"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Lukai Aku, Kuangkat Dirimu
Puisi untuk Malam Sebelum Kehancuran
Aku pernah menyebutmu saudara,
di saat dunia meninggalkanku dalam lara.
Kau tahu semua lukaku,
Kau hapal semua tangisku,
Lalu kau jadikan itu senjata,
Kau tikam tepat di ulu hati yang paling dalam.
Sekarang, dengarlah baik-baik:
Ada harga untuk setiap pengkhianatan.
Kau pikir aku akan hancur saat kau rebut milikku?
Kau lupa, mawar tidak pernah mati hanya karena durinya patah.
Ia tumbuh lagi, lebih tajam, lebih kuat,
Dan kali ini, akulah yang memegang guntingnya.
Jadi pergilah, wahai sahabat yang tak pernah jadi.
Bawalah kenangan tentangku yang lemah,
Karena mulai detik ini,
Yang akan kau lihat hanyalah punggungku
—Saat aku melangkah meninggalkanmu di neraka yang kau cipta sendiri.
---
Malam itu, Jakarta menangis. Hujan turun deras sejak sore, seolah langit pun tahu akan terjadi sesuatu yang tak biasa. Genangan air di pinggir jalan memantulkan lampu-lampu kota yang kabur, menciptakan dunia ganda yang semu—seperti hubungan Alana dan Viola selama ini: indah di permukaan, busuk di dasar.
Alana memarkir mobilnya tepat di depan rumah yang dulu ia tinggali bersama Richard. Rumah yang sama yang kini menjadi saksi bisu perselingkuhan mereka selama tiga tahun. Lampu ruang tamu masih menyala. Alana bisa melihat dua bayangan dari balik tirai—Viola dan Richard, mungkin sedang menikmati malam mereka, seperti biasa, tanpa tahu bahwa badai sesungguhnya baru akan tiba.
Ia turun dari mobil tanpa payung. Rambut panjangnya segera basah, gaun sutra biru tua yang ia kenakan menempel di tubuh. Tapi Alana tidak peduli. Ia sudah terlalu lama hidup dalam kebasuhan. Air hujan ini justru terasa menyegarkan—seperti pembaptisan sebelum eksekusi.
Pintu terbuka sebelum jarinya menyentuh bel.
Viola berdiri di ambang pintu dengan daster sutra merah muda—daster itu milik Alana. Hadiah ulang tahun dari Richard tiga tahun lalu yang katanya "khusus untuk istri tercinta". Sekarang, daster itu melilit tubuh sahabatnya, basah di beberapa bagian, seperti baru selesai mandi. Atau baru selesai melakukan hal lain.
"Alana?" Suara Viola bergetar, matanya membelalak. "Kamu... kenapa ke sini?"
Alana tersenyum. Senyum yang tidak pernah Viola lihat sebelumnya. Bukan senyum kalah, bukan senyum pasrah. Senyum seorang algojo yang baru saja tiba di ruang eksekusi.
"Boleh aku masuk?" Suara Alana tenang. Terlalu tenang. "Atau kalian sedang sibuk?"
Dari dalam, terdengar suara Richard. "Sayang, siapa?" Lalu ia muncul dari balik pintu, handuk melingkar di leher, rambut basah. Begitu melihat Alana, wajahnya berubah. Campuran antara panik, marah, dan... takut.
"Alana? Ini sudah malam, apa yang—"
"Kalian habis mandi bersama?" potong Alana, masih dengan nada datar. "Ah, romantis sekali. Tiga tahun menikah denganku, Richard, kau tak pernah sekalipun mengajakku mandi bersama. Ternyata bukan karena kau tidak suka, tapi karena kau simpan ritual itu untuk sahabatku."
Viola mencoba tersenyum canggung. "Alana, jangan salah paham. Aku cuma—"
"Kau cuma tinggal di rumahku selama tiga tahun," potong Alana lagi, kali ini matanya menatap Viola tajam. "Kau cuma tidur di ranjangku. Kau cuma memakai bajuku. Kau cuma... merebut suamiku. Ya, 'cuma'." Ia tertawa kecil, tawa yang tidak mengandung humor sama sekali.
Richard melangkah maju, mencoba memasang wajah berwibawa. "Alana, ini bukan tempat dan waktu yang tepat. Pulanglah, kita bicara besok—"
"Tempat yang tepat?" Alana menatapnya dengan sorot mata yang membuat Richard mundur selangkah. "Kau pikir aku datang ke sini untuk diskusi? Untuk mediasi? Untuk menyelamatkan pernikahan kita yang sudah mati tiga tahun lalu?"
