NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 21 – PERUT LAPAR, HARGA DIRI TERKUPAS

Kontrakan kecil itu mulai menunjukkan wajah aslinya setelah seminggu.

Cat dinding yang mengelupas makin jelas.

Kamar mandi mampet.

Atap bocor kalau hujan deras.

Dan yang paling terasa…

Uang mulai menipis.

Pipit duduk di lantai dapur, menghitung lembaran uang yang tersisa. Seratus ribu. Dua lembar dua puluh ribu. Receh di toples.

Ia menarik napas panjang.

“Cukup buat tiga hari,” gumamnya.

Bagas baru pulang kerja. Wajahnya kusut. Kemeja sedikit basah oleh keringat.

“Proyeknya ditunda,” katanya pelan.

Pipit mengangkat wajah.

“Ditunda?”

“Iya. Investor mundur. Gaji bulan ini kemungkinan molor.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur.

Dalam.

Gelap.

Tanpa gema.

Pipit tidak langsung bicara.

Ia hanya mengangguk kecil.

Tapi di dalam dadanya, ada rasa yang mulai merayap: takut.

Bagas duduk di sampingnya.

“Maaf.”

Satu kata itu terasa terlalu kecil untuk situasi sebesar ini.

“Maaf karena apa?” Pipit mencoba tersenyum. “Kita memang mulai dari nol kan?”

Bagas tertawa kecil.

Tertawa pahit.

“Nol ternyata lebih dingin dari yang aku bayangkan.”

Malam itu mereka makan mi instan berdua. Satu bungkus dibagi dua. Telur tidak ada. Sayur tidak ada.

Hanya mi dan air panas.

Pipit meniup uapnya pelan.

Ia tidak pernah membayangkan akan kembali ke fase hidup seperti ini.

Ia pernah hidup susah.

Ia pernah makan dengan lauk tempe setengah potong dibagi tiga.

Tapi dulu ia sendiri.

Sekarang… ada suami.

Dan ia tidak ingin suaminya merasa gagal.

Bagas menyuap pelan.

Rasanya hambar.

Bukan karena kurang bumbu.

Tapi karena harga dirinya seperti ikut direbus di dalam mangkuk itu.

Besoknya, telepon berdering.

Nama di layar: Tante Siska.

Adik sepupu Bu Rahayu.

Bagas menatap lama.

Pipit hanya melihat.

“Angkat saja,” katanya.

Bagas menjawab.

Dan seperti biasa…

Suara itu langsung menyembur tanpa jeda.

“Gas, kamu ini gimana sih? Masa keluar dari rumah orang tua tanpa persiapan? Kamu pikir hidup itu drama sinetron? Bisa makan cinta tiap hari?”

Bagas diam.

Tante Siska lanjut tanpa ampun.

“Kamu itu dulu enak! Tinggal di rumah besar, makan tinggal ambil, listrik, air nggak pernah mikir! Sekarang? Sudah tahu istrimu bukan siapa-siapa, malah dibela mati-matian! Perempuan kayak gitu tuh kalau nggak bikin kamu naik, ya bikin kamu turun!”

Pipit mendengar semuanya.

Setiap kata.

Tanpa disaring.

Tanpa ditahan.

Bagas menggenggam ponsel erat.

“Tante, ini keputusan saya.”

“Keputusan bodoh! Lelaki kalau nggak punya uang itu cuma jadi beban! Kamu mau kasih makan apa istrimu? Janji? Cinta? Hah? Cinta nggak bisa digoreng, Gas!”

Kalimat itu tajam.

Dan kali ini… menancap tepat di dada Bagas.

Karena ia tahu…

Ia memang tidak punya apa-apa saat ini.

Telepon ditutup sepihak.

Bagas menunduk.

Pipit berjalan mendekat.

“Sudah biasa,” katanya pelan.

Bagas tertawa getir.

“Aku baru sadar, ternyata omelan itu lebih keras kalau perut lagi lapar.”

Ia mengusap wajah.

“Aku nggak pernah ngerasain dihina soal uang. Dulu… semua orang hormat.”

Pipit menatapnya lama.

“Nah. Sekarang kamu tahu rasanya.”

Bukan menyindir.

Bukan membalas.

Hanya fakta.

Dan fakta kadang lebih pedih dari hinaan.

