Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Lift apartemen itu berdenting pelan ketika pintunya menutup. Wajah Selina masih tegang. Di luar, Brian tetap berdiri dengan senyum santai seolah tidak ada yang salah.
“Ngapain kamu nungguin aku?” tanya Selina pelan tapi tajam.
Brian mengangkat bahu. “Kangen. Salah?”
“Aku sudah bilang, jangan datang tanpa kabar.”
Brian terkekeh. “Kamu berubah sejak balik ke sini. Dulu nggak sejutek ini.”
“Aku sibuk,” jawab Selina singkat. “Dan aku punya kehidupan.”
Brian mendekat satu langkah. “Kehidupan… atau laki-laki baru?”
Selina terdiam sepersekian detik.
“Kamu nggak perlu tahu,” ucapnya akhirnya.
Brian tersenyum miring. “Berarti benar ada orang lain.”
“Brian, pulang.”
“Ngobrol sebentar saja. Di dalam.”
Tatapannya melembut, suaranya turun jadi lebih rendah. “Aku cuma ingin dengar kabar kamu. Sumpah.”
Selina menahan napas. Ia tahu Brian pandai merayu. Dulu, ia jatuh karena itu.
“Aku sedang malas sama kamu,” katanya pelan. "Pergilah, aku lelah."
“Aku bisa pijatin.” Brian mendekat lagi. “Lima belas menit. Habis itu aku pergi.”
Keheningan menggantung. Hatinya sedang lelah, karena Bu Diana, karena ucapan Tama tentang berusaha lebih, karena tatapan dingin calon ibu mertuanya.
“Aku nggak janji apa-apa,” gumamnya akhirnya.
Senyum Brian melebar.
Pintu apartemen terbuka. Begitu tertutup kembali, jarak di antara mereka menghilang. Awalnya hanya percakapan singkat, tawa kecil yang dipaksakan. Namun Brian menyentuh tangannya, lalu bahunya.
“Selin… kamu masih sama.”
“Jangan,” bisiknya lemah.
Tapi ia tak benar-benar menjauh.
“Aku nggak ingin jauh darimu,” Brian berbisik di telinganya.
Hati Selina berdebat. Ia tahu ini salah. Tapi ada sisi dirinya yang ingin merasa diinginkan tanpa perlu membuktikan apa pun, tanpa harus bersabar demi restu.
Malam itu, batas yang ia jaga runtuh perlahan.
***
Sementara itu, pagi berikutnya di rumah Tama, sesi terapi kedua berlangsung lebih intens.
Dokter Eros berdiri di sisi kanan kursi roda Bu Diana. “Kita coba berdiri dengan bantuan, ya, Bu. Jangan takut.”
Dita sudah siap di sisi kiri, tangannya menopang lengan Bu Diana dengan hati-hati. “Tarik napas dulu, Bu.”
Tama berdiri tak jauh dari pintu, dadanya terasa sesak melihat ibunya berjuang.
“Satu… dua… angkat,” instruksi dokter.
Bu Diana meringis, lututnya gemetar. Dita cepat menopang pinggangnya.
“Bagus, Bu! Tahan sebentar!” seru Dita penuh semangat.
Lima detik terasa seperti selamanya.
Tubuh Bu Diana akhirnya kembali duduk, napasnya terengah.
“Saya… berdiri?” tanyanya tak percaya.
Dokter Eros tersenyum lebar. “Itu langkah besar.”
Mata Tama memanas. “Mama hebat.”
Bu Diana menoleh pada Dita. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah menyerah.”
Dita tersenyum lembut. “Ibu Diana yang berjuang. Saya cuma membantu.”
Setelah sesi selesai, Tama mengantar Dokter Eros ke ruang kerja.
“Kemajuannya cepat,” ujar dokter itu sambil membuka catatan. “Motivasinya tinggi.”
“Benarkah?” tanya Tama."Apa bisa sembuh? Bisa jalan lagi, Dok?"
“Bisa. Yang terpenting dia punya dukungan emosional, terlebih dari keluarga.”
Tama terdiam sejenak. “Menurut Dokter… Mama benar-benar bisa jalan lagi?”
“Ada kemungkinan besar. Tapi jangan hanya fokus pada hasil. Prosesnya yang menentukan.”
Tama mengangguk pelan. "Baik, Dok. Terima kasih."
****
Siang itu, Bu Diana menabur pakan untuk ikan koi-nya.
"Lihat Dit! Ikannya sudah tumbuh besar."
Andita mendekat. "Iya, Bu. Karena dia setiap hari dikasih makan dan dirawat."
Bu Diana tersenyum, "Kamu benar."
hening sejenak.
"Menurutmu, apa aku benar-benar bisa jalan lagi, Dit?"
"Bisa Bu. Asalkan ibu yakin. Punya kemauan untuk bisa jalan, terapi dan latihan menggerakkan otot-otot."
Bu Diana tersenyum lagi, menganggukan kepalanya.
“Duduk sini, Dit,” ucapnya pelan.
Dita menurut.
