NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

BAB 4

BAHASA MATEMATIKA YANG UNIVERSAL

​Ruang konferensi utama Aratama Group biasanya menjadi saksi bisu bagi eksekusi ide-ide yang tanpa ampun. Pagi ini, ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya. Di meja oval panjang yang terbuat dari kaca tempered, duduk jajaran direksi dan konsultan teknis senior. Mereka semua mengenakan setelan jas bernilai puluhan juta rupiah, wajah-wajah mereka memancarkan aroma otoritas dan skeptisisme yang kental.

​Di ujung meja, Adrian duduk dengan tangan tertopang di bawah dagu, matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Aisha. Hari ini bukan lagi sekadar bincang-bincang privat; hari ini adalah presentasi teknis mendalam di hadapan para pemangku kepentingan.

​Aisha berdiri di depan layar LED raksasa. Ia mengenakan setelan tunik panjang berwarna biru gelap yang profesional, namun tetap longgar. Cadarnya tetap pada tempatnya, kokoh dan misterius.

​"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," suara Aisha terdengar melalui mikrofon clip-on, jernih dan tanpa ragu. "Kita akan membahas fase integrasi struktur pada proyek Green Oasis. Fokus saya hari ini adalah pada Thermal Chimney dan distribusi beban asimetris pada menara utama."

​Seorang direktur operasional bernama Hendra, pria berusia lima puluhan dengan raut wajah meremehkan, berdeham keras. "Maaf, Nona Aisha, sebelum Anda melangkah lebih jauh... saya ingin bertanya. Bagaimana kami bisa yakin Anda bisa mengawasi pemasangan modul photovoltaic di ketinggian 150 meter dengan... pakaian seperti itu? Apakah Anda tidak merasa bahwa penampilan Anda justru merupakan risiko keselamatan kerja bagi Anda sendiri dan orang lain?"

​Beberapa orang di ruangan itu mengangguk setuju. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Adrian hanya diam, ia ingin melihat bagaimana Aisha menangani serangan langsung ini.

​Aisha tidak tampak terganggu. Ia menggeser layar tabletnya, menampilkan simulasi keamanan kerja 3D. "Terima kasih atas pertanyaannya, Pak Hendra. Sesuai dengan standar HSE (Health, Safety, and Environment), saya sudah menyiapkan modifikasi APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai dengan pakaian saya tanpa mengurangi fungsi keselamatannya. Namun, perlu saya luruskan, tugas saya di sini adalah sebagai arsitek utama dan pengawas desain. Kecerdasan struktural tidak ditentukan oleh apa yang saya pakai, melainkan oleh apa yang saya hitung."

​Aisha menekan satu tombol, dan layar menampilkan rumus-rumus kalkulus yang rumit dan diagram pembebanan.

​"Mari kita bicara tentang angka, karena angka tidak memiliki prasangka," lanjut Aisha dengan nada yang sedikit lebih tegas. "Pada ketinggian 150 meter, kecepatan angin rata-rata adalah 25 meter per detik. Desain menara utama memiliki koefisien seret (Cd) sebesar 1,2. Jika kita menggunakan metode konvensional, kita butuh tambahan kolom beton sebesar 15 persen. Namun, saya menggunakan prinsip aerodynamic shaping yang terinspirasi dari struktur tulang burung. Ini mengurangi beban lateral sebesar 22 persen."

​Ia mulai menjelaskan variabel-variabel matematis dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa. Jemarinya menunjuk pada titik-titik koordinat di layar. Ia berbicara tentang integrasi algoritma Grasshopper dalam desainnya, menjelaskan bagaimana setiap lengkungan pada gedung tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan cara untuk memecah turbulensi angin.

​Adrian memperhatikan wajah para direksinya. Perlahan tapi pasti, raut meremehkan itu memudar, digantikan oleh kernyit dahi tanda mereka sedang berusaha keras mengikuti kecepatan berpikir Aisha.

​"Nona Aisha," potong Adrian tiba-tiba, suaranya memotong penjelasan teknis itu. "Bagaimana dengan sistem pendinginan pasifnya? Anda mengklaim gedung ini bisa bernapas tanpa bantuan AC sentral di area lobi."

​Aisha menatap Adrian. "Betul, Pak Adrian. Kita menggunakan efek venturi. Udara panas akan ditarik ke atas melalui celah atrium tengah yang berfungsi sebagai cerobong termal. Berdasarkan perhitungan dinamika fluida saya, suhu di lobi akan tetap berada di angka 24 hingga 26 derajat Celsius, meskipun suhu di luar mencapai 33 derajat. Ini bukan sekadar teori. Ini adalah hasil simulasi dari 500 skenario cuaca yang berbeda."

​"Itu mustahil tanpa penggunaan daya listrik tambahan untuk exhaust fan," bantah Hendra lagi, mencoba mencari celah.

​Aisha tersenyum di balik cadarnya—sesuatu yang hanya bisa disadari Adrian dari binar matanya yang sedikit melengkung. "Itu tidak mustahil jika kita menggunakan tekanan diferensial, Pak. Jika Anda melihat pada bagian fondasi, saya menaruh kanal-kanal udara bawah tanah yang mendinginkan udara menggunakan suhu tanah konstan. Udara dingin itu kemudian didorong ke atas oleh tekanan alami. Itu adalah teknologi kuno dari arsitektur Persia yang saya modernisasi dengan material isolasi termal terbaru."

