ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Rega tidak langsung menjawab. Tatapannya tertahan di wajah Ayra, seolah sedang menimbang kata-kata yang aman untuk diucapkan.
"Aku ngerti kamu lagi kepikiran," katanya akhirnya, lebih pelan. "Tapi jangan hukum aku cuma karena kemungkinan yang belum tentu ada."
Ayra tersenyum tipis. "Aku nggak menghukum."
"Tapi kamu curiga."
Keheningan kembali jatuh di antara mereka.
"Aku cuma kaget," ucap Ayra akhirnya. "Tadi kamu bilang lagi antre. Terus aku lihat kamu di sana... ngobrol santai."
"Aku memang lagi antre. Nomorku masih lama dan pengurus disana nyamperin aku katanya suruh bawa ktp kamu juga untuk di ganti statusnya. Nadin tadi manggil karena lihat aku duluan. Kita pernah kerja bareng dua tahun lalu." Rega menatap Ayra lurus. "Cuma itu."
"Kamu nggak pernah cerita."
"Karena nggak ada yang perlu diceritakan."
Kalimat itu terdengar logis. Justru terlalu logis.
Ayra memalingkan wajah, mencoba mengatur napas. Ia tidak mau jadi istri yang posesif, yang membesar-besarkan hal kecil. Tapi ia juga tidak mau menutup mata kalau memang ada yang tidak beres. Bohong jika dia tidak peduli dan takut. nyatanya dia peduli dan takut
"Kenapa kamu tadi kelihatan panik waktu aku panggil?" tanyanya pelan.
Rega terdiam sebentar. "Karena aku nggak nyangka kamu ada di sini."
"Kenapa harus panik kalau nggak salah?"
Rega menghela napas lagi, lebih berat kali ini. "Aya, orang yang nggak salah pun bisa panik kalau situasinya kelihatan salah."
Kalimat itu membuat Ayra terdiam. Ada benarnya.
Namun bayangan sentuhan singkat Nadin di lengan Rega terus terputar di kepalanya.
"Aku balik ke coffee shop dulu," kata Ayra akhirnya. "Kamu lanjut aja urusannya. nih ktp aku!" menyerahkan ktp ayra ke rega untuk di bawanya
"Aku anter."
"Nggak usah."
Nada Ayra lembut, tapi tegas. Rega tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
"Oke. Nanti aku kabarin kalau sudah selesai."
Ayra hanya mengangguk singkat lalu berbalik pergi.
Di coffee shop, minumannya sudah hampir habis. Es batu mencair, menyisakan rasa hambar. Ayra duduk tanpa benar-benar melihat sekeliling. Tangannya menggenggam ponsel, tapi ia tidak membuka apa pun.
Ia mencoba objektif.
Rega memang bilang mau ke Disdukcapil. Ia memang mengirim pesan soal nomor antrean. Bisa jadi memang kebetulan bertemu Nadin. Sentuhan tadi juga mungkin refleks biasa.
Tapi kenapa Rega terlihat defensif
Kenapa ia berkata "karena kamu lagi sensitif?"
Apakah itu cara halus menyalahkan perasaannya?
Ponselnya kembali bergetar.
[Sudah selesai. Lagi jalan ke parkiran.]
Ayra menatap pesan itu lama sebelum membalas.
[Oke.]
Tidak ada emoji. Tidak ada tambahan apa pun.
Beberapa menit kemudian Rega muncul di depan coffee shop. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.
"Kita pulang?" tanyanya.
"Iya."
Perjalanan pulang diisi keheningan yang tidak nyaman. Radio menyala pelan, tapi tidak cukup untuk mengusir jarak yang terasa di dalam mobil.
Di lampu merah, Rega akhirnya berbicara.
"Aku nggak suka kamu mikir yang enggak-enggak."
Ayra menoleh. "Aku juga nggak suka kamu merasa perlu menyembunyikan sesuatu supaya aku nggak salah paham."
"Aku nggak nyembunyiin."
"Tapi kamu memilih nggak cerita."
Rega mengeraskan rahangnya sedikit. "Nggak semua hal harus diceritakan detail, Ay."
"Kalau itu melibatkan perempuan lain, menurutku harus."
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Rega tampak berpikir sebelum menjawab. "Kalau setiap aku ketemu perempuan kamu harus tahu dan analisis satu-satu, kapan selesainya?"
"Aku bukan minta laporan tiap detik."
"Tapi kamu lagi melakukan itu sekarang."
Ayra terdiam. Ia sadar perdebatan ini bisa berubah arah. Dari soal kejujuran menjadi soal kepercayaan.
"Aku cuma butuh diyakinkan," ucapnya lebih pelan. "Bukan dibuat merasa berlebihan."
Rega meliriknya sekilas. "Aku sudah bilang aku nggak main di belakang kamu."
"Iya. Tapi kamu juga bilang nggak cerita karena takut aku salah paham. Itu artinya kamu tahu situasinya bisa bikin salah paham."
Rega tidak langsung menjawab.
Mobil memasuki halaman rumah. Mesin dimatikan, tapi keduanya belum turun.
"Aku capek," kata Rega pelan. "Bukan capek sama kamu. Capek sama asumsi."
