Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana di rumah utama Mahendra tak ubahnya sebuah penjara bawah tanah yang pengap. Bau alkohol yang tajam bercampur dengan aroma parfum Maura yang menyengat menciptakan atmosfer yang memuakkan.
Arlan tergeletak di ranjang, tertidur dalam keadaan kacau akibat depresi berat yang menghantamnya.
Di sampingnya, Maura berdiri dengan senyum licik yang tak lagi ia sembunyikan. Tangannya masih menggenggam ponsel Arlan. Ia baru saja selesai menghapus beberapa riwayat panggilan penting agar Arlan semakin terisolasi dari dunia luar.
Bagi Maura, jika harta Arlan habis, setidaknya pria itu harus tetap berada dalam cengkeramannya sebagai pelayan egonya.
"Tidurlah yang nyenyak, Mas," bisik Maura sambil mengusap pipi Arlan dengan kuku panjangnya yang tajam. "Biarkan Hana menikmati kemenangannya sebentar lagi. Karena setelah ini, aku akan memastikan dia tidak akan punya nyawa untuk menikmati hartamu."
Maura melangkah menuju cermin besar di kamar itu. Ia melepas ganjalan kecil di balik daster sutranya, perutnya tampak lebih berisi. Ia menatap pantulan dirinya dengan puas. Kebohongan ini adalah mahakarya terbesarnya.
Keesokan paginya, Arlan terbangun dengan suara teriakan Maura dari arah dapur. Kepalanya masih terasa seperti dihantam palu godam, namun ia terpaksa menyeret langkahnya turun.
Di meja makan, Maura sudah menyiapkan sarapan yang jauh dari kata selera Arlan. Hanya ada roti tawar kering dan kopi hitam instan.
Tidak ada lagi asisten rumah tangga yang biasanya menyiapkan hidangan mewah, mereka semua sudah berhenti karena Arlan tak lagi mampu membayar gaji mereka tepat waktu.
"Kenapa hanya ini?" tanya Arlan dengan suara serak, menatap meja makan dengan pandangan kosong.
Maura duduk dengan wajah yang ditekuk, sengaja menunjukkan raut sedih yang dilebih-lebihkan. Ia mengelus perutnya dengan gerakan dramatis.
"Mau bagaimana lagi, Mas? Uang belanja yang kamu kasih minggu lalu sudah habis. Tabunganku juga sudah kupakai untuk beli vitamin bayi kita. Kamu kan tahu, anak ini butuh asupan terbaik."
Arlan memijat pelipisnya. "Aku akan cari jalan keluar, Maura. Berhenti mengeluh."
"Cari jalan keluar bagaimana?" Maura tiba-tiba berdiri, suaranya melengking. "Semua orang membicarakanmu, Mas! Mereka bilang kamu bangkrut karena istrimu sendiri! Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak datangi apartemen Hana dan paksa dia mengembalikan semuanya? Dia itu istrimu, Mas! Kamu punya hak atas tubuhnya, atas hartanya!"
"Dia sudah mengganti sandinya, Maura! Aku tidak bisa masuk!" Arlan menggebrak meja, membuat cangkir kopi Maura terguncang.
"Kalau begitu cegat dia di kantor!" Maura mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan berbisa. "Jangan biarkan dia bahagia dengan Adrian. Ingat, Mas, selama dia masih bernapas, dia akan terus menghancurkan kita. Kamu harus tegas. Kalau perlu, beri dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan sampai dia memohon ampun padamu."
Arlan terdiam. Kata-kata Maura mulai meracuni logikanya yang memang sudah tumpul akibat alkohol. Bayangan Hana yang sedang tertawa di pelukan Adrian membuat dadanya terasa terbakar.
Berbeda jauh dengan neraka di rumah Mahendra, di penthouse eksklusif milik Adrian, suasana pagi itu terasa seperti di surga.
Sinar matahari pagi masuk dengan lembut melalui jendela setinggi langit-langit, menyinari sosok Hana yang masih terlelap dalam balutan selimut bulu yang lembut.
Adrian sudah terjaga lebih dulu. Ia duduk di pinggir ranjang, hanya mengenakan celana kain panjang, menatap wanita di sampingnya dengan binar mata yang penuh pemujaan.
Ia mengulurkan tangan, merapikan helai rambut Hana yang menutupi wajah cantiknya.
Hana mengerang pelan, kelopak matanya terbuka perlahan. Begitu melihat wajah Adrian yang tersenyum padanya, sebuah senyum tulus merekah di bibir Hana. Ia merasa aman. Ia merasa dicintai.
