NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pagi masih sangat buta ketika SUV putih milik Arlan meluncur membelah jalanan Jakarta yang belum terlalu padat.

Di kursi kemudi, Arlan sesekali bersenandung kecil. Wajahnya yang minggu lalu nampak kusam dan penuh beban, kini tampak segar dengan aroma parfum mahal yang menguar kuat.

Di kursi sampingnya, terdapat sebuah buket bunga tulip putih kecil, bunga favorit Hana yang baru saja ia ambil dari toko bunga yang buka dua puluh empat jam.

Arlan merasa seperti memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Keputusan Hana untuk mencabut gugatan cerai di Pengadilan Agama kemarin adalah kemenangan mutlak baginya.

Meski Adrian Gavriel sempat menatapnya dengan pandangan merendahkan di koridor pengadilan, Arlan tidak peduli. Baginya, Hana telah kembali ke dalam genggamannya.

Mobilnya berhenti di basement apartemen mewah itu. Ia melirik jam tangannya, pukul 06.15 WIB. Terlalu pagi bagi seorang CEO untuk memulai hari, namun Arlan tidak ingin melewatkan satu detik pun waktu jatah pagi bersama Hana.

Di lantai 12, Hana sudah bangun. Ia mengenakan gaun rumah berbahan sutra tipis dengan luaran kardigan rajut.

Wajahnya polos tanpa riasan, namun kecantikannya justru terpancar alami dalam ketenangan pagi. Aroma kopi dan tumisan bawang putih memenuhi ruangan saat bel pintu berbunyi.

Hana membuka pintu dan menemukan Arlan berdiri di sana dengan senyum lebar dan bunga di tangan.

"Pagi, Sayang," sapa Arlan antusias. Ia melangkah masuk tanpa menunggu undangan, seolah sedang memasuki wilayah kekuasaannya kembali. "Aku membawakan tulip untukmu. Dan lihat, aku datang lebih awal agar kita bisa sarapan lebih lama."

Hana menerima bunga itu dengan gerakan anggun, namun ekspresinya tetap datar. "Letakkan saja di meja, Mas. Aku sedang menggoreng nasi."

Arlan mengikuti Hana ke dapur. Ia duduk di kursi bar, memperhatikan setiap gerak-gerik Hana. Ada rasa kepuasan yang aneh saat melihat Hana kembali sibuk di dapur demi dirinya.

Baginya, inilah definisi keadilan yang ia janjikan, ia mendapatkan kenyamanan dari Hana, sementara ia tetap menjaga statusnya sebagai ayah dari anak yang dikandung Maura.

"Harum sekali," puji Arlan sambil menyesap kopi yang sudah disiapkan Hana. "Aku merindukan ini, Han. Sejak kamu pergi, masakan di rumah tidak pernah terasa benar. Maura... yah, dia bahkan tidak tahu bedanya garam dan gula jika tidak ada labelnya."

Hana mematikan kompor, memindahkan nasi goreng ke piring. "Jangan bandingkan aku dengan dia, Mas. Kita sudah sepakat, jangan bawa urusan rumah utama ke apartemen ini."

Arlan terkekeh, mengangkat kedua tangannya. "Maaf, aku hanya terlalu bahagia. Aku merasa hidupku kembali utuh. Aku berangkat ke kantor dengan energi penuh jika memulainya bersamamu."

Hana meletakkan piring di depan Arlan. "Makanlah. Kau harus segera ke kantor."

Sepanjang sarapan, Arlan tak henti-hentinya bicara tentang rencananya memperbaiki perusahaan, tentang proyek baru, dan betapa ia ingin Hana kembali membantunya dalam beberapa urusan strategis.

Hana hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Di mata Arlan, Hana sedang menunjukkan ketaatannya kembali. Namun, di balik mata jernih itu, Hana sedang menghitung mundur setiap kebohongan yang keluar dari bibir suaminya.

Kontras dengan kehangatan semu di apartemen Hana, suasana di meja makan rumah besar Mahendra terasa membeku.

Ibu Mira duduk dengan wajah masam, menatap piring roti bakarnya yang sudah dingin. Di sampingnya, Maura duduk dengan mata sembab.

Sejak Arlan rutin memulai paginya di apartemen Hana, rumah itu kehilangan sosok kepala keluarga saat sarapan. Arlan bahkan tidak menyentuh makanan yang disediakan di rumah.

"Mama tidak tahan lagi melihat Arlan seperti ini," keluh Ibu Mira, meletakkan garpunya dengan kasar. "Dia seperti orang yang kena guna-guna. Jam lima subuh sudah rapi, hanya untuk sarapan di sana? Apa bedanya nasi goreng Hana dengan masakan Bi Inah?"

