"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Panggung Sandiwara sang Ratu
Hotel Grand Mahendra hari ini berubah menjadi lautan manusia. Ratusan wartawan dari media nasional hingga internasional berkumpul, kamera-kamera dengan lensa panjang sudah terpasang rapi, membidik panggung megah yang dihiasi bunga lily putih—bunga favorit Clarissa di masa lalu.
Di dalam ruang ganti VIP, Clarissa menatap bayangannya di cermin besar. Ia mengenakan gaun off-shoulder berwarna perak yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Riasan wajahnya tajam, dengan lipstik merah menyala yang memberikan kesan dominan. Tidak ada lagi jejak "Lestari" si pelayan yang lusuh; yang ada hanyalah aura kemewahan yang mengintimidasi.
Klik.
Pintu terbuka. Devan masuk dengan setelan tuxedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran kegelapan. Ia berhenti di belakang Clarissa, matanya menatap pantulan gadis itu di cermin.
"Kau tampak... berbahaya," bisik Devan sambil meletakkan tangannya di bahu Clarissa.
"Memang itu tujuannya. Bukankah kau ingin aku menjadi tunanganmu yang hebat?" Clarissa memutar tubuhnya, menatap Devan dengan mata menyipit. "Ngomong-ngomong, Devan... apa benar kau membantuku hanya karena kau ingin menebus rasa bersalahmu pada Clarissa yang asli?"
Pertanyaan itu membuat suasana di ruangan mendadak dingin. Devan terdiam sesaat, namun tangannya perlahan turun ke pinggang Clarissa, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Kau mendengar suara dari cakram itu lagi?" tanya Devan, suaranya rendah dan berbahaya. "Dengar, Clarissa. Dunia ini penuh dengan kebohongan. Tapi satu hal yang nyata adalah aku tidak akan membiarkanmu mati untuk kedua kalinya. Sekarang, pasang senyum paling sombongmu. Kita punya pertunjukan yang harus dimulai."
Lampu blitz kamera langsung menggila saat Devan dan Clarissa melangkah keluar menuju podium. Suara jepretan kamera terdengar seperti rentetan tembakan. Clarissa berjalan dengan dagu terangkat, menggandeng lengan Devan dengan anggun.
"Selamat siang semuanya," Devan membuka suara dengan nada baritonnya yang mantap. "Terima kasih telah hadir. Hari ini, saya ingin mengumumkan secara resmi bahwa Nona Lestari bukan hanya sekadar asisten pribadi saya, melainkan tunangan saya. Kami akan segera meresmikan hubungan ini dalam waktu dekat."
Suasana aula langsung riuh. Pertanyaan-pertanyaan mulai dilemparkan seperti peluru.
"Tuan Devan, apakah benar Nona Lestari ini adalah putri dari keluarga Wijaya yang hilang?"
"Nona Lestari, bagaimana perasaan Anda berpindah dari seorang pelayan menjadi calon nyonya Mahendra?"
Clarissa menarik napas panjang. Ia mengambil mikrofon dengan gerakan tenang. "Banyak spekulasi tentang siapa saya. Tapi yang perlu kalian tahu adalah, saya di sini untuk memastikan bahwa warisan keluarga Wijaya tetap berada di tangan yang tepat. Dan bersama Devan, saya akan memastikan siapa pun yang mencoba mencuri apa yang menjadi milik saya... akan berakhir dengan penyesalan."
Jawaban itu begitu tajam dan berkelas, membuat para wartawan tertegun. Ini bukan jawaban seorang pelayan beruntung; ini adalah jawaban seorang penguasa.
Tiba-tiba, pintu besar aula terbuka dengan dentuman keras. Seluruh pasang mata menoleh ke arah pintu.
Julian melangkah masuk dengan gaya angkuh, diikuti oleh dua orang yang membawa sebuah kotak besar yang dibungkus kain hitam. Ia mengenakan setelan jas biru gelap, tampak sangat kontras dengan kerumunan yang ada.
"Indah sekali sandiwara ini," ucap Julian dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh ruangan. "Pertunangan yang didasari oleh penculikan aset? Sangat khas Mahendra Group."
Devan menyempitkan matanya. Ia memberi kode pada tim keamanannya untuk tetap diam. "Julian. Aku tidak ingat mengirimkan undangan untuk pengacau sepertimu."
"Oh, aku tidak butuh undangan untuk memberikan hadiah pada 'tunanganku'," Julian melirik Clarissa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk meletakkan kotak itu di depan podium.
"Hadiah apa ini?" tanya Clarissa, suaranya tetap tenang meski hatinya mulai waspada.
"Sebuah pengingat tentang siapa kau sebenarnya, Lestari," Julian menarik kain hitam itu dengan satu sentakan.
