Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Closure
"Gue nggak bakalan pergi sebelum gue ketemu sama Amel!" Dengan ngeyelnya Doni tetap bertahan di situ dan memilih duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk tamu.
Widya menggaruk kepalanya pusing dengan tingkah laku Doni. Widya tahu kalau pernikahan Doni dan Amel batal karena Doni berselingkuh dan menghamili selingkuhannya itu.
Kejadian beberapa hari yang lalu menjadi buah bibir banyak tamu yang hadir yang salah satunya adalah sosok Widya sendiri.
Sasi keluar dari dalam ruangannya, dia mendapati Doni masih duduk anteng di tempatnya, seolah dia tak peduli dengan penolakan Amel.
"Lo mau ngapain lagi?!" tanya Sasi dengan bersidekap dan menatap Doni judes.
"Gue mau ngobrol sama Amel!" jawab Doni malas karena lagi-lagi Sasi ikut campur urusannya.
"Nggak nyadar sama apa yang lo lakuin ama ani-ani lo? Lo masih ngarep gitu si Amel bakalan kena bujuk rayu lo? Jangan ngimpi, Amel udah bahagia sama suaminya!" ledek Sasi membuat Doni meradang.
"Gue nggak percaya!" ucap Doni kesal.
"Serah kalau lo nggak percaya, buktinya Amel udah tinggal serumah sama Revan! Catat tinggal serumah! Lo tahu kan tinggal serumah itu artinya apa? Mereka udah ngapain aja kan lo bisa mikir, lo yang beda rumah aja udah kuda-kudaan kan?" ucap Sasi tanpa filter.
Doni menggerutu dalam hati, ingin memaki Sasi tapi dia menahan diri semata karena Doni berniat berbicara dengan Amel dan Sasilah satu-satunya jalan agar Doni bisa berbicara dengan Amel.
Amel keluar dari dalam ruangannya, agak terkejut karena Doni masih bertahan di tokonya.
Amel melirik keadaan toko yang terlihat ramai oleh pengunjung itu, ingin mereog tapi Amel sadar diri, kenyaman pengunjung itu yang utama.
"Keluar!" perintah Amel lalu melangkah keluar dari toko. Doni membuntuti di belakangnya.
"Mau ngomong apa?!" tanya Amel judes dengan tatapan matanya yang tak bersahabat.
"Mel, please dengerin penjelasan gue!" ucap Doni lembut.
"Penjelasan apa lagi yang perlu gue denger, Don? Semuanya udah jelas kan, lo udah selingkuh sama perempuan itu dan dia hamil anak kamu!" jerit Amel tak bisa menahan diri lagi.
"Aku akui aku selingkuh sama Nita, Mel! Tapi aku khilaf waktu itu, dan anak yang ada di kandungannya itu bukan anak aku! Aku berani bersumpah!"
Amel tertawa getir, semudah itu Doni mengatakan hal itu. Sudah berani berselingkuh di belakangnya dan sekarang dia tidak mengakui anak yang dikandung oleh Nita. Berengsek memang!
"Aku janji aku nggak bakalan mengulangi perbuatan itu lagi!"
"Janjimu taik!" maki Amel kesal juga akhirnya.
"Mel please!" pinta Doni memelas tapi Amel memilih meninggalkan Doni di depan tokonya.
Tapi sebelum Amel masuk ke dalam toko itu, Amel menoleh dan menatap Doni tajam. "Doni Suhendar, gue ucapkan sekali lagi kalau kita sudah putus dan jangan berani dateng cari gue lagi!"
Setelah itu Amel benar-benar masuk ke dalam tokonya. Semua karyawan menatap Amel dengan iba karena pernikahannya dengan Doni harus batal dan dia terpaksa menikahi Revan yang dari penampilannya saja sudah begajulan.
Amel terus melangkah sampai ke dalam ruang kerjanya. Sasi menyambutnya dengan tatapan horor.
"Closure, Si, closure!" ucap Amel santai meskipun hatinya masih dongkol.
"Orang kayak gitu sih nggak paham sama closure atau istilah apapun itu! Bagi gue kalau tuh laki udah selingkuh tanpa kata apapun harusnya dia sadar kalau itu juga merupakan closure buat kalian!" Sasi mengomel sambil matanya awas menatap laporan penjualan toko mereka yang melonjak dengan signifikan itu.
"Kenapa lo?!" tanya Amel ketika melihat perubahan wajah Sasi.
"Lihat deh omset toko kita!" Sasi menyodorkan laptopnya ke hadapan Amel.
Amel membaca rentetan laporan itu dan menyunggingkan senyum puasnya.
"Yang toko emas itu jadi kolaborasi ama kita nggak sih, Mel?" tanya Sasi menerima kembali laptopnya.
"Jadi, ini ada beberapa permintaan yang masuk ke kita, khususnya gelang sih, dia minta gue design gelang produksi mereka!"
"Wah happy banget gue kalau kayak gini!" Sasi tertawa sumringah.
"Jangan cengar-cengir aja lo, tanggung jawab kita semakin gede nih!" omel Amel lalu kembali menekuri tabletnya, dia harus menyelesaikan design milik pelanggannya.
"Gue tahu, Njirr! Semakin banyak proyek semakin banyak kerjaan gue juga kali!" celoteh Sasi lalu mencetak laporan penjualan tersebut dan menyerahkan kepada Amel.
"Ttd gaji karyawan, Mel!" Sasi menyodorkan form bukti transfer kepada Amel untuk ditandatangani.
"Udah semua kan?" tanya Amel.
"Udah, udah semua! Ada tiga puluh tiga karyawan termasuk kita kan?"
Amel terkekeh, memang dia dan Sasi mendapatkan gaji yang ditransfer bersamaan gaji bulanan karyawannya karena sejak dulu Amel memang membedakan rekening pribadi dan rekening untuk usahanya.
"Habis ke bank lo ke toko kita satunya aja, Si! Gue kudu nyelesaiin design dari Bu Wiwi!"
"Oke, siap Boss!" ucap Sasi lalu membereskan pekerjaannya dan bersiap ke bank.
Amel menggeleng pelan lalu kembali tenggelam dalam designnya untuk pelanggannya.
Tepat pukul sembilan malam, ketika toko perhiasan miliknya bersiap untuk tutup, Amel pun menutup tabletnya dan bersiap untuk pulang juga.
Saat Amel keluar ruangannya, dia berpapasan dengan karyawan tokonya yang kebagian shif malam.
"Gaji udah pada masuk kan?" tanya Amel.
"Udah, Mbak! Ada tambahan dua ratus ribu, Mbak!" jawab salah satu karyawannya.
"Anggap aja bonus buat jajan cilok!" sahut Amel membuat karyawannya tertawa kesenangan.
Mungkin bagi sebagian orang uang dua ratus ribu rupiah itu tak memiliki arti apapun, tapi untuk sebagian orang lagi uang sebesar itu sudah sangat berarti buat mereka.
"Ya udah kalau gitu, tutup pintu tokonya yang bener ya guys, aku pulang dulu!" Amel melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Tapi belum sempat Amel masuk ke dalam mobilnya, sebuah suara memanggilnya dan bersiap untuk memakinya.
"Apa lagi sih ini? Apakah gue nggak boleh nyantai barang sejenak!" gumam Amel kesal.
"Gue perlu ngomong ama lo!" teriak Nita tak terima.
"Apa lagi sih?!" tanya Amel judes.
"Lo cewek murahan!" maki Nita lalu melayangkan tangannya ke pipi Amel.
Plak!