Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Mengambil Bunga Sedikit demi Sedikit
Dari tempatnya berdiri di dekat ruangan laundry, Ratih bisa melihat bayangan orang yang bergerak di dekat paviliun. Satu-satunya tempat yang tidak ada kamera pengawasnya di bagian luar rumah, karena memang tidak ada pintu atau jendela di sana. Pagar sang tinggi dan tidak ada pohon di bagian itu.
Ratih menatap tajam ke arah itu. Mungkin sejak dulu mereka memang selalu membuat rencana di tempat itu. Dia harus memasang kamera pengawas di sana besok.
Ratih berjalan dengan cepat ke kamar Sarah. Dia kembali menggunakan masker penutup mulut dan hidungnya. Lalu menyemprotkan racun itu di tempat yang sama. Di bantal, di selimut dan di gagang pintu lemari pakaian di kamar Sarah.
Ratih sudah akan pergi, tapi dia melihat banyak sekali alat make-up di atas meja rias. Pemandangan itu membuatnya terkekeh lirih. Semua alat make-up Sarah. Bahkan sama persis dengan miliknya. Apa orang-orang jahat itu berpikir bahwa Ratih, tidak akan pernah pergi ke kamar ini jadi ia tidak akan tahu kalau Sarah memang adalah simpanan Fandi.
Jika tidak, dari mana seorang pelayan bisa mendapatkan semua alat make-up yang harganya jutaan itu.
Merasa kesal, Ratih kembali ke meja rias. Dia menyemprotkan cairan racun itu ketemu alat make up yang ada di atas meja rias. Bahkan dia membuka tutup lipstik, dan menyemprotkan cairan racun itu ke batang lipstik merah merona itu.
"Nikmati saja semua ini, wanita jahat. Kamu juga seorang ibu kan? bahkan kamu menjual anakmu sendiri! nikmati saja semua perasaan bersalah itu nanti!"
Begitu selesai, Ratih membuka maskernya dan keluar dari kamar itu.
Dia berjalan ke arah kamar bibi Erma. Bukankah wanita tua itu adalah orang yang dengan tangannya sendiri memberikan racun pada Ratih. Dia juga harus merasakan hal yang sama. Rasa sakit seperti tercekik, panas membara di seluruh organ dalam, dan seperti terbakar. Setiap rasa perih seperti ditusuk-tusukk itu. Bibi Erma juga harus merasakannya.
Ratih membuka pintu kamar bibi Erma. Kamar yang sebelumnya bahkan tidak pernah dia datangi selama tinggal di rumah ini.
Cukup terkejut, kamar bibi Erma bahkan lebih mewah dari kamarnya. Ratih sungguh terkekeh lirih. Ternyata mereka semua memang sudah merasa seperti tuan rumah dari rumah ini sejak lama.
Semua barang-barang yang ada di gudang, ada di kamar bibi Erma. Guci mahal, lukisan mahal, dan barang berharga lain.
"Berani sekali!" geram Ratih.
Ratih segera menggunakan masker itu lagi. Lalu dengan cepat menyemprotkan sisa racun itu, semuanya ke semua benda yang ada di kamar bibi Erma.
Benar-benar sampai cairan racun di botol itu habis. Sangking kesalnya Ratih pada bibi Erma. Gorden kamar itu sampai ke gagang lemari dan kunci jendela tak luput dari semprotan cairan racun dari Ratih.
Setelah botol itu habis, Ratih bergegas ke luar. Membuka maskernya dan membersihkan dirinya di kamar mandi tamu. Botol itu juga dia buang di kotak sampah yang ada di depan rumah. Tempat yang hanya akan di sentuh oleh tukang kebun lalu di buang ke truk pengangkut keesokan harinya.
Satu pekerjaan susah selesai, dia sekarang tinggal memberikan pekerjaan yang lain untuk Sarah.
Ratih pergi ke dapur, dia membuat sendiri jus jeruk dan membawanya ke dalam kamarnya, satu gelas besar. Gelas yang sangat besar.
Dia mengeluarkan mantel-mantel mahalnya. Tapi kemudian dia menoleh ke arah Rafa. Bayinya itu tidak boleh terbangun. Dia mengeluarkan mantel-mantelnya yang sangat tebal dari dalam kamar, lalu selimut yang tebal juga.
