Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pangeran Ketiga
Kadipaten Mataram siang itu terasa lebih ramai dari biasanya.
Sawitri dan Cakrawirya baru saja tiba di pelataran ketika seorang prajurit berlari tergopoh menghampiri Ki Lurah Wirapati.
“Ki Lurah! Utusan dari keraton datang! Raden Mas Jatmiko, putra ketiga Sultan, sedang dalam perjalanan ke sini!”
Wirapati mengerutkan kening. “Raden Mas Jatmiko? Putra selir Wetan?”
“Leres, Ki. Beliau hendak berburu di alas selatan dan mampir untuk istirahat.”
Cakrawirya yang mendengar percakapan itu langsung memasang ekspresi datar.
Tapi Sawitri menangkap sesuatu di sudut matanya.
Otot orbicularis oculi menegang sepersekian detik. Respons fisiologis terhadap stres. Menarik.
“Ada masalah dengan pangeran ketiga itu?” tanya Sawitri tanpa basa-basi.
Cakrawirya tersenyum miring. “Tidak. Hanya saja... dia terkenal suka mengganggu.”
“Mengganggu bagaimana?”
“Kau akan lihat sendiri.”
Satu jam kemudian, pendopo Kadipaten dipenuhi oleh para prajurit dan abdi dalem yang sibuk bersiap menyambut tamu agung.
Sawitri duduk di sudut ruangan. Ia tidak peduli pada hiruk-pikuk itu. Matanya sibuk membaca gulungan lontar berisi catatan kasus lama yang dipinjamkan Wirapati.
“Ndara Tabib.”
Suara Wirapati memanggil dari ambang pintu.
“Raden Mas Jatmiko minta bertemu dengan tabib yang menangani kasus Wartinah.”
Sawitri mengangkat wajah perlahan.
“Sekarang?”
“Nggih, Ndara. Beliau sudah di pendopo utama.”
Pendopo utama Kadipaten terasa lebih megah dari biasanya.
Di kursi kebesaran yang biasa diduduki Adipati Sasongko, kini duduk seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Raden Mas Jatmiko.
Rambutnya disanggul rapi dengan cunduk emas. Surjan sutra hijau daun membalut tubuh tegapnya. Matanya tajam, tapi ada binar hangat di sana, kontras dengan dinginnya Cakrawirya.
Sawitri melangkah masuk. Berhenti tiga langkah di depan kursi kebesaran itu.
“Kulo Sawitri.”
Hanya itu. Tanpa sembah. Tanpa sungkem.
Para abdi dalem di ruangan itu tersentak. Bahkan Wirapati yang berdiri di samping ikut menelan ludah.
Tapi Jatmiko justru tertawa.
Tawanya renyah. Tidak dibuat-buat.
“Akhirnya kulo bertemu langsung dengan tabib wanita yang konon bisa membangkitkan suara mayat.”
Jatmiko bangkit dari kursinya. Melangkah mendekati Sawitri.
Matanya memindai wajah Sawitri dari atas ke bawah. Bukan dengan tatapan mesum, tapi dengan rasa ingin tahu yang tulus.
“Cakrawirya bilang kau membedah mayat Wartinah di pinggir hutan. Sendirian. Dengan pisau seadanya.”
Sawitri menatap balik pemuda itu. Matanya bekerja.
Postur tegap, bahu bidang, tapi tidak sekaku Cakrawirya. Otot leher tegang, bukan karena marah, tapi karena kebiasaan memegang kendali kuda. Telapak tangan kanan ada kapalan di pangkal jari manis. Bekas memegang cambuk, bukan pedang.
“Informasi Raden Cakrawirya akurat,” jawab Sawitri datar.
“Tapi kulo tidak sendirian. Ada Ki Lurah Wirapati dan beberapa prajurit.”
Jatmiko tersenyum. Senyum yang hangat. Mengesankan.
“Rendah hati. Efisien. Langsung ke inti.” Ia menatap Sawitri dengan binar baru. “Kulo suka.”
Dari sudut ruangan, Cakrawirya yang baru saja masuk dan bersandar di pilar, mendengus pelan.
Hampir tak terdengar.
