Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
"Kamu makan ini dulu, Carol." John mengeluarkan beberapa makanan dari dalam karung. Ada susu, telor dan beberapa camilan coklat, biskuit, sereal
"Om, apa-apaan ini. Banyak sekali? Om dapat darimana?" Zach heran melihat tingkah John. Yang membawakan banyak makanan.
"Om ambil dari mini market sekitar sini. Sudah ditinggalkan pemiliknya. Carol butuh makanan untuk bayinya itu. Janinnya itu bukan janin biasa, Zach. Lihat, tubuh Carol semakin kurus dalam waktu singkat.
"Apa tidak ada makanan lain Om, yang lebih sehat dan bergizi?" protes Zach.
"Ini bukan keadaan normal, Zach. Penginapan ini tidak menyediakan makanan. Tidak ada aktivitas di dapur mereka. Kamu rebus saja telor-telor itu. Kebetulan Om menemukan kompor listrik."
"Kok tidak ada Om? Bukankah ini penginapan. Masa tidak menyediakan makanan untuk tamu."
"Semua tamu sudah pergi. Menghilang entah kemana. Kita juga harus segera pergi dari sini. Om curiga sepertinya sesuatu akan terjadi."
"Oh ya, Om pergi dulu menemui seseorang. Apakah dia juga ikutan pergi, meninggalkan tempat ini." John bergegas keluar kamar. Menuju kamar Vincent. John mengetuk pintu kamar itu. Tapi tidak ada sahutan.
John menunggu beberapa saat. Lalu memutar handel pintu. Ternyata pintu tidak terkunci. Didorongnya pintu itu. Alangkah terkejutnya John saat melihat Vincent terbaring di tempat tidur dengan kondisi tubuh bersimbah darah.
Kamarnya berantakan sekali! Buru-buru John menutup kembali pintu. Dan hendak melaporkan kejadian itu.
Di koridor John berpapasan dengan seorang pelayan.
"Dek, sini dulu?" tegur John bergegas menghampirinya.
"Ada apa Om?"
"Barusan aku ke kamar temanku tapi aku melihat sesuatu telah terjadi di kamarnya."
"Maksud Om?" pelayan itu menatap John bingung.
"Ayo kita lihat. Tapi sebaiknya kita lapor dulu pada manajermu." pelayan itu segera membawa John ke ruang manajernya.
"Ada apa Pak?" Roby sang manajer keheranan melihat kedatangan John dan karyawannya.
"Saya mencari teman saya, Pak. Lalu saya ke kamarnya tapi aku melihat kamarnya berantakan sekali. Sesuatu telah terjadi padanya."
"Oh, Bapak yakin? Kamar nomor berapa Pak?"
"Saya tidak lihat nomornya. Tapi kamarnya di sebelah Utara dekat taman."
"Oke, kita periksa kesana Pak. Anwar, panggilkan satpam." perintah sang manajer ke pelayan. Ketiganya keluar dari ruang manajer. Mereka menuju kamar yang disebut John. Sementara Anwar memanggil satpam.
"Ini kamarnya Pak?" John mengangguk. Satpam yang dipanggil Anwar sudah tiba. "Coba buka pintunya, Pak!" titah sang manajer ke salah satu satpam.
"Pintunya tidak dikunci Pak. Saat saya mengetuk pintunya langsung terbuka." Satpam itu memegang handel pintu dan menggoyangnya. Pintu itu rapat terkunci.
"Terkunci Pak?" sahut satpam.
John heran dan mencoba membuka pintu. Diperhatikannya pintu itu dengan seksama, mungkin saja salah kamar.
"Ayo buka Pak!" anak kunci diputar. Lalu pintu kamar terbuka lebar-lebar. Suasana dalam kamar rapi, tidak seperti yang disebutkan John. Bahkan kamar itu tampak berdebu. Artinya kamar itu sudah lama kosong.
"Kok bisa begini, Pak?" tatap John curiga.
"Kamar ini sudah lama kosong Pak. Tidak pernah lagi dihuni sejak setahun yang lalu." jelas sang manajer.
"Tidak mungkin. Baru semalam aku bertemu dengan yang menyewa kamar ini. Dia ajak aku ke kamarnya. Kami bahkan ngobrol lama sekali." beliak John heran.
"Saya tidak bohong Pak. Kenyataannya Bapak lihat sendiri kan? Kamar ini kosong. Mungkin Bapak memang telah diganggu arwah penghuni kamar ini. Itulah sebabnya kamar ini dikosongkan. Sejak kejadian tragis itu, hal-hal aneh sering terjadi di kamar ini."