Ayra menatap dashboard kosong di depannya. "Aku juga capek merasa harus selalu kuat dan percaya tanpa pertanyaan."
Keheningan itu berbeda dari sebelumnya. Bukan dingin, tapi rapuh.
Rega akhirnya membuka sabuk pengaman dan keluar lebih dulu. Ayra menyusul beberapa detik kemudian. dan bertemu mbok sumi dan suaminya
"non ayra saya pamit ya mau pulang! tadi kulkas dan yang lainnya sudah saya terima! kulkas sudah saya isi bahan makanan dan untuk makan malam sudah saya siapkan!" jelas mbok sumi lalu berlalu pamit meninggalkan ayra
Malam itu mereka makan tanpa banyak bicara. Sejak kejadian itu membuat mereka berdua canggung. Kali ini hanya ada suara sendok dan piring.
Setelah selesai, Ayra membereskan meja. Rega berdiri di belakangnya.
"Ayra."
Ia berhenti, tapi tidak menoleh.
"Aku nikah sama kamu memang karena kebetulan," lanjut Rega. "tapi setelah aku menjadi suami kamu. tidak ada pemikiran untuk berkhianat dari kamu walaupun kita hanya sementara."
Kalimat itu membuat dada Ayra perih.
"Kalau memang ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang. Jangan dipendam jadi kecurigaan."
Ayra akhirnya menoleh. "Aku cuma takut."
"Takut apa?"
"Takut jadi orang terakhir yang tahu kalau sesuatu berubah."
Rega terdiam.
"Aku lihat banyak banget cerita orang yang awalnya baik-baik saja. Harmonis. Ternyata cuma di luar."
Rega melangkah mendekat. "Kalau suatu hari ada yang berubah, aku akan bilang. Aku nggak akan bikin kamu jadi orang terakhir yang tahu."
"Janji?"
"Janji."
Tatapan mereka bertahan beberapa detik. Tidak ada sentuhan dramatis. Hanya dua orang yang sama-sama berusaha jujur dengan ketakutannya.
Namun setelah Rega masuk ke kamar mandi, Ayra masih berdiri di dapur cukup lama.
Janji itu terdengar tulus.
Tapi kepercayaan bukan hanya soal janji. Ia soal konsistensi kecil yang dibangun setiap hari.
...***...
Tiga hari berlalu.
Suasana kembali normal, setidaknya di permukaan. Rega tetap pulang tepat waktu dan menyempatkan untuk menjemputnya di kantor. Ponselnya tidak lagi dibalik di meja. Ia bahkan beberapa kali sengaja meletakkannya dekat Ayra, seolah ingin menunjukkan tidak ada yang disembunyikan.
Ayra berusaha mempercayai.
Sampai suatu malam, ketika Rega sedang mandi dan ponselnya menyala karena notifikasi.
Ayra tidak berniat mengintip.
Awalnya.
Tapi layar itu menyala cukup lama. Sebuah nama muncul.
Nadin.
Dadanya langsung menegang.
Pesannya singkat.
[Terima kasih ya sudah bantu kemarin. Maaf kalau bikin nggak enak.]
Ayra menelan ludah.
Beberapa detik kemudian, balasan muncul.
[Sama-sama. Hati-hati ya.]
Itu saja.
Tidak ada emoji. Tidak ada tambahan apa pun.
Normal. Profesional.
Ayra meletakkan kembali ponsel itu ke posisi semula, jantungnya berdetak cepat.
Ia merasa bersalah karena membaca, meski tidak sengaja.
Rega keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Kenapa?"
"Kamu masih kontak sama dia?"
Rega berhenti. "Nadin?"
Ayra mengangguk.
"Iya. Soal draft kerja sama."
Ayra menatapnya mencoba membaca ekspresinya. Tidak ada kegugupan. Tidak ada defensif berlebihan.
Hanya biasa.
"Kenapa?" tanya Rega lagi.
"Enggak. Cuma nanya."
Rega mendekat dan duduk di sampingnya. "Ayra, kalau kamu terus nyari tanda, kamu pasti akan selalu nemu sesuatu buat dicurigai."
Kalimat itu menusuk karena terasa benar.
Ayra menunduk. "Aku lagi belajar."
"Belajar apa?"
"Percaya tanpa merasa bodoh."
Rega tersenyum tipis, kali ini benar-benar lembut. "Percaya itu risiko. Tapi nikah juga risiko."
Ia menggenggam tangan Ayra. Hangat. Nyata.
"Kalau suatu hari aku berubah, kamu pasti akan tahu bukan dari gosip, bukan dari orang lain. Tapi dari aku."
Ayra menatap wajahnya lama.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di mall itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin masalahnya bukan pada Nadin.
Mungkin masalahnya adalah ketakutan Ayra sendiri bahwa cinta bisa berubah tanpa tanda.
Tunggu! Cinta?! benarkah mereka sudah menaruh rasa satu sama lain?
Apakah mungkin?
Di luar kamar, malam terasa tenang.
Namun Ayra tahu, hubungan bukan tentang tidak pernah goyah. Melainkan tentang memilih untuk tetap berdiri, bahkan setelah hati sempat gemetar.