NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: HARI YANG PERCAYA DIRI

Sinar matahari sudah mulai menyinari setiap sudut halaman belakang rumah sakit ketika Lia menyelesaikan cucian terakhir dari ruangan rawat inap anak-anak. Udara pagi yang segar masih terasa dingin dengan sedikit embun yang menempel pada daun pepohonan di sekitar bak cucian besar yang terbuat dari beton bertulang. Dia menyimpan deterjen cair ke dalam wadah plastik yang kuat, tangan kirinya yang penuh dengan kapalan masih sedikit gemetar setelah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menyortir sepuluh karung pakaian pasien yang dikumpulkan dari berbagai ruangan.

“Lia, kamu sudah selesai kerja pagi ya?” ucap Pak Joko dengan suara khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Hari ini ada banyak cucian dari ruangan anak-anak lho – harus dicuci dengan cara khusus agar tidak membuat kulit mereka iritasi.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, menerima ember air bersih dari Pak Joko yang sudah seperti ayah bagi dirinya selama bekerja di bagian cuci rumah sakit. Dia mulai memasukkan deterjen ke dalam ember besar yang sudah diisi dengan air hangat, kemudian mengoleskannya pada setiap kain yang akan dicuci – mulai dari sprei pasien dewasa hingga baju anak-anak yang membutuhkan perawatan ekstra hati-hati agar tidak merusak kain kapas lembut yang biasanya digunakan untuk pakaian mereka.

“Saya akan mulai dengan cucian dari ruangan anak-anak dulu ya, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil mengambil beberapa helai kain dari karung besar yang sudah disiapkan Pak Joko. “Supaya tidak ada salah satu pun yang terlambat atau rusak karena proses cuci yang tidak tepat.”

Pak Joko mengangguk dengan senyum hangat, melihat betapa teliti Lia bekerja dengan penuh perhatian pada setiap helai kain yang akan dicuci. Dia tahu betul bahwa Lia selalu memberikan perawatan khusus pada setiap pakaian anak-anak, karena dia sendiri pernah merawat anak-anak yang membutuhkan kasih sayang ekstra setelah kehilangan orang tua atau harus tinggal jauh dari keluarga mereka.

Setelah menyelesaikan sebagian besar cucian pagi, Lia mengambil waktu sebentar untuk istirahat di bawah naungan pohon jambu yang memberikan kesegaran di tengah panas siang yang mulai menyengat. Dia membuka foto kecil yang selalu ada di mejanya – tiga wajah bayi yang masih tertidur damai dalam bak mandi plastik: Mal dengan lekukan kecil di bibir bawahnya, Rini dengan alis yang sedikit miring seperti ayahnya, dan Adit dengan bintik merah kecil berbentuk hati di punggungnya yang selalu menjadi tanda khusus yang tidak akan pernah dia lupakan.

“Saya selalu merindukan mereka, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil melihat foto itu dengan mata yang penuh cinta. “Setiap malam saya berdoa agar mereka selalu sehat dan bahagia, di mana pun mereka berada.”

Pak Joko mendekat dengan lembut, menepuk bahu Lia dengan penuh perhatian. “Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk mereka, Lia. Cinta yang kamu berikan tidak akan pernah hilang dari hati mereka, walau harus hidup di tempat yang berbeda.”

Lia mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, menyimpan foto kecil itu kembali ke dalam tasnya sebelum kembali bekerja menyelesaikan sisa cucian pagi. Dia mulai dengan mencuci sprei dari ruangan anak-anak, memberikan perhatian ekstra agar tidak ada satu helai kain pun yang sobek atau rusak akibat proses cuci yang terlalu keras. Setiap kain diputar dengan hati-hati, dibilas hingga benar-benar bersih dari deterjen yang mungkin masih menempel, kemudian digantung dengan rapi pada tali yang direntangkan di antara dua pohon jambu air di halaman belakang rumah sakit.

“Siang sudah mulai panas nih, Lia,” ucap Bu Siti yang membawa makanan hangat dari bagian dapur rumah sakit. “Anak-anak sudah pulang dari sekolah kan? Mal dan Rini pasti sudah menunggumu di kontrakan Bu Warsih.”

