Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paket Misterius dan Persiapan
Kicau burung yang biasanya riuh pada pagi hari tampak seperti nada yang diputar pelan di hari itu. Udara dingin menyelimuti Malang, membuat setiap permukaan memantulkan embun tipis. Lampu jalan masih redup saat fajar merayap, dan di kejauhan, siluet Gunung Arjuno terlihat samar di balik kabut. Tento menggeser tirai jendela kamarnya, memerhatikan jalanan gang yang basah oleh hujan gerimis semalam. Sesekali terlihat seorang ibu membawa keranjang sayur, seorang tukang becak dengan topi laken tebal, serta sekumpulan burung gereja bertengger di kabel listrik.
Di meja kecilnya, secangkir teh tawar mengepulkan uap yang lembut, menggoda untuk disesap. Ia meraih cangkir itu perlahan, merasakan hangatnya meresap ke dalam telapak tangan. Sepanjang malam, sedikit pun ia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus memutar-mutar rencana yang harus ia lakukan, kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi, dan… entah mengapa, memikirkan soto ayam. Ia memutar badan, memijat leher yang kaku, kemudian bangkit memeriksa kalender di dinding. Tanggal merah sudah dekat, seharusnya ia merayakan hari libur dengan membaca buku komik, bukan menyusup ke pabrik misterius.
Suara ketukan pintu keras mengejutkannya. Dua ketukan cepat, lalu satu ketukan pelan. Kode yang baru mereka sepakati dengan kelompok misterius tadi malam. Ia menoleh ke jam dinding; jam menunjukkan pukul sembilan. Jantungnya melonjak. Ia melangkah cepat ke pintu, dengan hati-hati mengintip melalui lubang kecil. Di luar berdiri seorang kurir dengan jaket abu-abu, wajahnya tertutup masker kain, topi baseball menutupi mata. Di tangannya, kardus berukuran sedang dengan logo perusahaan jasa pengiriman yang biasa dipakai masyarakat.
“Paket untuk Pak Tento,” ucap kurir itu sopan. Suaranya datar seperti robot yang sudah terlatih. Ia mengulurkan pena, meminta tanda tangan.
Tento membuka pintu sedikit, mengambil pena yang dibungkus plastik, dan menandatangani bukti penerimaan. Setelah paket berpindah tangan, kurir itu menoleh sekilas seperti memeriksa sekeliling, kemudian pergi tanpa banyak bicara. Motor kecilnya melaju pelan meninggalkan gang, roda belakang mengangkat sedikit air dari genangan yang belum kering.
Paket itu berat, seolah berisi lebih dari sekadar peralatan ringan. Kardusnya dihiasi pita perekat berwarna coklat tua, di salah satu sisi tertulis dengan spidol hitam: “Jangan dibuka di tempat ramai.” Tento membawa paket itu ke ruang tengah, menaruhnya di atas meja. Bau karton lembab tercium samar, aroma lem perekat menempel. Ia menatap paket itu sejenak, merasakan ketegangan dalam dada; selembar kertas terjatuh dari samping kardus. Ia memungutnya. Kertas itu berisi kata-kata pendek: “Buka perlahan. Semua ada penjelasannya. Hati-hati. Kosongkan ponsel dan tutup tirai.”
Tentu, ia menutup tirai jendela rapat. Suasana ruangan menjadi lebih gelap, hanya diterangi lampu langit-langit yang temaram. Ia memastikan ponsel dalam mode pesawat, lalu menarik napas dalam-dalam. Dengan pisau kecil, ia memotong pita perekat kardus. Bunyi sobekan perekat yang khas memecah keheningan. Di dalam, ada beberapa benda yang dilapisi bungkus plastik gelembung. Ia mengeluarkan satu per satu. Pertama, sebuah kamera kecil seukuran ibu jari, lensanya menonjol sedikit. Kedua, sebuah peta kertas berukuran A3 dengan rincian denah pabrik. Ketiga, dua jam tangan digital; salah satunya memiliki tulisan kecil di ujungnya: “Kunci digital.” Keempat, sebuah amplop tertutup. Dan terakhir, sebuah buku catatan kecil bergaris, terlihat baru.
