Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelita dalam Kegelapan
Malam pertama di perbukitan itu turun dengan keheningan yang mencekam bagi sebagian jiwa kecil yang baru saja berpindah tempat. Meskipun kasur yang mereka tempati empuk dan selimutnya hangat, bayang-bayang masa lalu dan kerinduan akan sesuatu yang akrab tetap merayap masuk melalui celah-celah jendela, membawa serta rasa cemas yang tak kasat mata.
Lampu-lampu di koridor utama telah diredupkan, hanya menyisakan pendar kuning yang lembut untuk memandu jalan. Luna dan Isaac tidak lantas beristirahat di kamar mereka. Mereka berjalan perlahan di sepanjang lorong asrama, memastikan bahwa setiap napas yang terdengar di balik pintu kayu itu adalah napas yang tenang.
Namun, saat melintasi depan kamar asrama putri, Luna menangkap suara isakan kecil yang tertahan. Ia memberikan isyarat kepada Isaac untuk menunggu, lalu perlahan memutar kenop pintu.
Di sudut ruangan, tampak Aira sedang meringkuk di bawah selimutnya, bahunya bergetar kecil. Di tempat tidur sebelahnya, Lulu yang biasanya ceria kini juga tampak terjaga dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
Luna mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Aira. Ia meletakkan tangannya dengan sangat hati-hati di atas punggung bocah itu.
"Aira... apakah kau merasa dingin?"
Aira menyembul dari balik selimut dengan mata yang sembap.
"Kak Luna... aku... aku rindu dengan bantal lamaku. Baunya berbeda dengan di sini."
Kalimat itu sederhana, namun Luna memahami maknanya yang mendalam. Bantal lama itu adalah satu-satunya kaitan fisik Aira dengan masa lalunya yang telah hilang. Luna kemudian menoleh ke arah Lulu yang juga mulai mendekat.
"Aku juga, Kak," bisik Lulu pelan. "Rumah ini sangat bagus, tapi sangat luas. Aku takut tersesat jika terbangun di tengah malam."
Luna menarik napas panjang. Ia memberikan tanda kepada Isaac melalui pintu yang sedikit terbuka. Tak lama kemudian, Isaac masuk dengan membawa lampu tidur portabel berbentuk matahari yang cahayanya bisa diatur.
"Bapak dan Kak Luna di sini," ujar Isaac dengan suara rendah yang menenangkan, memberikan kesan otoritas pelindung. "Kalian tahu mengapa rumah ini dibuat luas? Agar ada cukup ruang bagi setiap mimpi kalian. Dan jika kalian merasa tersesat, lihatlah lampu matahari ini. Ia akan selalu menyala di koridor agar kalian bisa menemukan jalan menuju dapur atau kamar kami."
Luna kemudian merangkul Aira dan Lulu secara bersamaan.
"Merasa takut adalah hal yang manusiawi saat kita berada di tempat baru. Kak Luna pun dulu sering menangis saat pertama kali kehilangan Ayah. Tapi, tahukah kalian? Bantal baru ini akan segera berbau seperti pelukan jika kalian mulai mengisinya dengan mimpi-mimpi yang indah."
Di asrama putra, kejadian serupa menimpa Dito. Ia tidak menangis, namun ia duduk tegak di tempat tidurnya sembari memeluk lutut. Isaac yang kemudian berpindah ke sana menemukan Dito sedang menatap jendela.
"Aku hanya ingin memastikan tomat-tomat itu tidak kedinginan di luar, Pak," ujar Dito dengan suara serak.
Isaac duduk di kursi belajar di samping tempat tidur Dito.
"Tomat itu adalah tanaman yang kuat, Dito. Seperti dirimu. Mereka butuh dinginnya malam agar bisa menghargai hangatnya matahari esok pagi. Sekarang, tugasmu adalah mengumpulkan tenaga agar besok pagi kau bisa menjadi orang pertama yang menyapa mereka."
Satu per satu, kecemasan itu mulai mereda. Kehadiran fisik Luna dan Isaac yang tenang, serta kata-kata yang penuh martabat dan empati, menjadi sauh bagi anak-anak yang sedang terombang-ambing oleh rasa rindu.
Luna tetap berada di asrama putri hingga napas Aira dan Lulu terdengar teratur dan berat. Ia merapikan selimut mereka sekali lagi sebelum keluar dengan langkah yang sangat ringan.
Di koridor, ia bertemu dengan Isaac. Mereka berdua bersandar pada dinding kayu, saling melepaskan napas lega yang panjang.
