Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Jenny mengendarai mobilnya, menjauh dari rumah yang ia tempati bersama dengan Joseph. Dengan bi Yati yang duduk di kursi penumpang.
Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan di dalam mobil. Dua wanita beda generasi itu sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
Jenny menghembuskan nafasnya kasar, netranya yang sembab kini harus fokus pada ruas jalan. Ia berusaha tetap tegar, melawan fakta yang di sembunyikan Joseph selama 2 tahun pernikahan bersamanya.
‘Aku harus fokus dengan rencana ku. Aku gak boleh lemah, gak boleh cengeng. Dengan bantuan om Rendra… aku bisa menceraikan mas Jo! Mengambil alih perusahaan dari mas Jo!’ pikir Jenny, mencengkram erat, setir kemudinya.
Sementara bi Yati, dengan gelisah, dan perasaan bersalah. Fokus menatap wajah Jenny, wanita sekaligus anak majikan yang sudah ia besarkan bak anak sendiri.
‘Kasihan Non Jen, pasti sebelumnya habis bertengkar dengan bapak. Apa ini ada hubungannya dengan bibi yang ikut ke acara bapak dan Non Jen ya? Pada hal Non Jen gak ajak bibi, bibi juga gak masalah. Dari pada bibi sibuk nerka, mending bibi tanya aja deh!’ pikir bi Yati.
“Non, bibi boleh tanya gak?” beo bi Yati dengan ragu, memecah keheningan.
Jenny melirik bi Yati sekilas, “Tanya aja, bi!”
“Sebenarnya apa gak merepotkan kalau bibi ikut acara Non dan bapak? Ini kan acara kalian, Non! Seharusnya bisa jadi satu cara buat saling menghabiskan waktu bersama.
Kali aja Non dan bapak, pulang dari perayaan ulang tahun ke 2 pernikahan bawa kabar baik gitu.” cerocos bi yati tanpa saringan.
Jenny mengerutkan keningnya penuh tanya, “Merepotkan gimana ya, bi? Siapa juga yang bilang kita mau pergi buat ngerayain pernikahan saya dengan bapak, bi?”
Bi Yati membola, “Jadi kita bukan lagi mau ngerayain hari pernikahan Non dan bapak?”
“Iya bukan lah, bi!”
“Terus kita mau kemana, Non?” tanya bi Yati.
Belum sempat Jenny menjawab, bi Yati sudah mencecarnya. Dengan tatapan memohon, kedua tangan menangkup di depan wajah.
“Non gak mungkin mau pulangin bibi ke kampung kan? Ya ampun, Non! Bibi minta maaaaf bangat kalo bibi ngelakuin kesalahan, Non? Tolong jangan pecat bibi, Non! Jangan pulangin bibi ke kampung! Bibi mohon, Non! Bibi …”
Jenny menyela, dengan satu alis terangkat, “Apa sih, bi! Siapa juga yang mau pulangin bibi ke kampung? Justru kita berdua bakal tinggal bersama lagi dengan papa.
Biar gimana juga, saya gak rela kalo bibi kerja sama bapak. Bibi masih mau kan kerja sama Jen? Tapi mungkin papa yang akan gaji bibi.”
Bi Yati menatap bingung Jenny, “Maksud Non, buat beberapa waktu kita bakal tinggal di rumah Tuan besar? Terus gimana sama bapak, Non? Apa bapak bakal nyusul Non bermalam di rumah Tuan besar?”
Tring tring.
“Jen jawab telepon dulu, bi!” beo Jenny, berusaha memasang earphone ke telinga kanannya, sementara satu tangan nya tetap fokus pada kemudi.
^^^[ “Jen, om sudah lakukan apa yang kamu minta. Ke dua bodyguard itu sudah menjalankan tugasnya. Dan satunya lagi mengikuti pergerakan mu, Jen! Sebelumnya, om sudah berikan nomor ponsel mu padanya.” ]^^^
Jenny melirik kaca spion mobil tengahnya, ada pemotor yang tengah mengikuti mobilnya.