Tento menyentuh permukaan jam tangan digital itu. Layar kosong, tidak ada angka bergerak. Ia mencoba menekan tombol; tidak terjadi apa-apa. Lalu ia menoleh ke amplop. Ia membukanya dengan hati-hati. Di dalam, ada selembar kertas tipis, mirip kertas peluru mainan, bertuliskan:
“Ini adalah panduan singkat:
Jam tangan digital 1: Terhubung dengan pintu pabrik. Dengan jam ini, kalian bisa membuka pintu utama. Gunakan hanya sekali, waktu operasi jam tiga pagi.Jam tangan digital 2: Pelacak waktu internal. Jam ini akan memberikan getar setiap lima belas menit sebagai tanda. Pada getaran keempat, kalian harus keluar. Jangan berlama-lama.Kamera: Gunakan untuk merekam bukti. Kamera ini tersambung ke penyimpanan tersembunyi, cukup menekan tombol di sisi kanan.Buku catatan: Ini berisi kunci kode dan skema sensor. Jangan biarkan jatuh ke tangan musuh.Peta: Ini adalah denah lengkap pabrik. Kami telah menandai jalur aman dan jalur berbahaya. Sensor inframerah dimatikan antara pukul tiga sampai empat pagi.Jangan pernah menghubungi kami lewat ponsel. Gunakan warung soto sebagai tempat menaruh pesan. Menulis di balik mangkuk bagian bawah, lalu pergi.Semoga kalian selamat.”
Tento membaca berulang kali. Setiap kata terasa seperti menambah beban di pundaknya, tapi juga menambah kejelasan. Ini bukan sekadar keisengan seseorang. Ada perencanaan matang di balik ini semua. Ia merasakan campuran rasa takut, penasaran, dan sedikit kegembiraan. Ya, ini seperti masuk ke dunia film… tapi juga nyata. Ia menaruh kertas itu di sebelah catatan, menatap jam. Ia masih memiliki beberapa jam untuk mempersiapkan. Ia memutuskan untuk menunggu Perikus sebelum memeriksa lebih jauh.
Sementara itu, suara di luar jendela pelan-pelan berubah. Motor lalu lalang, suara bapak penjual es krim dengan bell besi, anak-anak yang bersorak. Matahari mulai menembus celah tirai, menandakan siang telah beranjak. Tepat saat ia hendak membuat secangkir teh baru, terdengar suara klakson khas motor Perikus di depan rumah. Tento segera membuka pintu. Sesosok tubuh gemuk mendatangi dengan napas sedikit tersengal, membawa bungkusan plastik besar.
“Bro, kamu dapet paket ya?” tanya Perikus tanpa basa-basi. Keringat mengalir di dahi, mengilap di bawah sinar matahari. Ia mengibaskan bajunya yang basah karena berkeringat. Wajahnya menunjukkan campuran kegembiraan dan kecemasan.
“Iya, ini dia,” jawab Tento sambil menunjuk kardus yang sudah terbuka di meja. “Isi paketnya seperti misi film agen rahasia. Kamera mini, jam tangan, peta, buku catatan. Gila.”
Perikus berjalan mendekat, menatap benda-benda itu dengan mata bulat seperti anak kecil melihat mainan baru. “Buset. Itu jam bisa buka pintu? Yang bener? Kayak film James Bond!” serunya, kemudian tertawa. “Untung kamu nggak sekalian dikirimin mobil Aston Martin. Kita mah cukup naik motor RX-King!”
Tento tertawa. “Aku yakin motormu juga bisa dipasangi roket kalau kamu niatin,” katanya. Ia mengambil jam tangan digital satu, menekan tombolnya. Masih kosong. “Kayaknya jam ini baru bekerja kalau kita berada dekat dengan pintu yang dimaksud.”
“Sama jam satu lagi, buat ngitung waktu. Kalau sampai getaran keempat kita masih di dalam, habis sudah. Kamu harus belajar lari cepat, bro,” kata Perikus dengan serius. Ia membuka bungkusan plastik yang dibawanya; ternyata isinya beberapa peralatan yang ia kumpulkan sendiri: lampu senter kecil, tali tambang, pembersih telinga. “Aku bawa ini buat jaga-jaga. Tali ini bisa kita gunakan kalau ada lubang. Senter buat lihat, pembersih telinga ya... kalau kita nggak ada kerjaan, biar kuping bersih.”
