Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rahasia di Balik Kafe
Udara di dalam studio A&A Pictures mendadak terasa lebih tipis. Adelia masih memegang ponselnya, matanya terpaku pada foto yang dikirimkan oleh orang asing itu. Di sana, Arlan dan Sandra tampak berbicara sangat serius di sebuah kafe tersembunyi di sudut Jakarta. Arlan tampak condong ke depan, sementara Sandra memegang tangannya.
"Arlan, jawab aku," suara Adelia rendah, namun ada getaran luka di dalamnya. "Kapan foto ini diambil?"
Arlan menoleh, melihat layar ponsel Adelia, dan seketika wajahnya mengeras. Ia menghela napas panjang, bukan napas kemarahan, melainkan napas seseorang yang tertangkap basah.
"Dua hari yang lalu, Adel. Saat kamu bilang sedang mengunjungi panti asuhan," jawab Arlan jujur, meski suaranya terdengar sangat berat.
"Kenapa kamu tidak bilang?" Adelia melangkah maju, menuntut penjelasan. "Kita sudah janji untuk tidak ada lagi rahasia. Terutama soal Sandra."
Arlan berjalan mondar-mandir, tangannya menyisir rambutnya yang berantakan dengan frustrasi. "Karena aku tahu ini akan terjadi! Aku tahu kamu akan bereaksi seperti ini.
Sandra menghubungiku soal proyek Paris itu lebih awal. Dia bilang, jika aku memberitahumu secara langsung, kamu akan memaksaku mengambilnya demi karierku, meskipun itu artinya kita berpisah."
"Jadi kamu memutuskan untuk menemuinya di belakangku? Untuk apa? Menegosiasikan agar aku bisa ikut?"
Arlan berhenti bergerak. Ia menatap Adelia dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah dan keputusasaan. "Tidak. Aku menemuinya untuk menolak proyek itu secara pribadi. Tapi dia... dia membawa sesuatu yang lain, Adel. Sesuatu yang berhubungan dengan studionya yang sekarang sedang di ambang kebangkrutan karena ulah Papa."
Adelia mengernyit. "Maksudmu?"
"Sandra diancam, Adel. Papa ingin menghancurkan siapa pun yang pernah dekat denganku untuk memancingku kembali. Proyek Paris itu bukan hanya peluang buatku, tapi satu-satunya cara agar Sandra dan timnya tidak hancur total. Dia memohon padaku."
Adelia terdiam. Keheningan yang menyakitkan. Ia merasa dikhianati, bukan karena Arlan berselingkuh, tapi karena Arlan menganggapnya tidak cukup kuat untuk diajak berbagi beban masalah ini.
"Jadi, kamu menemuinya untuk menjadi pahlawan bagi mantan kekasihmu, sementara aku dibiarkan menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa?" bisik Adelia.
"Bukan begitu, Adel!"
"Lalu bagaimana?!" teriak Adelia. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Kamu kembali menjadi Arlan yang dulu. Arlan yang memutuskan segalanya sendiri karena merasa paling tahu apa yang terbaik untuk semua orang. Kamu tidak berubah!"
Arlan terpaku. Kata-kata Adelia menghantamnya tepat di ulu hati. Sebelum ia sempat membela diri, pintu studio terbuka lagi. Kali ini, tim kreatif mereka masuk dengan wajah panik.
"Pak Arlan, Mbak Adel! Ada masalah di lokasi syuting iklan sabun yang kita tangani. Kamera utama kita... jatuh dan pecah. Kita tidak punya asuransi untuk peralatan itu karena masih dalam proses administrasi!"
Arlan dan Adelia saling pandang. Di tengah konflik pribadi yang memanas, masalah profesional kembali menghantam. Studio independen mereka yang masih seumur jagung kini terancam kerugian besar.
"Pergi dan urus itu," ujar Adelia dingin sambil menyeka air matanya. "Aku butuh waktu untuk sendiri."
"Adel—"
"Pergi, Arlan! Selesaikan masalah kameramu. Itu yang paling kamu cintai, bukan?"
Arlan ingin sekali tinggal dan menjelaskan semuanya, namun ia tahu jika proyek iklan ini gagal, A&A Pictures bisa bangkrut sebelum berkembang. Dengan berat hati, ia mengambil kunci mobilnya dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Adelia duduk bersimpuh di lantai studio yang dingin. Ia menatap cangkir kopi Arlan yang masih tersisa separuh. Kopinya mungkin masih hangat, tapi hatinya terasa membeku. Ia baru menyadari bahwa dalam dunia A&A Pictures, mungkin ia hanya menjadi "A" yang kedua, pelengkap di balik bayang-bayang ambisi Arlan yang terlalu besar.
Sesaat kemudian, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk.
"Jangan percaya pada pengakuannya. Temui aku di alamat ini jika ingin tahu kontrak asli yang ditandatangani Arlan dengan Sandra."
Adelia menggenggam ponselnya kuat-kuat. Ia harus tahu kebenarannya, meskipun itu akan menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Alamat yang dikirimkan melalui pesan misterius itu menuntun Adelia ke sebuah gedung perkantoran tua di pinggiran kota. Di sana, di sebuah ruangan remang-remang yang penuh dengan tumpukan arsip, Sandra sudah menunggu. Kali ini, tidak ada senyum sinis atau gaya angkuh. Wajah Sandra tampak lelah, seolah ia juga terjebak dalam permainan yang ia buat sendiri.
