Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengalah
Mereka berbincang cukup lama. Putra Mahkota bercerita tentang kelas strategi militer yang di jalaninya beberapa bulan ini, tentang perdebatan para menteri, dan tentang rencana festival musim semi yang akan datang.
Ruoling mendengarkan sambil menyesap teh hangat yang disiapkan pelayan dengan sesekali menanggapi, tertawa atau terseyum karna adiknya menikmati kesibukannya akhir-akhir ini.
“Dan kau?” tanya Putra Mahkota akhirnya, membuat Ruoling mengangguk. "Tapi kenapa kau bersikap tidak tahu apapun?"
"Supaya kau banyak bercerita," ungkapnya sambil memasang wajah tanpa dosa. "Tapi kau hebat di sela kesibukanmu masih bisa bersantai seperti ini."
"Aku masih manusia biasa yang harus punya waktu bersantai," balas Putra mahkota. "Sementara kau apa yang kau lakukan selama kita tidak bertemu? Selain menjalani hukuman itu tentu saja."
Ruoling mengangkat rambutnya yang panjang ke belakang bahu, gerakannya anggun tapi tampak sedikit lelah. "Apakah kau tidak merasa aku semakin cantik?"
"Biasa saja," balas Zhiyuan setelah mengamati Ruoling cukup lama.
"Biasa saja?" Ruoling menatap adiknya tidak percaya. "Selama sebulan penuh aku rutin melakukan perawatan karna saran dari seorang Tuan Putri dari kerajaan seberang, meraka berkata di tempatnya ada bahan-bahan yang bisa membuat seorang wanita semakin cantik. Lalu aku meminta apoteker membuatkannya dan hasilnya cukup memuaskan."
"Jadi tidak benar-benar bagus?" Balas Zhiyuan. "Jangan bilang Tuan Putri itu berbohong?"
"Dia tidak berbohong hanya saja aku merasa aku sudah cantik jadi mengunakan perawatan apapun hasilnya akan tetap sama saja." Kata Ruoling dengan percaya diri, membuat putra Mahkota menggeleng pelan.
Tapi Long Ruoling yang di kenal Long Zhiyuan dari kecil memang seperti ini hingga dirinya senang karna saudaranya tidak banyak berubah di tengah banyaknya masalah yang menimpanya.
"Tapi aku penasaran, hukuman apa lagi yang di berikan Ibunda padamu?" Tanya Zhiyuan tiba-tiba saja.
"Mudah saja, dari mengerjakan tugas pelayan yang sudah aku sakiti. Dua tugas sekaligus, tapi anehnya aku malah menikmati salah satu tugasnya."
“Dua? Aku harus bicara dengan Ibunda kalau—”
“Jangan!" Ruoling menggeleng. “Permaisuri sudah cukup baik padaku. Aku tidak ingin terlihat seperti memanfaatkan posisinya.”
Putra Mahkota terdiam sejenak, mengerti maksudnya. Ruoling tidak ingin kelihatan manja atau karna posisinya membuat segala hal yang di lakukan di kerajaan di menormalisasikan.
Saudara perempuannya juga sadar akan kesalahan serta tidak ingin terlihat seperti beban dan yang paling penting tidak ingin membuat Permaisuri, wanita yang sebenarnya baik padanya, dipandang pilih kasih.
Namun sebelum percakapan mereka lebih lebih jauh, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari arah lorong. Suara lembut seorang pelayan perempuan terdengar gugup.
“Yang Mulia, Putri Ruoyi datang.”
Baik Putra Mahkota atau Ruoling terdiam bersamaan dengan suara langkah kecil terdengar semakin mendekat, lalu muncullah Ruoyi dari balik pilar batu putih.
Ruoyi mengenakan jubah merah muda lembut dengan sulaman bunga peony. Wajahnya manis, sikapnya lembut, kecuali jika berhadapan dengan Ruoling.
Begitu melihat Ruoling duduk santai di kursi taman bersama Putra mahkota, mata adiknya itu langsung mengeras.
“Kenapa anak pembunuh ini ada di sini?” katanya tanpa menunggu. “Kau datang untuk apa? Untuk meracuni Kakak?”
Nadanya dingin, bahkan menusuk.
Para pelayan menunduk cepat-cepat, takut situasinya memburuk. Putra Mahkota langsung bangkit, wajahnya menggelap.
“Ruoyi, jaga bicaramu!”
Namun Ruoyi tetap menatap Ruoling, matanya penuh kebencian yang ditutupi senyum polos.
“Semua orang tahu apa yang ibumu lakukan. Kau tidak malu masuk ke sini?”
Ruoling ingin marah, Ingin membalas, ingin mengatakan ribuan kata, tapi ia sadar semua itu tidak ada gunanya.
Selain itu ia tidak ingin bertengkar di hadapan Putra Mahkota. Biarlah di mata semua orang lain dirinya terlihat buruk tapi tidak di mata orang-orang yang tulus menyayanginya.
Jadi Ruoling memilih mengalah, berdiri perlahan sambilmerapikan jubahnya, menunduk sopan ke arah Putra Mahkota.
“Maaf, Yang Mulia. Aku pamit.”
“Jangan..." Putra Mahkota mencoba menahan, tapi Ruoling tersenyum tipis.
“Karna ada tamu yang datang aku lebih baik kembali ke kediamanku saja."
"Kau pikir dengan bersikap–"
"Jaga sopan santumu, Ruoyi!" Bentak Zhiyuan dengan aura seorang putra mahkotanya, membuat semua orang yang ada di sana terdiam ketakutan termasuk Ruoling.
"Kita bisa bicara lagi lain waktu, Putra mahkota." Kata Ruoling lalu membungkuk sopan dan pergi meninggalkan taman berserta kedua adiknya.