"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: BADAI DI PUNCAK ALPEN
BAB 22: BADAI DI PUNCAK ALPEN
Heli Airbus H160 itu mendarat dengan guncangan halus di helipad pribadi sebuah vila yang bertengger di tebing curam pegunungan Alpen, Swiss. Salju putih bersih beterbangan tertiup baling-baling, menciptakan kabut kristal yang mengaburkan pandangan. Di sini, ribuan meter di atas permukaan laut, oksigen terasa tipis, namun ketegangan yang dibawa oleh dua penumpangnya jauh lebih menyesakkan.
Alana melangkah keluar lebih dulu. Ia mengenakan mantel bulu putih yang senada dengan warna salju, membuatnya tampak seperti hantu cantik di tengah pegunungan es. Di belakangnya, Kenzo keluar dengan langkah angkuh, tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel wol hitamnya.
"Tempat yang cukup terpencil untuk sebuah pembantaian bisnis, bukan?" suara Kenzo menyindir, dingin dan tajam, menusuk melalui deru angin gunung.
Alana tidak menoleh. Ia berjalan menuju pintu masuk vila yang terbuat dari kaca dan baja modern. "Vila ini memiliki keamanan paling ketat di seluruh Eropa, Tuan Dirgantara. Jika Anda ingin bernegosiasi soal teknologi enkripsi satelit itu, di sinilah tempatnya. Tanpa gangguan, tanpa saksi."
Begitu mereka masuk ke dalam, kehangatan dari perapian otomatis segera menyambut. Interior vila itu minimalis namun sangat mewah, dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan jurang Alpen yang mengerikan sekaligus indah.
Maximilian dan para pengawal Von Heist tetap berada di luar, menjaga perimeter sesuai permintaan Alana. Di dalam vila itu, secara teknis, hanya ada mereka berdua.
Alana berjalan menuju meja bar, menuangkan dua gelas wiski tanpa menatap Kenzo. "Duduklah. Mari kita selesaikan ini dengan cepat agar Anda bisa segera meninggalkan negaraku."
"Negaramu?" Kenzo melangkah mendekat, suaranya kini terdengar tepat di belakang telinga Alana. "Sejak kapan kau merasa memiliki tanah yang dingin ini, Alana? Sejak kapan kau merasa menjadi bagian dari orang-orang yang membunuh kebahagiaanmu sendiri?"
Tangan Alana yang memegang botol wiski sedikit bergetar, namun ia segera mengontrolnya. Ia berbalik dan memberikan satu gelas kepada Kenzo. "Kebahagiaan adalah konsep yang subjektif. Kekuasaan adalah hal yang mutlak. Aku memilih yang terakhir."
Kenzo tidak mengambil gelas itu. Ia justru mencengkeram pergelangan tangan Alana, memaksanya meletakkan gelas tersebut kembali ke meja. Matanya yang hitam pekat menatap dalam-dalam ke dalam mata Alana yang berusaha terlihat tak peduli.
"Katakan padaku di depan wajahku," desis Kenzo. "Katakan bahwa kau tidak merindukanku. Katakan bahwa setiap malam di kastil terkutuk itu, kau tidak pernah sekali pun menyebut namaku dalam tidurmu. Jika kau bisa mengatakannya tanpa matamu berbohong, aku akan memberikan kunci enkripsi itu sekarang juga dan pergi dari hidupmu selamanya."
Alana merasakan dadanya seolah akan meledak. Pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama berbulan-bulan mulai retak. Bau maskulin Kenzo, intensitas tatapannya, dan kehangatan tangannya di kulit Alana adalah siksaan yang paling nikmat sekaligus menyakitkan.
"Aku... aku tidak merindukanmu," suara Alana pecah di ujung kalimat.
"Bohong," Kenzo memperpendek jarak. Tubuh mereka kini bersentuhan. "Kau gemetar, Alana. Detak jantungmu di pergelangan tanganmu ini berpacu lebih kencang dari pelari maraton. Siapa yang kau tipu?"
"Lepaskan aku, Kenzo! Ini bukan Jakarta! Kau tidak punya kekuasaan di sini!" Alana mencoba memberontak, namun Kenzo justru memerangkapnya di antara meja bar dan tubuhnya yang kekar.
"Aku tidak butuh kekuasaan untuk mengenali wanita yang kucintai," Kenzo berbisik, suaranya kini melunak, penuh dengan kerinduan yang putus asa. "Alana, aku tahu ada kamera yang mengawasimu. Aku tahu Maximilian ada di luar sana. Aku tahu paman-pamanmu mengancammu. Aku tahu semuanya."
Alana tertegun. "Kau... apa yang kau katakan?"
Kenzo meraih tangan Alana, menuntunnya untuk menyentuh bekas luka operasi di kepalanya yang tertutup rambut. "Kau pikir aku mencarimu hanya dengan amarah? Aku menghabiskan jutaan dolar untuk menyuap orang dalam Von Heist. Aku tahu tentang ancaman terhadap kakak-kakakmu. Aku tahu kau menyerang bisnisku hanya agar aku berhenti mencarimu dan tetap aman."
Air mata yang sejak tadi Alana tahan akhirnya tumpah juga. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi ratu es. Di depan Kenzo, ia kembali menjadi Alana, wanita yang hanya ingin dicintai.
"Kenapa kau datang jika kau tahu ini jebakan?!" isak Alana. "Mereka akan membunuhmu, Kenzo! Gunther dan Wilhelm... mereka sudah menyiapkan tim di bawah sana. Jika aku tidak memberikan sinyal dalam satu jam bahwa aku sudah mendapatkan kuncinya, mereka akan menyerbu masuk."
