Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman
Cup...
Tiba-tiba Gavin mencium lembut bibir Kanaya, melumatnya pelan dengan penuh perasaan, mungkin ini pertama kalinya bagi seorang Gavin, dimana dia mencium gadis selembut ini, karna yang biasa di lakukan Gavin , adalah ciuman panas nan menuntut.
Sementara Kanaya, masih setia memejamkan mata tak bereaksi apapun dengan apa yang dilakukan Gavin, sampai beberapa menit berlalu dimana Kanaya merasakan sesak, dan menepuk pelan bahu Gavin.
Gavin segera melepaskan pagutannya, namun matanya tak lepas dari bibir kanaya yang membengkak, perlahan mata Kanaya terbuka, menatap sayu ke arah pria di hadapan nya.
Kanaya Tiba-tiba mengangkat sebelah tangan nya, dan mulai menyentuh lembut pipi Gavin, Kanaya terus menatap intens Gavin, kemudian tersenyum.
"Ga..."ucap Kanaya lembut, namun matanya terlihat berkaca kaca.
"I miss you...Ga,"ucap Kanaya, kemudian terisak, melihat Kanaya yang Tiba-tiba terisak, membuat Gavin bingung, perlahan Gavin menarik Kanaya ke dalam pelukan nya.
Gavin tak mengucapkan apapun, hanya memeluk erat Kanaya yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada Gavin.
15 menit berlalu, perlahan tangis Kanaya berhenti, Gavin pun melepaskan pelukannya pada pada tubuh Kanaya, melihat wajah cantik di hadapannya, menatap matanya yang sembab, dengan menghapus jejak jejak air mata di pipi Kanaya.
Kanaya pun melihatnya, menatap matanya lembut, kedua tangan Kanaya tiba tiba terangkat memegang kedua pipinya, Gavin hanya membalas tatapan Kanaya tanpa melakukan apapun. Sampai tiba-tiba Kanaya mendekat kan wajah nya, nafas hangat Kanaya mulai terasa, lalu Kanaya tampak memiringkan kepalanya,dan...cup.
Tiba-tiba Kanaya mencium Gavin, bukan seperti ciuman lembut yang tadi Gavin lakukan, namun ini ciuman kasar bahkan kini Kanaya menggigit bibir bawah nya, awalnya Gavin ingin diam tak melakukan apapun ataupun membalas ciuman Kanaya, namun ketika Kanaya mengalungkan kedua tangannya, Gavin mulai merasa gelisah apalagi ketika Kanaya tiba tiba naik ke pangkuannya, Gavin mulai kehilangan kesadaran nya.
Gavin mulai membalas lumatan demi lumatan bibir Kanaya, ciuman yang berlangsung panas dan saling menuntut, tangan Gavin sudah mulai merajalela ke mana-mana, bahkan kini sudah sibuk bermain di tubuh bagian depan Kanaya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka berdua andai Kanaya tidak tiba tiba diam tak bergerak, tubuhnya lunglai tak berdaya dalam pelukan Gavin, mambuat Gavin terpaku.
Gavin menyugar rambutnya frustrasi, kemudian meletakkan kembali tubuh Kanaya pada kursi di samping nya, terdengar dengkuran halus dari Kanaya, sepertinya Kanaya memang tertidur begitu saja.
Disaat Gavin berpikir mereka akan melakukannya, sama seperti gadis gadis sebelumnya, yang berakhir mendesah di mobil Gavin. Ah... sungguh Gavin benar benar kesal saat ini, Gavin sadar bahwa Kanaya dalam kondisi setengah sadar, bahkan mungkin tadi pun ketika Kanaya menciumnya lebih dulu, entah siapa orang yang ada dalam fikiran nya.
Gavin memukul stir kemudi berkali-kali,
"Sial... Ah gue sa**e anjing!"rutuk Gavin sambil melihat ke arah Kanaya.
"Ah... sial, kalo lo bukan temen Raihan, udah gue pake sekarang juga lo"ucap Gavin sambil menatap Kanaya kesal.
Ah...sudah lah, percuma juga rasanya Gavin memarahi orang yang kini tengah tertidur pulas. Gavin akhirnya kembali lagi menjalankan mobilnya menuju rumah Kanaya, tiba di rumah Kanaya, hanya ada sosok perempuan berusia 50 tahunan sepertinya seorang ART di rumah Kanaya dan perempuan itu jugalah yang meminta Gavin mengantarkan Kanaya langsung kedalam kamarnya, yang berada di lantai 2.
