Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Mulai Utuh
Pagi itu rumah terasa beda.
Nggak ada acara besar.
Nggak ada tamu penting.
Tapi ada sesuatu yang pelan-pelan berubah.
Sesuatu yang dulu patah…
sekarang mulai disambung lagi.
Walau bekas retaknya masih kelihatan.
Siska berdiri di dapur.
Iya.
Dapur.
Dulu, waktu masih tinggal di kos kecil bareng Kevin, dapurnya cuma satu kompor kecil, wajan tipis, dan rak plastik murah.
Sekarang?
Luas. Modern. Bersih.
Tapi entah kenapa—
Justru sekarang dia lebih deg-degan.
Cantika duduk di kursi makan, masih pakai piyama.
“Mama masak apa?” tanyanya sambil menopang dagu.
Siska tersenyum lembut.
“Telur dadar keju sama sosis. Mau?”
Cantika langsung angguk cepat.
“Mau! Tapi jangan gosong ya, Ma.”
Langkah kaki terdengar dari tangga.
Kevin berhenti sebentar melihat pemandangan itu.
Sederhana.
Tapi rasanya…
Sudah lama sekali dia nggak lihat suasana kayak gini.
Siska menoleh, sedikit kikuk.
“Eh… kamu udah bangun.”
“Iya,” jawab Kevin.
Nada suaranya nggak dingin lagi.
Cantika melambai heboh.
“Papa! Mama masak!”
Kevin tersenyum kecil.
“Wah, Papa jadi tamu spesial nih.”
Siska mendengus pura-pura kesal.
“Tamu gimana sih. Ini juga rumah kamu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Dan setelahnya—
Hening tipis.
Mata Kevin dan Siska bertemu.
Nggak lagi tajam.
Nggak lagi penuh ego.
Cuma… canggung yang mulai mencair.
Beberapa minggu terakhir, Siska memang makin sering di rumah itu.
Awalnya cuma siang sampai sore.
Lalu makan malam.
Sekarang?
Mulai menginap.
Masih di kamar tamu.
Pelan-pelan.
Kevin nggak mau buru-buru.
Siska juga nggak mau memaksa.
Setelah Cantika berangkat sekolah, rumah jadi sepi.
Siska lagi cuci piring waktu Kevin mendekat.
“Kita perlu ngomong.”
Nada Kevin pelan, tapi serius.
Siska langsung tegang.
“Ngomong apa?”
Kevin bersandar di meja dapur.
“Tentang kita.”
Napas Siska terasa berat.
“Aku nggak mau hubungan ini gantung,” lanjut Kevin.
“Cantika mulai nyaman. Dia mulai berharap.”
“Aku juga nggak mau bikin dia kecewa lagi,” jawab Siska cepat.
Kevin menatapnya lama.
“Kamu yakin mau kembali sepenuhnya?”
Siska terdiam.
Bukan karena ragu ingin kembali.
Tapi karena takut nggak pantas.
“Aku nggak janji bakal sempurna,” katanya pelan.
“Tapi aku janji nggak akan lari lagi.”
Kevin mengangguk.
“Aku juga nggak janji masa depan bakal gampang.”
Siska tersenyum tipis.
“Dulu kita miskin tapi nggak sabaran. Sekarang kita cukup, tapi takut.”
Kevin tertawa kecil.
“Iya juga.”
Hening sebentar.
Lalu—
“Aku mau coba lagi, Sis.”
Siska membeku.
“Bukan karena kasihan. Bukan cuma demi Cantika. Tapi karena aku ngerasa… kita memang belum selesai.”
Air mata Siska jatuh.
“Serius?”
“Serius. Tapi pelan-pelan. Kita bangun ulang.”
Siska mendekat.
Memeluk Kevin.
Pelukan itu nggak penuh tuntutan.
Nggak penuh gengsi.
Cuma penuh syukur.
“Aku nggak akan sia-siain ini,” bisiknya.
Hari-hari setelah itu berubah.
Bukan penuh api seperti dulu.
Tapi lebih dewasa.
Lebih tenang.
Kevin mulai terbiasa lihat Siska menata rumah.
Siska mulai terbiasa menunggu Kevin pulang kerja.
Kadang mereka makan malam bertiga.
Kadang nonton film di ruang keluarga.
Suatu malam—
Listrik tiba-tiba padam.
“Papa! Gelap!” Cantika panik kecil.
Kevin tertawa.
“Tenang, cuma mati lampu.”
Siska cepat ambil lilin.
Cahaya kecil menerangi wajah mereka.
Cantika duduk di tengah.
“Papa… Mama… kita sekarang keluarga lagi ya?”
Kevin dan Siska saling pandang.
Kevin menggenggam tangan Siska pelan.
“Iya, Nak. Kita keluarga.”
Siska menahan tangis.
Untuk pertama kalinya sejak lama—
Ia merasa pulang.
Tapi hidup nggak pernah sepenuhnya mulus.
Suatu sore, Kevin menerima telepon.
Nomor tak dikenal.
Suara di ujung sana berat.
Pelan.
Tapi penuh ancaman.
“Kamu pikir semuanya sudah selesai, Kevin?”
Darah Kevin langsung terasa dingin.
Ia kenal suara itu.
Surya Darma.
“Kamu mau apa?” Kevin bertanya tegas.
“Cuma mau lihat… seberapa kuat keluarga kecilmu bertahan.”
Telepon terputus.
Kevin berdiri kaku.
Masa lalu.
Belum benar-benar pergi.
Siska melihat wajah Kevin berubah.
“Ada apa?”
Kevin menatapnya.
Dulu mungkin dia akan menyuruh Siska menjauh.
Melindungi dengan cara mengusir.
Tapi sekarang berbeda.
“Dia muncul lagi.”
Siska langsung tahu siapa yang dimaksud.
Wajahnya pucat.
“Dia bilang mau lihat seberapa kuat kita.”
Siska menggenggam tangan Kevin erat.
“Kita nggak sendiri sekarang.”
Kevin menatapnya dalam.
“Kita hadapi bareng?”
Siska mengangguk tanpa ragu.
“Bareng.”
Dan untuk pertama kalinya—
Ancaman itu nggak terasa sebesar dulu.
Karena sekarang Kevin nggak sendirian.
Malam itu mereka duduk di balkon.
Angin berhembus pelan.
“Kamu takut?” tanya Siska.
“Sedikit,” Kevin jujur.
Siska menyandarkan kepala di bahunya.
“Aku juga. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu lagi.”
Kevin terdiam.
Ia mengecup tangan Siska pelan.
“Kita udah pernah hancur,” katanya pelan.
“Kalau ada yang mau hancurin lagi… dia harus siap lawan versi kita yang lebih kuat.”
Siska tersenyum.
“Dulu kita miskin tapi keras kepala. Sekarang kita nggak miskin, dan nggak mau egois lagi.”
Kevin tertawa kecil.
“Itu namanya upgrade.”
Mereka tertawa pelan.
Langit malam terlihat tenang.
Tapi mungkin badai sedang menunggu.
Bedanya sekarang—
Mereka bukan dua orang yang berdiri sendiri.
Mereka keluarga.
Dan kalau masa lalu datang mengetuk pintu…
Kali ini, mereka siap membukanya bersama.