Ia melangkah masuk tanpa dipersilakan. Air hujan menetes dari ujung gaunnya ke lantai marmer yang dulu ia pilih sendiri. Ruang tamu ini—ia yang mendesain. Vas bunga di sudut itu, hadiah pernikahan dari ibunya. Lukisan di dinding, koleksi pribadinya. Semua ia kenali. Semua miliknya.
Dan di tengah semua miliknya itu, berdiri dua orang yang diam-diam mengambil segalanya.
Viola mulai gelisah. "Alana, dengar, aku tahu ini salah. Tapi kami benar-benar—"
"Kalian benar-benar mencinta? Kalian tak bisa menahan diri? Kalian khilaf?" Alana menyelesaikan kalimatnya dengan nada mengejek. "Silakan pakai alasan klise itu. Tapi sebelum kau lanjutkan, biar aku kasih tahu sesuatu."
Ia berhenti tepat di tengah ruangan, menatap satu per satu benda di sekelilingnya.
"Rumah ini," ucapnya pelan, "akan segera dijual. Perusahaan yang kau rampas, Richard, sudah kembali ke tanganku setengah jam yang lalu. Rekening-rekening yang kau kuras bersama perempuan ini, sudah saya bekukan. Mobil-mobil, kartu kredit, semuanya."
Wajah Richard pucat. "Apa?"
"Kau pikir aku datang ke sini untuk meratapi nasib?" Alana tertawa lagi, kali ini lebih keras, lebih nyaring, bergema di ruangan yang hening. "Aku datang ke sini untuk memberi kabar baik: permainan kalian sudah selesai."
Viola mencengkeram lengan Richard. tangannya gemetar. "Richard, apa maksudnya? Katakan padaku ini tidak benar!"
Tapi Richard hanya diam. Matanya terpaku pada Alana, wanita yang selama tiga tahun ia anggap bodoh dan buta. Wanita yang setiap malam ia tinggalkan di kamar utama sementara ia naik ke kamar tamu untuk bercinta dengan Viola. Wanita yang selalu tersenyum lembut setiap pagi, menyiapkan sarapan, menanyakan kabarnya.
Wanita yang selama ini ia remehkan.
"Sekarang," Alana melanjutkan, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya, "ini surat perceraian. Sudah kutandatangani. Kau tinggal tanda tangan, Richard, dan kita selesai secara hukum. Tapi secara moral?" Ia menyeringai. "Kau akan membawa dosa ini sampai mati."
Richard meraih amplop itu dengan tangan gemetar. "Alana... maafkan aku, aku—"
"Jangan." Alana mengangkat tangan. "Jangan buang-buang air matamu untuk sesuatu yang palsu. Kau sudah memilih, tiga tahun lalu, saat pertama kali Viola datang ke rumah ini dengan alasan 'butuh tempat tinggal sementara'. Kau sudah memilih saat kau diamkan dia memakai bajuku. Kau sudah memilih setiap malam kau naik ke kamar itu dan turun di pagi hari dengan senyum puas."
Viola mulai menangis. Bukan tangis penyesalan, tapi tangis panik. "Alana, tolong... aku nggak punya tempat lain. Keluargaku sudah putus hubungan denganku. Aku bisa kerja, aku bisa bayar kontrakan, tapi—"
"Tapi?" Alana menatapnya dengan dingin. "Kau pikir aku peduli?"
Ia melangkah mendekati Viola. Untuk pertama kalinya, Alana berdiri tepat di hadapan sahabatnya itu, jarak kurang dari setengah meter. Ia bisa melihat bulu mata palsu Viola mulai rontok karena air mata, lipstik merah yang luntur di sudut bibir, bau parfum yang sama dengan parfumnya—karena itu memang parfum Alana.
"Terima kasih," ucap Alana tiba-tiba.
Viola terkesiap. "A... apa?"
"Terima kasih sudah menjaganya selama ini." Suara Alana datar, tanpa emosi. "Terima kasih sudah melayaninya di ranjang saat aku sibuk membangun kembali perusahaan ayahku. Terima kasih sudah membuatnya sibuk, sehingga ia tidak curiga dengan aktivitasku selama tiga tahun terakhir."
Richard mengangkat wajah, matanya membelalak. "Apa maksudmu?"
