"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Kota Medan. Pukul 23.45 WIB.
Hujan deras mengguyur Kota Medan malam itu, menyamarkan isak tangis langit yang seolah mewakili perasaan Alsava. Di dalam mobil sedan hitam yang ia kendarai sendiri, Sava menatap nanar ke arah gedung Rumah Sakit Columbia Asia yang berdiri kokoh di kejauhan.
Sava tidak bisa tidur. Bayangan surat cerai yang disobek dan klaim kehamilan Shila terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia harus tahu kebenarannya. Ia tidak bisa membiarkan narasi hidupnya ditentukan oleh wanita seperti Shila atau oleh diamnya Garvi yang sedang koma.
Sava memasuki lobi rumah sakit dan Sava melangkah dengan bahu yang terasa seberat timah. Seharian ini, ia telah memeras seluruh energinya untuk menjaga stabilitas Skyline Group. Menghadapi dewan komisaris yang mulai bertanya-tanya tentang keberadaan Garvi, meninjau laporan keuangan yang menumpuk, hingga menangkis rumor miring yang mulai beredar di kalangan elit Medan. Sebagai COO, ia tidak punya kemewahan untuk menangis. Ia harus tetap menjadi Alsava yang tegas, tinggi semampai dengan langkah mantap, seolah-olah dunianya tidak sedang runtuh.
Namun, begitu ia sampai di depan pintu kamar 901, pertahanannya mulai retak. Ia menarik napas dalam, membetulkan letak blazer-nya, lalu mendorong pintu itu pelan.
"Roy?" panggil Sava pelan saat melihat asisten suaminya itu tertidur di sofa samping ranjang Garvi. Wajah asisten pribadi suaminya itu tampak kusam, menunjukkan bahwa ia tidak beranjak sedetik pun dari sisi Garvi.
Roy tersentak bangun, wajahnya tampak sangat lelah. "Nyonya Sava? Selamat malam, Nyonya."
Sava hanya mengangguk pelan. Matanya langsung tertuju pada sosok pria yang terbaring di ranjang. Garvi. Pria yang biasanya begitu mendominasi, penuh karisma manipulatif, kini tampak tak berdaya di bawah lilitan selang medis. Wajah rupawan bak dewa Yunani itu masih pucat, tertutup masker oksigen yang berembun setiap kali ia bernapas secara mekanis.
"Ini yang saya katakan tadi di telepon, Miss," ucap Roy memecah keheningan. Ia menyodorkan sebuah kantong transparan kecil di atas meja nakas.
Tangan Sava sedikit gemetar saat mengambil isi kantong itu. Di telapak tangannya kini tergeletak sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru merah maroon yang sangat mewah. Di sampingnya, terdapat dua potong kertas yang sudah sobek menjadi dua bagian.
Sava menatap sobekan kertas itu dengan mata yang mulai memanas. Itu adalah surat permohonan cerai yang ia berikan pada Garvi. Tanda tangan Garvi ada di sana—coretan tinta hitam yang sangat tegas, namun kertas itu dipaksa terbagi dua, seolah-olah si penandatangan sedang berperang dengan amarahnya sendiri saat melakukannya.
"Dia menandatanganinya, Roy..." suara Sava bergetar, hampir seperti bisikan. "Tapi dia juga merobeknya. Apa maksudnya ini? Apa dia ingin membebaskanku, atau justru ingin mengikatku lebih kuat dalam permainannya?"
Sava kemudian membuka kotak beludru itu. Sebuah cincin berlian dengan desain eternity ring berkilau terkena lampu ruangan. Desainnya sangat indah, jauh lebih indah dari cincin pernikahan yang saat ini masih melingkar di jari manis Sava.
Sava mendongak, menatap Roy dengan tatapan yang sangat lelah. "Roy, jujur padaku. Selama ini aku selalu menutup mata dan telinga tentang apa pun yang dilakukan Mr. Garvi di luar sana. Aku membiarkan dia dengan dunianya, karena aku pikir itu adalah harga yang harus kubayar untuk pernikahan bisnis ini. Tapi..."
Sava menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tersumbat. "Tentang Shila... tentang pesan-pesan gelap yang sering masuk ke ponselku, tentang klaim kehamilan yang dia ucapkan tadi pagi... apakah menurutmu pengkhianatan yang dilakukan suamiku itu adalah benar?"
Roy terdiam. Ia menatap Garvi, lalu kembali menatap Sava. Sebagai orang yang paling lama mendampingi Garvi, Roy tahu rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
"Nyonya Sava," ucap Roy dengan nada serius namun lembut. "Saya tidak punya wewenang untuk menjelaskan apa yang terjadi di antara Mr. Garvi dan wanita-wanita di masa lalunya. Tapi satu hal yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri selama bertahun-tahun ini... Mr. Garvi mencintai Anda lebih dari apa pun. Bahkan mungkin lebih dari nyawanya sendiri."
Sava tertawa hambar. Tawa yang penuh dengan kepahitan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut brunette curly-nya menutupi wajahnya. Ia memijat keningnya yang terasa berdenyut sakit.
"Mencintaiku?" tanya Sava lirih. "Kalau dia sangat mencintaiku, kenapa selalu rasa sakit yang dia berikan, Roy? Kenapa dia harus memata-matai setiap langkahku seolah aku ini tawanan? Kenapa dia harus membuatku merasa tidak berharga dengan membiarkan wanita-wanita itu menggangguku?"
Sava mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Roy melihat air mata jatuh di pipi nyonya mudanya yang biasanya sedingin es itu.
