Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dengan hati-hati, ia turun dari ranjang. Dress tidur putih yang dikenakannya jatuh longgar hingga ke bawah lutut. Rambut panjangnya yang biasanya terikat rapi kini terurai berantakan karena tidur. Tanpa menyalakan lampu kamar, ia membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan bunyi.
Axlyn hanya ingin ke dapur. Mengambil sesuatu. Apa saja, buah atau sisa kue. Atau… nasi dingin sisa makan malam pun tidak masalah. Sebab stok camilan di dalam kamarnya, kini sudah tidak tersisa satupun.
Sejak mengetahui kehamilannya, nafsu makan Axlyn memang bertambah sangat drastis dan setiap malam akan merasa lapar. Sehingga ia terbiasa menyimpan berbagai camilan di dalam kamarnya. Namun, kali ini ia lupa bahwa semua camilannya sudah habis tak tersisa.
Setiap lorong Mansion itu remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus jendela besar di ujung koridor. Bayangannya memanjang di lantai marmer.
...****************...
Di saat yang sama, di kamar seberang lorong, pintu lain juga terbuka perlahan. Kay menghela napas berat. Entah mengapa malam ini ia juga terbangun dengan perut kosong. Mungkin karena belum sempat makan malam dengan layak akibat rapat panjang bersama dengan Spencer dan Noah tadi. Atau mungkin… sugesti. Sejak kemungkinan wanita di Praha itu sedang mengandung anaknya, ia sering ikut-ikutan merasa lapar di jam yang tidak wajar.
“Haaah… kapan semua gejala ini menghilang? Dia yang hamil kenapa aku yang seperti orang hamil,” gerutu Kay mendengus kesal dengan keadaannya saat ini.
Jangankan lapar tengah malam, semua gejala kehamilan itu sepertinya ditanggung semuanya oleh Kay. Mulai dari morning sickness, pusing, sensitif dan perubahan mood yang tak terkendali sudah menjadi hariannya sejak satu bulan yang lalu.
Kay menyibakkan rambutnya yang sedikit kusut dan berjalan tanpa menyalakan lampu. Mansion kediaman Gustavo memang selalu terasa berbeda saat malam. Terlalu sunyi, bahkan Kay seperti bisa melihat ada bayangan yang tiba-tiba melintas begitu saja.
“Sial, kenapa tiba-tiba aku teringat dengan cerita hantu yang Daddy Levi ceritakan. Tidak mungkin ‘kan? Hantu bernama kuntilanak itu ada di tempat seperti ini? Bukankah katanya sosok itu suka tinggal di atas pohon atau rumah terbengkalai, tapi kenapa semua bulu kudukku berdiri secara tiba-tiba?”
Dan tiba-tiba, ia teringat cerita Levi. Tentang sosok perempuan bergaun putih yang konon suka menghantui pria tampan seperti dirinya. Katanya rambut panjangnya akan terurai acak, seperti tidak pernah menggunakan sisir maupun keramas. Wajah pucat dan sering muncul pada waktu tengah malam.
Kay mendengus pelan, mencoba mengindahkan pikiran tentang hantu itu. “Konyol,” gumamnya, walau bulu kuduknya meremang juga. “Mana mungkin ada hantu di Mansion semewah ini.”
Kay terus melangkah memasuki dapur yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela belakang. Lalu… Siluet putih itu berdiri di depan kulkas. Diam dengan rambut panjang terurai berantakan. Gaun putih yang menjuntai bergerak perlahan.
“Kun… Kun—kuntilanak ‘kah itu?”
Jantung Kay hampir meloncat keluar. Kulkas terbuka dengan bunyi decit pelan. Cahaya dari dalam kulkas menerangi sosok itu dari bawah, menciptakan bayangan yang jujur saja terlihat sangat mengerikan di mata Kay saat itu.
Sosok itu menunduk. Rambutnya menutupi sebagian wajah. Kay semakin membeku ditempatnya. Otak rasionalnya berkata itu tidak mungkin. Tapi memori cerita dan beberapa film horror yang pernah Levi perlihatkan padanya kini berputar cepat di kepalanya.