Alana menoleh padanya dengan senyum paling manis yang pernah ia berikan. "Sayang, kau pikir aku benar-benar buta? Kau pikir aku tidak tahu kalian berdua bermain di belakang punggungku? Aku tahu dari bulan pertama. Aku tahu, dan aku diam. Bukan karena aku takut. Tapi karena aku butuh waktu."
Ia berjalan perlahan mengelilingi ruangan, jarinya menyusuri permukaan meja, menyentuh lukisan, merapikan vas bunga.
"Aku butuh waktu untuk mengambil alih kembali perusahaan dari tanganmu, Richard. Aku butuh waktu untuk mengumpulkan bukti penggelapanmu. Aku butuh waktu untuk menyusun ulang jaringan bisnis ayahku yang kau hancurkan. Dan selama itu, aku butuh kalian sibuk... dengan urusan kalian sendiri."
Viola gemetar hebat. "Kau... kau tahu dari awal? Dan kau diam saja?"
Alana mengangguk. "Setiap malam kau menangis di bahuku, mengaku kesepian, mengaku butuh teman, aku tahu itu semua dusta. Setiap kali kau bilang kau pergi ke dokter, ke salon, ke mall, aku tahu kau ke kamar suamiku. Dan aku diam. Aku biarkan."
Ia berhenti di depan Viola, menatapnya lekat-lekat.
"Karena aku tahu, suatu hari nanti, aku akan berdiri di depanmu seperti ini. Dan kau akan menangis, seperti ini. Dan aku akan berkata..."
Jeda panjang.
"Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Tapi waktunya habis."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan bisikan, tapi lebih tajam dari pisau.
Alana meraih lengan Viola dan menariknya keluar. Viola meronta, berteriak, mencengkeram kusen pintu. "Richard! Richard, tolong! Jangan biarkan dia!"
Tapi Richard hanya diam. Ia masih terpaku di tempatnya, menatap amplop di tangannya, mungkin baru menyadari bahwa selama ini bukan ia yang bermain, tapi justru ia yang dimainkan.
"Richard!" teriak Viola lagi. "Kau bilang kau cinta aku! Kau bilang kita akan bersama! Jangan tinggalkan aku!"
Richard mengangkat wajah. Matanya kosong. "Maaf," katanya lirih. "Aku... aku tidak punya apa-apa lagi."
Viola menjerit. Jeritan panjang, melengking, penuh keputusasaan. Tapi Alana tetap menariknya keluar, melewati teras, melewati halaman, sampai ke gerbang. Hujan masih deras. Keduanya basah kuyup. Gaun Viola yang tipis itu kini menempel di tubuhnya, memperlihatkan siluet yang selama ini ia gunakan untuk merayu Richard.
Di gerbang, Alana melepaskan tangannya.
"Ini batasnya," ucapnya. "Di luar sana, kau bebas. Terserah mau ke mana. Terserah mau jadi apa. Tapi jangan pernah kembali ke sini. Jangan pernah mendekati rumah ini. Jangan pernah mencoba menghubungi Richard lagi."
Viola terisak, berlutut di tengah genangan air. "Alana... aku minta maaf... aku sungguh minta maaf... aku nggak punya siapa-siapa lagi..."
"Kau tahu kenapa kau tidak punya siapa-siapa?" Alana menunduk menatapnya. "Karena kau sendiri yang membuang mereka semua. Kau memilih jadi ular di balik pakaian domba. Kau memilih mengkhianati satu-satunya orang yang benar-benar peduli padamu. Jadi sekarang, terimalah konsekuensinya."
Ia berbalik, melangkah kembali ke dalam rumah. Tapi sebelum masuk, ia berhenti.
"Viola," katanya tanpa menoleh. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan."
Viola mengangkat wajahnya yang basah.
"Apa kau pernah benar-benar menganggapku sahabat? Atau aku hanya tangga untukmu menuju kehidupan yang lebih baik?"
Hujan menj menj menj menj menj. Viola diam.
Alana menunggu beberapa detik, lalu tersenyum getir. "Sudahlah. Aku sudah tahu jawabannya."
Ia masuk ke rumah, menutup pintu perlahan. Suara hujan meredup, tergantikan oleh keheningan di dalam.
Richard masih berdiri di tempat yang sama. Amplop di tangannya basah oleh air mata—atau mungkin air hujan dari tangannya. Alana tidak peduli.
"Tanda tangan," katanya singkat. "Lalu keluar."