"Kamu datang juga," gumam Sandra sambil menyodorkan sebuah map biru. "Aku tidak ingin melakukan ini, tapi Arlan terlalu keras kepala. Dia pikir dia bisa menyelamatkan semua orang sendirian."
Adelia membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya menyisir setiap baris kalimat legal yang kaku. Di halaman terakhir, tertera tanda tangan Arlan yang sangat ia kenali.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Adelia.
Di dalam kontrak itu tertulis bahwa Arlan setuju untuk mengambil proyek Paris, namun dengan satu syarat tambahan: Investor akan melunasi seluruh hutang studio lama Sandra dan menjamin keamanan A&A Pictures dari gangguan hukum Ayah Arlan. Sebagai imbalannya, Arlan setuju untuk memutus kontrak kerja Adelia dari studio miliknya sendiri selama ia berada di Paris.
"Dia melakukan ini untuk melindungiku?" tanya Adelia, suaranya pecah.
"Bukan hanya melindungimu, Adel," sahut Sandra. "Dia menjual kebebasannya agar kamu tidak terseret dalam perang antara dia dan ayahnya. Dia setuju untuk membiarkanmu 'dilepas' agar kamu bisa membangun kariermu sendiri tanpa bayang-bayang skandalnya. Dia pikir, dengan menjauhkanmu, kamu akan aman."
"Tapi dia membohongiku! Dia membiarkan aku berpikir bahwa dia hanya ingin pergi untuk kariernya!" Adelia membanting map itu ke meja.
"Arlan itu martir, Adel. Dia lebih suka kamu membencinya daripada melihatmu hancur karena dia," Sandra menatap Adelia dengan tatapan iba yang justru terasa menyakitkan.
"Tapi ada satu hal lagi. Kontrak ini punya klausul rahasia. Jika Arlan gagal menyelesaikan film di Paris, seluruh aset A&A Pictures—termasuk alat-alat yang baru saja rusak itu—akan disita oleh investor."
Adelia tersentak. Jadi, kecelakaan kamera di studio tadi pagi... itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah peringatan dari investor agar Arlan segera menandatangani dokumen keberangkatan dan meninggalkan Adelia.
Tanpa membuang waktu, Adelia berlari keluar gedung. Ia memacu motornya menuju lokasi syuting iklan sabun tempat Arlan berada. Pikirannya kalut. Ia marah karena Arlan menganggapnya lemah, tapi ia juga takut kehilangan pria itu dalam permainan kotor keluarganya.
Begitu sampai di lokasi, Adelia melihat Arlan sedang berdiri di depan tumpukan peralatan yang rusak. Ia tampak sangat kecil di tengah reruntuhan impiannya sendiri.
"ARLAN!" teriak Adelia.
Arlan menoleh, wajahnya yang penuh keringat dan debu tampak terkejut. "Adelia? Kenapa kamu ke sini? Aku sudah bilang urus saja di kantor—"
Adelia langsung menerjang dan memukul dada Arlan dengan kepalan tangannya yang kecil. "Kenapa kamu setuju memecatku?! Kenapa kamu pikir aku ingin aman kalau itu artinya aku harus kehilangan kamu?!"
Arlan mematung. Matanya yang tajam kini tampak redup karena rasa bersalah yang tak tertahankan. Ia tahu rahasianya sudah terbongkar.
"Adel, dengerin aku..."
"Nggak! Kamu selalu bilang jangan ada rahasia, tapi kamu sendiri yang bikin tembok paling tinggi!" Adelia menarik napas tersengal, air matanya bercampur dengan debu di pipinya. "Kamu mau jadi pahlawan? Kamu mau pergi ke Paris dan biarin aku sendirian di sini tanpa tahu apa-apa? Kamu pikir itu cinta?!"
"AKU NGGAK PUNYA PILIHAN, ADEL!" Arlan akhirnya meledak. Ia mencengkeram bahu Adelia, suaranya parau oleh emosi. "Papa nggak akan berhenti sebelum kamu hancur! Aku bisa kehilangan studionya, aku bisa kehilangan namaku, tapi aku nggak bisa liat kamu masuk penjara karena fitnah keuangan yang lagi Papa siapin buat kamu! Kontrak itu satu-satunya cara buat narik kamu keluar dari garis tembak!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Adelia. Ia menatap Arlan dengan ngeri. "Fitnah keuangan?"
"Papa sudah memanipulasi laporan pajak A&A Pictures atas namamu sebagai Manajer Operasional," bisik Arlan dengan suara bergetar. "Kalau aku nggak pergi ke Paris dan nurutin kemauan investor mereka, minggu depan kamu akan dijemput polisi. Aku terpaksa, Adel. Aku terpaksa..."
Arlan jatuh berlutut di depan Adelia, menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu. Sang "Naga" yang ditakuti semua orang kini hancur berkeping-keping, menyerah pada kekuasaan yang lebih besar yang mengancam orang yang paling dicintainya.
Adelia mengusap rambut Arlan, merasakan getaran tubuh pria itu. Kemarahannya menguap, digantikan oleh tekad yang membara. "Kalau begitu, kita jangan cuma bertahan, Arlan. Kita lawan balik. Dan kali ini, jangan berani-berani kamu jalan sendirian."