Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan ayah, Nenek
Suara gantungan kunci di tas nya sangat ramai sampai James yang sedang minum teh di meja makan dengan ditemani Silva disampingnya mengurus pekerjaan sebelum Anisa datang.
"Suara itu pertanda kedatangannya. "
Kaki kecilnya menghentakkan lantai.
"Ayah pikir aku mahluk halus, aku mau pamer gantungan kunci yang aku buat di taman belajar kemarin. "
"Yaa itu karya yang sangat menyedihkan. "
"Apa itu pujian kedengarannya?"
James menatap lain arah.
"Mungkin iya. "
Menghela nafasnya menaiki kursi dan bersiap sarapan.
"Aku mau kemping besok Minggu dan Sabtu Ayah akan sendirian dirumah, oh kasihannya jangan sedih ya ayah. "
"Aku akan senang sekali karena pembuat onar akhirnya pergi sebentar untuk liburan. "
Erat-erat memegang garpunya kesal dengan jawaban ayahnya cuek.
Sarapan kembali tenang seperti tidak terjadi apapun.
Perlahan Anisa makan sampai habis tak tersisa dan meminum susunya lalu turun dan menerima kotak bekal dari Sol.
James tetap memperhatikannya dan mulai ikut Anisa yang sudah berjalan duluan dengan gantungan kunci yang benar-benar ramai dan berisik seperti kaleng rombeng.
"Tumben, bekal?" Melirik Sol.
"Nona memintanya karena ia sedang menabung katanya teman-temannya ada yang membawa bekal dan nona juga mau tapi, sederhana saja karena temannya anak yang sekolah karena bantuan sosial dari amal bangsawan. "
James mengangguk.
Tempat belajar mewah memang untuk anak para bangsawan tapi, tidak semua anak bangsawan pintar dan mau belajar di tempat belajar mewah ada Dati mereka anak kepala pelayan atau sekertaris dari orang-orang yang mempekerjakan mereka dan mereka di beri beasiswa full sampai ke bangku perguruan tinggi. Anggap saja mereka golongan menengah keatas.
James penasaran dengan teman putrinya yang membuatnya sedikit berubah.
Didalam mobil.
"Bekal ini kau tidak makan kan?"
Anisa melotot kesal.
"Ayah tahu aku punya teman perempuan namanya Anila, hampir mirip denganku dia anak kepala pelayan di keluarga Aranzeyn. Katanya ia juga... "
Anisa menutupi separuh wajahnya menatap ayahnya berharap Theo dan Silva tidak melihatnya tapi, tangan sekecil itu dan berbisik dengan suara yang keras itu tidak ada bedanya.
"Katanya dia anak kepala keluarga Aranzeyn, kepala pelayan adalah ibunya dan katanya dia anak haram, sama sepertiku... "
Usai membisikkannya Anisa kembali ke posisi duduk bersandar santai.
Tangan James terulur menepuk nepuk pelan rambut putrinya yang sudah rapi di tata dan di ikat dua dengan kepangan.
"Kamu bukan anak haram kamu anak James Arthur, jangan sama kan kamu dengan hal buruk yang tidak sama denganmu, aku ayahmu... Harus ingat itu yaa anakku. "
Sentuhan di hidung kecilnya seperti pukulan lembut tongkat peri.
"Hah iya. " Memegang hidungnya dan menunduk.
Dalam kepalanya James mengulang nama Aranzeyn dan seketika itu menatap Silva yang melihatnya dari spion depan.
Di tempat belajar mewah Anisa yang baru sampai langsung bergegas turun sebelum James berpamitan kerja dengannya.
Anisa melihat Anila disana datang diantar perempuan cantik.
"Anila!" Teriaknya sedikit keras sampai keduanya menoleh.
James mengikuti Anisa yang menghampiri temannya dan saat yang sama Alova seorang perempuan cantik yang membantu Anila memakai tasnya terdiam kaget dan menunduk mundur selangkah saat James benar-benar mendekat.
Tatapan sombong dan dinginnya menekan Alova.
"Selamat pagi Tu-tuan James, senang bertemu anda.. " Basa basinya.
Anila memegang tangan Anisa takut dengan tatapan James. Tawa kecil Anisa memegang tangan Anila lagi.
"Kenalkan Anila dia ayahku, James Arthur Oceanus, Kamu tahukan aku punya nama itu juga." Anila menganggukinya.
James berlutut dan mencubit pipi putrinya dan menatap Anila disebelah kiri Anisa.
"Jangan racuni dia dengan kata-kata yang kasar, aku tahu kau selalu bicara kasar dengan energimu yang tidak ada batasnya. "
Alova kira James akan menasehati Anila tapi, malah menasehati Nona Anisa.
James bangkit menatap Alova dengan tubuh tegapnya.
"Nyonya Alova maaf jawaban saya sedikit terlambat, selamat pagi juga senang melihat anda dan Anila baik-baik saja, saya bahagia karena ternyata Tuan Aranzeyn memilih anda. "
Anisa merasakan sesuatu dari sapaan ayahnya.
