Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado yang Membungkam Kesombongan
Di Desa Kenanga.
Meskipun separuh desa kenanga kini memuja Azura sebagai malaikat pelindung, tidak semua orang merasa senang. Di sudut desa yang lain, Pak Samsul tengah meradang. Usaha pertanian tradisionalnya goyah karena lahan persawahannya kekurangan butuh tani. Warga lebih memilih bekerja di galeri Azura atau perkebunan modern milik Farhan yang manajemennya jauh lebih manusiawi dan profesional
Sifat Pak Samsul sama dengan istrinya Ibu Wati. Wanita itu terkenal paling sombong se kecamatan, selalu membanggakan harta benda dan kesuksesan anak menantunya di kota. Terutama Dina, putrinya yang dulu merupakan teman SMA Azura sekaligus rival yang tak kalah angkuh dari ibunya.
Pekan ini, Pak Samsul mengadakan acara tasmiyah untuk cucu pertamanya, anak dari Dina. Untuk memamerkan kemewahannya, mengundang keluarga Pak Hadi teman Pak Samsul. Dulu mereka pernah bertetangga ketika Pak Hadi masih di rumahnya yang dulu.
" Kita datang saja, Pak, Bu. Jaga silaturahmi," ucap Azura tenang saat melihat ayahnya ragu menerima undangan itu.
"Tidak apa, Pak.. Kita datang saja masalalu biar lah masa lalu itu sudah terjadi dan kita juga sudah memaafkan keluarga pak samsul," ucap ibu Sulastri.
"Azura sudah menyiapkan kado hadiah buat Dina,"
"Baik lah akan kita datang kesana", jawab Pak Hadi.
Siang itu, sebuah mobil Pajero Sport berwarna hitam mengkilap memasuki halaman rumah Pak Samsul. Kehadiran mobil mewah itu seketika mencuri perhatian tamu undangan. wajah ibu Wati yang tadinya penuh senyum kemenangan, langsung berubah masam saat melihat Azura turun bersama Pak Hadi dan Ibu Sulastri membawa dua bingkisan box besar.
Sebelum masuk kedalam, ibu Wati justru menyambut mereka dengan sindiran tajam di depan tamu-tamu lainnya.
"Duh, yang baru pulang dari kota gayanya sudah selangit," ucap ibu Wati sambil melirik sinis ke arah mobil Azura, "Pajeronya sewa di mana, Ra? Hati-hati , uang panas itu tidak berkah. Lebih baik jujur saja kalau cuma janda daripada pamer harta yang tidak jelas asalnya."
Dina, yang sedang menggendong bayinya, ikut menimpali, "Iya ,Ra. Di kota aku tidak pernah dengar namamu masuk jajaran pengusaha. Kamu tidak sedang melakukan yang aneh-aneh,kan, untuk dapat mobil ini?"
Pak Hadi menegang, telinganya panas mendengar putrinya dihina sedemikian rupa. Sebelum Azura sempat menjawab, Ibu Sulastri melangkah maju. Ia tersenyum sangat tenang, sebuah senyuman yang terlihat tulus.
" Mbak Wati," sapa ibu Sulastri lembut, lalu suaranya terdengar jelas oleh tamu di sekitar.
"Terima kasih atas perhatiannya pada mobil Azura. Kami sangat bersyukur, mobil itu dibeli tunai, bukan sewa apalagi kredit. Kalau soal berkah atau tidak, biarlah Gusti Allah yang menilai dari cara kita memperlakukan orang lain."
Ibu Wati mengerutkan kening, " Maksudnya apa, Lastri ?"
" Maksud saya," lanjut Ibu Sulastri sambil merangkul pundak Azura," Azura ini anak yang berbakti. Dia membuka lapangan kerja untuk warga desa dan membayar upah tepat waktu. Saya rasa, rezeki yang dibagikan untuk orang banyak seperti itu jauh lebih berkah daripada harta yang hanya dipamerkan tapi membuat orang di sekitarnya susah."
Ibu Sulastri beralih menatap Dina dengan tatapan sejuk."Dina, selamat atas kelahiran bayinya. Kamu tidak perlu khawatir soal nama Azura di kota. Azura memang bekerja dalam diam, tidak suka koar-koar. Yang penting hasilnya nyata, bukan sekedar cerita."
Ibu Wati tersedak ludahnya sendiri, merasa tersindir telak karena semua orang tahu suaminya sering menunda ulah buruh. Azura tersenyum tipis, lalu menyerahkan bingkisannya.
"Ini kado kecil untuk cucu Bu watu dan untuk Dina . Semoga bermanfaat kami pamit dulu karena banyak pekerjaan di galeri, " sahut Azura sopan, membuat ibu Wati semakin gemas karena sindirannya sama sekali tidak mempan.
Setelah acara selesai dan para tamu sudah pulang semua. Tibalah Dina untuk membuka semua hadiah yang ia terima.
"Paling isinya baju pasar," cibir Dina sambil menarik bingkisan besar dari Azura. " Sok-sokan pake kotak bermerek."
Pak Samsul ikut mendekat. "Buka saja, lihat apa isinya."
Dina merobek kertas kadonya. Matanya seketika membelalak. Di dalamnya terdapat satu set perlengkapan bayi merek internasional, mulai dari stroller lipat mahal, alat pompa ASI elektrik tipe terbaru, hingga baju-baju bayi berbahan organik yang harganya mencapai jutaan rupiah. Tidak hanya itu, ada paket perawatan untuk Dina setelah melahirkan dan beberapa baju menyusui bermerek terkenal.