Perempuan berbaju putih. Tengah malam. Dapur. Persis… seperti sosok kuntilanak yang Levi ceritakan. Tiba-tiba siluet itu bergerak pelan, memutar tubuhnya menghadap ke arahnya. Wajah pucat tersorot cahaya kulkas.
Membuat Kay spontan berteriak, “Waaah, setann….!”
Axlyn yang sedang menggigit buah apel hampir tersedak. “Hah?! Dimana setannya?”
Siapa sangka Axlyn juga sama-sama terkejut mendengar teriakan tersebut, tanpa sadar bahwa setan yang Kay maksud adalah dirinya sendiri. Mendengar suara itu, Kay merasa suara yang sangat ia kenal. Ia berkedip, lalu mengucek pelan kedua matanya untuk memastikan kembali penampakan setan di depannya.
“Sosok itu… berbicara? Apakah kuntilanak bisa bicara seperti manusia?” gumamnya bertanya-tanya, kini rasa takutnya hampir tergantikan dengan rasa bingungnya.
“Tunggu? Apakah setan yang kau maksud tadi adalah aku?” Axlyn membalas sembari menunjuk dirinya sendiri.
Kay berjalan pelan untuk mendekat, lalu menatap lebih saksama. Dress tidur putih yang menjuntai hampir menyentuh lantai. Rambut acak-acakan dan wajah sedikit sembap karena baru bangun tidur.
“Axlyn?” suara Kay terdengar campuran antara lega dan malu.
Axlyn mengernyit. “Memangnya kau pikir siapa? Setan, begitu?”
Kay terdiam beberapa detik sebelum menjawab jujur, “Hehehee, Aku kira… setan beneran.”
Tiba-tiba suasana kembali sunyi. Kay masih mengamati Axlyn dengan hati-hati, takutnya setan bisa menyamar sebagai manusia seperti di film horror yang pernah ia tonton bersama Daddy Levi. Lalu terdengar suara sendok jatuh ke meja.
“Waaahh… Setan beneran!” Kay kembali berteriak ketakutan.
“SETAN?!” Axlyn menatapnya tak percaya. “Kau bilang aku setan? Mana ada setan secantik aku, Hah!”
Kay mengusap wajahnya, masih setengah syok. “Kamu berdiri di depan kulkas, tengah malam, pakai baju putih, rambut berantakan. Lalu suara benda jatuh secara tiba-tiba… Daddy Levi pernah cerita—”
“Kalau begitu salahkan Daddy Levi-mu, bukan aku!” potong Axlyn kesal, tapi pipinya memerah. “Bisa-bisanya secantik aku dikatai setan.”
Beberapa detik kemudian, Kay mulai tertawa kecil melihat ekspresi kesal Axlyn yang sangat menggemaskan di matanya. Lalu semakin keras saat Axlyn masih melanjutkan memakan apelnya sambil sesekali menggerutu padanya.
Axlyn menatapnya tajam. “Lucu sekali ya? Mengira orang sebagai setan?”
“Maaf…” Kay berusaha menahan tawa. “Tadi kamu benar-benar mirip sosok setan dalam cerita horor itu.”
Axlyn tidak menanggapi, ia hanya mendengus kesal. Namun detik berikutnya perutnya berbunyi cukup keras, hingga membuat keduanya terdiam.
Kay menatap ke arah perut Axlyn yang seperti tengah mengadakan konser dadakan. “Apa kau sedang kelaparan?”
Axlyn menghela napas panjang. “Ya, aku sangat lapar. Sampai rasanya mau menangis.”
Nada suaranya yang melembut membuat Kay langsung berhenti tertawa. Ia mendekat, kali ini dengan langkah hati-hati bukan karena takut hantu, tapi Axlyn benar-benar marah karena ia terus menertawakan tingkahnya.
“Apa yang ingin kau mau makan?” tanya Kay lembut.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