persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Tentang Bisikan di Perpustakaan dan Mata yang Mengawasi
Rabu siang adalah waktu di mana gravitasi sekolah terasa dua kali lipat lebih berat. Saya sedang berada di perpustakaan, duduk di antara rak buku Biologi dan sosiologi yang baunya seperti kertas tua yang lelah. Saya tidak sedang membaca, saya hanya sedang menikmati kesunyian yang jujur, jauh dari bisingnya kantin yang sekarang terasa seperti markas besar Arkan.
Tiba-tiba, kursi di depan saya ditarik pelan. Bunyi gesekannya halus, seolah orang itu takut merusak keheningan. Saya mendongak, menyangka itu Dara atau Senja.
Ternyata Kayla.
Dia tidak memakai jaket madingnya. Rambutnya sedikit berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa ditutupi oleh bedak tipis sekalipun. Dia menatap saya dengan tatapan yang membuat saya ingin segera pergi, tapi kaki saya seolah terpaku di bawah meja.
"Bumi, cuma lima menit. Tolong jangan pergi," bisiknya. Suaranya serak, seperti orang yang baru saja menelan banyak debu kesedihan.
"Bicaralah, Kay. Waktu saya sedang murah hari ini," jawab saya sambil membuka buku Astronomi secara acak agar tidak perlu menatap matanya terlalu lama.
"Aku... aku kangen kita yang dulu, Mi. Aku kangen kamu yang suka marah kalau aku lupa makan seledri. Aku kangen dibonceng Si Kumbang sampai rambutku bau asap knalpot," Kayla menunduk, jarinya memainkan ujung meja kayu.
"Kenapa baru bilang sekarang, Kay? Kenapa tidak bilang saat Arkan menginjak kamera kardus itu? Kenapa tidak bilang saat kamu memilih naik mobil jemputan OSIS daripada kehujanan sama saya?" suara saya rendah, tapi tajam.
"Aku takut, Bumi! Aku takut kehilangan posisi di mading, aku takut terlihat tidak keren di depan anak-anak organisasi. Arkan menjanjikan banyak hal yang aku pikir itu yang aku mau. Tapi ternyata... rasanya kosong, Mi. Arkan itu seperti pajangan toko yang cuma bagus dilihat, tapi tidak bisa diajak bicara."
Saya menutup buku dengan suara pelan. "Kay, kamu tidak bisa menjadikan saya sebagai ban serep. Kamu tidak bisa lari ke saya saat ban utama kamu bocor. Itu tidak adil buat saya, dan itu tidak adil buat Senja yang selama ini ada buat saya."
Mendengar nama Senja, Kayla mendongak. Ada kilat cemburu di matanya. "Jadi kamu benar-benar suka sama dia? Gadis pendiam yang kerjanya cuma gambar itu?"
"Dia tidak 'cuma' gambar, Kay. Dia melihat saya saat kamu sedang sibuk melihat Arkan. Itu bedanya."
Saat itulah, bayangan besar muncul di lantai perpustakaan. Kami berdua menoleh. Arkan berdiri di ujung rak, tangannya masuk ke saku celana, wajahnya mengeras seperti semen yang baru kering. Dia menatap kami dengan tatapan yang sangat dingin, seolah-olah dia baru saja menangkap basah pencuri di rumahnya sendiri.
"Oh, jadi di sini kamu, Kay? Saya cari ke ruang OSIS tidak ada, ternyata lagi reuni sama 'masa lalu'?" suara Arkan terdengar tenang, tapi penuh ancaman.
Kayla berdiri dengan kaget. "Arkan, aku cuma mau tanya soal tugas Matematika..."
"Tugas Matematika atau tugas mengemis perhatian, Kay?" Arkan melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Kayla. Dia menatap saya dengan tatapan menantang. "Bumi, saya pikir kamu sudah punya harga diri untuk tidak mengganggu milik orang lain lagi."
Saya berdiri, merapikan kemeja flanel saya. "Saya tidak mengganggu, Kan. Milik kamu yang datang ke saya. Mungkin kamu harus mulai bertanya pada dirimu sendiri, kenapa dia merasa harus datang ke saya kalau kamu memang sesempurna itu."
Arkan menarik lengan Kayla dengan kasar. "Ayo pulang, Kay. Rapat mading sudah mau mulai. Jangan buang waktu kamu buat bicara sama orang yang sudah tidak punya masa depan di sekolah ini."
Kayla menatap saya sekali lagi, matanya penuh permohonan maaf, tapi dia tidak melawan saat Arkan menariknya pergi. Saya melihat mereka berjalan keluar dari perpustakaan, menyisakan keheningan yang lebih pahit dari sebelumnya.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa kejujuran yang terlambat itu rasanya seperti minum air laut saat sedang haus: bukannya lega, malah makin perih. Arkan mungkin menangkap basah kami, tapi dia juga baru saja menyadari bahwa dia sedang memegang raga yang hatinya sudah mulai berontak.
Bab 29 berakhir dengan saya yang kembali duduk di perpustakaan, menyadari bahwa badai berikutnya akan jauh lebih besar dari sekadar pertengkaran di parkiran.