Lia tersenyum hangat, menerima bungkusan makanan dari Bu Siti yang selalu seperti ibu bagi dirinya. “Terima kasih banyak, Bu Siti. Saya akan segera menyelesaikan cucian ini lalu pulang menemui mereka.”

Setelah menyelesaikan semua cucian pagi, Lia mulai berjalan pulang melalui jalanan yang sudah akrab – menyapa setiap pedagang yang sudah mulai membuka kios mereka di pasar Cikini yang selalu ramai dengan orang-orang yang berbelanja atau hanya lewat jalan. Dia menyapa setiap orang yang kenal dengannya, dari pedagang sayur yang selalu memberikan sayuran segar hingga tukang becak yang selalu siap membantunya kalaupun ada barang yang terlalu banyak untuk dibawa pulang.

Ketika sampai di kontrakan, Lia melihat Mal dan Rini sudah bermain di halaman depan dengan beberapa teman sebaya yang datang dari rumah tetangga. Kedua anak perempuan itu segera berlari dengan gembira ketika melihat ibunya datang, membawa mainan dan buku tulis yang baru mereka dapatkan dari teman sekolah yang baik hati.

“Bu sudah datang!” teriak Mal dengan suara ceria, berlari ke arah Lia dengan tangan penuh dengan gambar yang digambarnya sendiri. “Kita sudah menggambar kakak kita ya, Bu.”

Lia meraih kedua anaknya dengan pelukan hangat. “Kamu berdua sudah mandi dan siap sekolah ya? Kita sudah belajar pelajaran baru ya, nak.”

Setelah sarapan bubur ayam yang disediakan Bu Warsih, Lia mengantar anak-anak ke sekolah dasar dekat kontrakan. Di jalan, mereka menyapa setiap orang yang kenal dengannya – tukang parkir yang selalu memberikan senyum hangat hingga pedagang kecil yang selalu memberi mereka makanan tambahan.

Di sekolah, Lia menyapa guru kelas Mal dan Rini. “Anak-anak sudah siap belajar ya, Bu Guru. Mereka sangat senang bisa masuk sekolah ini.”

Guru tersebut mengangguk dengan senyum. “Keduanya anak yang cerdas dan rajin, Lia. Mereka pasti akan sukses kelak.”

Setelah mengantar anak-anak, Lia kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya. Di jalan, dia melihat seorang anak laki-laki sedang bermain dengan daun kering di sudut jalan. Rambutnya pirang sedikit kusut, wajahnya ceria namun ada sesuatu yang membuat Lia merasa akrab – ketika anak itu berbalik, terlihatlah bintik merah kecil berbentuk hati di punggung kanannya yang terbuka karena kaosnya yang sobek.

Hati Lia berdebar kencang. Dia mendekat perlahan dengan suara lembut agar tidak membuat anak itu takut. “Hai nak, nama kamu apa?”

“Rio, Bu,” jawab anak itu dengan suara kecil sambil menatap Lia dengan mata penuh rasa ingin tahu.

“Rio ya? Kamu punya bintik merah di punggung kananmu ya?” tanya Lia dengan suara lembut sambil menunjukkan foto kecil yang selalu dibawanya.

Anak itu melihat foto itu dengan mata kagum. “Itu saya kan, Bu! Bareng sama dua kakak saya yang lain.”

“Ya sayang, itu kamu sama kakak kamu Mal dan Rini,” ucap Lia dengan suara penuh emosi. “Saya adalah ibumu yang selalu mencari kamu.”

Rio melihatnya dengan mata penuh keheranan dan kehangatan. Dia meraih tangan Lia dengan erat. “Jadi saya punya keluarga lagi ya, Bu?”

“Kita semua adalah keluarga, Rio,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluknya erat. “Kamu punya saya, punya Mal dan Rini, dan juga keluarga yang selalu mencintaimu dengan sepenuh hati.”

Di kejauhan, matahari mulai naik lebih tinggi menyinari kota yang sibuk. Suara anak-anak yang bermain memenuhi udara, membawa harapan baru bahwa cinta yang diberikan tidak akan pernah padam, walau harus berbagi dengan orang lain yang juga mencintainya dengan sepenuh hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!