Maura mengusap perutnya yang mulai menonjol, air matanya jatuh lagi. "Mas Arlan berubah, Ma. Dia bilang akan adil, tapi setiap pagi dia mengabaikan aku yang sedang mual-mual hebat ini. Dia lebih memilih melihat wajah wanita itu daripada memperhatikan perkembangan anaknya sendiri."

Maura merasa martabatnya diinjak-injak. Saat ia berhasil menyingkirkan Hana dari rumah ini, ia pikir ia sudah menang total. Namun ternyata, Hana yang berada di luar justru jauh lebih berbahaya dan menarik bagi Arlan daripada dirinya yang selalu ada di depan mata.

"Dia sengaja, Ma," bisik Maura dengan suara penuh kebencian. "Hana sengaja tidak mau balik ke rumah ini supaya Mas Arlan terus-menerus mengejarnya. Dia ingin membuat kita merasa tersisih di rumah kita sendiri."

Tepat saat itu, SUV Arlan memasuki halaman rumah. Arlan turun dengan langkah ringan, bersiul kecil sambil membetulkan dasinya. Ia masuk ke rumah hanya untuk mengambil tas kerja dan beberapa berkas yang tertinggal.

"Arlan!" panggil Ibu Mira dengan nada tegas.

Arlan menoleh, tersenyum tipis. "Oh, Mama sudah bangun? Maaf, Arlan buru-buru, ada rapat jam sembilan."

"Kamu tidak sarapan di rumah?" tanya Ibu Mira, matanya melirik ke arah Maura yang nampak memprihatinkan.

"Arlan sudah kenyang, Ma. Masakan Hana tadi enak sekali," jawab Arlan tanpa beban, sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati Maura.

Arlan menghampiri Maura, mengecup keningnya sekilas, sebuah kecupan formalitas yang terasa hambar. "Jaga kesehatan ya, Maura. Nanti malam aku pulang agak larut, ada makan malam bisnis. Jangan menungguku."

Tanpa menunggu jawaban, Arlan melenggang pergi. Suara deru mobilnya menjauh, meninggalkan keheningan yang lebih menyakitkan bagi dua wanita itu.

Di kantornya, Arlan merasa di puncak dunia. Ia menelepon Dani dengan suara penuh kemenangan. "Dani, batalkan semua rencana hukum tambahan. Hana sudah mencabut gugatannya. Semuanya terkendali sekarang. Aku berhasil menjinakkan kedua singa itu."

Namun, di apartemen lantai 12, singa yang dimaksud Arlan sedang tidak merasa dijinakkan.

Begitu Arlan pergi, Hana segera bersiap menuju perusahaan Adrian, tempatnya bekerja.

Malam harinya, Arlan pulang ke rumah dengan wajah lelah. Namun, ketenangan yang ia cari tidak ia temukan. Begitu ia masuk, Maura sudah berdiri di tengah ruangan dengan koper di sampingnya.

"Apa lagi ini, Maura?" tanya Arlan jengkel.

"Pilih, Mas," ucap Maura dengan mata menyala. "Pagi ini atau malam ini? Kalau besok pagi kamu masih pergi ke apartemen itu untuk sarapan, aku akan pergi dari rumah ini dan menggugurkan bayi ini! Aku tidak peduli lagi!"

"Jangan gila, Maura! Itu anakku!"

"Anakmu?! Kamu bahkan lebih peduli pada nasi goreng Hana daripada kesehatan anakmu sendiri! Kamu bilang akan adil, tapi kamu memperlakukan aku seperti pajangan!" Maura berteriak histeris, membuat Ibu Mira keluar dari kamar dengan cemas.

Arlan memijat pelipisnya. Di satu sisi ada Hana yang memberinya ketenangan dan status sosial yang stabil, di sisi lain ada Maura dengan benih Mahendra di rahimnya. Ia merasa sedang berdiri di atas jembatan tali yang mulai putus satu per satu.

"Baiklah! Besok pagi aku sarapan di rumah!" bentak Arlan demi menenangkan suasana.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita lihat nanti di Up selanjutnya yaaa...

...----------------...

**Next Episode** ....

​"Halo, Pembaca Setia! Ada kejutan manis nih buat kalian di hari Minggu nanti.

Sebagai bentuk cinta dari Miss Ra, akan ada hadiah spesial bagi kamu yang nggak pernah absen ngikutin lika-liku kisah Arlan dan Hana.

Jangan sampai lolos ya, pantengin terus setiap episodenya! Jangan lupa tinggalkan jempol kalian di setiap Episode! Siapkan diri kalian dan sampai jumpa di hari Minggu!"

​See you there ...!"

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!