Sebuah kamar bernuansa soft, dengan cat berwarna pastel menyambut kedatangan Gavin, aroma khas parfum Kanaya sudah tercium, begitu Gavin melangkahkan kakinya ke dalam kamar gadis yang kini ada dalam gendongan nya.
Setelah Membaringkan Kanaya di ranjang king sizenya, Gavin melihat sekeliling kamar Kanaya tak terlihat foto apapun di kamar Kanaya, tak selayaknya kamar gadis gadis yang pernah Gavin datangi.
Gavin pun berjalan mendekati meja belajar Kanaya, dimana terdapat banyak buku buku tebal di atasnya, yang di dominasi dengan buku buku kesehatan.
Tepat di atas meja, dapat Gavin lihat ada sebuah foto yang terlihat sepertinya sudah di robek namun di satukan kembali, samar-samar di dalam foto itu Gavin melihat sosok Kanaya yang sedang tersenyum manis, dalam pelukan seorang pria di belakangnya.
Sosok pria itu tak terlihat jelas, karna warna foto yang sudah memudar, sepertinya foto itu di remas dan robek namun kemudian di satukan kembali, Gavin mengambil foto itu,mengangkat nya keatas sebelum kembali menaruhnya, namun ketika Gavin membalik lembar foto itu, terlihat tulisan yang cukup jelas ,sebuah tulisan bertuliskan "Rangga ♡ Kanaya"mungkinkah pria di foto ini yang tadi di lihat Kanaya saat menciumnya?
Ada rasa penasaran dalam diri Gavin dengan sosok Kanaya, selain karna kecantikannya tentu banyak hal lain yang membuat Gavin cukup tertarik, salah satunya adalah sikap Kanaya yang terlalu biasa saat berhadapan dengannya, Gavin yang biasa merasa sebagai magnet untuk para perempuan tentu rasanya sedikit tak terima ketika melihat ada perempuan yang terlihat biasa saja saat melihatnya.
Melihat jam di tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, Gavin akhirnya beranjak dari kamar Kanaya, meninggal kan sang pemilik kamar yang masih tertidur pulas.
Meninggalkan rumah Kanaya, Gavin langsung menuju sebuah club malam, dimana sudah ada seorang perempuan yang menunggu nya disana, perempuan yang akan menggantikan Kanaya dalam menuntaskan gairah sang Cassanova.
***
Sementara itu pukul 10 malam, Kanaya tiba-tiba terbangun, tenggorokannya terasa kering kepalanya sakit, entah apa yang terjadi padanya sebelumnya, yang terakhir di ingatnya adalah ia dan Gavin sedang di perjalanan pulang ke rumahnya, kenapa sekarang dia sudah berada di dalam kamarnya, siapa yang membawanya kesini, dan kenapa dia tak mengingat nya. Ada banyak pertanyaan di kepala Kanaya sekarang.
Kanaya berjalan sedikit sempoyongan menuju lantai satu rumahnya, dia ingin mengambil air putih untuk membasahi tenggorokannya, mengambil sebuah gelas dan membuka kulkas di rumahnya,tiba-tiba Bu Lastri menghampirinya.
"Non Kanaya?"Sapa Bu Lastri Bu Lastri sepertinya sengaja menginap di rumahnya Malam ini, karena biasanya Bu Lastri akan pulang di sore dan tak tinggal di rumah Kanaya.
"Eh Bu Lastri, ga pulang bu?"tanya Kanaya ramah.
"Ngga non, tuan sekarang minta ibu tinggal di sini, suami ibu dan anak ibu yang kecil juga ikut, katanya biar non Kanaya ga sendirian di rumah ini kalo malem,"jawab bu Lastri.
"Oh...padahal Nay gak apa-apa kok Bu, gak takut juga."ujar Kanaya. Hening sejenak tiba-tiba Kanaya teringat sesuatu.
"Bu,tadi saya pulang gimana ya, kok saya ingatnya udah di kamar aja?"tanya Kanaya pada bu Lastri.
"Oh... Kan tadi non di anterin si aden yang ganteng itu non, katanya temen kuliah non Kanaya, malahan non di anter sampe kamar, katanya non ketiduran di mobil waktu jalan pulang kesini. "Jawab Bu Lastri.
