Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 SELALU CANTIK.
Sinar matahari perlahan masuk melalui celah tirai, menyinari wajah dua insan yang masih terlelap dalam satu pelukan. Suasana kamar begitu tenang, hanya terdengar napas teratur yang saling bersahutan.
Revan membuka matanya lebih dulu. Ia menatap wajah Khay yang masih terpejam di dekatnya. Bibirnya sedikit melengkung, menikmati pemandangan yang entah sejak kapan selalu berhasil menenangkan hatinya.
“Morning…” bisiknya pelan.
Khay yang masih setengah sadar mengerjap, lalu perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung bertemu dengan Revan yang sudah lebih dulu menatapnya.
“Morning…” balasnya lembut.
Tanpa banyak kata, Revan mendekat dan mencium bibir Khay dengan pelan. Tidak terburu-buru, hanya sentuhan hangat yang penuh rasa.
Khay tidak menolak Tangannya bahkan refleks mencengkeram pelan kaos yang dikenakan Revan, membalas ciuman itu dengan ragu namun tulus.
Namun di tengah momen itu, Khay tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuatnya terdiam.
Ia mengernyit sedikit.
“Apa ini?” tanyanya polos, suaranya pelan namun cukup jelas.
Revan yang mendengar itu langsung menghentikan ciumannya. Wajahnya berubah canggung dalam sekejap.
“Eum… itu…” jawabnya terbata.
Khay membulatkan matanya, seolah baru menyadari sesuatu. Wajahnya langsung memerah.
“Astaga… itu…” gumamnya, lalu dengan cepat menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya.
Revan menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya sendiri.
Suasana mendadak berubah canggung Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga akhirnya terdengar suara pelan dari balik selimut.
“Mas…”
“Iya?”
Khay tidak langsung keluar. “Kenapa bisa begitu…”
Revan tersenyum kecut, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Itu… hal yang normal.”
“Normal gimana…” suara Khay makin kecil, jelas menahan malu.
Revan sedikit mendekat, lalu menarik perlahan selimut yang menutupi wajah istrinya. “Khay, lihat aku.”
Perlahan, Khay menurunkan selimut itu. Wajahnya masih merah, matanya bahkan tidak berani menatap langsung.
Revan menahan senyum. Ia justru merasa gemas melihat reaksi polos Khay.
“Itu wajar… apalagi kalau dekat sama istri sendiri,” ucapnya lebih lembut.
Khay langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Jangan dibahas…”
Revan tertawa pelan. “Memangnya kamu pikir aku kenapa?” godanya ringan.
“Revan!” protes Khay, kini sedikit kesal namun masih malu.
Revan akhirnya menarik tubuh Khay ke dalam pelukannya lagi, kali ini lebih santai. “Udah, nggak usah dipikirin,” ujarnya menenangkan. “Aku juga nggak akan ngapa-ngapain kalau kamu belum siap.”
Khay terdiam Perkataan itu membuatnya sedikit tenang.
Perlahan, ia menurunkan tangannya dan menatap Revan. “Bener?”
Revan mengangguk. “Bener.”
Khay menatapnya beberapa saat, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada Revan “Yaudah… jangan aneh-aneh lagi ya,” gumamnya pelan.
Revan tersenyum tipis sambil mengelus rambutnya. “Siapa yang aneh?”
Khay mencubit pelan pinggangnya.
Revan langsung tertawa kecil, suasana yang tadi canggung kini berubah menjadi hangat dan penuh keakraban.
Di pagi itu, mereka tidak hanya berbagi tempat tidur, tapi juga mulai belajar memahami satu sama lain… sedikit demi sedikit.
Angin sejuk dari balkon menyusup masuk ke dalam kamar, membuat tirai putih bergoyang pelan. Khay sudah berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang tergerai rapi dengan bandana putih yang sederhana namun manis.
Ia tersenyum kecil melihat bayangannya sendiri.