Richard mengangkat wajah. "Kau... kau benar-benar tega?"
Alana tertawa. Tawa yang keluar dari lubuk hati paling dalam. "Tega? Kau bertanya soal tega pada pria yang tidur dengan sahabatku di rumahku sendiri selama tiga tahun? Kau bertanya soal tega pada wanita yang kau kuras hartanya, kau hancurkan keluarganya, kau buat bahan tertawaan di belakang punggung?"
Ia meraih pulpen dari meja, melemparkannya ke arah Richard. Pulpen itu mengenai dadanya lalu jatuh ke lantai.
"Tanda tangan. Dan pergilah sebelum aku ubah keputusanku dan mengirimmu ke penjara bersama semua bukti penggelapan yang kumiliki."
Richard berlutut, mengambil pulpen itu dengan tangan gemetar. Ia membuka amplop, membaca surat perceraian itu—hanya satu halaman, singkat, padat, tanpa basa-basi. Istrinya benar-benar sudah menyiapkan semuanya dengan rapi.
"Alana," bisiknya, "aku tahu ini tidak berarti apa-apa. Tapi aku benar-benar minta maaf. Aku... aku tidak tahu kenapa aku bisa sejahat itu."
"Kau tahu," balas Alana dingin. "Kau tahu persis kenapa. Karena kau egois. Karena kau serakah. Karena kau pikir aku lemah dan bisa kau manfaatkan selamanya. Itu saja."
Richard menandatangani surat itu dengan tangan gemetar. Ketika selesai, ia mengulurkannya pada Alana. Tangan mereka hampir bersentuhan, tapi Alana menarik surat itu cepat-cepat, menghindari kontak fisik.
"Sekarang keluar."
Richard melangkah menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti, menoleh untuk terakhir kalinya.
"Apa kau... apa kau pernah mencintaiku?"
Alana menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca, tapi air mata itu tidak jatuh. Ia sudah terlalu banyak menangis untuk pria ini. Sekarang, hanya ada kebekuan.
"Aku pernah," jawabnya pelan. "Tapi kau membunuhnya, sedikit demi sedikit, selama tiga tahun terakhir. Dan malam ini, aku baru sadar: yang kau bunuh sebenarnya bukan cintaku. Tapi ilusiku tentangmu. Karena ternyata, pria yang kucintai itu tidak pernah ada."
Richard menunduk. Bahunya bergetar. Mungkin menangis. Mungkin tidak. Alana tidak peduli lagi.
Pintu terbuka. Richard melangkah keluar, ke tengah hujan deras. Viola masih berlutut di dekat gerbang. Mereka bertatapan. Dua orang yang sama-sama kehilangan segalanya dalam satu malam.
Alana menutup pintu. Perlahan. Mantap. Dengan bunyi klik yang terasa seperti akhir dari sebuah era.
---
Di dalam, Alana berdiri di tengah ruangan yang kosong. Rumah itu, yang selama ini terasa asing karena dipenuhi kehadiran dua pengkhianat, kini kembali sunyi. Tapi sunyi kali ini berbeda. Ini sunyi yang damai. Sunyi yang membersihkan.
Ia berjalan ke jendela, melihat ke luar. Hujan mulai reda. Viola dan Richard sudah tidak ada di halaman. Mungkin pergi bersama, mungkin berpisah. Tidak penting.
Alana meraih ponselnya, menekan satu nomor.
"Halo, Lucas," katanya. "Rumah ini siap dijual. Cari pembeli yang paling cepat. Berapa pun harganya."
Ia menutup telepon, lalu memandangi rumah itu untuk terakhir kalinya. Setiap sudut menyimpan kenangan—indah dan pahit. Tapi Alana tidak menyesal. Karena dari rumah inilah ia belajar satu hal:
Bahwa mawar paling indah sekalipun, jika terus dilukai, akan tumbuh duri yang paling tajam. Dan duri itu, ketika digunakan dengan tepat, bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ia melangkah keluar, meninggalkan rumah itu untuk selamanya. Tanpa menengok ke belakang. Tanpa air mata. Tanpa beban.
Di luar, hujan benar-benar berhenti. Langit mulai cerah, dan di sela-sela awan, bulan muncul malu-malu. Alana tersenyum. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum kelegaan.
Karena akhirnya, setelah sekian lama, ia bisa bernapas lega.
Di atas reruntuhan pengkhianatan, ia berdiri tegak.
Bukan sebagai korban, tapi sebagai pemenang.
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