“Kamu nggak berubah ya. Selalu aneh,” ujar Tento dengan senyum. “Aku senang, sih. Ide anehmu sering kali malah berguna.”
Mereka duduk di lantai, meletakkan denah pabrik di atas karpet. Peta itu menampilkan bangunan utama pabrik, dengan beberapa ruangan laboratorium, gudang, kantor administrasi, dan sebuah ruangan besar di bawah tanah yang tidak memiliki jalur masuk yang terlihat. Beberapa area dicetak warna merah, menandakan tempat penuh sensor atau kamera. Di sisi lain, ada jalur hijau, jalur aman. Pada salah satu sudut ada catatan kecil: “Ruang pendingin. Temukan kunci di sini.”
“Lihat ini,” kata Tento sambil menunjuk area di peta. “Ruang bawah tanah ini mencurigakan. Kenapa ada ruangan yang nggak punya pintu masuk? Mungkin itu laboratorium rahasia mereka. Atau tempat nyimpen soto ayam legendaris.”
Perikus mengangguk pelan. “Kita harus cari jalan. Mungkin ada pintu rahasia di balik rak, kayak film kartun Tom dan Jerry,” ujarnya. Ia meraba-raba kertas peta seakan mencari sensasi taktil. “Kertas ini tebal ya? Kayak kertas undangan kawinan. Hebat mereka mikirin detail.”
Mereka mempelajari peta dengan cermat, membagi tugas. Tento akan bertugas menggunakan jam pertama untuk membuka pintu, mencari jalur aman, dan mengawasi kamera. Perikus akan membawa tas yang berisi tali, senter, rokok, dan jam kedua, mengingatkan waktu. Mereka memutuskan untuk tidur sejenak sore itu untuk mempersiapkan stamina. Seusai makan soto ayam (lagi-lagi) yang sengaja mereka beli untuk menambah semangat, mereka masuk ke kamar masing-masing. Tetapi ketenangan tetap sulit dicapai karena kehebohan misi yang menunggu.
Sore menjelang, suara adzan magrib berkumandang, menembus jendela kamar mereka. Bau masakan tetangga menguar, campuran bumbu nasi goreng dan kecap manis. Perikus keluar dari kamar dengan mata merah dan rambut acak-acakan. “Aku nggak bisa tidur. Kepalaku diisi hal-hal aneh. Aku mimpi dikejar ayam besar pakai jas lab. Kamu gimana?”
Tento mengusap mata. “Aku sempat tidur, tapi cuma sebentar. Aku mimpi kita berdua terjebak di ruangan penuh soto, tapi sotonya hidup dan berusaha kabur,” katanya. Mereka tertawa, kemudian terdiam. Tidak ada kata-kata yang bisa benar-benar menggambarkan kegelisahan mereka.
Mereka menyiapkan hal-hal terakhir: memeriksa kamera, mempersiapkan catatan kode, mengisi baterai ponsel meskipun diminta tidak digunakan, mengunci pintu belakang. Mereka memutuskan untuk berangkat ke pabrik pukul dua lewat empat puluh lima, sehingga sampai di sana pukul tiga tepat. Di luar, langit malam mulai gelap, jalanan yang biasanya ramai dengan suara motor kini mulai sunyi. Desir angin membawa aroma tanah basah. Suara jangkrik samar terdengar.
Dalam perjalanan, motor tua Perikus mengeluarkan suara khas. Getaran mesin terasa menembus sepatu mereka, membuat kaki sedikit kebas. Mereka mengenakan helm hitam polos, namun perasaan mereka jauh dari aman. Jalan menuju pabrik melewati area pinggiran kota yang mulai sepi, lampu-lampu rumah sudah dimatikan. Sesekali, seekor anjing liar menyalak, mengejar motor, kemudian menyerah. Langit tertutup awan gelap, tidak ada bintang terlihat, hanya sinar redup dari lampu jalan.