Sementara itu, Revan yang sejak tadi duduk di tepi ranjang hanya diam memperhatikan. Tatapannya tidak lepas dari Khay.
“Mas, ayo kita sarapan dulu,” ajak Khay sambil mengambil tas kecilnya.
Revan tidak langsung menjawab Matanya masih terpaku pada penampilan Khay pagi itu. Sederhana, tapi justru itu yang membuatnya terlihat begitu berbeda.
“Sepertinya aku salah pilih membeli pakaian kamu,” ucap Revan tiba-tiba.
Khay langsung menoleh cepat. “Loh kenapa? Apa ini jelek?”
Revan berdiri, mendekat pelan ke arahnya. Tatapannya lembut, tapi penuh arti. “Justru sebaliknya… kamu sangat cantik dengan pakaian itu.”
Khay terdiam Wajahnya langsung memerah, tangannya refleks merapikan ujung bajunya yang sebenarnya sudah rapi.
“Ah mas ini…” gumamnya salah tingkah. “Udah ayo sarapan dulu, bukannya kita mau lanjut jalan?”
Revan tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Iya, ayo.”
Mereka berjalan berdampingan menuju balkon kamar.
Begitu pintu kaca dibuka, pemandangan indah langsung menyambut. Gunung di kejauhan, langit pagi yang masih berwarna keemasan, dan udara segar yang membuat suasana terasa begitu damai.
Di sana, sudah tersaji berbagai hidangan sarapan di atas meja.
Mulai dari roti, buah-buahan, telur, hingga minuman segar yang tertata rapi.
Khay langsung tersenyum lebar. “Wah… ini semua buat kita?”
Revan menarik kursi untuknya. “Duduk dulu.”
Khay menurut, lalu duduk dengan wajah yang masih penuh rasa kagum.
Revan pun duduk di seberangnya Beberapa saat mereka hanya menikmati suasana. Khay mulai mengambil makanan, sementara Revan sesekali memperhatikan tingkah istrinya yang terlihat begitu menikmati momen itu.
“Mas…” panggil Khay tiba-tiba.
“Iya?”
Khay tersenyum nakal. “Benar ya kata orang, kalau nikah sama orang kaya itu enak dan bikin panjang umur.”
Revan mengangkat alisnya sedikit. “Oh ya?”
“Iya dong,” lanjut Khay sambil menggigit roti. “Lihat aja… bangun tidur udah disuguhi pemandangan bagus, makanan enak… hati senang, hidup jadi tenang.”
Revan tertawa pelan “Kamu ini bisa aja.”
Khay ikut tertawa kecil. “Tapi serius loh mas,” lanjutnya, kini sedikit lebih santai. “Aku nggak pernah ngebayangin bisa ada di posisi ini.”
Revan menatapnya lebih dalam “Menyesal?”
Khay langsung menggeleng cepat. “Nggak! Bukan gitu maksudnya…” Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Revan dengan jujur “Aku cuma… masih kayak mimpi aja.”
Revan terdiam sejenak Ia lalu mengambil segelas jus dan mendorongnya ke arah Khay.
“Kalau mimpi, jangan bangun dulu,” ucapnya singkat.
Khay tersenyum “Kalau bangun, gimana?”
Revan menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Khay dengan santai namun penuh makna.
“Aku pastikan kamu tetap di sampingku.” Ucapan itu sederhana, tapi cukup membuat jantung Khay berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menunduk, menyembunyikan senyumnya.
“Mas ini kalau ngomong suka bikin orang salah tingkah…”
Revan hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan sarapannya.
Beberapa saat kemudian, suasana kembali santai.
Mereka saling bertukar cerita ringan, sesekali tertawa, menikmati pagi yang terasa begitu sempurna.
Di tengah semua itu, Khay diam-diam memperhatikan Revan.
Pria yang awalnya ia pikir dingin, ternyata memiliki sisi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya Dan tanpa ia sadari perasaan di hatinya mulai berubah, perlahan namun pasti.