Di sela-sela baju, sebuah amplop jatuh. Pak Samsul memungutnya dan membukanya.
"Uang satu juta rupiah..." bisik Pak Samsul kaget.
Dina memeriksa label harga yang sengaja tidak dilepas di salah satu kotak. "Bu... Satu kalau ditotal, kado Azura ini lebih dari 7 juta rupiah."
Suasana rumah itu mendadak hening. Mereka melihat kado-kado dari keluarga dan teman-teman Dina yang katanya orang kaya, ternyata hanya berisi bedak bayi biasa atau baju standar pasar. Gengsi mereka runtuh seketika.
Setelah sampai di rumah, Azura ijin untuk ke perkebunan menjenguk Mas Farhan dan mengajak Rafa di dampingi Bu Hana yang sebagai baby sister Rafa .
Azura sudah berada di perkebunan modern miliknya di Desa Mawar. Bau tanah basah dan tanaman hijau seketika menghilangkan sisa kekesalannya di rumah pak Samsul tadi.
Azura mendekati Mas Farhan yang sedang menyeka keringat di dahinya sambil menyangga tubuh dengan tongkat kayu, matanya memandang hamparan hijau sayuran, dan kolam ikan yang rapi.
Farhan langsung memeluk Rafa, dan mengajak Azura duduk di gazebo. Azura juga membawa makanan . Rafa asik bermain lari-larian menangkap kelinci, ya Farhan sengaja membuat taman kecil untuk kelinci, jadi Rafa suka bermain kelinci yang selalu didampingi Bu Hana.
"Ra, lihat itu. Siapa sangka gubuk tua di perbatasan sekarang jadi pusat ekonomi dua desa!" ucap Farhan sambil menunjuk gudang penyimpanan hasil panen.
Azura tersenyum, "Ini berkat Mas Farhan yang telaten mengawasi orang-orang. Tanpa ' Tangan Besi' Mas, mungkin lahan ini belum menghasilkan apa-apa."
Farhan tertawa kecil."Tangan Besi' apa? Mas ini cuma mandor yang hobinya ngopi di bawah pohon beringin. Tapi serius Ra, sistem zero waste yang kamu buat itu jenius. Kotoran ayam jadi pupuk, sisa sayuran jadi pakan kambing. Mas benar-benar bangga punya adik profesor dadakan sepertimu."
"Ah, Mas Farhan berlebihan. Azura cuma tidak mau ada yang terbuang sia-sia, Mas. Sama seperti hidup kita, kan? Meski sempat hancur, sisa-sisa ya masih bisa dipupuk jadi sesuatu yang indah."
"Dalam sekali bicaramu, " Farhan menepuk bahu adiknya. " Eh, kamu tahu tidak? Pak Samsul kemarin lewat sini. Lehernya hampir patah menoleh terus melihat perkebunan kita yang sebentar lagi panen."
Azura menatap Farhan yang sedang mengelus Rafa yang sedari tadi asik memangku kelinci. Sebuah ide terlintas dibenaknya.
"Mas Farhan," panggil Azura lembut. "Perkebunan sudah maju, rumah sudah bagus. Apa Mas tidak terpikir untuk mencari teman hidup lagi? Azura ingin Mas ada yang mengurus, dan Rafa.. Dia butuh sosok ibu yang baik untuk membimbingnya."
Farhan tertawa, dan tersenyum pada Azura. Ia menghela napas panjang. Matanya menerawang menatap riak air kolam dekat gazebo.
"Istri? Tidak,Ra. Mas sudah cukup begini saja," Jawab Farhan tegas namun tenang. " Mas mau sendirian saja membesarkan Rafa. Mas takut.. Takut kejadian seperti dulu terulang lagi. Mas tidak mau ada wanita yang masuk ke hidup kita hanya untuk pergi saat badai datang. Cukup Rafa yang jadi kekuatan mas sekarang."
Azura terdiam, merasakan kepedihan yang sama. Ia tahu betul bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayang.
"Tapi tidak semua wanita seperti itu, Mas," bujuk Azura pelan .
Farhan menoleh, lalu menyeringai jahil ke arah adiknya. " Daripada kamu sibuk mencarikan Mas Istri, lebih baik kamu yang cari suami lagi. Kamu masih muda, pintar, dan cantik. Galeri itu butuh sosok pria yang bisa menjagamu juga."
Azura langsung mendelik dan membuang muka. "Ih, Mas Farhan kok malah balik ke Azura? Azura sudah mati rasa soal itu, Mas. Fokos Azura cuma keluarga kita bisa bahagia."
Farhan terkekeh, ia menyenggol bahu Azura dengan sikunya. "Nah, kan! Kita berdua ini sama saja. Sama-sama trauma, sama-sama keras kepala. Jadi, mending kita fokos saja buat memajukan desa ini bagaimana?"
Azura akhirnya tertawa ."Setuju! Biarlah kita jadi janda dan duda sukses paling SE kecamatan."
"Nah, itu baru adikku!" punggung Farhan tampak tegap dan gagah walau tangan satu membawa cangkul. "Ayi balik, kaku sampai rumah telat, bisa-bisa sup buatan Ibu sudah ludes dimakan Fikri dan Alya."