Tapi Sawitri mendengarnya.
“Kudengar kau juga menemukan bukti baru. Sehelai rambut.”
Jatmiko kembali ke kursinya, memberi isyarat agar Sawitri duduk.
Sawitri tidak duduk. Ia tetap berdiri.
“Leres, Raden.”
“Boleh kulo lihat?”
Sawitri mengeluarkan kantong kain kasa dari tasnya. Menyerahkannya pada Wirapati, yang kemudian menyodorkannya pada Jatmiko.
Jatmiko membuka kantong itu. Mengamati helai rambut hitam di telapak tangannya.
“Panjang. Hitam. Berkilau.” Ia mendekatkan rambut itu ke hidungnya. “Bau minyak melati. Wangi yang mahal.”
Ia menatap Sawitri. “Ini milik wanita bangsawan. Bukan batur biasa.”
“Analisis yang tepat, Raden.”
Jatmiko tersenyum lebar. “Pujian darimu terasa lebih berharga dari pujian seratus abdi dalem.”
Cakrawirya mendengus lagi. Kali ini sedikit lebih keras.
Jatmiko menoleh. Seolah baru menyadari kehadiran kakak tirinya itu.
“Oh, Kakang Cakrawirya ada di sini. Kukira kau sibuk memeriksa pasukan di perbatasan.”
“Kembali kemarin,” jawab Cakrawirya singkat. Ia mendorong tubuhnya dari pilar, melangkah mendekat.
“Berburu, Jatmiko? Di musim hujan?”
Jatmiko terkekeh. “Berburu informasi, Kakang. Itu lebih menarik daripada berburu rusa.”
Mata kedua pangeran itu bertemu.
Ketegangan di udara bisa dipotong dengan pisau.
“Ndara Tabib.”
Jatmiko tiba-tiba kembali fokus pada Sawitri.
“Kulo dengar kau juga ahli dalam tusuk jarum. Teknik yang katanya bisa menyembuhkan penyakit dalam.”
Sawitri mengangguk minimalis.
“Kulo punya masalah dengan bahu kanan. Sakit setiap kali hujan turun. Bisa kau periksa?”
Wirapati terbatuk pelan. “Raden... ini bukan tempat yang tepat untuk...”
“Tidak apa-apa, Ki Lurah.” Sawitri memotong. “Pemeriksaan awal bisa dilakukan di mana saja.”
Ia melangkah mendekati Jatmiko.
“Silakan duduk, Raden.”
Jatmiko duduk di kursi. Sawitri berdiri di sampingnya.
Tangannya yang terbungkus kain perca meraba bahu kanan pemuda itu dengan gerakan presisi.
“Raba sendi glenohumeral. Nyeri saat rotasi eksternal,” gumam Sawitri pelan, lebih untuk dirinya sendiri.
Ia menekan titik tertentu di belakang bahu Jatmiko.
Jatmiko menarik napas tajam. “Sakit.”
“Rotator cuff tendinopathy. Cedera lama yang tidak ditangani dengan benar.”
Sawitri melepaskan tangannya.
“Kebutuhan: kompres hangat dua kali sehari. Hindari gerakan mengangkat tangan melebihi bahu selama dua minggu. Kulo akan meracik minyak urut dari jahe merah dan cengkeh.”
Jatmiko menatapnya dengan takjub.
“Hanya dengan meraba sebentar, kau bisa tahu semua itu?”
“Anatomi tidak pernah berbohong, Raden.”
Cakrawirya yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
“Jatmiko, kau datang untuk berburu atau berobat?”
Jatmiko menoleh. Senyumnya masih mengembang.
“Berdua, Kakang. Dan ternyata... kulo menemukan sesuatu yang lebih menarik dari buruan.”
Matanya kembali ke Sawitri.
“Ndara Tabib, kulo menginap di Kadipaten selama tiga hari ke depan. Mungkin kau bisa melanjutkan pemeriksaanku nanti malam? Kulo undang makan malam di paviliunku.”
Keheningan menyergap ruangan.
Wirapati mematung. Para abdi dalem saling berpandangan.