Setibanya di dekat pabrik, mereka memarkir motor di semak-semak tinggi, menutupnya dengan kain coklat yang mereka bawa agar tidak mencolok. Mereka berjalan kaki menuju gerbang. Bangunan pabrik berdiri tinggi dan masif, dindingnya kotor ditumbuhi lumut. Pintu besi yang dulu pernah terbuka kini tertutup rapat. Mereka menunduk merayap di samping pagar, mengikuti jalur yang ditandai di peta. Bau logam tua dan karat menyambut, bercampur dengan bau daun basah. Jantung mereka berdegup, telinga mereka seakan bisa mendengar aliran darah sendiri.
Di depan pintu kecil yang terhubung dengan gerbang samping, mereka berhenti. Ini pintu yang diindikasikan oleh peta. Di sebelah handle pintu, ada panel digital kecil tersembunyi di balik besi berkarat. Mereka mengeluarkan jam digital pertama. Ketika mendekatkan jam ke panel, jam itu bergetar pelan. Layar yang tadinya kosong menampilkan deretan angka hijau, kemudian berubah menjadi garis lurus. Pintunya berbunyi “klik,” tanda kunci terbuka.
“Cepat,” bisik Tento, menahan napas. Ia membuka pintu perlahan, menghindari bunyi gesekan. Mereka masuk satu per satu. Udara di dalam gedung lebih dingin, aroma lembap memenuhi hidung, bercampur dengan bau kimia yang halus. Mereka menyalakan senter, namun menjaga cahayanya agar tidak terlalu terang. Denah yang mereka ingat dalam kepala akan memandu mereka. Di tangan Perikus, jam digital kedua menampilkan angka 15:00. Getaran kecil menandai dimulainya hitungan.
Koridor pertama mereka lalui adalah lorong panjang dengan dinding beton. Gemericik air terdengar dari pipa yang mungkin bocor. Pada beberapa titik, lampu neon tua berkedip-kedip, kadang mati, kadang menyala, menciptakan bayangan bergerak. Suara langkah mereka terdengar jelas. Mereka mencoba jalan ke kiri, kemudian ke kanan sesuai peta. Ruangan pertama yang mereka lewati tampak seperti kantor administrasi yang lama ditinggalkan. Ada berkas-berkas berserakan, kursi-kursi berdebu, papan tulis dengan coretan yang sudah pudar. Mereka terus berjalan.
Di salah satu ruangan, mereka menemukan rak-rak tinggi dengan botol dan tabung. Botolnya berisi cairan berwarna aneh: biru, hijau neon, oranye. Labelnya tertulis kode-kode yang membingungkan. Perikus berhenti sejenak, menatap satu botol berwarna ungu dengan label “B16-001”. “Ini dia!” bisiknya. “Project B16 yang di catatan!” Ia merasakan getaran jam di pergelangan tangan. Getaran pertama.
“Ayo kita rekam,” kata Tento. Ia mengambil kamera mini, mengarahkan lensa ke botol, menekan tombol di sisi kamera. Lampu kecil menyala, menunjukkan bahwa perekaman berjalan. Ia menelusuri label, memastikan tulisan terabadikan. “Kita harus ambil satu botol sebagai bukti.” Ia meraih botol itu perlahan, memastikan tidak membuat suara. Botol kaca itu terasa dingin, sedikit licin oleh embun. Ia menaruhnya di dalam tas kecil yang ia bawa di bawah hoodie.
Mereka melanjutkan perjalanan. Ruangan berikutnya lebih besar, dipenuhi alat mesin besar yang mengeluarkan dengungan rendah. Ada komputer, layar monitor dengan tampilan grafik-grafik. Tidak ada satu pun orang terlihat. “Kemana semua orang?” tanya Perikus, berbisik. Matanya menyapu ruangan. “Mungkin mereka mematikan shift malam.”
Suara getaran jam kedua menandai lima belas menit berlalu. Mereka segera bergerak ke jalur berikutnya. Di lorong sempit, mereka menemukan panel kontrol sensor. Buku catatan menunjukkan kode yang harus dimatikan. Tento memeriksa tombol, memencet urutan angka yang tertera di catatan. Lampu merah berubah menjadi hijau. Sensor pada koridor berikutnya mati. Mereka masuk dengan lega.