Kenzo tersenyum—senyum miring yang sangat dirindukan Alana. Ia merengkuh pinggang Alana dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. "Biarkan mereka datang. Kau pikir aku datang ke sini sendirian? Elvan dan tim taktis Blackwater sudah menyusup melalui jalur pendakian di sisi utara tebing sejak dua jam yang lalu. Maximilian? Dia sudah bekerja untukku sekarang."
Alana terbelalak tak percaya. "Maximilian? Dia orang kepercayaan kakekku!"
"Setiap orang punya harga, Alana. Dan harga Maximilian adalah keselamatan keluarganya di Jerman yang selama ini disandera oleh pamanmu. Aku sudah membebaskan mereka pagi tadi."
Alana merasa dunianya dijungkirbalikkan kembali. Pria di depannya ini bukan lagi Kenzo yang hanya bermain di lantai bursa saham. Ini adalah Kenzo yang telah berubah menjadi predator demi dirinya.
"Jadi... semua sandiwara di hotel Berlin kemarin?" tanya Alana lirih.
"Aku harus membuat mereka percaya bahwa kita benar-benar bermusuhan agar mereka memberimu izin membawaku ke tempat terpencil seperti ini," Kenzo mengusap air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya. "Terima kasih sudah bertahan, Alana. Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih perang ini."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah bawah tebing, diikuti oleh bunyi rentetan tembakan yang teredam oleh badai salju. Sinyal lampu di vila tersebut berkedip merah.
"Mereka sudah mulai," Kenzo menarik sebuah pistol dari balik mantelnya yang ia sembunyikan dengan sangat rapi. "Dengarkan aku, Alana. Tetaplah di belakangku. Kita akan keluar dari sini, dan kau tidak akan pernah kembali ke kastil itu lagi."
Alana menggenggam lengan Kenzo. "Tapi bagaimana dengan kakekku? Baron Friedrich tidak akan membiarkan kita pergi!"
"Kakekmu sudah tahu segalanya, Alana. Dia yang mengizinkan Maximilian bekerja denganku. Dia ingin melihat apakah kau cukup kuat untuk bekerja sama dengan 'serigala' sepertiku untuk memusnahkan paman-pamanmu yang korup itu. Ini adalah ujian terakhirnya untukmu."
Alana menyadari satu hal: di dunia para penguasa, tidak ada yang benar-benar jujur. Semuanya adalah lapisan manipulasi. Namun di tengah semua itu, hanya satu yang nyata—tangan Kenzo yang menggenggamnya erat.
Pintu depan vila didobrak paksa. Lima pria bersenjata masuk dengan gerakan cepat. Mereka adalah orang-orang Gunther.
"Tuan Dirgantara, Nona Roseline... sepertinya negosiasi sudah berakhir lebih cepat," ucap pemimpin regu tersebut sambil mengarahkan moncong senjatanya.
Kenzo tidak gentar. Ia menarik Alana ke belakang punggungnya. "Negosiasi memang sudah berakhir. Sekarang saatnya eksekusi."
Tepat saat itu, kaca jendela raksasa di belakang mereka pecah berkeping-keping. Dua tali rappelling meluncur turun, dan dua orang pria bertopeng—tim elit Dirgantara—masuk sambil melepaskan tembakan presisi.
Suasana menjadi kekacauan yang terukur. Di tengah desingan peluru dan pecahan kaca, Kenzo merangkul bahu Alana, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Ayo lari ke balkon!" teriak Kenzo.
Mereka berlari menembus api dan asap. Di balkon, sebuah helikopter lain—bukan milik Von Heist—sudah mendekat dengan lampu sorot yang menyilaukan.
Saat mereka bersiap untuk melompat ke arah pintu helikopter yang terbuka, sebuah suara tembakan tunggal terdengar dari arah tangga dalam.
BANG!
Langkah Alana terhenti. Ia melihat Kenzo tersentak, bahu kirinya mengeluarkan darah yang langsung membasahi mantel hitamnya.
"Kenzo!" Alana menjerit.
Kenzo tetap berdiri tegak, meski wajahnya memucat. Ia membalas tembakan ke arah penembaknya—Gunther yang muncul dengan wajah penuh amarah—hingga paman tirinya itu terjatuh dari tangga.
"Masuk ke pesawat, Alana! Cepat!" Kenzo mendorong Alana masuk ke tangan para pengawal yang sudah menunggu di pintu helikopter.
"Tidak tanpa kau!" Alana menarik tangan Kenzo dengan seluruh kekuatannya.
Dengan sisa tenaganya, Kenzo melompat masuk tepat saat helikopter itu menjauh dari tebing. Vila di belakang mereka meledak hebat, menghancurkan bukti-bukti pertempuran malam itu.
Alana segera merobek kain gaunnya untuk menekan luka di bahu Kenzo. "Kau gila... kau benar-benar gila!" isaknya.
Kenzo bersandar pada dinding helikopter, mencoba tersenyum meskipun menahan sakit yang luar biasa. "Aku sudah bilang padamu sepuluh tahun yang lalu, Alana... aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia. Dan jika aku harus tertembak sedikit untuk membawamu pulang, itu harga yang sangat murah."
Helikopter itu terbang menembus badai salju, meninggalkan pegunungan Alpen menuju perbatasan yang lebih aman. Alana memeluk Kenzo erat-erat, tidak peduli dengan darah yang mengotori gaun mahalnya. Malam ini, ia menyadari bahwa ia tidak butuh menjadi mawar hitam atau ratu es. Ia hanya butuh menjadi wanita yang dicintai oleh pria yang siap menghancurkan dunia demi dirinya.
Namun, di bawah sana, di sisa-sisa vila yang terbakar, sebuah tangan muncul dari balik reruntuhan. Gunther belum mati.