NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Di dalam kamar, Laras duduk menatap ponselnya. Meskipun baru berpacaran dengan Arif, hatinya merasa takut jika hubungan mereka hanya sebatas ucapan. Laras menghela napas, lalu bergumam pelan, "Belum satu hari, kenapa ya, takut banget?" bisiknya.

Dari balik pintu, terdengar suara ketukan dan panggilan.

Tok, Tok, Tok.

"Laras," panggil Sasa dari luar pintu kamarnya yang rapat tertutup.

"Iya ma, enggak dikunci kok," jawab Laras dengan keras.

Pintu kamar itu pun terbuka, terlihat Sasa yang berdiri menatap Laras. Sasa melangkah masuk sambil memanggilnya, "Laras."

"Ada apa, Ma?" jawab Laras, mengalihkan tatapannya ke Sasa yang kini mendekat lalu duduk di pinggir ranjang.

"Kalau Mama mau nikah lagi, kamu mau nerima papa?" ucap Sasa dengan wajah tersenyum.

"Apaan sih, Ma? Aku saja enggak pernah bertemu Papa." Laras terhenti, menghela napas kasar, lalu kembali berbicara, "Memangnya ada yang mau sama Mama?" tanya Laras.

Sasa bingung harus bicara apa, dia merasa bingung dengan pertanyaan Laras. Bahkan Laras pernah merasa heran dengan usia Sasa dan dirinya yang hanya terpaut 14 tahun. Laras sempat bertanya-tanya pada mamanya, mengira Sasa menikah terlalu muda. Tetapi semua pikiran itu sempat hilang dan dia enggak ingin mencari tahu lebih jauh. Saat ini, semua pikiran masa lalunya kembali. Laras menatap begitu lekat pada Sasa yang duduk di pinggir ranjang itu.

"enggak ada sih, lagian Mama sibuk dengan pekerjaannya. Mama ingin sekali kamu cepat lulus sekolah," ucap Sasa sambil tersenyum.

"Ish, aneh banget. Mama sendiri saja enggak pernah melirik cowok, masa iya mau langsung menikah?" Laras sedikit heran dan terdiam, lalu bertanya, "Kalau aku lulus sekolah, emang mau apa?"

"Kalau kamu lulus sekolah, kamu bisa membantu Mama."

"Bukan enggak mau, aku belum cukup berpengalaman dengan bisnis Mama itu. Tapi, kalau aku sudah kuliah, aku akan belajar sedikit demi sedikit untuk memahaminya." Laras tersenyum menatap mamanya.

"Ya sudah, kamu harus rajin belajar. Jangan bolos, jangan memikirkan pacar, tapi pikirkan masa depanmu dulu," ucapnya lalu berdiri. Sesaat menatap Laras, lalu melangkah keluar dari kamar itu.

Laras menatap kepergian Mamanya. Saat Sasa hendak menutup pintu kamar Laras, Sasa kembali membukanya sambil berkata, "Nanti malam temani Mama, ya, Laras. Biar kamu paham berbisnis"

"Tapi, Ma, malam ini aku ada janji." Laras menatap Sasa yang awalnya tersenyum lalu berubah menjadi cemberut.

"Jadi sekarang begitu? Lebih mementingkan orang lain dibanding Mama?"

"Bukan, bukan begitu, Ma."

Laras menatap Sasa yang langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.

Bug.

"Mama! Ish, Mama marah," Laras menatap pintu yang tertutup itu. dia menghela napas lalu menyalakan ponselnya.

***

Di sisi lain, Arif sedang duduk di kursi meja makan bersama Felix. Arif lalu bertanya, "Bagaimana ceritanya, Abdul dan Ryuken?"

"gue liat semua kejadian itu, tapi gue enggak bisa menolong mereka. Lagipula Starboy bukan dua orang, melainkan delapan orang yang ada di lokasi saat itu, Seandainya gue menolong Abdul dan Ryuken, mungkin gue akan senasib dengan mereka," ucap Felix dengan helaan napas kasarnya,

"Gue janji akan membalas mereka seperti apa yang telah mereka lakukan pada Abdul dan Ryuken," ucap Arif dengan begitu kesal.

"Sabar, Rif, masih ada gue,"

"tangan gue gatal banget, ingin membalas apa yang mereka lakukan pada sahabatku."

"Tenangkan dulu, Bre, masih banyak waktu. Kita tidak bisa melawan begitu saja. lo tahu sendiri, kan, Starboy itu bukan hanya satu orang saja."

"Iya sih, bukan satu orang, Tahu gak Fel, siapa saja yang turun di lokasi?"

"Aku enggak sempat memerhatikan, tapi yang gue lihat paling depan itu ,Kaizen sama Rey."

