Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Sore dan Rintikan Hujan
Tidak lama setelah pembicaraan telepon yang singkat namun membakar semangat itu berakhir, ponsel Vilov kembali bergetar. Sebuah notifikasi dari Tije muncul, mengirimkan titik lokasi sebuah kafe yang biasa mereka datangi untuk sekedar nongkrong. Namun, ada satu kalimat tambahan di bawah lokasi tersebut yang membuat dahi Vilov mengerut.
"Udah yee lokasinya. Oh ya, kumpulnya sore ya jadinya, jam empatan. HAHA!" pesan Tije diakhiri dengan tawa mengejek.
Vilov yang tadinya sudah memegang sisir dan siap untuk melakukan transformasi kecantikan mendadak terhenti. Ia melempar sisirnya ke atas kasur dengan wajah cemberut. "Dih! Baru juga gue mau dandan yang cantik, tahunya sore nanti kumpulnya. Tije bener-bener ya, bikin orang senam jantung dari pagi," gerutu Vilov kesal dalam hati.
Meskipun masih beberapa jam lagi, semangat Vilov tidak lantas padam. Ia bangkit dari kasurnya dan menghampiri lemari pakaian besarnya. Ia mulai memilah-milih koleksi bajunya, mengacak-acak tumpukan kain yang biasanya ia biarkan berantakan.
"Aduh... pakai baju apa ya gue ini? Masa pakai jersey lagi? Kan judulnya mau main santai," ucap Vilov pada dirinya sendiri. Ia mengambil satu per satu baju, mencocokkannya di depan cermin, lalu melemparnya kembali jika dirasa kurang pas. Setelah perdebatan panjang dengan diri sendiri, ia akhirnya memilih sebuah atasan simpel dengan warna soft yang kalem namun tetap memberikan kesan manis. Ia memisahkan baju itu dengan hati-hati dan menaruhnya di atas meja rias, lengkap dengan aksesoris kecil yang akan ia pakai nanti.
Karena merasa masih memiliki banyak waktu panjang, Vilov memutuskan untuk merebahkan diri kembali di atas kasurnya. Rasa kantuk sisa panik tadi pagi ternyata masih tersisa. Tak lama, ia pun kembali terhanyut ke alam mimpi.
Beberapa saat kemudian, Mama Vilov masuk ke dalam kamar dengan niat mengajak anaknya makan siang. "Vil, nggak makan dulu?" tanya Mamanya lembut. Namun, langkah Mamanya terhenti. Ia terkejut melihat putrinya sudah kembali meringkuk di bawah selimut dengan posisi tidur yang sangat nyenyak. Mama Vilov hanya bisa tersenyum simpul dan menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu, lalu menutup pintu kamar kembali dengan pelan agar tidak mengganggu istirahat sang pahlawan hockey tersebut.
Waktu terus bergulir tanpa disadari oleh Vilov. Dari jam sembilan pagi hingga jam tiga sore, ia benar-benar menghabiskan waktunya di atas kasur. Tidurnya sangat lelap, seolah sedang membayar tuntas seluruh rasa lelah selama turnamen kemarin. Mama Vilov yang mulai khawatir karena anaknya belum mengisi perut sejak pagi pun kembali masuk dan mencoba membangunkan anaknya.
"Vil, bangun Vil... Hey, udah sore," ucap Mamanya sambil menepuk pelan pundak Vilov.
Vilov mengeliyat, lalu mencoba mengumpulkan kesadarannya itu . "Iya, Mah..." ucap Vilov serak sambil mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat.
"Kamu belum makan loh dari pagi. Makan dulu sana, nanti sakit perutnya," tegur Mamanya dengan nada penuh perhatian.
"Iya, Mah... Vilov baru tidur lagi ini. Rasanya enak banget tidurnya. Emang udah jam berapa sekarang, Mah?" tanya Vilov sambil menguap lebar.
"Sudah jam tiga ini, Nak... Ya ampun, kamu tidur udah kayak orang pingsan aja," ucap Mamanya geleng-geleng kepala.
