh, layu dan mati berkali-kali. Sendirian bukan hanya sebuah status bagi orang-orang seperti mereka, itu adalah mekanisme pertahanan hidup.

"Kenapa kau menceritakan ini padaku?" tanya Kenzie, suaranya datar namun matanya menatap tajam ke arah Hallen.

Hallen mengedikkan bahu, senyum sombongnya sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi bingung yang jujur. "Entahlah. Mungkin karena saat kulihat kalian berpapasan tadi, suasananya terasa aneh. Seperti ada tegangan tinggi di antara kalian. Aku pikir mungkin kalian adalah jenis alien yang sama."

Kenzie tidak menanggapi lelucon Hallen. Ia kembali menatap buku tuanya, namun pikirannya sudah meluncur jauh ke lapangan basket sekolah.

"Jadi kau akan ikut menontonnya kan?"

Suara Hallen kembali memecah pikirannya. "Aku tetap tidak akan datang." kata Kenzie tegas.

Hallen menghela napas, berdiri dengan kecewa. "Kau benar-benar sulit, ya? Tapi tidak apa-apa. Aku suka tantangan."

Setelah Hallen pergi, Kenzie menatap ke luar jendela. Kabut mulai menghilang, namun kegelisahan di hatinya justru semakin menebal. Ia tahu, meskipun ia dan Julian saling mengabaikan di koridor tadi, pertemuan itu telah memicu sesuatu yang tidak bisa dihentikan.

Di kejauhan, di lapangan sekolah, Julian sedang berdiri diam, menatap ke arah perpustakaan. Julian tidak perlu mata manusia untuk tahu bahwa Kenzie ada di sana. Resonansi di antara mereka masih terasa, sebuah benang tipis yang mengikat dua orang asing yang telah hidup terlalu lama di dunia yang terlalu cepat berubah.

Babak baru dalam kehidupan empat ratus tahun Kenzie telah dimulai dan kali ini, ia tidak yakin bisa melarikan diri lagi.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!