NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kelahiran Kembali

Ketika penata rambut itu mematikan mesin hairdryer dan menyisir bagian akhir dari mahakarya di kepala Colette, seluruh suasana di salon mungil itu seolah mendadak hening. Colette perlahan membuka matanya sepenuhnya, menatap pantulan yang sama sekali tidak ia kenali sebagai dirinya.

Potongan rambut wolf cut yang modern—dengan lapisan-lapisan shaggy yang memberikan volume di bagian atas dan helaian tipis yang membingkai leher—kini menghiasi kepalanya. Gaya rambut itu memberikan kesan berani, sedikit liar, namun sangat elegan.

Kulitnya yang putih bersih kini terpapar cahaya lampu salon secara sempurna, tanpa ada lagi bayangan rambut yang menutupinya. Namun, yang paling mematikan adalah sepasang mata hazel yang selama ini ia sembunyikan. Warna matanya yang unik—perpaduan cokelat keemasan dan hijau gelap—berkilau indah di bawah naungan bulu mata lentik berwarna hitam pekat yang panjang alami.

Tanpa perlu riasan berlebih. Bibirnya yang penuh dan seksi kini berwarna merah marun, menciptakan kontras yang sangat menawan dengan kulit pucatnya.

"Astaga... Mbak, Anda terlihat seperti bintang film," gumam sang penata rambut sampai menghentikan aktivitasnya di pelanggan lain.

Colette bangkit dari kursi, kakinya sedikit gemetar saat ia melangkah menuju kasir. Ia merasa "telanjang" karena tidak ada lagi tirai rambut yang melindunginya, namun ia juga merasa sangat kuat. Ia membayar jasanya dan melangkah keluar menuju jalanan.

Dan saat itulah keajaiban terjadi.

Orang-orang yang lewat di trotoar mendadak memperlambat langkah mereka. Beberapa pria yang sedang duduk di kafe pinggir jalan menolehkan kepala sepenuhnya, mengikuti arah jalan Colette dengan tatapan takjub. Tidak ada lagi bisikan kasihan tentang "Gadis Gagak". Kini, bisikan yang terdengar adalah decak kagum tentang kecantikan misterius yang baru saja lewat.

Colette merapatkan jaketnya, namun ia tidak lagi menunduk. Ia membiarkan angin pagi menerpa wajahnya, merasakan sensasi segar di kulitnya yang selama bertahun-tahun merindukan sentuhan udara. Kalung berlian pemberian Caspian berkilau tepat di antara tulang selangkang lehernya, seolah menjadi segel terakhir dari transformasi ini.

Colette berjalan menyusuri trotoar dengan perasaan yang sangat asing. Pagi itu, ia sama sekali tidak berdandan. Ia hanya mengenakan jaket kebesaran (oversized) yang biasa ia gunakan untuk bersembunyi, dan celana kain sederhana. Namun, kekuatan dari potongan rambut wolf cut itu benar-benar mengubah segalanya.

Keadaan berbalik 180 derajat. Biasanya, orang-orang akan menjaga jarak atau memberikan tatapan kasihan seolah ia adalah makhluk aneh yang harus dihindari. Namun sekarang, ia merasa benar-benar hidup.

"Wah, potong rambut di mana, Mbak? Keren banget modelnya!" seru seorang gadis muda yang berpapasan dengannya di dekat halte bus.

Bukan hanya remaja, bahkan ibu-ibu yang sedang belanja sayur di pinggir jalan pun ikut menoleh. "Cantik sekali ya, padahal cuma pakai jaket biasa. Matanya itu lho, bening sekali," bisik salah satu ibu pada temannya, yang masih bisa terdengar oleh telinga Colette.

Pujian-pujian tulus dari orang asing yang tidak mengenalnya itu menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa rasa rendah diri di hatinya. Semangat baru mulai berapi-api di dalam dada Colette. Ternyata, dunia tidak sejahat yang ia bayangkan selama ini—hanya saja, selama ini ia terlalu sibuk membangun penjara untuk dirinya sendiri.

Dan momen yang membuat jantung nya berdegup kencang. Melihat ibu dan Aris melihat penampilan baru nya. Kini ia sudah hampir tiba.

Saat ia sampai di depan rumah dan melangkah masuk, keheningan menyambutnya sejenak sebelum pecah menjadi isak tangis.

Sinta, ibunya, tidak bisa menahan diri. Ia berlari menghampiri Colette dan langsung mendekap putrinya erat-erat. Air mata haru membasahi pundak jaket Colette.

"Anakku... Colette-ku yang cantik sudah kembali," isak Sinta. Ia mengelus pipi Colette, menatap mata hazel itu dengan rasa syukur yang tak terhingga. "Ibu merindukan matamu, Nak. Ibu sangat merindukan wajahmu."

Aris berdiri di samping mereka, ikut mengusap matanya yang berkaca-kaca. Ia memberikan jempol pada kakaknya dengan senyum lebar. "Kakak keren sekali!."

Colette tertawa kecil—sebuah tawa yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar di rumah itu. "Terima kasih, Bu... Aris. Maaf baru sembuh sekarang."

Colette mengusap wajah anak gadis nya itu. "Pelan-pelan saja jangan terlalu di paksakan, kita setia menunggu perubahan itu sedikit demi sedikit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!