NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab4

Malam sudah menjemput, di sudut teras, Alya duduk sambil menatap langit yang dipenuhi dengan bintang, suara desir air yang mengalir di selokan depan rumah terdengar lirih menghangatkan hati.

Ia baru dua hari tinggal di sini, namun kota kecil ini begitu cepat membuatnya lupa akan kesedihan yang melanda.

  "Aku sekarang happy tanpa mau tahu lagi bagaimana keadaan mereka yang di sana," gumannya sambil menatap rembulan sabit yang melengkung seperti senyuman bibirnya.

  Dari arah dalam langkah kaki terdengar. Halimah ia sedang membawa nampan berisi kopi hitam lalu disodorkan pada temannya itu.

  "Al, ini kopinya," ujarnya pelan dengan senyumnya yang khas.

  "Makasih Lim," sahut Alya.

  Halimah memperhatikan sahabatnya itu yang sedang termenung, sambil sedikit senyum entah apa yang sedang ia pikirkan.

  "Ngelamun baen ya," celetuk Halima. (Melamun terus ya)

  "Enggak kok, aku gak ngelamun," elak Alya.

  "Terus," sahut Halima.

  "Gak kenapa-napa, cuma gak nyangka saja, di sini aku bisa merasakan kenyamanan," ungkap Alya.

  "Neng kene mulo tenang, adoh teko keramaian," timpal Halimah.

  Alya mengangguk iya pun mulai menatap sahabatnya itu, yang terlihat seperti menanti suatu kabar. "Halim, kamu gak keberatan kan aku ada di sini?" tanya Alya hati-hati.

  "Ngomong paran riko Iki," sahut Halimah. (Bicara apa kamu ini)

  Alya yang sedikit paham dengan bahasa daerah itu ia langsung menimpali meskipun kaku. "Yo sing ana, tapi isun yo kuatir, wedi ngetepotaken." (Ya enggak ada, tapi aku khawatir takut merepotkan.

  "Seng ana kang ngerepotaken, riko Ambi isun wes kenal suwi, isun bengen sekolah neng Jakarta milu embah tokangane kurang belonjo, riko kang tukangane bantu," jelas Halimah dengan tatapan nanar, teringat masa sulit di putih abu-abu dulu. (Gak ada yang merepotkan, kamu sak aku sudah kenal lama, dulu aku di Jakarta ikut nenek, kurang uang jajan dan kamu yang selalu bantu aku)

  Alya menunduk, ia tidak pernah menyangka jika teman yang dulu pernah ia bantu dengan sedikit uang sakunya, bisa membawanya lari dari jeratan kehidupan yang toxic.

  "Apapun itu, aku harus berterima kasih, karena sudah memberi ijin aku menikmati desamu yang asri ini," ucap Alya.

  "Iyo-iyo, sampek kapan baen riko tinggal neng kene, isun seng paran-paran." (Sampei kapun, kamu tinggal di sini aku gak apa-apa)

  Mereka saling berpelukan menguatkan satu sama lain, karena memang keduanya punya masalah meskipun beda versinya.

  "Al," panggil Halima kembali.

  "Iya," sahut Alya.

 "Kadung sewaktu-waktu isun oleh panggilan megawe neng nyang Suroboyo riko tetapi neng kene baen wes," ujar Halima, yang membuat Alya terkejut. (Kalau sewaktu-waktu aku dapat panggilan kerja di Surabaya kamu tetap di sini saja)

  "Terus aku sendirian di sini?" tanya Alya.

  "He, tenang saja, di sini kan ada banyak saudara pasti kamu akan terbiasa," jelas Halimah.

 Alya pun hanya terdiam, ia juga tidak ingin mencegah keinginan Halimah yang masih ingin melanjutkan pekerjaannya di dunia perkantoran.

"Ya sudah semoga saja di manapun tempatmu bekerja kau nyaman dan selalu di kelilingi lingkungan yang baik," ujar Alya akhirnya.

"Makasih ya, kalau gitu kita istirahat dulu, besok kita ke ladang lagi, cabutin rumput di sawah," sahut Halimah yang diangguki oleh Alya.

Alya menutup malam dengan cukup baik, hati yang tenang dan pikiran yang damai, ia tidak sedang menoleh ke belakang, justru saat ini pikirannya lurus ke depan, dan fokus dengan kehidupan barunya: yaitu sawah dan ladang.

☘️☘️☘️☘️☘️

Hari-hari berikutnya Alya di desa berjalan sederhana. Pagi menyambutnya dengan embun, siang dengan matahari yang tak pernah kompromi, dan sore dengan tubuh pegal yang jujur. Tangannya mulai terbiasa memegang tanah, meski kulitnya masih sering perih.

