Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Garis Pertahanan
Senin pagi yang harusnya tenang mendadak berubah jadi tegang. Baru saja gue mau minum kopi, suara gebrakan meja dari arah ruang rapat utama bikin gue hampir tersedak. Gue melirik Maya, dan dia cuma bisa mengangkat bahu dengan wajah pucat.
"Ada Pak Wijaya, pemilik saham terbesar," bisik Maya tanpa suara.
Gue menajamkan telinga. Di dalam sana, suara Pak Wijaya terdengar marah, sangat kontras dengan suara Genta yang tetap tenang namun terdengar ditekan.
"Genta! Saya tidak peduli seberapa jenius kamu dalam menyunting. Masalahnya, penulis gold kita, Sandra, mengancam akan pindah penerbit karena masalah transparansi royalti yang kamu urus. Kalau dia pergi, saham kita anjlok. Kamu mau tanggung jawab?!"
Gue meremas pulpen di tangan. Sandra? Penulis yang karyanya penuh drama tapi aslinya sangat manipulatif itu? Gue tahu persis Genta nggak mungkin salah soal angka. Dia itu manusia kalkulator. Kalau ada selisih royalti, itu pasti karena Sandra yang mencoba bermain curang, bukan Genta.
"Saya sudah jelaskan, Pak. Data yang saya berikan sesuai dengan jumlah penjualan fisik dan digital. Saya tidak bisa melebihkan angka hanya untuk menyenangkan penulis," suara Genta terdengar datar, tapi gue tahu dia lagi menahan amarah yang luar biasa.
"Efisiensi dan kejujuran kamu itu malah bikin kita rugi!" bentak Pak Wijaya lagi. "Pilihannya cuma dua, kamu minta maaf secara terbuka dan penuhi tuntutan Sandra, atau saya cari Editor Kepala baru yang lebih bisa 'berkompromi'."
Darah gue mendidih. Rasanya ada api yang menyambar dari ujung kaki sampai ke kepala. Gue nggak bisa cuma duduk diam melihat Genta dijadikan kambing hitam atas keserakahan orang lain. Genta yang kaku itu mungkin diam saja karena prinsipnya, tapi gue? Gue nggak punya prinsip buat diam kalau orang yang gue sayang, eh, maksud gue, atasan gue, dihina kayak gitu.
Tanpa pikir panjang, gue berdiri dan berjalan mantap menuju ruang rapat.
"Aruna! Mau ngapain?!" seru Maya panik, tapi gue nggak peduli.
Gue buka pintu ruang rapat tanpa mengetuk. Dua pasang mata langsung tertuju ke arah gue. Genta kelihatan kaget, sementara Pak Wijaya menatap gue seolah gue adalah kecoa yang salah masuk ruangan.
"Maaf mengganggu, Pak Wijaya," kata gue, suara gue lantang dan nggak bergetar sedikit pun. "Tapi saya sebagai editor pendamping yang ikut mengurus naskah Sandra, punya bukti kalau tuntutan royalti itu memang nggak masuk akal."
"Siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke sini!" bentak Pak Wijaya.
"Saya Aruna, orang yang tahu kalau Sandra mencoba memanipulasi data promosi buat nuntut bonus tambahan," gue maju, menaruh sebuah map di meja. Itu draf laporan yang sempat Genta kasih ke gue buat dicek kemarin. "Pak Genta nggak salah. Dia cuma menjaga integritas penerbit ini. Kalau Bapak memecat editor terbaik cuma gara-gara satu penulis yang nggak jujur, berarti Bapak sendiri yang lagi ngebunuh penerbit ini secara perlahan."
Gue bisa merasakan tatapan Genta yang dalam ke arah gue. Ada keterkejutan, tapi juga ada rasa terima kasih yang nggak terucap di sana.
"Kamu... kamu lancang sekali!" Pak Wijaya berdiri, wajahnya merah padam.
"Saya nggak lancang, Pak. Saya cuma bicara fakta. Dan kalau Pak Genta pergi, saya dan mungkin separuh editor di sini juga bakal ikut pergi. Karena nggak ada gunanya kerja di tempat yang nggak menghargai kejujuran demi angka penjualan."
Hening. Ruangan itu mendadak jadi dingin banget. Gue berdiri tegak, nggak mundur satu senti pun. Pak Wijaya mendengus, menyambar tasnya, dan keluar dari ruangan sambil membanting pintu.
Gue mengembuskan napas panjang, baru sadar kalau seluruh tubuh gue gemetar hebat. Genta berdiri, berjalan mendekati gue. Dia nggak marah karena gue lancang. Dia malah melepas kacamatanya, menatap gue dengan tatapan yang bikin hati gue luluh seketika.
"Aruna... itu tadi tindakan yang sangat tidak efisien," ucapnya pelan.
Gue mendongak, siap-siap mau protes, tapi dia melanjutkan.
"Tapi... terima kasih. Karena sudah jadi satu-satunya orang yang mau pasang badan buat saya."
Gue tersenyum miring, mencoba mengembalikan suasana. "Jangan baper, Pak. Saya cuma nggak mau Editor Kepala saya diganti orang lain. Nanti siapa lagi yang mau saya ajak debat soal typo?"
Genta terkekeh kecil, suara yang sangat langka. Dan di saat itu gue tahu, gue bakal lakuin hal yang sama lagi kalau ada yang berani nyentuh pria kaku ini.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