Di salah satu sudut, mereka melihat pintu besi kecil setinggi pinggang. Pintu itu menempel di lantai, seperti pintu menuju ruang bawah tanah. Ini tidak ada di peta. Hati mereka berdegup. “Aku rasa ini jalan ke ruangan rahasia,” kata Tento. Ia mencoba menarik gagang pintu. Berat. Ia memanggil Perikus untuk membantu. Mereka menarik bersama; pintu itu akhirnya bergerak, mengeluarkan bunyi berdecit yang membuat telinga bergetar. Aroma dingin dari bawah merembes. Gelap gulita.
“Kamu yakin mau masuk?” tanya Perikus. “Jam kita baru getaran kedua. Kita masih punya waktu. Tapi kalau kita salah, kita bisa terjebak.”
“Kita harus coba,” jawab Tento, tajam. “Kalau ini ruang rahasia, disinilah bukti terbesar ada.” Ia melangkah turun perlahan, lampu senter menerangi tangga spiral yang curam, terbuat dari besi yang agak basah. Suara langkah mereka bergema. Satu, dua, tiga, mereka turun.
Di bawah, suhu turun drastis. Ruangan itu luas, dindingnya dari beton, lantainya basah. Lampu-lampu LED terpasang di langit-langit, tetapi redup. Di tengah ruangan, ada deretan benda tertutup kain putih. Tampak seperti peti es besar. Mereka mendekat. Perikus menyingkap salah satu kain.
Mata mereka melebar. Di dalam peti es itu, terbaring seseorang. Pria muda, kulitnya pucat, bibir biru. Tubuhnya seperti tidur nyenyak di dalam ruangan pendingin, tetapi matanya terbuka sedikit, menatap kosong. Ada kabel-kabel halus tertancap di pelipisnya, terhubung ke mesin kecil yang menempel di dinding. Data digital berkedip di layar kecil di sampingnya. Mereka menahan napas, merasakan perut mereka mual.
“Ini apa-apaan?” bisik Perikus dengan suara tercekat. “Apakah mereka... mengawetkan orang?” Ia menyentuh lengan pria itu dengan jari telunjuk, merasakan suhu dingin es. Tidak ada respon. “Ini gila.”
Tento memegang kamera, merekam semuanya. Ia memfokuskan lensa ke wajah pria itu, ke kabel-kabel, ke mesin. Ia menahan emosi yang mengalir. Pikirannya berkecamuk: apakah pria ini masih hidup? Apa yang mereka lakukan di sini? Penelitian apa sampai harus mengawetkan manusia?
Getaran ketiga dari jam digital mengejutkan mereka. Waktu bergerak cepat. Mereka hanya punya lima belas menit lagi. Mereka bergerak cepat, memeriksa satu peti lagi. Di dalamnya seorang wanita, dengan kondisi yang sama. Pada peti ketiga, jantung mereka hampir berhenti. Di sana terbaring seorang wajah yang familiar: seorang mantan aktivis kampus yang pernah bersama Tento berorasi di depan gedung rektorat. Namanya Karin. Tiga tahun lalu, ia menghilang tanpa jejak. Semua orang mengira ia lari keluar negeri. Kini, ia terbaring seperti tidur. Tato kecil di pergelangan tangannya, gambar kupu-kupu, masih terlihat. Air mata tiba-tiba meleleh di mata Tento.
“Ini Karin,” bisiknya dengan suara bergetar. “Dia… dia… di sini... selama ini?” Ia meraih tangan Karin, merasakan dinginnya, merasakan denyut lemah? Tidak ada. Ia menekan ear lobenya untuk mengecek nadi. Tapi ia tidak berpengalaman. Air mata menetes.
Perikus ikut terkejut, kemudian menggebrak peti dengan emosi. “Bajingan! Mereka menjadikan aktivis sebagai eksperimen!” suaranya tertahan, marah.
Mereka sadar, mereka tidak bisa berlama-lama. Mereka menutup kembali kain putih, memastikan tidak meninggalkan bekas. Mereka harus keluar dan membawa bukti. Mereka berlari menaiki tangga lagi. Jam digital bergetar keempat. Ini tanda. Mereka harus keluar dalam waktu singkat.