"Ada kejadian apa di kamar ini. Semua yang kualami semalam begitu nyata. Bahkan aku juga sempat masuk ke ruang bawah tanah kalian. Di sana semalam sedang berlangsung ritual pemujaan setan." bisik John pada manajer.
"Gila! Bapak jangan asal tuduh! Mana ada ruang bawah tanah di penginapan ini. Semalam juga tidak ada tamu yang menginap. Kecuali Bapak." sang manajer menatap tajam pada John.
"Jelas-jelas aku menyaksikan banyak orang yang berdatangan. Mereka memakai kostum yang sama. Jubah yang memakai tudung kepala!" sentak John.
"Sebentar Pak, sebaiknya kita bicara di ruangan saya." Roby sang manajer menyuruh satpam menutup pintu kamar itu. Mengajak John ke ruangannya. Karena apa yang barusan dijelaskan John mengingatkannya ke masa lalu.
Setelah menutup pintu dan memastikan tidak ada yang akan menguping pembicaraan mereka Roby, mengajak John duduk di sofa.
"Pak, apa benar semalam Bapak melihat penampakan orang-orang seperti yang Bapak ceritakan tadi?" tanya Roby dengan mimik serius. Jelas di wajahnya terlihat rasa takut sekaligus penasaran.
"Kamu pikir aku mengigau ya?"
"Bukan itu. Bapak sudah lihat sendirikan, kalau kamar itu sudah lama tidak dihuni. Cerita Bapak tentang kejadian semalam itu juga tidak masuk akal. Penginapan ini adalah milik kakekku." Roby bangkit dari duduknya. Berjalan ke sudut ruangan. Diamana ada lemari kecil yang menyimpan beberapa album.
Di depan John album itu dibuka Roby. Menunjukkan sebuah foto yang membuat John kaget. "Apakah pria dalam foto itu yang Bapak lihat di kamar itu?"
John menatap tajam ke arah Roby sebelum menjawab. "Iya, pria itu." jawab John yakin. Lalu Roby juga menunjukkan foto yang lain. Tentang Vincent.
"Pria ini tahun lalu, meninggal mengenaskan di kamarnya. Itulah sebabnya kamar itu di tutup. Karena sering mengganggu tamu yang menginap disana. Polisi tidak berhasil mengungkap kasus kematiannya yang tragis. Lehernya nyaris putus waktu itu. Entah siapa pelakunya, masih misterius sampai sekarang." Roby menjelaskan semuanya kepada John.
John terhenyak. Bagaimana bisa pria yang sudah meninggal setahun lalu bisa menampakkan diri padanya? Terlihat begitu nyata. Mereka mengobrol panjang lebar. Memang ada yang aneh malam itu. Semudah itu Vincent menceritakan tentang sekte yang dia selidiki. Padahal mereka baru bertemu.
"Katanya dia seorang wartawan. Sedang mencari adik perempuannya yang hilang. Dia bergabung dengan aliran sekte pemuja setan. Ternyata dia sudah meninggal. Semalam kejadiannya begitu nyata." John berdiri menghembuskan nafasnya seolah membuang bebannya yang menyesakkan.
"Sekte pemuja setan? Maksud Bapak apa?" Roby sangat kaget mendengar ucapan John.
"Katanya ada aliran sesat yang menargetkan kota ini, sebagai basis mereka sebagai tempat melaksanakan ritual persembahan. Dan sekarang kota ini tengah dilanda wabah yang aneh. Tetapi pemerintah seolah menutupinya. Tidak ada peringatan."
"Mereka tengah mencari darah tumbal untuk kurban persembahan, membuka portal. Memanggil iblis dari neraka! Dan ini sudah lama dimulai. Menurut ramalan mereka kurban persembahan itu ada di kota ini. Jadi apa yang saya lihat semalam hanyalah peringatan. Kalau waktunya sudah dekat."
"Stop Pak. Bapak jangan menakut-nakuti saya." Roby bergidik ngeri mendengar penjelasan John yang menurutnya tidak masuk akal.
"Apakah kamu memang tidak tau atau pura-pura tidak tau. Kalau kota sebelah sudah terserang wabah? Penduduknya tiba-tiba berubah jadi manusia kera karena wabah yang belum diketahui apa penyebabnya?" John marah melihat sikap Roby yang menurutnya terlalu tenang. ***
"