Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
"Selamat pagi, Tuan Gerry," sapa seorang pengawal.
Gerry, yang biasanya tampil necis, kini terlihat seperti pria yang tidak tidur selama tiga abad. Matanya sembap, rambutnya berantakan, dan kemejanya kusut.
"Katakan padaku berita bagus. Katakan kalau tuan Xavier sedang mandi atau sedang memukuli seseorang di ruang bawah tanah. Cepat!"
Pengawal itu menunduk hingga dagunya menyentuh dada.
"Masih belum ketemu, Tuan. Kami sudah menyisir radius sepuluh kilometer, tapi jejak tuan Xavier hilang di dekat sungai duri. Maafkan kami."
Gerry menghela napas kasar. Ia mulai mondar-mandir seperti setrikaan rusak.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada tuan besar Jonas?" gumam Gerry histeris pada dirinya sendiri. "Apa aku harus merelakan seluruh tubuhku dipotong-potong untuk dijadikan santapan an-jing kesayangannya? Atau aku harus memesan peti mati custom sekarang?"
Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa mewah, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Tuan Xavier, anda di mana? Cepatlah kembali. Apa anda tidak kasihan pada asisten anda yang tampan, setia, dan menggemaskan ini? Kalau anda tidak pulang, siapa yang akan membayar tagihan perawatan wajahku?"
"GERRY!!!" Suara itu berhasil memecah lamunan Gerry. Ia tersentak, hampir jatuh dari sofa.
"Baru juga dibicarakan, singa betinanya sudah datang," gumam Gerry gemetar.
Nyut!
Bukan cubitan, melainkan sebuah tangan mendarat di hidung Gerry, menjepitnya dan menariknya kuat-kali sampai memerah.
"Aduh! Ampun, Nyonya! Hidung saya bisa lepas!" teriak Gerry kesakitan.
"Ampun katamu? Menjaga bocah satu saja tidak becus! Sudah satu minggu dan kau malah santai-santai di sini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada my baby Vier-ku!" maki Bella, ibu Xavier yang tetap terlihat awet muda meski sedang murka.
"Hah? My baby Vier?" Gerry melongo di sela rasa sakitnya. Bayangan Xavier yang kejam dan berdarah dingin dipanggil baby membuatnya ingin muntah.
"Honey, hentikan. Jangan sentuh hidung pria lain selain aku," sahut sebuah suara berat dari belakang. Jonas, sang kepala keluarga mafia, muncul dengan wajah datar.
"Cukup, Jo! Jangan bertingkah seperti bocah!" Bella berbalik menghardik suaminya. "Kau tahu baby Vier hilang, kau malah asyik berkumpul dengan teman-teman golfmu! Menyebalkan.
"Maaf, Sayang. Aku hanya mencoba tenang." Ia menghampiri istrinya, mengabaikan Gerry yang masih memegangi hidungnya yang kini mirip tomat matang.
Bella kembali menoleh pada Gerry dengan tatapan membunuh. "Cepat cari Xavier sampai ketemu, Gerry! Kalau dalam dua hari dia belum ada di depanku, aku sendiri yang akan membabat burungmu itu sampai habis! Paham?!"
"B—baik, Nyonya!" Gerry langsung berdiri tegak, melakukan hormat, lalu ngacir keluar mansion sebelum aset berharganya benar-benar dieksekusi oleh nyonya besar.
*
*
Sementara itu, keadaan Xavier sudah jauh berbeda. Luka di lengannya hampir kering sempurna berkat ramuan hijau ajaib yang rutin ditempelkan oleh Luna.
Selama seminggu ini, Luna tetap bertahan dalam wujud kucingnya. Ia hanya berani berubah menjadi manusia saat Xavier sudah mendengkur lelap.
Xavier, yang awalnya ingin menembak kucing itu, entah kenapa mulai luluh. Mungkin karena di hutan sunyi ini, hanya makhluk berbulu itulah yang tidak mencoba membunuhnya.
Kini, mereka berdiri di tepi sungai yang airnya mengalir deras. Ini adalah singai pembatas antara hutan ajaib dan dunia luar.
"Aku harus segera kembali," ucap Xavier dingin, menatap ke arah seberang.
"Meong... meong..." Luna menatap Xavier dengan mata biru polosnya yang besar. Ia menggesekkan kepalanya ke sepatu Xavier yang sudah hancur.
"Kenapa kucing ini jadi sangat menggemaskan sekarang?" batin Xavier. Ia segera membuang muka, telinganya sedikit memerah.
Luna, yang entah mengapa bisa menangkap getaran batin itu, tersenyum kecil dalam hati. "Luna memang menggemaskan, manusia tampan. Kau baru sadar?"
"Kau benar-benar sudah gila, Xavier! Kau baper hanya karena seekor kucing liar?" gumam Xavier pada dirinya sendiri, mencoba mengembalikan jati dirinya sebagai mafia kejam.
Luna tiba-tiba tertunduk. Ia merasa ada yang aneh. Kenapa ia bisa mendengar isi hati Xavier? Apa karena mereka sedang berada di perbatasan, tempat di mana energi dua dunia bersinggungan?
"Meong..." Luna mengeluarkan suara murung. Ia memiringkan kepalanya, menatap Xavier yang mulai bersiap menyeberang. Xavier berdehem, menatap Luna untuk terakhir kalinya dengan tatapan tajam yang dipaksakan.
"Dengar, aku tidak akan berterima kasih padamu. Aku tidak pernah memintamu menolongku. Aku juga berharap tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Kucing pengganggu, menyebalkan, dan merepotkan," ucapnya ketus.
Deg!
Kalimat Xavier yang begitu dingin menusuk tepat di ulu hati Luna. Rasanya lebih perih daripada saat ekornya terjepit pintu.
"Kenapa rasanya sakit sekali mendengar itu? Padahal Luna hanya seekor kucing di matanya," batin Luna sesak.
Xavier beranjak dari duduknya. Tanpa menoleh lagi, ia mulai melompati bebatuan sungai, menyeberang menuju dunianya yang penuh darah dan kekuasaan. Ia berjalan pergi seolah menganggap Luna benar-benar tidak pernah ada dalam hidupnya.
Luna mematung di tepi sungai. Ia ingin mengejar, ingin melompat ke pundak pria itu, tapi suara Mimi Peri terngiang di kepalanya. Dunia manusia bukan dunia Luna.
Perlahan, tubuh kucing itu berpendar putih. Bulu-bulunya menghalus, kakinya memanjang, dan dalam sekejap, Luna kembali menjadi gadis cantik dengan rambut putih panjang yang terurai menutupi tubuh polosnya.
Ia jatuh terduduk di atas rumput basah. Matanya yang indah kini berkaca-kaca menatap punggung Xavier yang semakin menjauh dan menghilang di balik pepohonan seberang.
"Kenapa kau jahat sekali, manusia tampan?" bisik Luna. Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Apa Luna memang ditakdirkan untuk hidup sendiri selamanya? Bahkan setelah Luna memberikan semua perhatian Luna padamu."
Hutan itu kembali sunyi, menyisakan seorang gadis kucing yang menangis sendirian di antara dua dunia yang tak mungkin bersatu.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna