sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMBISI,JARAK & MEJA MAKAN YANG TERASA LUAS
Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan kemacetan yang mengular, namun di dalam rumah Arlan dan Kira, suasana biasanya tenang dengan suara mesin kopi dan denting sendok. Namun, pagi ini, keheningan itu terasa berbeda. Ada sebuah amplop tebal berwarna biru tua dengan logo emas dari sebuah firma desain ternama di Singapura, Vanguard Interio, tergeletak di antara piring sarapan mereka.
Kira menatap amplop itu dengan perasaan campur aduk. Arlan, yang baru saja selesai menyesap kopinya, menyadari kegelisahan istrinya.
"Belum dibuka juga, Ra?" tanya Arlan lembut.
Kira menggeleng pelan. "Aku takut, Lan. Kalau isinya penolakan, aku bakal sedih. Tapi kalau isinya penerimaan... aku lebih takut lagi."
Arlan tersenyum kecil, ia meraih amplop itu dan memberikannya pada Kira. "Kamu sudah bekerja keras buat portofolio itu selama dua bulan terakhir. Kamu bahkan begadang di studio baru kita sampai jam tiga pagi. Buka saja. Apapun isinya, aku ada di sini."
Dengan tangan sedikit gemetar, Kira merobek amplop itu. Ia membaca baris demi baris surat di dalamnya. Matanya membelalak, lalu ia menutup mulutnya dengan tangan.
"Lan..." bisik Kira.
"Kenapa? Ditolak?" Arlan mulai tampak cemas.
"Diterima. Mereka mau aku jadi Lead Interior Designer untuk proyek renovasi hotel warisan budaya di Orchard Road. Proyeknya enam bulan, Lan. Dan aku... aku harus berangkat dua minggu lagi."
Kegembiraan di wajah Arlan mendadak surut, digantikan oleh keterkejutan yang nyata. "Enam bulan? Singapura?"
Kira mengangguk lemah. "Iya. Mereka bilang ini posisi kontrak khusus. Gajinya... tiga kali lipat dari apa yang aku dapat di sini. Tapi yang paling penting, ini Vanguard, Lan. Mimpi setiap desainer interior."
Arlan terdiam. Ia menatap piring nasi gorengnya yang masih setengah. "Dua minggu lagi ya? Kita baru saja pindah ke rumah ini sebulan, Ra. Kita baru saja mulai terbiasa bangun tidur di kasur yang sama setiap pagi."
"Aku tahu, Lan. Makanya aku bilang aku takut," Kira meraih tangan Arlan. "Kalau kamu bilang jangan, aku nggak akan pergi. Aku bakal kirim email penolakan sekarang juga."
Arlan menatap mata Kira. Ia melihat gairah, ambisi, dan binar yang sama seperti saat Kira pertama kali menceritakan mimpinya menjadi desainer hebat sebelas tahun lalu. Ia tahu, jika ia melarangnya, ia akan membunuh sebagian dari jiwa Kira.
"Jangan," ucap Arlan tegas.
"Jangan apa?"
"Jangan tolak. Pergilah, Ra. Ini kesempatan sekali seumur hidup."
"Tapi Lan, enam bulan! Kita nggak pernah jauh-jauh amat. Paling jauh cuma waktu kamu survei ke Bali kemarin, itu pun cuma tiga hari aku sudah mau nangis."
Arlan tertawa hambar, mencoba menutupi rasa sesak di dadanya. "Itu beda, Ra. Sekarang kita sudah suami istri. Fondasi kita sudah kuat. Singapura itu dekat, cuma satu setengah jam naik pesawat. Aku bisa jenguk kamu setiap dua minggu sekali, atau kamu yang pulang."
Kira menatap suaminya dengan haru. "Kamu beneran nggak apa-apa ditinggal sendiri di rumah sebesar ini?"
"Nanti aku bakal sering main ke rumah Ibu atau ke kantor biar nggak kesepian. Lagipula, aku juga punya proyek Bali yang harus diawasi lewat Zoom. Kita bakal sama-sama sibuk, Ra. Waktu bakal terasa cepat."
Dua minggu berlalu seperti kedipan mata. Hari keberangkatan itu tiba lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Di Bandara Soekarno-Hatta, suasana Terminal 3 sangat ramai, namun bagi Arlan dan Kira, dunia seolah menyempit hanya pada mereka berdua di depan gerbang keberangkatan internasional.
"Koper kamu nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Arlan untuk kesepuluh kalinya.
"Nggak ada, Lan. Semuanya sudah dicek tiga kali sama kamu tadi malam," jawab Kira sambil tersenyum tipis, meski matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Vitamin? Obat maag? Jaket?"
"Sudah semua, Sayang. Arlan... berhenti nanya soal barang. Tanya soal aku aja."
Arlan menghela napas panjang, ia menarik Kira ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Kira, menghirup aroma parfum melati yang akan sangat ia rindukan. "Aku cuma bingung mau ngomong apa, Ra. Aku nggak jago urusan perpisahan begini."
"Ini bukan perpisahan, Lan. Ini cuma... extended business trip," bisik Kira.
"Enam bulan itu lama, Ra. Meja makan kita bakal terasa luas banget nanti malam."
Kira melepaskan pelukannya, menatap Arlan dengan lekat. "Janji ya, setiap malam kita harus video call. Nggak boleh telat. Dan jangan berani-berani makan mi instan setiap malam cuma karena nggak ada yang masakin."
"Siap, Bos. Aku bakal makan sehat. Kamu juga di sana, jangan terlalu ambisius sampai lupa tidur. Ingat, kamu ke sana buat kerja, bukan buat jadi robot."
"Iya, Arlan. Ya sudah, aku masuk sekarang ya? Nanti telat boarding."
Arlan mencium kening Kira lama. "Hati-hati, Sayang. I love you."
" I love you too, Lan. So much."
Kira berbalik, menyeret kopinya menuju pintu pemeriksaan. Ia tidak berani menoleh lagi, karena ia tahu jika ia melihat wajah Arlan sekali lagi, kakinya tidak akan sanggup melangkah maju.
Malam pertama di Singapura terasa sangat asing bagi Kira. Apartemen yang disediakan perusahaan sangat modern dan mewah, namun terasa dingin. Ia duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota yang asing baginya.
Ia segera melakukan panggilan video ke Arlan. Wajah Arlan muncul di layar, pria itu sedang duduk di sofa ruang tengah mereka, masih memakai kemeja kantor yang lengannya digulung.
"Hai, Lan," sapa Kira dengan suara serak.
"Hai, Ra. Sudah sampai di apartemen?" tanya Arlan, mencoba tersenyum lebar.
"Sudah. Bagus banget tempatnya, Lan. Tapi sepi. Di sana lagi apa?"
"Baru saja selesai makan rendang sisa Ibu kemarin. Sepi juga di sini, Ra. Biasanya jam segini kamu lagi rebutan remot TV sama aku."
Kira tertawa kecil. "Remote-nya aku simpan di bawah bantal sofa, Lan. Cari aja."
"Iya, sudah ketemu tadi. Ra... baru beberapa jam, tapi aku sudah ngerasa rumah ini kegedean buat aku sendiri."
"Sabar ya, Lan. Enam bulan aja kok. Oh ya, gimana progres proyek Bali hari ini? Maura nggak berulah lagi kan setelah pindah ke London?"
Arlan menggeleng. "Nggak ada kabar dari dia. Pak Gunawan benar-benar menepati janjinya. Proyek berjalan lancar lewat pengawasan manajer lapangan. Aku lebih fokus ke proyek-proyek di Jakarta sekarang."
Mereka mengobrol selama hampir dua jam, membicarakan hal-hal sepele seolah jarak ribuan kilometer itu tidak ada. Namun, saat panggilan itu berakhir, sunyi kembali menyerang.
Satu bulan berlalu. Rutinitas LDR mulai terasa berat. Kira sangat sibuk dengan proyek hotelnya. Tekanan di Vanguard jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Ia sering pulang jam sepuluh malam dalam keadaan sangat lelah.
Suatu malam, Arlan menelepon, namun Kira tidak mengangkatnya karena sedang rapat besar dengan klien. Saat Kira menelepon balik, Arlan sudah tertidur karena ia baru saja pulang dari survei proyek di luar kota.
Pesan singkat menjadi satu-satunya jembatan.
Arlan: Ra, aku hari ini makan sate padang di tempat langganan kita. Rasanya hambar karena nggak ada yang protes bumbunya terlalu pedas.