"Ini baru malam pertama," bisik Isaac sembari mengusap wajahnya.
"Iya," jawab Luna dengan senyum letih namun tulus. "Tapi malam ini kita telah membuktikan kepada mereka bahwa mereka tidak akan pernah lagi menghadapi kegelapan seorang diri."
---
Pagi pertama di perbukitan disambut oleh simfoni alam yang megah. Cahaya matahari menembus kabut tipis, menyentuh pucuk-pucuk pohon persik dan memantul di jendela kaca asrama.
Tidak ada suara alarm yang bising, hanya kicauan burung liar dan suara sapu lidi yang digoreskan Ibu Sari di halaman depan yang menandakan bahwa kehidupan baru telah dimulai.
Luna terbangun lebih awal. Ia segera mengenakan pakaian rajutnya yang hangat dan melangkah menuju dapur. Di sana, ia menemukan Ibu Sari sudah sibuk dengan kepulan uap dari panci besar berisi bubur ayam kuning yang harum.
"Selamat pagi, Nyonya Luna," sapa Ibu Sari dengan senyum yang selalu tenang. "Saya sedang menyiapkan sarapan yang lembut untuk perut mereka. Pagi pertama biasanya membuat nafsu makan anak-anak sedikit berkurang karena rasa cemas."
Luna mengangguk paham.
"Terima kasih, Ibu Sari. Saya akan membantu menata meja."
Tak lama kemudian, satu per satu anak-anak mulai keluar dari kamar mereka. Wajah-wajah yang semalam sembap karena rindu kini tampak lebih segar, meski masih tersisa kantuk di sudut mata mereka.
Bimo, anak yang paling rapi, sudah berpakaian lengkap dan duduk dengan tenang di meja makan, sementara Sari kecil tampak masih mengucek matanya sembari menggandeng ujung baju Lulu.
Isaac muncul dari arah asrama putra bersama rombongan Dito, Tedi, dan Aris.
"Ayo, siapa yang ingin melihat keajaiban embun di kebun sebelum makan?" tantang Isaac dengan nada ceria.
Anak-anak itu segera berlarian menuju halaman belakang. Luna memperhatikan bagaimana Dito langsung berlari menuju tanaman tomatnya.
Ia tertegun melihat butiran air embun yang menggantung di buah yang mulai memerah, seolah-olah tanaman itu sedang mengenakan permata.
"Kak Luna! Pak Isaac! Lihat, tomatnya mandi!" teriak Dito dengan tawa yang lepas.
Keriuhan kecil itu menjadi pembuka rutinitas baru mereka. Setelah mencuci tangan dengan tertib di wastafel kayu yang dirancang khusus oleh Isaac, mereka semua duduk melingkar di meja makan besar.
"Sebelum kita menikmati berkat pagi ini," Luna memulai sembari menatap wajah anak-anak itu satu per satu dengan penuh kebanggaan, "Kak Luna ingin kita semua membuat satu janji kecil. Di rumah ini, kita tidak hanya berbagi atap, tapi kita juga berbagi tugas. Siapa yang hari ini mau membantu Ibu Sari mencuci piring?"
Maya dan Doni segera mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi.
"Kami, Kak!" sahut mereka serempak.
Sarapan pagi itu berlangsung dengan penuh ketertiban namun tetap hangat. Aira yang semalam menangis kini tampak lahap memakan buburnya sembari sesekali bercanda dengan teman di depannya.
Tidak ada lagi suasana mencekam seperti malam sebelumnya; cahaya matahari dan aroma sarapan telah mengusir sisa-sisa kesedihan.
Setelah sarapan, Isaac mengajak anak-anak yang lebih besar untuk mulai menyusun buku-buku di perpustakaan, sementara Luna mengajak anak-anak kecil untuk mulai mengenal jenis-jenis tanaman herbal di kebun.
"Hari ini adalah hari pertama kalian belajar bahwa alam adalah guru terbaik," ujar Luna sembari menunjukkan daun mint kepada Lulu dan Hani. "Sentuh daunnya, dan cium aromanya. Ini adalah wangi kesegaran."
Melihat anak-anak tersebut mulai berinteraksi dengan lingkungan tanpa rasa takut, Luna menyadari bahwa proses adaptasi ini akan memakan waktu, namun fondasinya sudah terbentuk.
Kehidupan di The Dendra Foundation bukan lagi sekadar impian yang diam, melainkan sebuah gerak yang dinamis dan penuh harapan.