Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kesalahan Fatal
Anies Fadillah berlari dengan napas tersengal, langkahnya dibuat seringan mungkin, meski jantungnya nyaris meloncat dari wadahnya. Malam sudah larut, ketika ia dan ketiga temannya berhasil melompati pagar pondok pesantren Darulhuda, sepulang mereka dari menonton konser musik di alun-alun kecamatan. Pelarian singkat dari kebosanan yang selama ini mereka pendam.
Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, kilatan cahaya senter menyapu halaman samping, nyaris mengenai wajah ayunya.
"Ya Allah..." desis Anies panik.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Dari kejauhan ia sempat melihat ketiga temannya sudah lebih dulu menyelinap masuk ke kamar asrama. Tinggal dirinya sendiri yang belum selamat, karena ia yang paling terakhir memanjat pagar.
Langkah Anies terhenti, saat kakinya tak sengaja menginjak ranting kering yang jatuh di bawah pohon mangga.
Krak!
Suara itu terdengar begitu jelas, di keheningan malam.
Pak Diman, satpam pondok pesantren yang terkenal galak tak bisa diajak kompromi, langsung mengarahkan kakinya ke arah sumber suara.
Cahaya senter kembali bergerak semakin dekat. Kepanikan pun semakin menyergap Anisa. Tak ada waktu untuk berlari ke arah kamar asramanya.
Disaat kepanikan itu, matanya tak sengaja menangkap sebuah jendela yang sedikit terbuka, dengan ruangan gelap.
Tanpa pikir panjang, Anisa melompat masuk.
Tubuhnya mendarat di sebuah kamar yang sunyi dan gelap. Ia buru-buru menutup dan mengunci jendela itu dengan cepat dari dalam. Lalu ia bersandar sesaat, mencoba menenangkan napas yang tak beraturan. Dadanya naik turun, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Syukur lah, aku selamat, jika aku ketangkap Pak Diman, aku pasti kena ta'zir, dan Gus Hafiz yang songong itu pasti ngak tanggung-tanggung ngaduin aku ke Papa." batin Anisa sambil mengelus dada.
Sementara itu, di ndalem, Ibu Nyai Laila menerima laporan dari Mudabbiroh bahwa ada santriwati yang kabur keluar pagar malam itu.
Wajah Ibu Nyai langsung menegang. Pelanggaran seperti itu tak bisa dianggap sepele.
Tanpa menunda, malam itu juga. Ibu Nyai Laila melangkah menuju kamar putranya, Gus Hafiz Arsyad, beliau berniat meminta bantuan untuk mengecek keadaan sekitar pondok pesantren. Namun malam itu, Gus Hafiz sedang kurang sehat dan memilih awal.
Dengan langkah cepat Ibu Nyai menuju kamar Gus Hafiz.
Sementara di dalam kamar yang gelap itu. Anisa tengah melangkah perlahan, tangannya meraba-raba ia ingin mencari pegangan ke arah tembok, berniat untuk menyalakan lampu ruangan, namun belum sempat ia menemukan pegangan, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang lembut.
Anisa berhenti sejenak, dan mencoba menerka, apa yang tengah ia pegang.
"Astaghfirullah...apa ini" batinnya.
Dan disaat itu tangan Anisa dicekal oleh tangan yang tak terlihat siapa pemiliknya.
Namun sialnya, saat pemilik kamar itu terbangun dan duduk menatap Anisa dengan wajah terkejut, lampu kamar tiba-tiba menyala.
Dan detik itu juga, Ibu Nyai berdiri mematung.
Bagaimana tidak, dihadapannya seorang santriwati berdiri dengan tubuh merunduk dengan tangan di atas pada putranya, dengan posisi yang sulit diartikan oleh Ibu Nyai itu sendiri.
Wajah Anisa memucat, sementara Gus Hafiz hanya menatap bingung, dan dengan sepintan melepas cekalannya dari pergelangan tangan santrinya.
"Astaghfirullah..." ujarnya.
Ibu Nyai menatap pemandangan itu dengan mata membelalak, napasnya tertahan oleh keterkejutan yang bercampur amarah.
"Innalillahi..." gumamnya lirih, namun serat akan guncangan.
"Apa yang kalian lakukan...?"
Gus Hafiz sentak berdiri.
"Umi...Ini ndak seperti yang Umi lihat."
Ibu Nyai terdiam sejenak, lalu membuka mulutnya kembali.
"Ndak seperti yang Umi lihat gimana, Gus...? ini cukup jelas, kalian berada dalam satu kamar, berdua-duaan dan gelap-gelapan, bahkan Umi lihat dengan jelas apa yang sedang kalian lakukan...!" bentak Umi Laila dengan suara lirih, agar tak ada yang mendengar.
"Umi...ini... ndak seperti..." Gus Hafiz pun sulit untuk menjelaskannya, karena memang dirinya tak tahu, kenapa bisa ada santriwati di dalam kamarnya.
Umi Laila menatap Anisa dan Gus Hafiz bergantian. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan ketegasan yang tak bisa dibantah.
"Keluar," ucapnya singkat.
"Umi tunggu kalian di ruang ndalem."
Tanpa menunggu jawaban, Umi Laila melangkah pergi meninggalkan kamar putranya. Suara pintu yang tertutup terdengar pelan, namun Bagi Anisa, bunyinya seperti palu yang menjatuhkan vonis.
Gus Hafiz menatap Anisa. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, namun aura wibawanya membuat Anisa menunduk tanpa sadar.
"Jelaskan," ucapnya dingin.
"Kenapa kamu bisa berada di kamar saya?"
Bibir Anisa bergetar. Kata-kata sudah menumpuk di ujung lidahnya, tentang konser, tentang satpam, tentang kepanikannya, namun belum satu pun terucap suara dari luar menyela, dan suara pintu diketuk terdengar jelas.
"Gus... ngapunten. Panjenengan sudah ditunggu Romo Yai."
Gus Hafiz menghela napas dalam, seolah menahan sesuatu yang lebih berat dari sekedar lelah.
"Nggih... saya segera nyusul," jawabnya singkat dari dalam kamar.
Ia kembali menatap gadis tujuh belas tahun itu. Kali ini lebih dalam. Bukan marah, bukan pula tatapan lembut, melainkan tatapan seorang yang sadar bahwa apa pun penjelasan yang akan keluar dari mulutnya tetaplah dinilai melanggar batasan.
"Ikut Saya," ucap Gus Hafiz singkat.
"Kamu harus mempertanggungjawabkan tindakanmu ini."
Anisa menelan ludah. tangannya gemetar saat ia melangkah mengikuti irama langkah kaki Gus Hafiz.