Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 The King’s Tantrum
Mansion Caelum yang biasanya megah kini terasa seperti makam raksasa yang dingin. Tanpa suara Eleanor dan keberadaan Liora yang biasanya memenuhi sudut-sudut ruangan, Leo mulai kehilangan akal sehatnya. Tiga hari berlalu, dan setiap detik yang ia lewati hanya diisi oleh gema langkah kakinya sendiri. Rasa sepi itu ternyata jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan mana pun yang pernah ia lontarkan.
Leo tidak tahan lagi. Ia segera menyusul ibunya ke sebuah hotel butik tempat Eleanor menginap sementara bersama Liora. Saat melihat Eleanor di lobi, Leo langsung mencegatnya dengan wajah yang kusut pemandangan langka bagi seorang CEO yang biasanya tampil sempurna.
"Ibu, pulanglah. Rumah itu terasa seperti neraka tanpa Ibu," pinta Leo, suaranya parau dan penuh nada memohon yang tidak biasa.
Eleanor menatap putranya dengan tatapan dingin yang belum pernah Leo lihat sebelumnya. "Neraka? Bukankah itu tempat yang kau ciptakan sendiri, Leo? Aku tidak akan kembali selama kau masih menganggap manusia sebagai barang milikmu."
Leo mengepalkan tangannya, rasa frustrasi memuncak di ubun-ubunnya. Karena semua permohonan logisnya diabaikan, ia menggunakan cara terakhir yang paling kekanak-kanakan dan manipulatif.
"Jika Ibu tidak pulang sekarang... aku akan mengakhiri semuanya!" ancam Leo dengan nada dramatis. "Aku akan bunuh diri! Aku akan melompat dari lantai teratas kantor atau menabrakkan mobilku! Ibu ingin melihat putra tunggalmu mati karena kesepian?"
Eleanor menghentikan langkahnya, ia menatap Leo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia tahu persis bahwa Leo Alexander Caelum terlalu mencintai dirinya sendiri untuk benar-benar melakukan hal bodoh seperti itu. Leo terlalu sombong untuk mati secara mengenaskan. Namun, Eleanor tetaplah seorang ibu; ia tidak ingin risiko sekecil apa pun terjadi pada putranya.
"Kau benar-benar tidak punya harga diri lagi, ya? Mengancam ibumu dengan kematian palsu," desis Eleanor tajam. "Baiklah. Aku akan kembali ke mansion sore ini. Tapi ingat satu hal, Leo: aku kembali untuk rumah itu, bukan untuk memaafkanmu."
Mendengar itu, sedikit beban di pundak Leo terangkat. Namun, ada satu hal lagi yang menggerogoti pikirannya sejak malam kepergian itu.
"Di mana dia?" tanya Leo, mencoba terdengar santai meskipun matanya memancarkan rasa ingin tahu yang luar biasa. "Ibu sudah mencarikannya tempat tinggal baru, bukan? Di mana Liora tinggal sekarang?"
Eleanor tidak menjawab. Ia justru mengambil tasnya dan berjalan melewati Leo begitu saja, seolah-olah putranya hanyalah patung dekorasi di lobi hotel itu.
"Ibu! Aku sedang bertanya!" seru Leo mengekor di belakang. "Aku hanya perlu tahu dia di mana untuk memastikan dia tidak melakukan hal bodoh yang bisa mencemarkan nama keluarga kita lagi!"
Eleanor tetap membisu. Ia masuk ke dalam mobil jemputannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Leo. Sikap cuek dan pendiam ibunya menjadi tamparan keras bagi Leo. Ia yang biasanya mengabaikan orang, kini merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak dianggap.
Sepanjang perjalanan pulang, Leo merasa kalah telak. Ia berhasil membawa ibunya kembali, namun ia kehilangan kunci untuk menemukan Liora. Ia menyadari bahwa dunianya yang selama ini ia kendalikan dengan uang dan ancaman, kini runtuh hanya karena seorang gadis miskin yang memilih untuk pergi dengan tangan terluka.
Di balik kemudi, mata Leo berkaca-kaca karena amarah dan kerinduan yang ia sendiri tidak sudi mengakuinya. "Kau pikir kau bisa sembunyi dariku, Liora? Selama kau masih bernapas di bawah langit yang sama, aku akan menemukanmu. Meskipun aku harus menghancurkan setiap jengkal kota ini."
"Leo memenangkan kehadiran ibunya dengan kebohongan, namun ia kehilangan kepercayaan ibunya selamanya."
"Bagi Eleanor, mendiamkan Leo adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa kekuasaan putranya tidak ada harganya di depan kasih sayang."
"Leo baru menyadari bahwa informasi tentang keberadaan Liora adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli dengan saham perusahaannya."
"Manipulasi Leo adalah tanda keputusasaan seorang pria yang tidak pernah belajar cara meminta maaf dengan tulus."