Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Gak usah khawatir, gue udah beliin sesuatu di bagasi, gue tau kalau Lo emang udah kayak nenek-nenek pikun jadi serba lupa, biar gak ngerepotin gue siapin aja apa adanya, tapi gue gak tau mama Lo suka apa gak," ujar Erlan terlihat biasa saja namun jelas-jelas pada dasarnya ia pun juga sudah mulai menerima kalau Dinda adalah mama nya juga.
"Beneran? Ini Aruna gak salah denger kan? Meskipun kak Erlan masih gak ngomong apa-apa sama mama, tapi kayaknya kak Erlan peduli juga ya sama mama?" Kata Aruna terlihat bahagia.
"Gak, gue cuma menghargai kesepakatan kita doang, karena Lo nurut ya gue juga memenuhi syarat," bantah Erlan yang tak mau mengaku.
"Gak peduli, pokoknya mama harus tau kalau hadiah nya dari kak Erlan," ungkap Aruna sambil bertepuk tangan girang.
"Gitu doang bahagia? Sebentar-sebentar nangis kayak punya banyak beban, abis itu malah bahagia dan ketawa kayak orang yang gak punya beban," batin Erlan yang aneh melihat tingkah Aruna.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di sebuah gedung tinggi nan terlihat cukup luas juga megah, itu adalah butik yang cukup besar yang pernah menjadi impian mama Dinda.
"Yah kayaknya udah selesai deh," kata Aruna turun dari mobil sambil melihat para pelayan di butik sibuk membereskan sampah-sampah bekas acara peresmian butik tersebut.
"Masuk aja, nih hadiah nya bawa," kata Erlan sambil menyerahkan sebuah buket bunga mawar putih ke tangan Aruna.
"Wah, cantik banget," ucap Aruna sambil menatap bunga tersebut, mood nya yang awal berantakan karena mengetahui kalau acara peresmian telah usai kini kembali senang setelah menerima buket tersebut.
"Tunggu apa lagi?" Tanya Erlan sambil menarik tangan Aruna untuk masuk ke dalam butik tersebut.
"Kak, kok kamu tau kalau mama suka sama mawar putih?" Tanya Aruna sambil terus melangkah di samping Erlan.
"Gak tau nebak aja," jawab nya singkat.
"Aruna, Erlan, kalian datang," ucap mama Dinda kaget setelah menyadari kalau kedua anak nya berada di dalam butik tersebut.
"Mama," panggil Aruna.
Erlan segera melepaskan tangan Aruna, membiarkan gadis itu berlari menghampiri mama nya.
"Anak manja," ujar nya dengan suara lirih.
"Aruna, Erlan, kalian kenapa tidak menelpon terlebih dahulu?" ujar wanita itu.
"Ma, ini buket dari kak Erlan, selamat ya buat butik baru nya yang gede banget," kata Aruna sambil menyerahkan buket tersebut ke mama nya.
"Apa? Benar-benar dari Erlan?" tanya mama Dinda menerima buket tersebut dengan bahagia.
"Gue cuma bantuin beli doang," jawab Erlan tanpa menatap mama Dinda.
Meskipun jawaban Erlan terdengar tidak menyenangkan, namun mama Dinda tetap bahagia menerima buket tersebut.
"Kak Erlan," kesal Aruna sambil menyenggol lengan Erlan.
"Apaan sih," ucap Erlan kesal.
"Sudah-sudah, kalian ke sini mau bertengkar atau mau memberikan selamat kepada mama? Baju sekolah juga belum di ganti," omel sang mama memisahkan Aruna dan Erlan yang hampir cek-cok lagi.
"Kita langsung ke sini karena takut gak keburu, tapi nyatanya juga telat," kata Aruna mengeluh kepada sang mama.
"Sudah, tidak apa-apa yang penting kalian sudah datang, karena kalian sudah datang ke sini kenapa tidak keliling-keliling dulu melihat pakaian?" Kata sang mama menawarkan.