​Ruangan itu mendadak sunyi. Aisha baru saja menggabungkan sejarah, agama (melalui pendekatan arsitektur Islam tradisional), dan teknologi masa depan dalam satu argumen yang tak terbantahkan.

​Adrian merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—rasa kagum yang ia benci. Ia benci karena ia ingin membuktikan bahwa wanita ini hanyalah seorang fanatik yang tidak praktis. Namun, di depannya, Aisha justru menunjukkan bahwa keyakinannya memberikan kedalaman pada logikanya, bukan menghambatnya.

​"Anda menyebutkan tentang 'keseimbangan' dalam desain Anda," kata Adrian, suaranya kini terdengar lebih tenang, hampir seperti sedang berdiskusi pribadi. "Apakah itu istilah arsitektur, atau Anda sedang mencoba memasukkan unsur spiritual ke dalam proyek saya?"

​Aisha menjawab dengan tenang, "Dalam Islam, kami mengenal konsep Mizan, atau keseimbangan. Alam semesta ini bekerja dalam keseimbangan yang presisi. Sebuah gedung yang baik adalah gedung yang tidak merusak keseimbangan itu. Jika kita mengambil lahan dari bumi, kita harus mengembalikannya dalam bentuk ruang terbuka hijau dan efisiensi sumber daya. Bagi saya, Pak Adrian, desain yang tidak seimbang adalah desain yang gagal secara estetika maupun fungsi."

​Seorang arsitek pendamping yang tadinya hanya diam, mulai mengajukan pertanyaan mendetail tentang spesifikasi kaca low-e yang digunakan. Perdebatan teknis pun berlanjut selama satu jam berikutnya. Namun, suasananya sudah berubah. Tidak ada lagi yang mempertanyakan cadar Aisha. Mereka sekarang sibuk mempertanyakan apakah otak mereka mampu menyamai standar yang ditetapkan oleh wanita bercadar ini.

​Di akhir presentasi, Aisha menutup tabletnya dengan gerakan yang tenang. "Kesimpulannya, Green Oasis bukan hanya tentang membangun sebuah struktur, tapi tentang menciptakan sebuah ekosistem. Saya siap untuk mulai turun ke lokasi proyek minggu depan untuk verifikasi lapangan tahap pertama."

​Satu per satu direksi mulai meninggalkan ruangan setelah memberikan anggukan hormat—sesuatu yang sangat jarang terjadi bagi seorang konsultan baru. Tersisa Adrian dan Aisha di ruangan besar itu.

​Adrian berdiri, merapikan jasnya yang tanpa cela. Ia berjalan mendekati Aisha yang sedang merapikan kabel proyektor.

​"Anda cukup mengesankan hari ini," ucap Adrian, nadanya datar namun ada pengakuan di sana.

​Aisha tidak menatapnya langsung. "Terima kasih, Pak Adrian. Saya hanya melakukan tugas saya."

​"Tapi jangan berpikir ini sudah selesai," Adrian melangkah lebih dekat, aroma parfum maskulinnya yang mahal mulai tercium oleh Aisha. "Ruang rapat adalah satu hal. Tapi di lokasi proyek, Anda akan menghadapi debu, panas, dan ego para mandor yang tidak akan peduli dengan konsep Mizan Anda. Kita lihat apakah cadar dan prinsip Anda itu bisa bertahan di sana."

​Aisha mendongak, matanya bertemu dengan mata Adrian. "Debu dan panas hanyalah masalah fisik, Pak. Selama prinsip saya ada di dalam hati, mereka tidak akan terpengaruh oleh cuaca di luar. Sampai bertemu di lokasi proyek."

​Aisha mengangguk sopan, lalu berjalan keluar dengan langkah yang mantap.

​Adrian tetap berdiri di sana, menatap bayangan Aisha yang menghilang di balik pintu kaca. Ia merasakan sebuah ketertarikan intelektual yang sangat kuat, sebuah rasa penasaran yang mulai merusak keteraturan pikirannya. Ia selalu menganggap bahwa orang-orang beragama adalah orang-orang yang menyerah pada logika. Namun Aisha Humaira adalah antitesis dari semua itu.

​Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Sarah. "Sarah, pastikan tim lapangan menyiapkan semua protokol keamanan untuk minggu depan. Dan... siapkan satu ruangan kantor khusus untuk Nona Aisha di dekat ruanganku. Aku ingin memantau perkembangan proyek ini secara langsung."

​Adrian mematikan ponselnya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah lahan kosong yang akan menjadi lokasi Green Oasis. Ia tahu, tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Ia bukan hanya sedang membangun sebuah gedung; ia sedang berhadapan dengan sebuah teka-teki manusia yang mulai mengguncang fondasi ateisme yang selama ini ia banggakan.

​"Mizan..." gumam Adrian pelan. "Mari kita lihat seberapa jauh keseimbanganmu bisa bertahan menghadapi duniaku, Aisha."

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!