"Pagi, Sayang," bisik Adrian, suaranya rendah dan serak khas orang baru bangun tidur.
Hana menarik tangan Adrian dan mencium telapak tangannya. "Pagi... jam berapa sekarang?"
"Cukup pagi untuk kita menikmati waktu berdua sebelum dunia kembali menagih tugas kita," Adrian merunduk, memberikan kecupan lembut di dahi, hidung, dan berakhir di bibir Hana.
Ciuman itu awalnya lembut, namun segera berubah menjadi penuh kerinduan. Hana melingkarkan lengannya di leher Adrian, menarik pria itu lebih dekat.
Segala beban tentang Arlan dan perusahaan seolah menguap begitu saja. Di tempat ini, ia bukan manajer strategis, bukan istri yang tersakiti, ia hanyalah wanita milik Adrian.
"Aku tidak ingin pergi ke mana pun hari ini," gumam Hana di sela ciuman mereka.
"Kalau begitu, tetaplah di sini. Di bawah pengawasanku," Adrian membalas dengan tatapan intens.
Tangannya mulai menjelajahi lekuk tubuh Hana di balik selimut, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Hana merasa seperti ratu yang paling dihargai.
"Aku akan menyiapkan sarapan terbaik untukmu. Dan setelah itu, aku akan memastikan kau mendapatkan semua hakmu yang selama ini dicuri oleh pria brengsek itu."
Hana tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Kau terlalu memanjakanku, Adrian."
"Itu adalah tugas utamaku sekarang, Hana. Membayar semua air mata yang pernah kau teteskan dengan kebahagiaan yang tak terbatas."
Adrian kembali membungkam bibir Hana, kali ini dengan gairah yang lebih membara. Di kamar yang tenang itu, mereka seolah membangun dunia mereka sendiri, sebuah dunia di mana hanya ada kesetiaan dan cinta yang membakar, jauh dari kebisingan dendam yang sedang disiapkan oleh Arlan dan Maura di luar sana.
~~
Setelah sarapan romantis di balkon yang menghadap langsung ke jantung Jakarta, Adrian memanggil tim intelijen pribadinya ke ruang kerja penthouse.
Hana duduk di sampingnya, mengenakan kemeja putih Adrian yang terlihat sangat pas di tubuhnya, memberikan kesan seksi sekaligus berwibawa.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Adrian pada seorang pria berjas hitam di depannya.
"Semua sudah sesuai rencana, Pak. Sertifikat rumah utama Mahendra Group sebenarnya sudah masuk dalam jaminan utang pihak ketiga yang telah kita akuisisi. Besok pagi, tim juru sita sudah bisa bergerak untuk melakukan pengosongan rumah," lapor pria itu.
Hana menatap layar laptop yang menunjukkan foto rumah yang selama lima tahun ini menjadi tempat tinggalnya. Rumah yang penuh dengan kenangan pahit.
"Jadi, besok mereka tidak akan punya tempat tinggal lagi?" tanya Hana datar.
"Tepat sekali," sahut Adrian sambil menggenggam tangan Hana. "Arlan akan menyadari bahwa bermain-main denganmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dan untuk Maura... aku sudah menyiapkan kejutan khusus di klinik tempat dia biasa melakukan pemeriksaan kehamilannya."
Hana mengangguk. Tidak ada rasa kasihan sedikit pun. Baginya, ini adalah keadilan yang tertunda. Ia melirik Adrian, pria yang berdiri seperti karang kokoh melindunginya.
"Setelah semua ini selesai, aku ingin kita pergi jauh, Adrian. Menjauh dari semua drama ini," ucap Hana pelan.
Adrian menarik Hana ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan. "Ke mana pun kau ingin pergi, Hana, aku akan membawamu. Tapi sebelum itu, biarkan kita tonton babak terakhir dari runtuhnya kesombongan Arlan Mahendra."
~~
Matahari belum tinggi saat beberapa mobil petugas juru sita berhenti di depan rumah Mahendra. Arlan yang sedang dalam kondisi kacau mencoba melawan, namun ia tak berdaya saat melihat dokumen resmi penyitaan.
Maura berteriak histeris, mencoba menggunakan kehamilannya sebagai tameng agar tidak diusir.
Akankah Arlan sanggup menerima kenyataan bahwa ia kehilangan segalanya demi seorang Maura?
...----------------...
**Next Episode** ....
ya terimasaja jd keset laki lu sm maura trus jd pengasuh sekalian.
ingat jng minta cerai lagi ngisin ngisini wedok an labil.