Ketika mereka kembali ke lorong utama, langkah mereka menjadi tergesa. Mereka mengikuti peta, menghindari sensor. Namun, ketika berbelok di koridor terakhir, mereka mendengar suara. Suara langkah kaki cepat di ujung lorong. Lampu senter memantul dari dinding. Bayangan seseorang muncul. Mereka menghentikan napas, bersembunyi di belakang tumpukan kotak. Mereka mengintip. Seorang pria dengan seragam satpam, membawa radio. Ia melintas, tidak menyadari kehadiran mereka. Ia berbicara dengan radio, kata-katanya terdengar patah: “Aku dengar sesuatu di ruang pendingin. Seperti pintu terbuka.”
Tentu saja. Pintu yang mereka buka tadi. Mereka saling pandang, jantung kembali berdetak kencang. Jika satpam itu mengecek, mereka akan ketahuan. Mereka harus mempercepat. Mereka bergerak perlahan, menunggu satpam menghilang di belokan lain, lalu berlari.
Mereka berhasil sampai di pintu keluar. Jam digital keempat hampir selesai. Tento mengeluarkan jam pertama lagi, meletakkan di panel. Pintu bersuara klik. Mereka keluar dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihat. Mereka menutup pintu, mengunci kembali dengan jam. Mereka berlari ke arah semak-semak tempat motor disembunyikan, napas mereka berat. Udara luar yang dingin terasa seperti kebebasan.
Saat mereka tiba di motor, mereka mendengar suara sirene jauh di dalam kawasan pabrik. Mungkin satpam telah menemukan sesuatu. Mereka segera menyalakan motor, gas ditarik. Motor melaju menembus kegelapan, meninggalkan pabrik dan segala keburukannya. Hati mereka penuh campuran emosi: lega, takut, marah, sedih.
Dalam perjalanan pulang, mereka diam untuk beberapa menit. Hanya suara angin dan mesin motor yang menemani. Mata Tento masih berkaca-kaca memikirkan Karin. Perikus menggigit bibir, masih terbayang wajah-wajah di peti. Mereka sadar, ini baru permulaan. Apa yang mereka lihat hanyalah puncak gunung es dari konspirasi besar. Mereka baru saja mengambil sebotol cairan dan beberapa rekaman, tapi sudah cukup untuk mengguncang mereka.
Sampai di rumah, mereka mengunci pintu, duduk di lantai, gemetar. Mereka membuka tas, memeriksa botol B16-001. Cairan ungu itu memantulkan cahaya lampu, seolah memiliki nyawa sendiri. Mereka menonton kembali video yang direkam; wajah Karin muncul di layar kecil. Air mata kembali mengalir di pipi Tento.
“Kita harus selamatkan mereka,” ucap Tento, suaranya serak. “Kita nggak bisa diam.”
Perikus meremas bahu Tento. “Kita akan, bro. Kita akan cari tahu apa ini. Kita akan bongkar semuanya,” katanya. Dia menghela napas berat, menyulut rokok, mengisap dalam-dalam. Asap mengepul, menari-nari di udara.
Mereka tahu perjalanan ini akan berbahaya. Tapi mereka juga tahu, keadilan harus ditegakkan. Mereka membuka buku catatan, menulis laporan tentang apa yang mereka lihat, menuliskan nama Karin, dan memikirkan bagaimana cara memberi tahu keluarga korban tanpa memicu kecurigaan. Mereka merencanakan langkah berikutnya: menganalisis cairan, mengontak seseorang yang mereka percayai, mungkin seorang profesor biologi yang pernah membantu mereka saat skripsi.
Di tengah kepenatan, bau soto ayam dari warung depan kembali tercium. Perut mereka keroncongan, meski hati mereka berat. Mereka tertawa kecil di antara air mata, lalu memutuskan membeli soto sebagai pelarian sementara. Saat menyuap kuah hangat ke mulut, mereka merasakan kepahitan bercampur dengan rasa gurih: hidup terus berjalan, meski dunia tampak gila.
Malam itu mereka tertidur lelap di ruang tengah, kepala bersandar di meja, lampu redup menemani, sementara di meja, cairan ungu berkilau, dan di luar, malam Malang sunyi, menyimpan rahasia lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.