Begitu semuanya ada di depan kamar. Ratih menyiramnya dengan jus jeruk di tangannya.
"Wah, ini akan jadi pekerjaan yang melelahkan!" gumamnya yang kembali mengacak-acak mantel itu dan menyiramkan kembali jus di bagian yang belum terkena.
Setelah dia yakin semuanya kotor. Ratih memanggil bibi Erma.
"Bibi Erma!"
"Bibi Erma!"
Di belakang paviliun, bibi Erma, Sarah dan Fandi sedang bicara. Mereka membahas apa yang dibicarakan oleh Fandi dengan Ratih tadi.
"Tidak bisa bi, mereka punya perjanjian. Ada kontrak antara Ratih dengan yayasan!"
"Ya bayar saja pakai uang Ratih dong, mas!" kata Sarah.
"Ratih bilang bukan dia yang mau memberhentikan pengasuh itu. Dia tidak mau tanggung jawab untuk bayar"
Bibi Erma terdiam, dia merasa Ratih memang sudah mulai berubah.
"Biasanya dia akan mengikuti apapun yang kita katakan. Kenapa dia sekarang pandau sekali menjawab dan berkilah. Apa mungkin dia tahu sesuatu?" tanya bibi Erma.
"Aku tidak tahu, aku akan coba cari tahu. Yang jelas, kita harus cari cara lain!" kata Fandi.
"Fitnah saja pengasuh itu. Bu, ambil perhiasan paling mahal di kamar Ratih. Lalu letakkan di kamar pengasuh itu. Ratih pasti akan mengusir pengasuh itu!" kata Sarah memberikan ide pada ibunya.
"Itu bagus!" sahut Fandi.
"Bibi Erma!"
Ketiganya menoleh ketika mereka mendengar suara Ratih memanggil bibi Erma.
"Ratih memanggilku. Fandi sebaiknya kamu cepat pergi ke perusahaan. Supaya Ratih tidak curiga. Kuras saja semua uang yang bisa kamu ambil dari perusahaan. Ratih tidak mungkin marah padamu!"
"Iya bi" kata Fandi yang segera pergi.
Bibi Erma dengan cepat berlari ke dalam rumah utama. Tapi wajahnya menjadi tidak senang, ketika dia melihat tumpukan selimut dan mantel mahal Ratih di lantai.
Di tangannya Ratih memegang gelas jus yang tinggal sedikit dan meminumnya.
"Iya nyonya!"
"Bi, bawa semua ini ke ruangan laundry. Aku mau pakai mantel itu besok! aku menumpahkan jus ini tadi saat mengambil mantel. Dan selimut ini juga kena. Pokoknya bawa semuanya. Sekalian bibi awasi pelayan yang baru itu ya. Mantel ini, harus bersih tanpa rusak. Kalau dia tidak becus kerja. Kita cari saja pelayan yang lain!"
Bibi Erma sampai bingung harus menjawab apa. Kalau dia membantah, mencari alasan, bukankah akan terkesan dia membela Sarah.
"I... iya nyonya. Saya akan bawa semua ini. Saya pastikan pelayan baru itu bekerja dengan baik!"
"Oke, bawa sana cepat. Setelah itu pel lantai disini dengan baik. Nanti ada semut, Rafa bisa di gigitt!"
Ceklek
Ratih menutup pintu kamarnya dengan cepat.
Bibi Erma mendengus kesal.
'Banyak sekali, apa iya semua ini tidak disengaja. Jangan-jangan dia sengaja mempersulit Sarah!' batin bibi Erma yang segera mengangkat semua selimut dan mantel yang ada di depan pintu itu.
Brukk
"Apa ini Bu?" tanya Sarah.
"Cuci dan setrika semua ini dengan benar. Jangan sampai rusak!"
"Bu! ini banyak sekali!" protes Sarah.
"Mau bagaimana lagi, dia menumpahkan jus jeruk di semua benda ini!"
Sarah mendengus kesal.
"Dia pasti sengaja! dasar wanita menyebalkan!" gerutunya.
Meski menggerutu, pada akhirnya dia harus mengerjakan semuanya juga.
***
Bersambung...
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