Kira: Maaf ya Lan, tadi aku rapat sampai malam. Aku kangen banget sama sate itu... dan sama yang makan juga.
Ketegangan mulai muncul saat Kira harus lembur di akhir pekan, sehingga rencana Arlan untuk terbang ke Singapura terpaksa dibatalkan dua kali berturut-turut.
"Ra, aku sudah beli tiketnya. Masa harus di- reschedule lagi?" tanya Arlan lewat telepon, suaranya terdengar kecewa.
"Maaf banget, Lan. Klien utamanya tiba-tiba datang dari Swiss. Aku nggak mungkin izin di tengah-tengah audit desain. Ini proyek besar pertama aku di sini, aku nggak mau gagal."
"Aku tahu, Ra. Tapi aku juga butuh ketemu kamu. Aku bukan cuma butuh suara kamu di telepon."
"Aku juga, Lan! Kamu pikir aku nggak capek di sini sendirian? Aku kerja keras begini juga buat masa depan kita, buat firma kita nanti kalau aku sudah pulang!" nada suara Kira meninggi.
Hening sejenak di seberang sana.
"Ya sudah. Fokus saja sama kerjaan kamu. Aku tutup dulu," ucap Arlan pendek, lalu mematikan sambungan.
Kira menatap ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Ini pertengkaran pertama mereka sejak menikah. Ia merasa bersalah, namun ia juga merasa tidak dimengerti. Sebelas tahun persahabatan mereka tidak pernah diuji dengan jarak seserius ini.
Minggu berikutnya, Kira merasa sangat stres. Desain interior lobi hotel yang ia buat ditolak mentah-mentah oleh kepala desainer karena dianggap "terlalu kaku". Ia merasa gagal. Di saat seperti ini, ia sangat membutuhkan Arlan, namun ia takut menelepon karena hubungan mereka masih dingin sejak pertengkaran kemarin.
Ia duduk di sebuah taman dekat kantornya, menangis sendirian di bawah lampu taman.
Tiba-tiba, sebuah payung hitam terbuka di atas kepalanya, meskipun tidak sedang hujan. Kira tersentak dan mendongak.
Seorang pria dengan jaket kasual berdiri di sana, memegang payung itu dengan senyum tipis yang sangat familiar.
"Arlan?" Kira hampir tidak percaya pada penglihatannya.
"Sebelas tahun yang lalu aku kasih payung buat lindungi kamu dari hujan. Sekarang, aku bawa payung ini ke Singapura cuma buat ngasih tahu, kalau payung ini juga bisa dipakai buat lindungi kamu dari rasa sedih," ucap Arlan pelan.
Kira langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Arlan. Ia menangis sejadi-jadinya di dada pria itu. "Maafin aku, Lan... maafin aku egois..."
Arlan mengusap rambut Kira, mencium puncak kepalanya berkali-kali. "Ssst... sudah. Aku nggak marah. Aku cuma kangen. Aku ambil cuti tiga hari, aku nggak mau dengar soal kerjaan, soal hotel, atau soal desain. Tiga hari ini cuma ada Arlan dan Kira di Singapura."
Kira mendongak, matanya yang sembab menatap Arlan dengan penuh cinta. "Kamu beneran ke sini? Tanpa kasih tahu?"
"Ibu yang kasih ide. Katanya, laki-laki itu harus jemput bolanya kalau mau gol. Jadi, aku jemput kamu sebentar buat ajak makan malam yang enak," Arlan mencubit hidung Kira. "Gimana? Masih mau nangis atau mau sate padang versi Singapura?"
Kira tertawa di tengah isaknya. "Mau kamu, Lan. Aku cuma mau kamu."
Malam itu, di bawah langit Singapura yang terang, mereka menyadari bahwa jarak hanyalah ujian struktur. Fondasi mereka yang dibangun selama sebelas tahun mungkin sempat retak karena keegoisan, namun mereka selalu punya cara untuk memperbaikinya.
"Lan," panggil Kira saat mereka berjalan bergandengan tangan menuju restoran.
"Ya?"
"Makasih ya sudah jadi payungku selamanya."
Arlan merangkul bahu Kira, menariknya mendekat. "Apapun buat kamu, Ra. Tapi janji ya, setelah enam bulan ini selesai, nggak ada lagi proyek luar negeri tanpa aku."
"Janji, Tuan Arsitek!"