"Hah? Kaizen?" ucapnya terhenti. Tatapannya beralih ke sekitar, lalu menghela napas. "Gue janji, Dia akan merasakan apa yang sama." ucapnya pelan.

Felix menatap lekat pada Arif. dia menghela napas, sedangkan dalam pikiran dan hatinya, dia mencari solusi.

Waktu terus berlalu.

Sekitar pukul tujuh malam, Laras sedang duduk di kamarnya. dia selesai mandi dan mengenakan kaus sederhana, lalu duduk sambil memainkan ponselnya. Dari ponsel itu, Laras menunggu kabar dari Arif. Melalui obrolan, Arif mengirim pesan:

~Arif: Kamu sudah siap, Sayang?

~Laras: Aku sudah selesai mandi, ini mau ganti pakaian. dari tadi aku nunggu kabar dari kamu,

~Arif: Boleh enggak, Sayang, aku lihat kamu ganti pakaian?

~Laras: Ish, enggak boleh! Kok kamu begitu sih? Yang ada aku malu, tahu!

~Arif: Bercanda, Sayang. udah, aku juga mau mandi dulu.

~Laras: Iya, Sayang. Nanti kalau sudah jalan, jemput aku, chat ya.

Laras lalu mematikan ponselnya. Tatapannya begitu lekat pada ponselnya, dengan pikiran yang sedang mengarah pada pertanyaan Arif.

"Apa pikiran Arif seperti itu, ya?" gumamnya, dengan helaan napas kasar, lalu menaruh ponselnya di atas ranjang.

Laras lalu berdiri dan berganti pakaian dengan busana yang sangat rapi. Tak hanya itu, dia juga mengenakan makeup agar wajahnya terlihat cerah.

Sedangkan Sasa, yang sudah tampil rapi dan cantik, sedang melangkah keluar dari kamar. Selesai menutup pintu kamarnya, dia langsung menuju ke depan pintu kamar Laras. Di depan pintu kamar Laras, Sasa menarik napas, lalu mengetuk pintu.

Tok, Tok, Tok.

Dari dalam kamar terdengar suara Laras berbicara, "Sebentar!" ucapnya keras.

sasa pun berdiri. Tangannya mengambil ponsel dari tas yang dibawanya. Ponselnya pun dinyalakan dan terlihat notifikasi dari Wita.

~Wita: Mbak, jadi kan? malam ini kita ketemu,

~Laras: Jadi, ini mau berangkat.

~Wita: Saya tunggu, Mbak.

Saat akan membalas pesan dari Wita, pintu kamar Laras terbuka dan terlihat Laras yang sudah tampil cantik dan rapi. Sasa menatap Laras dari atas sampai bawah. Sedangkan Laras yang berdiri, bertanya, "Ada apa, Ma?"

"Mama mau mengajak kamu jalan," ucapnya sambil tersenyum. Sasa merasa Laras tampil cantik untuk ikut dengannya, namun Laras berkata lain.

"kan udah di bilang, aku ga bisa, Ma, aku sudah janji dengan..." ucap Laras terhenti. Sasa langsung memotong,

"Dengan pacar, ehm?"

"Iya, Ma."

"Ya sudah, jangan malam-malam." Sasa melangkah pergi, tiba-tiba terhenti sambil membalikkan badannya dan kembali berbicara, "Besok Mama ingin bertemu dengan pacarmu," ucapnya dengan tatapan tajam, lalu kembali melangkah pergi.

Laras menatap kepergian Mamanya. Dalam hatinya, dia berkata, "Mama ingin bertemu dengan Arif," gumam Laras dalam hati.

Laras masih berdiri di pintu kamarnya, lalu dia melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil menutup kembali pintu kamarnya. Di dalam kamar, Laras langsung duduk dan mengambil ponselnya di atas ranjang.

"Tenang, Laras, tenang. Ah, tapi bagaimana aku bicara dengan Arif? Apa dia mau bertemu dengan Mama? Bagaimana ini? Nanti Mama malah bertanya-tanya, lagipula aku dan Arif baru beberapa hari berpacaran," gumamnya dalam hati. dia merasa bingung.

dia menghela napas, lalu membuka layar ponselnya. dia langsung membuka aplikasi pesan dan hendak mengirim pesan kepada Arif, namun Arif lebih dulu mengirim pesan.

~Arif: Aku berangkat, ya, Sayang, menjemput kamu.

~Laras: Iya, Sayang, aku tunggu.

Laras terdiam menatap pesan yang dikirimkan Arif. Bahkan, pesan Arif lebih dulu dari pesannya. Saat ini, pesan Laras hanya terceklis dua, belum dibaca sama sekali.

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!