^^^“Jenny sudah melihatnya, om!”^^^
^^^[ “Kenapa kamu butuh bodyguard, Jen? Selain ingin bercerai dengan Joseph. Apa kamu juga terlibat dengan orang jahat yang memeras mu?” ]^^^
^^^“Cuma berjaga jaga, om! Bisa aja kan, mas Jo bermain licik. Menyewa preman untuk menghalangi niat Jen untuk menceraikan nya.”^^^
^^^[ “Gimana dengan bukti perselingkuhan Joseph? Apa kamu yakin, gak butuh bantuan om?” ]^^^
^^^“Jenny sudah ada 2 orang untuk membantu Jen, om! 2 orang itu yang akan membantu mengumpulkan bukti. Om fokus aja dengan perusahaan.”^^^
^^^[ “Oke kalo itu rencana kamu, Jen! Apa kamu sudah memberi tahu papa mu, Jen?” ]^^^
^^^“Belum, om! Paling nanti malam Jen akan bicarakan masalah ini sama papa.”^^^
^^^[ “Gimana dengan Alan, pemuda tanggung yang bertemu dengan mu tadi di restoran. Dia bisa kamu andalkan loh, Jen!” ]^^^
^^^Jenny terkekeh, gak percaya, “Surat gugatan cerai Jen aja belum di layangin. Tapi om udah bahas pria lain, mana itu bocah tanggung. Pantasnya dia itu jadi adik laki laki Jen, om! Dasar om gak ada pikiran!”^^^
^^^[ “Ahahahaha, kamu ngomong begitu karena belum kenal aja, Jen! Nanti juga kamu bakal kepincut dengan pesonanya. ]^^^
^^^“Itu kata om, beda dengan ku! Nanti kita sambung lagi ya, om! Jen lagi bawa mobil nih!”^^^
^^^[ “Mau kemana kamu, Jen?” ]^^^
^^^“Ngungsi, rumah papa. Dah ya, bay om! Makasih bantuannya!” cerocos Jenny, sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.^^^
“Non Jen seriusan mau bercerai? Kenapa harus bercerai, Non? Apa gak bisa masalahnya di bicarakan lagi, Non?” cerocos bi Yati, menatap Jenny penuh harap.
“Maaf, bi! Keputusan ada di tangan Jenny, bukan di tangan bibi!” celetuk Jenny dengan nada gak senang, membuat bi Yati bungkam.
Jenny menelan salivanya sulit, saat mobil yang ia kemudikan melewati pagar hitam yang di jaga sekuriti.
‘Semoga aja papa belum pulang!’ pikir Jenny, memasuki kediaman orang tuanya. Tempat di mana ia di besarkan. Tampak bangunan megah bergaya eropa berdiri dengan kokoh dengan halaman yang luas.
Sementara di tempat yang berbeda.
Karin langsung membukakan pintu usai suara mobil berhenti di depan rumah. Ia tahu betul siapa yang datang ke rumahnya. Rumah pemberian Joseph, seminggu setelah keberhasilan nya menikahi Jenny.
“Buat apa kamu meminta ku datang, Karin! Kamu jelas tau, aku ini sedang berusaha mendapatkan kepercayaan Jenny kembali!” protes Joseph.
Tanpa peduli Karin yang tengah menggelayut manja pada lengannya. Membimbingnya masuk ke dalam rumah, berakhir dengan keduanya duduk di ruang tengah.
“Jangan ngambek terus kenapa sih! Justru aku mau kamu fokus dulu sama aku, sayang!” beo Karin dengan manja, membelai tegas Joseph dengan jemarinya.
Joseph menyingkirkan tangan Karin dari wajahnya, memangku tangan mungil Karin yang berada dalam genggaman tangannya.
“Gimana aku bisa fokus dengan kamu! Jenny itu, istri sah ku! Dia baru saja memergoki kita! Kamu lihat sendiri kan tadi seberapa marahnya dia!”
“Biarkan istri mu tenang dulu, sayang! Nanti juga dia baik lagi kok! Bisa menerima ku sebagai calon madunya. Dia mana bisa sih jauh dari kamu! Kamu itu segalanya buat si anak manja satu itu.” ujar Karin penuh percaya diri.
Joseph berseringai, “Kamu benar, Jenny itu kan cinta mati sama aku! Mana mungkin dia bisa hidup tanpa ku! Istri ku itu hanya sedang merajuk! Aku cuma perlu kasih dia waktu, membelikan nya perhiasan sebagai tanpa penyesalan ku. Dia pasti akan luluh.”
Karin mengerucutkan bibirnya kesal, merubah posisi duduknya dengan memunggungi Joseph.
“Aku juga mau perhiasan, mas! Jangan hanya Jenny yang kamu belikan!” ketus Karin.
Joseph menatap gemas Karin, “Iya nanti aku juga akan belikan untuk mu! Jenny istri ku, dan kamu kekasih ku! Pasti lah aku belikan!”
Karin kembali merubah posisi duduknya, ia menatap Joseph dengan tatapan berbinar senang.
“Itu baru adil! Tapi perhiasan ku harus lebih mahal dari milik Jenny!”
Joseph mengerdik kan bahunya, “Tidak masalah!”
“Aku makin cinta deh sama kamu, sayang!” Karin memeluk erat Joseph, tanpa ragu melabuhkan bibirnya. Tanpa kata, keduanya kembali mengecap manisnya madu.
Dugh dugh dugh.
Suara gedoran dari depan rumah, membuat keduanya terlonjak kaget.
Bersambung …