Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikungan berbahaya
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Semua orang yang ikut balapan malam ini sudah berkumpul di garis start. Begitu juga dengan Ara.
"Queen, lo udah siap?" tanya Rafaell sambil menatap Ara dengan tatapan khawatir dan sedikit ragu.
"Iya, gue udah siap," jawab Ara santai, seolah balapan ini hanyalah hal biasa baginya.
Rafaell tidak bertanya lagi. Dia hanya menganggukkan kepala, lalu menoleh ke arah panitia balapan yang saat ini sedang bersiap-siap untuk memulai jalannya balapan.
"Baik, karena semuanya sudah lengkap, balapan malam ini kita mulai sekarang!" kata salah satu anggota Black Mamba yang bertugas sebagai panitia.
Sorakan langsung terdengar dari para anggota dan penonton yang berdiri di sepanjang lintasan.
"Mari kita hitung mundur sama-sama!" lanjutnya dengan suara keras.
Di tengah lintasan, Feby sudah berdiri sambil memegang bendera merah. Dia menatap ke arah para pembalap yang berjajar di garis start, lalu perlahan mengangkat bendera itu ke atas.
Suasana mendadak menjadi sunyi.Suara mesin motor yang meraung pelan terdengar saling bersahutan. Para pembalap menggenggam setang motor mereka dengan erat, bersiap melesat begitu aba-aba diberikan.
"Tiga..."
Para pembalap mulai memutar gas.
"Dua..."
Suara mesin motor semakin meraung keras, memenuhi udara malam di lintasan gunung itu.
"Satu!"
Tepat saat hitungan selesai, Feby langsung mengibarkan bendera merah itu ke atas.
"GO!"
Balapan resmi dimulai.
Dalam hitungan detik, deretan motor langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Suara mesin yang meraung memecah keheningan malam.
Derren langsung melaju paling depan. Motornya melesat seperti peluru, meninggalkan para pembalap lain di belakangnya.
"Gilaa! Derren langsung ngebut!" teriak salah satu anggota Black Mamba yang menonton dari pinggir lintasan.
Beberapa pembalap lain berusaha mengejar, namun kecepatan Derren memang tidak main-main.
Sementara itu, Ara justru terlihat tertinggal di belakang.Motornya melaju dengan kecepatan stabil, tidak seagresif para pembalap lain yang langsung memacu motor mereka sejak awal.
Beberapa anggota Black Mamba yang menonton mulai saling berpandangan.
"Kenapa Queen nggak ngebut?"
"Dia kenapa malah santai banget?"
"Jangan bilang dia benar-benar lupa cara balapan."Bisikan mulai terdengar di antara mereka.
Namun Ara sama sekali tidak terlihat panik.Di balik helmnya, tatapan Ara tetap tenang saat menatap lintasan gunung yang gelap di depannya.
Angin malam menerpa tubuhnya saat motor itu terus melaju membelah jalanan berkelok.Entah kenapa, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Seolah lintasan ini tidak asing baginya.Seolah tubuhnya pernah melakukan semua ini berkali-kali.
Ara sedikit memutar gas motornya.Suara mesin motor Queen kembali meraung di tengah lintasan malam itu. Namun tanpa disadari oleh siapa pun, jarak antara Ara dan para pembalap di depannya mulai perlahan menipis.
Saat Ara mencoba menyusul para pembalap yang lain, salah satu di antara mereka hampir terjatuh di tikungan tajam yang curam. Hal itu membuat para penonton yang menyaksikannya langsung terbelalak kaget.
"Lihat itu!" teriak salah satu penonton sambil menunjuk ke arah pembalap yang hampir terjatuh itu.
Motor pembalap itu sempat oleng beberapa kali di tikungan berbahaya tersebut. Ban belakangnya bahkan sempat sedikit tergelincir di aspal.
Namun untung saja dia masih berhasil mengendalikan motornya dan kembali menyeimbangkan laju kendaraannya.
Sementara itu, Derren berhasil melewati tikungan tajam itu dengan selamat. Motornya meluncur cepat menuruni lintasan gunung.
Namun, beberapa meter setelah melewati tikungan itu, motor Derren tiba-tiba oleng.
Ban motornya tidak sengaja menginjak sesuatu yang licin di jalan.
"Sial!" geram Derren.
Dia langsung menarik setang motornya kuat-kuat agar tidak kehilangan kendali.
Motor itu sempat bergoyang beberapa detik sebelum akhirnya kembali stabil.
"Hampir saja gue jatuh," gumam Derren kesal sambil kembali memacu motornya.
Sementara itu di belakangnya, Ara mulai mendekati tikungan yang sama.Lampu motor Ara menyorot jalanan yang gelap di depannya.
Tikungan tajam itu terlihat begitu curam dan berbahaya.Namun anehnya, tidak ada rasa ragu dalam diri Ara.
Tangannya memegang setang dengan mantap saat motor itu mulai memasuki tikungan.Tubuh Ara sedikit memiring mengikuti arah jalan.
Ban motor itu mencengkeram aspal dengan sempurna.Dalam satu gerakan yang halus dan presisi, Ara berhasil melewati tikungan berbahaya itu tanpa hambatan sedikit pun.
Bahkan cairan licin yang berada di jalan juga berhasil dia hindari dengan sangat mudah.Dari kejauhan, Derren yang melihatnya lewat kaca spion langsung mengerutkan kening.
"Sial," gumamnya pelan.
"Kenapa dia bisa dengan mudah melewatinya?"
Padahal cairan licin itu sengaja dia siapkan untuk menjebak para pembalap yang berada di belakangnya.Namun Ara justru melewatinya seolah sudah tahu letaknya sejak awal.
Motor Ara terus melaju mendekati posisi para pembalap di depannya.Jarak mereka semakin menipis.Derren memperhatikan semua itu melalui kaca spion motornya. Rahangnya mengeras.
Namun dia tidak terlihat panik.
Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis.Karena sebenarnya jebakan yang barusan hanyalah permulaan.Jebakan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
" Tunggu saja Queen, ini baru permulaan."