Hari ketiga.

Gas elpiji habis.

Pipit menatap kompor kosong.

Uang tersisa lima puluh ribu.

Ia membuka dompet kecilnya.

Di sela lipatan kain, ada cincin tipis.

Cincin lamanya.

Bukan cincin nikah.

Cincin kenangan masa lalu.

Ia menatapnya lama.

Lalu memasukkannya ke kantong.

Bagas pulang sore itu melihat dapur kosong.

“Kamu belum masak?”

Pipit tersenyum kecil.

“Aku sudah jual cincin lama. Lumayan buat beli gas dan beras.”

Bagas terdiam.

“Kamu jual barang kamu?”

“Barang bisa dicari lagi. Harga diri nggak.”

Kalimat itu menampar.

Bagas menoleh, rahangnya mengeras.

“Aku nggak mau kamu jual apa pun lagi.”

“Kalau begitu, kita sama-sama cari jalan.”

Dan di situlah untuk pertama kalinya Bagas merasa… Pipit bukan perempuan yang bergantung.

Ia partner.

Ia teman perang.

Tapi perang ini belum selesai.

Sore itu, tanpa mereka tahu, Bu Rahayu duduk di ruang tamu menerima kabar.

“Tahu nggak? Anakmu katanya sekarang tinggal di kontrakan sempit. Gajinya ditunda pula.”

Informasi itu datang seperti santapan.

Bu Rahayu tersenyum tipis.

“Sudah saya bilang juga apa. Cinta nggak bikin kenyang.”

Tapi malamnya…

Ia membuka galeri foto lama.

Foto Bagas kecil.

Foto ulang tahun.

Foto kelulusan.

Ia menatap layar lama.

Hatinya bergetar sedikit.

Tapi egonya masih berdiri tegak.

“Biar saja. Biar tahu rasa,” gumamnya.

Ia tidak sadar…

Setiap kalimat itu seperti doa buruk untuk anaknya sendiri.

Malam keempat.

Hujan deras.

Atap bocor.

Air menetes tepat di dekat kasur.

Pipit menaruh ember.

Bagas melihat itu dengan mata merah.

“Aku akan cari kerja tambahan.”

“Kamu sudah kerja seharian.”

“Aku nggak peduli.”

Nada suaranya keras.

Untuk pertama kalinya bukan karena orang lain.

Tapi karena dirinya sendiri.

Karena ia muak merasa tidak mampu.

Pipit berdiri.

Mendekat.

“Bagas, kita sedang diuji. Bukan dihukum.”

“Rasanya sama saja.”

Ia terduduk.

Air hujan menetes pelan.

Seperti menghitung detik kegagalan yang ia rasakan.

Pipit duduk di depannya.

“Dulu waktu aku dihina tiap hari, kamu bilang sabar itu bukan berarti kalah. Sekarang giliran kamu diuji, jangan malah menyerah.”

Bagas menatap istrinya.

Perempuan yang dulu dianggap tidak pantas itu…

Sekarang jadi satu-satunya yang berdiri paling kuat.

“Aku malu.”

“Bagus,” Pipit tersenyum kecil. “Berarti kamu masih punya hati.”

Air mata Bagas akhirnya jatuh.

Pelan.

Laki-laki jarang menangis.

Tapi ketika harga dirinya terkikis sedikit demi sedikit…

Tangis itu bukan lemah.

Tangis itu jujur.

Dan di luar sana…

Orang-orang masih sibuk bergunjing.

Masih sibuk bilang:

“Sudah dibilang, nikah tanpa restu orang tua itu nggak bakal langgeng.”

“Perempuan itu bawa sial.”

“Lihat kan sekarang jatuh miskin.”

Setiap kalimat seperti api kecil yang dilempar dari jauh.

Tidak membakar rumah.

Tapi membakar hati.

Dan Bagas mulai merasakan…

Pedihnya hidup tanpa uang.

Tanpa perlindungan keluarga.

Tanpa kemewahan nama belakang.

Kini ia hanya laki-laki biasa.

Dengan istri.

Dengan hutang kecil.

Dengan harapan yang belum tentu bertahan.

Dan badai belum selesai.

Karena minggu depan…

Pemilik kontrakan akan datang menagih.

Dan rekening mereka hampir kosong.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!