NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

"Dan satu lagi..." Danzel mengambil napas dalam-dalam, sebelum menatap Alice lagi. "Dengan adanya kejadian ini, persahabatan kita... telah berakhir. Aku tidak ingin kisah cintaku hancur hanya karena persahabatan kita."

"Ayo Rachel, kita pergi dari sini." ajak Danzel mengajak Rachel pergi begitu saja meninggalkan Alice yang sangat rapuh.

Rachel melangkah dengan senyum samar di bibirnya — senyum kemenangan.

Tubuh Alice merosot perlahan, tatapannya menjadi kosong. Kata-kata Danzel terus terngiang di kepalanya, menampar dadanya dengan rasa sakit yang tidak terganggu. Dunia di sekitarnya seolah memudar, seolah semua yang pernah ia perjuangkan hancur dalam sekejap. 

Semua kenangan tentang Danzel—tawa yang bagi mereka, tangis yang ia tahan, perlindungan yang selalu Danzel berikan—kini tak lebih dari serpihan yang tak bisa dikembalikan.

Cinta yang selama ini ia jaga dengan begitu rapuh dan penuh ketulusan, kini menjadi abu yang terhembus angin, hilang, hilang... sia-sia.

Air matanya mengalir deras, dan tubuhnya terasa begitu berat, seolah tidak ada lagi alasan untuk bertahan di tempat itu.

Pandangannya kabur, tak lagi mampu menangkap apa yang terjadi di sekitarnya. Yang tersisa hanyalah kekosongan.

Tiba-tiba, sebuah langkah perlahan terdengar mendekat, tetapi Alice tidak memperhatikan. Sosok Rey muncul dari balik bayangan,  Rey menatap pilu ke arah Alice.

Rey mendekat, berlutut di sebelah Alice yang masih terisak dalam kesunyian. Hati Rey penuh dengan rasa iba dan kepedulian yang tulus.

Rey meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Alice,

"Alice..." Rey berbisik lirih, suaranya penuh kepedihan. "Maaf aku tidak sengaja melihat dan mendengar semua ini."

Alice mengangkat wajahnya perlahan, lalu bertemu dengan mata Rey yang penuh kasih. "Rey…," suaranya pecah, tidak lebih dari sekadar bisikan lemah. “Danzel… dia meninggalkanku…”

Rey menggeleng pelan. "Danzel memang telah meninggalkanmu Alice, Tetapi jangan biarkan apa yang dikatakan dia menghancurkan mu. Cinta yang kau punya... itu bukan sesuatu yang harus kau sesali. Perasaanmu tulus, dan itu lebih dari cukup."

Alice menunduk ke dalam tangisnya, tubuhnya sedikit bergetar, namun ia mengangguk lemah sebagai jawaban atas kata-kata Rey.

Ada rasa lega kecil yang muncul di dalam hatinya karena Rey mengerti. Setidaknya, satu orang masih percaya padanya.

Rey baru menyadari bahwa selama ini Alice menyimpan perasaan kepada Danzel. Rey mengerti betul, berada di posisi Alice, siapa yang tidak jatuh cinta ketika seseorang seperti Danzel memperhatikan dan memedulikannya?

Danzel adalah sosok yang hangat, yang mampu membuat orang merasa aman—itu adalah sesuatu yang mudah menumbuhkan rasa cinta, bahkan tanpa disadari.

"Apakah aku perlu memberitahukan semuanya pada Danzel? Aku melihat apa yang sebenarnya terjadi, Alice," kata Rey, suaranya pelan tapi penuh tekad. 

"Rachel lah yang harus disalahkan. Dia mendesak mu, mengancam mu, dan memanipulasi keadaan. Dia bahkan memprovokasi Danzel untuk mempercayainya, seolah-olah semua ini salahmu."sambungnya

Alice mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang sembab menatap Rey. "Tidak, Rey,"

"Tapi, Alice, kamu tidak pantas menerima semua ini. Danzel harus mengetahui kebenarannya.

Alice menggeleng lemah. "Meski begitu, Danzel tetap membuat pilihan. Dia pasti memilih untuk mempercayai Rachel... bukan aku." 

Rey menarik napas panjang.

"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya. Tetapi pada suatu hari nanti, yang tidak tahu pasti. Aku akan mengatakannya kepada Danzel."