Suatu pagi, saat Alya membantu Halimah membersihkan gulma di tepi sawah, seorang pria datang menyusuri pematang. Topi caping meneduhkan wajahnya, sepatu botnya penuh lumpur kering. Ia berhenti tak jauh dari mereka.

“Lho, Bayu,” sapa Halimah ringan.

Pria itu menoleh, tersenyum singkat. “Iyo, Mok. Iki sopo?”

Tatapannya beralih pada Alya bukan menilai, hanya ingin tahu. “Alya. Wong kutha kang isun ceritakan iko ya ,” jawab Halimah. (Alya, orang kota yang aku ceritain itu.)

“Al, sepupuku ini." Halimah mengenalkan Bayu.

Bayu mengangguk sopan. “Bayu.” Tidak ada basa-basi berlebih. Nada suaranya tenang, seperti tanah yang sudah lama ia kenal.

"Alya." mereka pun saling berjabat tangan lalu mulai melepaskan, dan mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing setelah perkenalan itu.

Alya jongkok terlalu lama di tepi bedengan. Tangannya sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh rapat di sela batang padi muda. Akar rumput itu keras, membuat telapak tangannya perih dan panas terkena tanah basah.

Ketika ia berdiri, lututnya bergetar. Tanah yang masih ia genggam jatuh berderai.

“Nganggu’o iki. Kulit riko durung biasa nyekel lemah.” (Pakai ini kulitmu belum biasa memegang tanah.)

Alya menoleh. Pria bercaping lebar itu sudah berdiri di pematang, satu tangannya memegang kantong pupuk kecil. Ia turun mendekat dan menyodorkan sepasang sarung tangan.

Alya ragu sejenak sebelum menerimanya. Sarung tangan itu masih hangat.

“Terima kasih.”

Bayu jongkok di sampingnya, mencuil tanah lalu meremasnya perlahan.

“Lemahe kakean banyu. Ododte biso bosok.” (Tanahnya kebanyakan air akarnya bisa busuk)

Alya memperhatikan gerakan tangannya. Tenang dan yakin.

“Terus harus bagaimana?”

Bayu mengambil ranting kecil, menggeser tanah di pinggir bedengan hingga membentuk alur tipis.

“Gawe dalane banyu sitik lemahe mene biso ambegan.” (Buat jalannya air sedikit tanahnya biar bisa bernafas)

Alya meniru perlahan. Awalnya kaku, lalu tanah mulai lebih longgar dan air mengalir kecil.

Dari kejauhan, Halimah melirik sambil tersenyum tipis, lalu kembali bekerja tanpa menyela.

"Kadung gedigi isun legok ninggal Alya," gumamnya lirih. (Kaoau begini aku lega ninggal Alya)

Siang datang bersama panas. Alya memindahkan bibit satu per satu sesuai jarak yang diajarkan Bayu. Keringat mengalir di pelipisnya. Bayu sudah berdiri lebih dulu, menepuk-nepuk tanah di celananya.

“Istirahat sulung.”

(Istirahat dulu)

Alya mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan sawah, menyusuri pematang yang mulai mengering. Langkah Alya melambat, pundaknya turun pelan. Bayu berjalan di depannya, sesekali menoleh memastikan Alya dan Halimah masih mengikutinya

Di teras rumah, yang kebetulan dengan dengan ladang. Bayu meletakkan tiga gelas teh. Ia mendorong satu ke arah Alya tanpa menatap, lalu ke arah Halimah.

“Kamu gak perlu datang ke ladang setiap hari," ujar Bayu pelan.

Alya menggeleng pelan. “Aku pengin bisa, bukan hanya sekedar melihat."

Bayu menoleh sesaat, lalu tersenyum tipis. "Ya sudah kalau begitu."

Sementara Halimah yang ada di tengah-tengah mereka merasa senyum-senyum sendiri melihat perhatian Bayu yang tidak pernah ditunjukkan pada wanita manapun.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu hujan turun tiba-tiba. Air mengalir cepat di sela bedengan, mulai menggenang di tanah yang baru ditanami. Alya refleks meraih ember di sampingnya, berniat mengalihkan air agar bibit tak terendam.

Saat ia melangkah tergesa, kakinya terpeleset di tanah licin. Tubuhnya condong ke depan, namun lengannya tertahan oleh tangan kekar sebelum jatuh.

“Ojo kesusu.”

(Jangan tergesa.)

Pegangannya kuat, hanya sesaat, lalu segera dilepas. Bayu kembali menunduk mengarahkan ember ke saluran air, seolah tak terjadi apa-apa.

Alya menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke tempat ini, dadanya tidak lagi terasa sesak. Di desa kecil ini, di antara lumpur, hujan, dan orang-orang yang tak banyak bertanya.

Alya mulai mengerti, beberapa luka tidak perlu dijelaskan, cukup diberi waktu, di tanah yang mau menerimanya.

Bersambung ....

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!