Cakrawirya diam. Wajahnya datar. Tapi Sawitri melihat jari-jarinya mengetuk-ngetuk gagang keris di pinggangnya. Ritme cepat. Tidak sabar.
“Kulo ada janji dengan Ki Lurah malam ini,” jawab Sawitri datar. “Ada dokumen kasus lama yang perlu kulo pelajari.”
Jatmiko tidak berkecil hati. Ia justru tersenyum lebih lebar.
“Besok lusa, kalau begitu. Atau kapan pun kau mau.”
Ia berdiri. Melangkah mendekati Sawitri. Berhenti hanya satu langkah di depannya.
“Kulo suka wanita yang sibuk. Itu tanda dia punya tujuan.”
Cakrawirya bergerak. Tanpa suara, ia sudah berdiri di samping Sawitri.
“Jatmiko, kau mengganggu pekerjaan tabib Kadipaten.”
Jatmiko menoleh. Alisnya terangkat.
“Mengganggu? Aku hanya menunjukkan apresiasi pada keahliannya. Apa Kakang keberatan?”
Cakrawirya tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Kulo hanya mengingatkan. Sawitri bukan dayang istana yang bisa kau ajak main-main.”
“Oh?” Jatmiko menatap Cakrawirya dengan binar nakal. “Kakang memanggilnya ‘Sawitri’ sekarang? Tanpa gelar? Bukankah itu terlalu akrab untuk sekadar tabib?”
Udara di pendopo terasa membeku.
Sawitri mengamati kedua pangeran itu dengan tatapan analitis.
Cakrawirya: denyut nadi di leher meningkat. Pupil membesar sedikit. Respons fisiologis terhadap ancaman.
Jatmiko: senyum mengembang, tapi otot rahang menegang. Bahasa tubuh agresif yang dibungkus keramahan.
Menarik. Keduanya sedang berperang tanpa senjata.
“Kulo permisi.”
Sawitri memotong ketegangan dengan cara paling efisien: pergi.
Ia membalikkan badan dan melangkah keluar pendopo tanpa menoleh.
Di belakangnya, ia mendengar suara Jatmiko.
“Cantik, cerdas, dan tidak peduli pada pangeran. Kombinasi yang mematikan, Kakang.”
Dan suara Cakrawirya yang menjawab dingin.
“Dia lebih mematikan dari yang kau kira. Percayalah.”
Malam harinya, Sawitri duduk di kamarnya, membaca laporan kasus lama di bawah cahaya pelita.
Ketukan pelan di jendela.
Tanpa menoleh, ia berkata, “Masuk, Cakrawirya.”
Pemuda itu melompat masuk. Wajahnya masih menyisakan ketegangan dari siang tadi.
“Kau tahu itu kulo?”
“Pola ketukan. Tiga kali cepat, lalu jeda, lalu dua kali pelan. Sama seperti semalam.”
Cakrawirya tersenyum kecil. “Kau mengamati hal-hal kecil.”
“Semua hal adalah data.”
Cakrawirya duduk di kursi kayu dekat jendela.
“Jatmiko... dia tidak seperti kelihatannya.”
Sawitri mengangkat wajah dari lontar. “Maksudmu?”
“Dia pangeran dari selir rendah. Tapi ambisinya tinggi. Kedatangannya ke sini tidak mungkin hanya untuk berburu.”
“Kau curiga dia ada hubungan dengan Sukmawati?”
Cakrawirya menggeleng. “Belum tahu. Tapi kulo tidak suka caranya menatapmu.”
Sawitri menaikkan sebelah alis. “Iri?”
Cakrawirya tersentak. “Apa? Tidak!”
“Respons defensif disertai peningkatan vaskularisasi wajah. Secara fisiologis, itu tanda malu atau... kejengkelan karena ditebak.”
Cakrawirya menatapnya dengan campuran kesal dan kagum.
“Kau benar-benar monster analisis.”
“Terima kasih. Itu pujian tertinggi.”
Cakrawirya tertawa pelan. Ketegangan di wajahnya mencair.
“Hati-hati dengan Jatmiko, Sawitri. Dia tidak sehangat kelihatannya.”
Sawitri kembali ke bacaannya.