“Kamu tahu… Aku tidak suka pacarnya Tama.”
Dita terdiam, memilih berhati-hati. “Nona Selina terlihat perhatian, Bu.”
"Enggak usah pake Nona lah, Selina aja. Dia itu... Cuma orang luar."
Dita diam mengangguk.
“Perhatian dia itu kerasa dibuat-buat.” Suara Bu Diana lembut tapi tegas. “Aku ini seorang ibu. Jadi bisa rasakan.”
Dita menunduk. “Kalau Ibu keberatan atau punya keluhan, mungkin bisa bicara langsung dengan Tuan Tama.”
“Apa dia mau dengarkan ibu?”
"Selama ini, apa tuan Tama membangkang?" tanya Dita menoleh. Bu Diana ikut menoleh padanya, lalu tersenyum seolah membenarkan. “Justru kalau dipendam, bisa jadi salah paham, Bu.”
Bu Diana menghela napas panjang. “Kamu bijak sekali untuk seusiamu.”
Dita tersenyum kecil. “Saya hanya tidak ingin Ibu dan Tuan Tama berjauhan karena kesalahpahaman.”
***
Malam bergulir, Tama memanggil Dita ke ruang kerja.
“Duduk, Dit.”
Dita duduk dengan sikap profesional. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Kondisi Mama hari ini bagaimana?”
“Bagus. Ototnya lebih responsif.”
Tama mengangguk, lalu terdiam cukup lama sebelum melanjutkan.
“Mama… pernah cerita sesuatu ke kamu?”
Dita terkejut tipis. “Maksud Tuan?”
“Tentang Selina.”
Hening.
“Pernah,” jawab Dita hati-hati.
"Apa katanya?"
"Bu Diana kurang sreg, saya... menyarankan agar membicarakan dengan Tuan."
Tama menyandarkan tubuhnya. “Aku mencintai Selina. Tapi Mama seperti menolak mentah-mentah.”
“Mungkin beliau butuh diyakinkan,” ucap Dita pelan.
"Begitu ya?" Tama mengusap wajahnya, lalu matanya mengarah ke wajah Dita. “Aku ingin kamu membantu. Mama dekat denganmu. Kalau kamu bisa meyakinkan beliau…”
Dita mengangkat wajahnya, menatap Tama. “Saya bisa mencoba membantu Ibu lebih terbuka. Tapi keputusan tetap di tangan beliau.”
“Aku tahu.” Suara Tama melembut. “Aku cuma nggak mau kehilangan salah satunya.”
Dita menunduk. “Saya akan lakukan yang terbaik.”
"Terima kasih, Dit."
***
Keesokan harinya, Selina datang lagi. Kali ini membawa kotak kue mahal.
“Untuk Tante,” ucapnya ceria.
Bu Diana menerima tanpa senyum. “Terima kasih.”
Selina duduk, mencoba ramah. “Tante harus banyak makan manis biar semangat.”
“Saya tidak suka terlalu manis.”
Suasana kembali kaku.
"Umm... Kuenya biar dipotong dulu." Tama mengambil kue dari tangan mamanya. Lalu berseru ke arah dapur. "Sari! Tolong potong kuenya."
Di dapur, Sari muncul dan pergi lagi begitu kotak kue berpindah ke tangannya. Sementara Dita mendorong kursi roda Bu Diana ke ruangan lain. Selina merasa seperti tak dianggap. Dia menahan kesalnya sendiri. Hal yang justru membuat Tama terjepit.
“Sampai kapan aku harus begini, Tam?” desis Selina pelan. “Dia tidak pernah suka aku.”
“Berusahalah lebih keras, Sel. Mama pasti luluh, huumm?”
Selina menatap ke arah selasar, tempat Dita membantu Bu Diana minum obat.
“Perawat itu,” gumamnya.
“Kenapa lagi?”
“Aku enggak suka sama perawat itu. Dia sepertinya suka sama kamu, Tam. Gimana kalau dia ada dibalik semua ini?”
“Itu tidak benar.”
“Tam.” Selina menatap tajam. “Dia selalu di sisi Tante. Bicara pelan-pelan. Kamu nggak tahu apa yang dia tanamkan di kepala Tante.”
Tama menggeleng tegas. “Dita profesional, Sel.”
“Ganti saja dia,” kata Selina tiba-tiba. “Aku bisa carikan yang lebih berpengalaman.”
“Tidak,” jawab Tama tanpa ragu. “Mama cocok dengan Dita. Cari caregiver seperti dia tidak mudah.”
Selina terdiam, dadanya naik turun.
“Kalau kamu mencintaiku,” bisiknya pelan, “kenapa kamu tidak mau berkorban sedikit?”
“Aku tidak bisa mengorbankan kesehatan Mama, Sel. Mengertilah,” jawab Tama tegas.
Jawaban itu seperti tamparan halus.
Selina tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Baiklah.”
Namun di dalam hatinya, pikiran lain mulai tumbuh.
Kalau Tama tak mau mengganti Dita… maka mungkin Dita yang harus pergi.