Di dalam kotak kaca besar itu, terdapat sebuah patung naga yang terbuat dari es murni yang mulai mencair. Namun, di dalam es itu membeku sesuatu yang membuat Clarissa terengah: sebuah gaun pengantin kuno yang berlumuran darah kering, dan di atasnya terletak sebuah kalung zamrud—kalung yang dikenakan ibu Clarissa di foto terakhirnya.
Gemerumuk wartawan semakin keras. Kamera-kamera fokus pada benda mengerikan tersebut.
"Itu adalah mahar yang disiapkan ayahmu sepuluh tahun lalu untuk hari pernikahan kita, Lestari," ucap Julian dengan nada provokatif. "Mahendra mungkin memberimu berlian baru, tapi aku memegang sejarahmu. Darah yang ada di gaun itu... adalah darah ibumu saat dia dipaksa menandatangani perjanjian yang sekarang kau miliki di jarimu."
Clarissa merasa dunianya bergoyang. Bayangan tentang peti kaca di ruang bawah tanah dan wanita yang bangun sebentar tadi kembali menghantuinya.
"Keluar dari sini, Julian. Sekarang!" raung Devan. Ia maju selangkah, aura membunuhnya tidak bisa lagi ditahan.
"Aku akan pergi. Tapi ingat, Lestari... jam digital di pergelangan kakimu itu bukan hanya GPS. Itu adalah bom waktu yang disinkronkan dengan detak jantung ibumu. Jika kau menikah dengan Devan, maka ibumu yang kau lihat di peti itu... akan berhenti bernapas selamanya."
Julian tersenyum miring, lalu berbalik dan pergi secepat ia datang, meninggalkan kekacauan total di aula tersebut. Para wartawan berebut untuk mendekati podium, namun Devan segera memerintahkan pengawalnya untuk mengevakuasi Clarissa.
Di dalam ruang privasi hotel, Clarissa terduduk lemas di sofa. Ia menatap gelang perak di pergelangan kakinya. Jadi ini bukan hanya posesif? Ini adalah ancaman nyawa?
Devan berlutut di depan Clarissa, memegang kedua tangan gadis itu. "Dia berbohong, Clarissa. Jangan dengarkan dia. Tim medis Mahendra sudah memeriksa ibumu, tidak ada sinkronisasi seperti itu."
"Tapi bagaimana kalau dia benar, Devan? Bagaimana kalau ibuku benar-benar menjadi sandera di dalam tubuhnya sendiri?" Clarissa meneteskan air mata. "Kenapa hidupku selalu menjadi alat tawar-menawar?"
Devan menarik Clarissa ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat. "Aku bersumpah, aku akan menghancurkan Julian. Aku akan meratakan Naga Hitam sampai ke akarnya. Kau tidak akan kehilangan siapa pun lagi."
"Tapi Devan..." Clarissa melepaskan pelukannya, menatap mata Devan dengan serius. "Pria bermuka terbakar itu... dia bilang kau ingin menghidupkan kembali Clarissa yang asli. Apa itu benar? Apa semua ini hanya bagian dari eksperimenmu?"
Devan terdiam cukup lama. Tatapannya menjadi sangat gelap. "Jika aku bilang ya... apakah kau akan tetap di sisiku?"
Clarissa tertegun. "Jadi... itu benar?"
"Aku mencintaimu, Clarissa. Sejak kau masih menjadi CEO Wijaya yang sombong. Saat kecelakaan itu terjadi, aku menghabiskan seluruh hartaku untuk mencari cara mengembalikanmu. Tapi yang kutemukan adalah kenyataan bahwa jiwamu sudah berpindah ke tubuh yang memang sudah disiapkan untukmu sejak awal."
"Disiapkan untukku? Maksudmu Lestari memang lahir untuk menjadi wadahku?" Clarissa merasa ngeri.
"Itulah rahasia besar keluarga Wijaya, Clarissa. Kau bukan pindah secara kebetulan. Kau... dikembalikan ke tempat yang sudah disediakan."
Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip merah. Suara peringatan sistem terdengar.
[WARNING: BIOMETRIC ATTACK DETECTED. ALL ASSETS IN LOCKDOWN.]
"Sial! Julian mulai menyerang sistem Mahendra Group!" Devan berdiri, segera mengambil laptopnya.
Clarissa ikut berdiri, menghapus air matanya. Ia tidak punya waktu untuk menangis. "Devan, biarkan aku membantu. Aku tahu cara membalikkan serangan biometrik Wijaya. Kita akan menunjukkan pada Julian bahwa seekor Naga tidak akan pernah menang melawan seorang Ratu yang memegang kendali penuh."
Devan menatap Clarissa dengan rasa bangga. "Itu baru ratuku."
Namun, di luar jendela hotel, di atas atap gedung seberang, Julian berdiri sambil memegang teropong. Ia berbicara ke arah radio panggilnya.
"Aktifkan fase kedua. Biarkan mereka merasa menang untuk sesaat. Saat mereka lengah... kita akan mengambil kembali jantung Naga itu."