“Semua orang punya lapisan. Tugas kulo adalah membedahnya satu per satu.”
Cakrawirya bangkit. Melangkah ke jendela.
“Kalau kau butuh bantuan...”
“Kulo tahu di mana mencarimu.”
Cakrawirya tersenyum. Lalu melompat keluar, menghilang di kegelapan.
Keesokan paginya.
Sawitri baru saja selesai sarapan ketika Ndari masuk dengan wajah tegang.
“Ndara... Raden Mas Jatmiko datang. Beliau minta ketemu.”
Sawitri menghela napas. “Di mana?”
“Di pendopo. Beliau bawa... bawa hadiah, Ndara.”
Sawitri melangkah ke pendopo.
Jatmiko berdiri di tengah ruangan. Di belakangnya, dua orang abdi dalem membawa peti kayu ukir yang tampak berat.
“Selamat pagi, Ndara Tabib.” Jatmiko menyambut dengan senyum cerah.
Ia menunjuk peti itu.
“Hadiah kecil untukmu. Sebagai tanda terima kasih karena sudah memeriksa bahuku kemarin.”
Salah satu abdi dalem membuka peti.
Isinya: setumpuk kain sutra berkualitas tinggi. Warna-warna cerah. Motif-motif langka.
Sawitri menatapnya datar.
“Kulo tidak bisa menerima ini, Raden.”
“Kenapa? Ini hanya kain. Bukan emas atau permata.”
“Kain ini terlalu mahal untuk seorang tabib pesanggrahan.”
Jatmiko mendekat. Tatapannya intens.
“Kau bukan ‘seorang tabib’ biasa, Sawitri. Dan kulo tidak memberi ini karena kau tabib.”
Sawitri menatapnya tanpa ekspresi.
“Lalu karena apa?”
Jatmiko tersenyum.
“Karena kau membuat kulo penasaran. Dan pria yang penasaran akan melakukan apa pun untuk mendapatkan jawaban.”
Dari balik pilar pendopo, Cakrawirya muncul.
Langkahnya mantap. Wajahnya datar. Tapi matanya gelap.
“Jatmiko, kau sudah mulai mengganggu sebelum sarapan?”
Jatmiko menoleh. Senyumnya masih mengembang.
“Kakang Cakrawirya. Tepat waktu seperti biasa. Atau... jangan-jangan kau memantaunya?”
Cakrawirya tidak menjawab. Ia berjalan langsung ke arah Sawitri.
“Ki Lurah Wirapati minta bertemu. Ada perkembangan baru dari prajurit yang kita tahan.”
Sawitri mengangguk. Ia menoleh pada Jatmiko.
“Matur nuwun atas tawarannya, Raden. Tapi kulo harus pergi.”
Ia melangkah pergi bersama Cakrawirya.
Meninggalkan Jatmiko yang masih berdiri di tengah pendopo.
Pemuda itu tersenyum.
“Menarik. Kakangku yang dingin itu... ternyata punya titik lemah.”
Ia menatap kepergian Sawitri.
“Dan titik lemah itu adalah kau, Ndara Tabib.”
Di pelataran Kadipaten, Sawitri dan Cakrawirya berjalan cepat.
“Ada perkembangan apa?” tanya Sawitri.
“Tidak ada.”
Sawitri menghentikan langkah. Menatap Cakrawirya.
“Kau berbohong.”
Cakrawirya berhenti. Menoleh.
“Denyut nadimu meningkat. Pola napas berubah. Semua tanda orang yang baru saja menciptakan alibi.” Sawitri menatapnya tajam. “Kenapa?”
Cakrawirya diam sejenak. Lalu berkata pelan.
“Karena kulo tidak suka caranya menatapmu.”
Sawitri menatapnya lama.
“Itu alasan yang tidak rasional.”
“Kulo tahu.”
“Tapi kau tetap melakukannya.”
“Nggih.”
Sawitri tidak berkata apa-apa. Tapi sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Hampir tak terlihat.
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
“Lain kali buat alasan yang lebih masuk akal.”
Cakrawirya tersenyum. Mengikutinya.
“Kulo usahakan.”