James juga seperti di tatap curiga dengan tajam.
Merinding.
"Jangan berpikiran buruk, buang semuanya, kau tidak perlu memikirkannya, belajar yang baik aku mungkin telat menjemputmu tapi, Rudolf akan menggantikan ku, atau Canaria yang akan datang. "
Anisa mengangguk patuh wajah terlihat imut saat tenang dan polos.
Berbalik pergi tanpa menyapa lagi Anisa juga mengajak Anila masuk kedalam Alova mengangguk sedikit menyelipkan rambutnya di selah telinganya dan masuk menaiki mobil tanpa sopir.
Dari kejauhan Manuel yang masih didalam mobil bersama dengan Leo.
"Ayah tidak mau mengantarku?"
"Kau laki-laki lakukan apa yang kamu mau, jangan melewati batas dengan kesayangan Tuan James. "
"Maksud ayah anak perempuan yang diadopsi itu?"
"Kau hampir melewati batas untung kau belum turun dari mobil."
Manuel menghela nafas berat dan lelahnya.
"Kau harus kembali dan langsung privat tambahan tak ada kelonggaran waktu. "
Leo mendecih dan turun dari mobilnya sambil membawa tasnya dan seketika itu Manuel baru lihat kalo salah satu gantungan kunci tas putranya adalah hurup A dan ada tulisan kecil di tengahnya Nisa.
Rasa ingin menggantung dirinya sangat kuat bahkan rasanya ia sangat malu pada Tuan James kalo sampai melihatnya. Apa yang ada di pikiran Leo sampai membuat gantungan kunci seperti itu.
Sudahlah Manuel akan mencari alasan kalo sampai Tuan James tahu hal itu.
Di dalam kelasnya sekarang yang masih berlangsung.
Dari tadi Leo memperhatikan Anisa, Anila tahu itu ia tidak akan bilang ke Anisa karena pesan Anisa yang bilang jangan beritahukan apapun kalo ada yang memperhatikannya.
Setelah kelas hari ini selesai guru memberi peringatan pengingat kalo hari Sabtu Minggu acara kemping bersama didekat kebun tempat belajar benar-benar akan dilaksana harap tidak ada yang lupa tentang hal itu.
Tidak langsung keluar kelas Anisa melirik kebelakang dan tepat sasaran Leo memperhatikannya.
"Anila aku akan keluar dan menunggu jemputan ku, semoga mereka lebih cepat, aku tidak suka anak itu, " ucapnya diangguki Anila.
Anila polos hanya menurut dan ikutan saja dengan Anisa yang keluar kelas.
"Anisa Leo mungkin mau berteman, tapi satu kelas sangat segan dengannya karena dia garang sekali bahkan seram tahu, ucapannya menyakitkan hati anak-anak lain kadang. "
"Memang! Di pertemuan pertama waktu itu aku belum melihatmu mungkin kamu sedang izin, Anila dia mengataiku anak haram atau anak adopsi ya didepan teman sekelas entah aku lupa tapi, yang jelas dia mengataiku."
Saat baru keluar pintu dan turun tangga teras koridor depan mobil Rudolf sudah terparkir dan Theo menunggunya. Tak lama datang mobil ibunya Anila.
"Sampai ketemu Anila!" Salam jumpa sambil pergi ke wali penjemput masing-masing.
Di dalam mobilnya ternyata ada seorang wanita yang pernah Anisa lihat di pesta waktu itu.
"Selamat sore, Anisa... Masuk lah lihat apa kamu sampai tak melangkah kemari?" Stella yang ada didalam mobil yang Rudolf kendarai dan Theo dengan santainya tersenyum mengangguk saat Anisa melihat kearahnya.
"Ah iyaa aku datang."
Duduk manis dan mobil siap berjalan setelah semuanya duduk dengan baik dan tenang.
Selama perjalanan meninggalkan tempat belajar Anisa diam saja dan mengayun-ayunkan kakinya.
"Ayahmu dan kamu kemarin bertemu Grey Alba Australis ?"
Menoleh Anisa dan mengangguk, Stella tersenyum.
"Kalo gitu apa yang ayah mulakukan, akan sangat merugikan keluarga besar, itu semua di lakukan demi kamu, anakku." Menyentuh hidung Anisa.
Terkejut sadar itu kesalahan besar.
"Ah, Bagaimana ini... Maafkan Ayah, Nenek... Ehm ayah tidak salah aku-akulah yang salah aku memulainya aku pantas di hukum, aku membuat kerugian nya... nanti kalo aku sudah besar atau nanti aku usahakan akan membayarkannya, maafkan ayah Nenek, ayah tidak salah aku yang salah."
Menghela nafasnya.
Ternyata kalian saling melindungi ya." Stella mengusap layar ponselnya dengan jarinya dan menatap Anisa lagi yang bergetar tegang takut dan hampir menangis.
Tersenyum Stella.
"Nak, Siapa yang mengatakan kalo kamu boleh memanggilku nenek?"