Kanaya mengangguk paham, sepertinya memang Gavin yang mengantarkan Kanaya kerumah malam ini, dan mungkin karna Kanaya ketiduran lah yang membuat Kanaya tak mengingat apa apa.
*******
Sementara itu, suara desahan bersahutan terdengar di sebuah kamar tanpa penerangan, dua orang manusia tampak sedang bergumul, sepasang manusia yang terlihat sama-sama begitu menikmati kegiatan panas mereka.
"Ahhhh...Gav, baby..."lenguhan seorang wanita terdengar.
Sementara si pria yang namanya si sebutkan oleh wanita, semakin mempercepat gerakannya,sampai pada saat pelepasan keduanya.
"Ahhh..."Dua manusia itu kini terkulai begitu saja.
"Tanks Gav, kamu selalu jadi yang terbaik "ucap wanita yang kini tengah mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Hmmm..."jawab si pria itu,dengan mata yang tertutup, tanpa mau melihat ke arah wanita yang berbicara padanya.
Wanita yang masih belum memakai pakaiannya itu, mendekat kembali ke arah Gavin yang tengah menutup matanya, yah...pria itu adalah Gavin Wijaya, dan wanita yang kini bersamanya adalah Karina salah satu wanita yang sering menemani Gavin, untuk menuntaskan hasrat nya.
Wanita itu mendekatkan wajahnya, mencium bibir Gavin lembut, namun Gavin tiba-tiba memalingkan wajah nya.
"Kenapa Gav?"tanya Karina heran.
"Lagi gak mood,"jawab Gavin, kemudian membuka matanya, lampu yang sudah menyala membuat Gavin bisa melihat wajah cantik Karina.
Karina itu cantik, dengan tubuh yang menggoda, salah satu wanita mainan Gavin dan Alex sama seperti Hera, yang membedakan Karina dan Hera hanya image mereka di kampus, Karina adalah sosok yang tak peduli pendapat orang lain, jadi Karina selalu menunjukkan sisi liarnya pada orang lain, bukan hanya Gavin dan Alex, Bryan dan banyak lagi laki-laki nakal di kampus mereka yang pernah merasakan tubuhnya, asalkan Karina suka maka Karina mau mau saja melakukan hubungan itu meski tanpa status apapun, sama halnya dengan yang sering di lakukannya dengan Gavin maupun Alex.
Gavin terus menatap Karina, ada yang salah dengannya malam ini, Gavin memang sudah lega karna bisa menuntaskan hasratnya, namun Gavin merasa ada sesuatu yang kurang, ada rasa hampa yang di rasakannya, bahkan tadi saat mereka melakukannya, Gavin tak merasakan kenikmatan seperti biasanya.
Karina kembali mendekatkan wajahnya pada Gavin, untuk kembali menciumnya, namun kali ini sebelum sempat menyentuh bibir Gavin, Gavin sudah memalingkan wajah nya.
"Why...Gav, gak biasa nya?"tanya Karina terkejut dengan penolakan Gavin.
Gavin tak menjawab, namun tiba-tiba pikirannya menerawang mengingat ciumannya bersama Kanaya, ada desiran aneh yang Gavin rasakan saat mengingatnya, Gavin bahkan mulai membayangkan bahwa orang di hadapannya adalah Kanaya. Gavin menggelengkan kepalanya, mengusir bayang-bayang Kanaya dan ciuman yang tak bisa dia lupakan.
"Sorry Rin, gue lagi banyak pikiran sekarang."ucap Gavin.
"Lo mau cabut sekarang?"tanya Gavin.
Karina menghela napas,kemudian mengangguk.
"Iya, gue mau ke apartemen cowok gue."jawab Karina kemudian berlalu dengan membawa pakaiannya, Karina memang memiliki kekasih, namun entah seperti apa kekasih Karina ini, karena kekasihnya bahkan tak pernah cemburu saat Karina bersama pria lain.
Sementara Gavin memunguti pakaiannya dan langsung memakainya begitu saja. Karina tampak keluar dari kamar mandi, dan melihat ke arah Gavin kemudian berpamitan pada Gavin.
"Gue pergi dulu Gav,"ucap Karina sambil mengecup sekilas pipi Gavin.
Gavin hanya mengangguk sebagai jawaban, tanpa mengatakan apapun pada Karina.
Setelah kepergian Karina, Gavin kembali termenung, ingatan tentang ciumannya bersama Kanaya kembali terlintas. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, kenapa efek ciuman itu begitu besar untuk Gavin?
-Bersambung