Rey memang dikenal oleh banyak orang sebagai pria brengsek—seseorang yang seringkali bermain-main dengan perasaan orang lain dan tidak terlalu peduli dengan apa yang memikirkan orang di sekitarnya. Namun,

Melihat ketulusan cinta yang dimiliki Alice untuk Danzel—cinta yang murni, tanpa syarat, dan sepenuhnya tulus—membuat hati Rey terusik. melihat Alice menangis, ,Rey baru menyadari bahwa cinta bukanlah permainan yang bisa dimanipulasi

Cinta Alice untuk Danzel begitu tulus dan murni, dan itu membuat Rey sadar bahwa cinta bukanlah tentang siapa yang menang atau siapa yang bisa menaklukkan perasaan orang lain.

**

Sementara itu, di tempat persembunyian mereka, Stella, Mike, dan Megan menyaksikan kejadian baru yang terjadi di depan mata mereka membawakan sebuah drama yang penuh ketegangan. 

Rencana yang selama ini susun mereka perlahan mulai menghasilkan hasil. Mereka menyaksikan bagaimana Rachel, yang kini benar-benar menganggap Alice sebagai ancaman, menunjukkan sisi liar dalam upayanya untuk menjauhkan Alice dari Danzel.

Mike menyenggol lengan Megan sambil tersenyum puas. "Kau lihat? Rachel benar-benar menjauhkan Danzel dari Alice."

Megan tertawa puas. "Ya, tentu saja! Akhirnya, Danzel yang kita inginkan kembali. Rasanya memuaskan melihat dia tidak lagi membela Alice. Dan jujur saja, aku senang tidak lagi harus melihat Danzel bersama gadis culun itu. Pria tampan seperti Danzel memang pantas bersanding dengan gadis cantik Rachel , bukan dengan seseorang seperti Alice."

"Danzel memang kembali tanpa Alice di sisinya, tapi kalian melupakan sesuatu.Dengan berhasilnya rencana ini, kita telah kehilangan seseorang."ucap Stella dengan nada datar, namun matanya tak lepas memandang ke arah Rey dan Alice

Megan dan Mike saling berpandangan, Keduanya kemudian mengikuti arah pandang Stella. 

Megan mengerutkan alisnya. "Rey? Apa maksudmu, Stella?"

Stella mendesah pelan, "Rey bukan lagi Rey yang dulu kita kenal. Dia telah berubah menjadi sosok yang berbeda, sosok yang mirip dengan Danzel... karena pengaruh Alice. Dia tidak lagi menjadi bagian dari kita"

Setelah mengatakan hal itu, Stella bergegas pergi dari sana dengan perasaan kecewa. Namun, Megan segera menyusulnya,

"Dengar, Stella. Jangan khawatir," ucap Megan dengan suara yang lebih rendah dan meyakinkan. "Kita masih bisa membujuk Rey."

Stella berhenti, menoleh ke arah Megan dengan penuh keraguan. "Membujuk? Kau pikir itu akan mudah? Tidak Megan. Kita tidak punya cara untuk membujuknya. Rey sudah berbeda."

Megan menghela napas, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut namun menusuk. "Kau mencintai Rey, kan?"

Stella tersentak, wajahnya seketika memucat. "A-apa maksudmu? Aku tidak—"

"Stella, aku dan Mike sudah lama tahu," potong Megan tanpa ragu. "Kita sudah berteman cukup lama untuk mengenal satu sama lain. Kau tidak perlu bersembunyi dariku. Aku bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana kau selalu memperhatikannya dan mengkhawatirkan nya."

Stella terdiam, tak mampu berkata-kata.

"Kau mencintainya, Stella. Dan mungkin itulah satu-satunya cara kita bisa membujuknya. Rey mungkin sudah berubah, tapi jika kau mengungkapkan perasaanmu kepadanya, bisa saja Rey akan luluh dan mau mendengarkan mu."

"Aku tidak yakin, jika Rey juga memiliki perasaan yang sama denganku."

"Ayolah Stella, kita yakin Rey juga menyukaimu."imbuh Mike yang juga menghampiri Stella 

Stella terdiam selama beberapa saat, hingga akhirnya."hmm baiklah, aku akan mencobanya."

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!