NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Special chapter 3

​Himalaya malam itu tidak sedang menyambut tamu; ia sedang mencoba menelan siapa pun yang berani mengusik keheningannya. Angin melolong dari celah-celah puncak Everest, suaranya seperti tangisan ribuan arwah yang terjebak dalam es abadi, mencakar-cakar dinding batu biara tua yang menjadi tempat persembunyian terakhir keluarga Vandana dan sisa-sisa pelarian keluarga Alka. Di luar sana, dunia digital sedang berdenyut, namun di sini, hanya ada hukum alam yang brutal.

​Di dalam koridor biara yang lembap, bau dupa yang biasanya menenangkan kini kalah telak oleh aroma tajam antiseptik dan sisa-sisa mesiu yang masih menguap dari serat kain jaket taktis yang robek. Langit-langit batu yang tinggi seolah menekan napas siapa pun yang berada di bawahnya, menciptakan suasana claustrophobic yang mencekam. Di sebuah ruangan kecil yang dulunya digunakan sebagai tempat meditasi sunyi, dua jiwa yang membawa beban dosa sang ibu sedang duduk berhadapan.

​Dahayu menatap jemarinya yang gemetar. Di bawah kuku-kukunya, sisa-sisa debu sirkuit dan darah kering menjadi saksi bisu betapa tipisnya jarak antara penciptaan dan kehancuran. Ia menatap kakaknya, Raka, yang duduk di sudut bayangan seolah ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri. Keheningan di antara mereka begitu berat, seolah udara telah berubah menjadi raksa yang sulit untuk dihirup.

​Mereka hanya ada sebuah lampu minyak kecil yang apinya menari ditiup angin kencang dari celah jendela.

​Raka dan Dahayu. Dua saudara yang selama ini berdiri di sisi yang berlawanan dari spektrum moral keluarga Alka. Satu adalah pedang yang terasah oleh dendam, satunya lagi adalah otak yang terjebak dalam ambisi yang salah arah.

​Raka menghisap rokok terakhirnya dengan tangan yang dibalut perban kasar. Darah merembes di kain putih itu, membentuk pola bunga merah yang mengerikan, namun ia tampak tak merasakannya. Syarafnya mungkin sudah mati, atau mungkin rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan api yang membakar batinnya. Tatapannya kosong, menatap keluar ke arah hamparan salju yang kini diterangi oleh bulan purnama yang pucat. Di sana, di lereng yang curam, bangkai helikopter Nephilim tampak seperti bangkai serangga raksasa yang membeku—monumen kegagalan teknologi di hadapan kemegahan gunung.

​"Aku hampir membunuhnya, Raka," suara Dahayu memecah kesunyian, nyaris seperti bisikan yang terbawa angin. Getaran dalam suaranya menunjukkan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng logika dingin seorang ilmuwan. "Jika aku menyuntikkan Catalyst-7 itu ke tulang belakang Selena, Altair tidak akan lahir sebagai manusia. Dia akan lahir sebagai hardware kosong yang siap diisi oleh keinginan Ibu. Aku memegang jarum itu... dan aku hampir menekannya."

​Raka mengeluarkan asap rokok perlahan, membiarkan kabut putih itu menyatu dengan udara dingin ruangan. "Tapi kau tidak melakukannya, Dahayu. Pada akhirnya, di detik saat nuranimu berteriak, kau lebih memilih menjadi manusia yang gagal di mata Ibu daripada menjadi alat yang sempurna bagi ambisinya. Kegagalanmu adalah kemenangan pertama Altair."

​"Tapi Ibu belum selesai," Dahayu menatap telapak tangannya sendiri dengan ngeri. "Aku bisa merasakannya. Frekuensi yang dia gunakan untuk menghubungiku... itu bukan sekadar data, Raka. Itu seperti akar beracun yang merambat di bawah kulitku. Ibu telah menanamkan 'pemicu' pada kita semua. Kita bukan lagi keluarga; kita adalah node, jaringan yang dia bangun untuk menjaga karyanya agar tetap berada dalam jangkauannya."

​Raka terkekeh, suara yang lebih mirip gesekan pisau pada batu asahan—kering dan mematikan. "Itulah kenapa aku tidak akan tinggal di sini. Bhanu memiliki cahaya untuk dijaga, dia punya masa depan yang harus ia timang. Tapi aku? Aku adalah hantu yang akan berburu di kegelapan. Aku akan menjadi badai yang menghalau badai lainnya."

​Raka berdiri dengan susah payah, meski tubuhnya berteriak kesakitan akibat luka bakar termal dan hantaman peluru yang masih menyisakan sisa panas di dagingnya. Ia mengambil jaket taktisnya yang robek, mengenakannya seolah itu adalah baju zirah terakhirnya. "Aku akan memburu sisa-sisa The Nephilim dan sel-sel tidur Ibu di seluruh dunia. Aku akan memastikan tidak ada satu pun transmiter yang bisa mengirimkan data tentang keberadaan Altair keluar dari pegunungan ini. Aku akan menjadi lubang hitam bagi setiap sinyal yang mencoba mendekatinya."

​"Kau akan pergi sendirian?" tanya Dahayu, menatap punggung kakaknya yang tampak begitu rapuh namun sekokoh gunung di luar sana.

​"Hantu selalu berjalan sendirian, Dahayu. Sampaikan pada Bhanu... jangan pernah biarkan Altair menyentuh layar digital sampai dia mengerti arti dari rasa sakit manusia. Karena jika dia hanya mengenal data, jika dia hanya melihat dunia melalui angka, dia akan menghancurkan kita semua demi sebuah efisiensi yang dingin. Ajarkan dia cara berdarah, sebelum dia belajar cara memerintah."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!