Mendengar angka "jam tiga", Vilov langsung tersentak kaget. Ia segera menyambar ponselnya untuk memastikan. "Ah serius mah! Ya ampun, Mah! Hahaha, kok bisa sih tidurnya selama itu? Benar kata Mama, ini mah kayak pingsan bukan tidur lagi," ucap Vilov sambil tertawa renyah. Ia segera beranjak menuju ruang makan dengan langkah gontai, menyantap makanan yang sudah disiapkan Mamanya dengan lahap.
Setelah perutnya terasa kenyang dan kesadarannya pulih 100 persen, Vilov tanpa basa-basi langsung mencari nama Putra di kontak ponselnya. Ia ingin memastikan apakah cowok itu benar-benar akan datang ke acara kumpul-kumpul nanti sore.
"Halo, Put... Lu pergi main kan nanti bareng Tije dan yang lainnya?" tanya Vilov langsung saat panggilan tersambung.
Di seberang sana, terdengar suara Putra yang juga terdengar malas. "Enggak tahu, Vil... Malas banget gue aslinya. Capek, pengen di rumah aja."
Vilov langsung memutar bola matanya. "Dih! Kalau lu nggak ikut, gue juga nggak ikutlah! Males amat kalau nggak ada teman debat di sana," ucap Vilov frontal seperti biasanya.
Putra terdengar tertawa kecil di seberang telepon. Tawanya terdengar renyah dan sedikit menggoda. "Ohhh... Jadi lu mau ikut kalau ada gue-nya aja nih? Hahaha, hayo ngaku lu..."
Wajah Vilov mendadak panas. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan malu agar suaranya tidak terdengar gemetar. "Bukan... Bukan gitu ih! Jangan kepedean lu jadi orang!" bantah Vilov, meskipun ia tahu bantahannya itu terdengar sangat lemah.
Saat mereka masih asyik bertelponan, Vilov berjalan dari meja makan menuju teras depan rumah untuk menghirup udara segar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di langit. Gumpalan awan hitam pekat berarak menutupi sinar matahari sore.
"Gelap amat ya langitnya, Put," ucap Vilov sambil menatap ke atas.
"Iya, di sini juga gelap. Hujan kayaknya sebentar lagi," sahut Putra pelan.
Benar saja, hanya beberapa detik setelah Putra bicara, rintik air mulai turun satu per satu hingga dalam hitungan menit berubah menjadi hujan deras yang mengguyur bumi. Suaranya menderu di atas atap rumah, menciptakan suasana yang mendadak dingin dan syahdu.
"Ih, beneran hujan deras, Put! Lu pasti udah doa ya supaya nggak jadi keluar? Ngaku lu!" tuduh Vilov sambil tertawa, meski ada sedikit rasa kecewa karena rencana bertemu Putra mungkin terancam batal.
Putra tertawa menanggapi tuduhan itu. "Hahaha, ya udah sih, nggak jadi keluar juga nggak apa-apa kan? Lagian masih bisa telponan begini kita. Malah lebih enak, nggak berisik."
Percakapan telepon mereka pun berlanjut cukup lama. Hujan di luar seolah menjadi latar musik bagi candaan dan ledekan yang tak ada habisnya di antara mereka berdua. Vilov merasa waktu berjalan begitu cepat saat berbicara dengan Putra, rasa kantuknya hilang sepenuhnya digantikan oleh perasaan hangat yang menjalar di hatinya.
Beberapa saat setelah telepon ditutup karena Putra harus membantu ibunya, sebuah pesan masuk dari Tije di grup WhatsApp mereka.
"Vil, ini hujan deras banget. Tetap jalan nggak?" tanya Tije.
"Kaga ah! Mager gue kalau hujan gini," balas Vilov cepat.
Tak butuh waktu lama bagi Tije untuk membalas secara pribadi ke nomor Vilov. "Curiga gue... Lu udah janjian sama Putra buat nggak ikut ya? Soalnya Putra juga barusan bilang nggak bisa datang."
Vilov tersenyum lebar menatap layar ponselnya. Ia tidak menyangka Tije sepeka itu. "Hahaha! Ihhh... Kok lu kayak dukun sih? Tahu-tahuan aja!" goda Vilov balik.
Ia kembali merebahkan dirinya di sofa teras, mendengarkan suara hujan yang masih menderu. Meskipun rencana main sore itu batal, bagi Vilov, mendengarkan suara Putra lewat telepon selama hampir satu jam sudah lebih dari cukup untuk membuat liburannya terasa sempurna.