"Apakah aku begitu pantas untuk disakiti? Jujur, aku sangat lelah, Roy. Aku lelah menjadi kuat, aku lelah menjadi COO yang sempurna di depan orang lain sementara di rumah aku hanya menjadi pajangan yang dikendalikan oleh suamiku sendiri."
Sava menarik napas tersengal. "Mungkin... kalau memang ada wanita lain yang bersedia berada di sampingnya, yang bisa membuat dia bahagia tanpa harus menjadi posesif dan manipulatif, aku akan mempersilahkannya. Aku akan memberikan jalan seumur hidup untuk mereka, asal aku bisa bebas dari rasa sesak ini."
Roy terpaku. Ia melihat kerapuhan yang luar biasa dari sosok Sava. Kerapuhan yang selama empat tahun ini tidak pernah ditunjukkan pada siapa pun, termasuk pada Garvi. Di mata Roy, Sava bukan lagi seorang COO yang tangguh, melainkan seorang wanita yang hatinya sudah hancur berkeping-keping.
"Jangan katakan itu, Nyonya..."
Sava hanya menggeleng lemah. Kakinya perlahan melangkah menuju nakas di samping tempat tidur. Di sana, di dalam sebuah kantong plastik transparan milik kepolisian, terletak barang-barang pribadi Garvi saat kecelakaan terjadi.
“Itu adalah barang pribadi yang polisi temukan, Nyonya. Ada ponsel Tuan Garvi juga.”
Sava mengambil ponsel Garvi. Layarnya retak, namun masih bisa menyala. Ia mencoba memasukkan kode kunci. Ia mencoba tanggal pernikahan mereka—salah. Ia mencoba tanggal lahirnya—salah. Kemudian, dengan tangan gemetar, ia mencoba tanggal pertunangan mereka.
Klik.
Ponsel itu terbuka.
Sava segera membuka folder rekaman suara. Ia tahu Garvi memiliki kebiasaan merekam ide bisnis atau pengingat saat menyetir. Ada sebuah rekaman tertanggal kemarin sore, pukul 15.15 WIB.
Sava menekan tombol play.
Suara bariton Garvi terdengar di speaker ponsel, namun suaranya tidak tenang seperti biasanya. Suara itu terdengar sangat hancur, bercampur dengan deru mesin mobil yang dipacu dalam kecepatan tinggi.
"Aku sudah menandatanganinya, Ave... aku sudah melakukannya. Sial! Tanganku gemetar hanya untuk menulis namaku sendiri di kertas sialan ini!" Terdengar suara pukulan keras pada setir mobil dalam rekaman itu.
"Kamu bilang aku tidak pernah berkaca? Aku sudah melihatnya, Ave. Aku melihat pria brengsek di cermin itu. Pria yang sangat mencintaimu tapi terlalu bodoh untuk mengakuinya. Pria yang takut kehilanganmu sampai harus menyakitimu agar kamu tetap menoleh padaku."
Sava membekap mulutnya, tangisnya pecah di samping tubuh suaminya yang tak berdaya.
Rekaman pukul 01.00 dini hari.
"Shila terus menghubungiku, dia mengancam akan datang ke kantor jika aku tidak menemuinya. Dia bilang dia punya 'kejutan' untuk menghancurkan pernikahan kita. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menemuinya hanya untuk mengakhiri semuanya, Ave. Aku akan menunjukkan surat cerai yang sudah aku sobek ini padanya, untuk membuktikan bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu... bahkan jika aku harus kehilangan segalanya."
Suara derit ban mobil yang beradu dengan aspal terdengar sangat nyaring di rekaman itu.
"Tunggu aku, Ave... Aku akan pulang dan memintamu memanggilku 'Mas' sekali lagi, tanpa paksaan... Aku menyayang—"
BRAKKKK!!!!
Suara benturan logam yang sangat keras memutus rekaman itu. Diikuti oleh suara hening yang panjang dan mencekam.
Sava menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Seluruh tubuhnya lemas, ia jatuh terduduk di samping ranjang Garvi, menggenggam tangan suaminya yang dingin dengan kedua tangannya.
Beep... Beep... Beep-Beep-Beep!
Sava membeku. Ia dan Roy serentak menoleh ke arah ranjang.
Jari tangan Garvi yang tadinya kaku, kini tampak bergerak sedikit. Masker oksigennya berembun lebih tebal, dan kelopak mata pria itu bergetar hebat.
"Mr. Garvi?!" seru Roy panik sambil menekan tombol darurat.
Sava terpaku di tempatnya. Ia melihat air mata mengalir dari sudut mata Garvi yang masih terpejam. Pria itu menangis dalam ketidaksadarannya.
Tiba-tiba, tangan Garvi yang terpasang infus bergerak secara impulsif, mencoba meraih ke arah udara, dan secara mengejutkan... tangannya mencengkeram pergelangan tangan Sava dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi seseorang yang sedang koma.
Sava tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap wajah Garvi yang tampak meringis kesakitan, sementara monitor jantung terus berbunyi nyaring.
"Ave..."
Suara itu sangat lemah, hampir seperti hembusan angin, namun sangat jelas terdengar di telinga Sava. Garvi menyebut namanya. Pria itu menyebut nama rumahnya di tengah ambang maut.
"Mas Garvi?" bisik Sava tak percaya.
Namun, sebelum Garvi benar-benar membuka matanya, pintu ruangan terbanting terbuka. Tim medis masuk dengan terburu-buru, mendorong Sava dan Roy menjauh.
"Pasien mengalami lonjakan tekanan darah mendadak! Siapkan sedasi!" teriak dokter.
Sava ditarik mundur oleh Roy, namun matanya tetap terkunci pada tangan Garvi yang perlahan-lahan lemas dan terlepas dari pergelangan tangannya. Di tengah kekacauan medis itu, Sava melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
***