Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Suatu pagi yang cerah di Pulau Dewa Laut, kabut tipis masih menyelimuti paviliun saat lonceng perak bergema tiga kali dari menara utama. Suara itu bukan lonceng biasa—itu adalah **Lonceng Panggilan Legiun**, hanya dibunyikan saat ada urusan besar yang melibatkan seluruh murid Paviliun Dewa Laut.
Ling Chen, Qing Lin, dan Bai Yue Chan langsung berhenti dari latihan pagi mereka di tepi kolam kristal. Bai Yue Chan yang sedang membentuk bola ombak kecil langsung meledakkannya karena kaget, membuat air menyemprot ke wajah Ling Chen.
“Wah! Lonceng panggilan! Ini jarang banget dibunyikan, pasti ada sesuatu yang seru!” seru Bai Yue Chan sambil melompat-lompat, energinya langsung meledak. Dia menarik lengan Ling Chen dan Qing Lin. “Ayo cepet! Ke aula utama! Jangan sampai ketinggalan!”
Qing Lin menggeleng pelan sambil menyeka air dari jubahnya, tapi matanya juga penuh rasa ingin tahu. “Tenang, Yue Chan. Ini pasti penting. Guru tidak pernah memanggil semua murid tanpa alasan.”
Ketiganya berlari menyusuri jalan batu giok yang berkelok, bergabung dengan puluhan murid lain dari berbagai tingkatan—dari murid luar yang masih Fondasi Qi hingga murid inti seperti mereka yang sudah di Realm Inti Emas. Aula utama Paviliun Dewa Laut dipenuhi ratusan orang, semuanya berlutut hormat saat Peri Qing Yi muncul di panggung tinggi, jubah biru-putihnya berkibar seperti ombak.
Peri Qing Yi mengangkat tangan, suaranya tenang tapi bergema ke seluruh aula berkat qi-nya yang kuat. “Murid-murid Paviliun Dewa Laut. Hari ini, aku memanggil kalian semua karena kabar penting dari lautan luar.”
Dia mengulurkan tangan, dan sebuah kristal air raksasa muncul di udara, memproyeksikan gambar samar: sebuah reruntuhan kuno yang tenggelam di dasar lautan dalam, dikelilingi formasi pelindung bercahaya biru. Pilar-pilar batu putih retak ditumbuhi karang kuno, tapi di tengahnya terlihat sebuah kuil besar dengan patung dewa laut raksasa yang sudah lapuk. Qi murni air dan esensi laut memancar dari reruntuhan itu, begitu kuat hingga bahkan proyeksi kristal pun bergetar.
“Ini adalah **Reruntuhan Kuil Dewa Laut Kuno**, warisan dari era para Dewa Laut pertama yang mendirikan paviliun kita ribuan tahun lalu,” lanjut Peri Qing Yi. “Selama ini, reruntuhan itu tersembunyi di kedalaman **Lautan Abadi yang Tak Bertepi**, dilindungi oleh formasi kuno yang hanya terbuka setiap seribu tahun sekali. Formasi itu baru saja melemah kemarin malam—tanda bahwa waktu pembukaannya telah tiba.”
Aula bergemuruh dengan bisikan-bisikan kagum dan gembira. Bai Yue Chan mengepalkan tangan, matanya berbinar. “Akhirnya! Reruntuhan kuno! Pasti ada warisan teknik air tingkat dewa di sana! Aku mau yang bisa bikin ombak raksasa!”
Qing Lin tersenyum tipis, tapi matanya serius. “Ini bukan hanya soal harta. Reruntuhan seperti ini biasanya penuh ujian, jebakan, dan roh penjaga. Banyak yang masuk… tapi tak semuanya kembali.”
Ling Chen menatap proyeksi itu dengan hati berdegup kencang. Aura reruntuhan itu terasa familiar—bukan api, tapi air yang dalam dan tak terduga, seolah bisa memadamkan atau memurnikan api di tubuhnya. “Guru… apa yang ada di dalamnya?” tanyanya pelan.
Peri Qing Yi menatap ketiganya—murid-muridnya yang paling berbakat. “Warisan utama adalah **Kitab Dewa Laut Abadi**, teknik kultivasi air tingkat tertinggi yang bisa menggabungkan elemen air dengan elemen lain, termasuk api. Ada juga artifact kuno, pil laut suci, dan kemungkinan petunjuk menuju Realm Raja Dewa yang lebih tinggi. Tapi reruntuhan ini bukan untuk semua orang. Hanya murid terpilih yang boleh ikut—dan kalian bertiga… akan menjadi bagian dari tim utama.”
Bai Yue Chan langsung melompat kegirangan. “Yess! Kita bertiga lagi! Keluarga Dewa Laut menyerbu reruntuhan!”
Qing Lin mengangguk, tangannya menyentuh bahu Ling Chen pelan. “Ini kesempatan bagus untukmu, Saudara Ling. Air bisa melengkapi apimu, membuat qi-mu lebih seimbang. Dan… mungkin kau bisa temukan cara untuk memperkuat ikatan dengan orang yang kau tunggu.”
Ling Chen tersenyum tipis, ingatan Yue Yan muncul lagi. “Terima kasih, Kak Qing Lin. Aku siap.”
Peri Qing Yi melanjutkan pengumumannya. “Semua legiun murid akan berkumpul dalam tiga hari. Tim eksplorasi utama terdiri dari sepuluh murid inti, termasuk Qing Lin, Bai Yue Chan, dan Ling Chen. Yang lain akan mendukung dari luar formasi. Persiapkan diri—reruntuhan ini penuh bahaya, tapi juga peluang besar. Siapa pun yang berhasil mendapatkan warisan utama… akan menjadi penerus sejati Paviliun Dewa Laut.”
Aula meledak dalam sorak-sorai. Murid-murid saling berpelukan, berlatih teknik terakhir, dan berbagi cerita tentang reruntuhan kuno yang legendaris.
Malam itu, di paviliun kecil mereka, ketiganya duduk bersama di balkon menghadap laut. Bai Yue Chan membawa anggur laut manis, Qing Lin menyeduh teh herbal dari rumput laut suci, dan Ling Chen menatap bintang-bintang di atas ombak.
“Bayangin kalau kita dapet Kitab Dewa Laut Abadi,” kata Bai Yue Chan sambil mengangkat gelas. “Aku bakal bikin ombak yang bisa nyanyi lagu! Atau bikin tsunami kecil buat prank murid lain!”
Qing Lin tertawa pelan. “Kau selalu mikir yang aneh-aneh. Tapi serius… ini berbahaya. Kita harus saling jaga.”
Ling Chen mengangguk, api di dadanya berdenyut selaras dengan qi air yang mulai mengalir di meridiannya. “Kita bertiga seperti keluarga. Tak ada yang akan tertinggal. Dan setelah ini… aku akan lebih dekat lagi untuk kembali ke Yan’er.”
Bai Yue Chan menyeringai, lalu memeluk keduanya dari samping. “Itu janji! Keluarga Dewa Laut tak terpisahkan! Besok mulai packing—dan aku yang bawa camilan!”
Mereka tertawa bersama di bawah cahaya bulan yang memantul di laut. Reruntuhan kuno menanti, penuh rahasia dan bahaya, tapi dengan “keluarga” baru ini, Ling Chen merasa siap menghadapi apa pun.
Di kejauhan, Peri Qing Yi mengamati dari menara, senyum tipis di bibirnya. “Mereka akan tumbuh… dan mungkin, reruntuhan itu akan mengubah segalanya.”