"Kayaknya gak usah deh ma, baju-baju yang di beliin papa di lemari pakaian aja masih banyak yang belum Aruna coba," ucap Aruna menolak.
Sementara itu Erlan hanya diam dan buang muka, tak kuasa melihat Aruna yang bertingkah manja di depan mama nya.
"Ya sudah kalau gitu bagaimana dengan Erlan? Apa mau mama carikan setelan yang bagus? Angap saja sebagai hadiah dari mama," kata mama Dinda yang kemudian menarik tangan Erlan pergi menuju ke bagian stelan pria yang ada di butik tersebut.
"Ta-tapi ... Ga," Erlan tidak bisa berkata-kata apa-apa, ia melihat ke belakang dan mendapati Aruna yang memelototi nya, seolah akan melakukan sesuatu jika Erlan menolak sang mama.
Beberapa jam pun berlalu.
Erlan dan Aruna memutuskan untuk pulang ke rumah, sementara sang mama masih sibuk dengan urusan di butik, masih banyak hal yang harus di tata, pelanggan juga mulai berdatangan ke tempat tersebut.
"Lo beneran mau pergi ke pesta ulang tahun itu?" tanya Erlan sambil mengemudi mobil nya.
"Iya, gak mungkin gak pergi, udah nerima undangan nya, kak Erlan juga ikut kan?" Tanya Aruna penuh harapan.
"Gue? Pergi ke pesta ulang tahun murahan kayak gitu?" Kata Erlan sambil menuju diri nya sendiri.
"Emang kenapa?" tanya Aruna sedikit kebingungan.
"Gak level," jawab Erlan merasa jijik.
Sebenarnya ia bukan menghina pesta tersebut, melainkan di tujukan kepada Vani.
"Ayo dong kak, plisss, kalau gak sama kak Erlan, Aruna bakal pergi sama siapa dong?" tanya Aruna memohon.
"Gue bilang gak ya gak," ujar Erlan lagi.
Aruna pun memutuskan untuk diam, dia tak lagi ingin memaksa sang kakak yang terlihat sangat tidak ingin pergi.
"Nyebelin banget, gue juga pergi karena gak mau kalau Vani sampai mikir gue ini pengecut," lirih Aruna yang kemudian memalingkan wajahnya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah, jam menunjukkan pukul 05.20
Aruna bergegas masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat, begitu juga dengan Erlan.
"Huh sebenarnya gue capek tapi ah udah lah tidur bentar aja kali ya," kata Aruna yang kemudian mulai memejamkan mata nya.
Tak terasa dua jam berlalu, Aruna masih tidur dengan sangat pulas, ia bahkan melupakan soal pesta ulang tahun tersebut.
"Hana," Panggil Erlan yang saat ini baru saja keluar dari kamar nya.
"Iya tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana sambil bergegas menghampiri Erlan.
"Gue mau keluar sebentar, bangunin Aruna dan bantu dia siap-siap, jangan lupa suruh sopir buat nganterin dia," kata Erlan sambil memasang jaket kulit milik nya.
"Baik tuan muda, tapi tuan muda mau ke mana?" Tanya Hana.
"Gak perlu tau," jawab Erlan yang kemudian melangkah pergi.
"Astaga, tuan muda pasti akan pergi balap liar lagi," batin Hana yang sudah sangat memahami tuan muda nya itu.
Namun ia hanya seorang kepala pelayan di sana, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi apa yang di perintahkan oleh majikannya.
Ia pun segera pergi ke kamar Aruna, untuk membangun kan nya.
"Nona muda! Nona!" panggil Hana sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Aruna.
Tok ... Tok ... Tok ...
Beberapa kali Hana mengetuk pintu kamar tersebut, setelah beberapa menit berlalu, baru lah terdengar suara langkah kaki Aruna berjalan menuju pintu.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah