NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu yang Turun Sebelum Waktunya

Langit di atas lereng selatan Merapi seharusnya biru cerah di siang hari seperti ini. Namun, saat Sekar keluar dari lembah sungai Opak, yang menyambutnya adalah senja buatan. Matahari tertutup tirai asap tebal yang membumbung dari kawah gunung. Tapi ini bukan asap letusan biasa. Warnanya bukan kelabu vulkanik, melainkan putih susu yang pekat—uap air asin yang mendidih di perut bumi.

Sekar berlari kecil menyusuri jalan aspal yang menanjak menuju Kaliurang. Napasnya mulai berat. Udara di sini tipis, dan bau belerang yang biasanya khas kini bercampur dengan bau garam yang menyengat. Rasanya seperti menghirup udara di dalam panci presto yang sedang merebus ikan asin.

Tidak ada kendaraan yang melintas. Jalanan kosong melompong. Warung-warung kopi dan jadah tempe di pinggir jalan sudah ditinggalkan pemiliknya dengan terburu-buru. Pintu-pintu terbuka lebar, membiarkan angin gunung yang dingin menghempaskan taplak meja plastik.

"Permisi..." bisik Sekar saat ia berhenti sejenak di depan sebuah warung kelontong yang kosong untuk mengambil sebotol air mineral. Ia meletakkan selembar uang lima ribu di meja kasir yang berdebu. "Maaf ya, Bu, saya ambil satu. Haus sekali."

Saat ia meneguk air itu, ia baru sadar betapa kering tenggorokannya. Tapi air itu tidak memuaskan dahaganya. Lidahnya terasa pahit. Abu vulkanik mulai turun rintik-rintik, menempel di kulitnya yang berkeringat, menciptakan lapisan lumpur tipis yang gatal.

Tiba-tiba, tanah berguncang lagi.

GRRMM...

Kali ini guncangannya panjang dan bergelombang. Sekar berpegangan pada tiang kayu warung. Botol-botol saus di rak berjatuhan, pecah berantakan di lantai.

Di kejauhan, dari arah hutan pinus di sebelah kanan jalan, terdengar suara gemeretak dahan patah. Bukan satu atau dua dahan, tapi seperti ada bulldozer yang sedang menerabas hutan.

Sekar menajamkan pandangannya. Kabut uap asin membatasi jarak pandang hanya sekitar sepuluh meter.

Dari balik kabut putih itu, muncul bayangan hitam besar.

Sekar menahan napas, mundur perlahan ke dalam bayang-bayang warung. Apakah itu pasukan berkuda Poseidon lagi?

Bayangan itu semakin dekat. Suara napasnya berat dan mendengus-dengus.

Bukan kuda.

Itu seekor sapi.

Sapi perah hitam putih khas daerah Kaliurang. Tapi kondisinya mengerikan. Kulitnya melepuh merah, seolah baru saja disiram air panas. Matanya buta, tertutup selaput putih. Sapi itu berjalan sempoyongan, menabrak pohon, bangkit lagi, lalu berjalan lagi dengan insting buta menuju ke arah bawah, menjauhi puncak.

Di belakang sapi itu, muncul sapi-sapi lain. Puluhan. Ratusan.

Kawanan ternak warga sedang melakukan eksodus massal. Mereka tidak digembalakan. Mereka lari sendiri. Suara keluh kesah hewan-hewan itu—lenguhan panjang yang menyayat hati—memenuhi udara.

Sekar terpaku melihat pemandangan menyedihkan itu. Hewan-hewan ini adalah korban pertama dari "rebusan" raksasa Poseidon. Uap panas yang keluar dari celah-celah tanah di atas sana pasti sudah mulai membakar kulit mereka.

"Kasihan..." gumam Sekar, matanya basah.

Salah satu sapi, seekor anak sapi yang kakinya pincang, ambruk tepat di depan warung tempat Sekar bersembunyi. Ia melenguh lemah, lidahnya menjulur keluar.

Sekar tidak tega. Ia mendekat, menuangkan sisa air mineral di botolnya ke mulut anak sapi itu.

"Minum, Le... minum..." bisik Sekar.

Anak sapi itu menjilat air di tangan Sekar, lalu kepalanya terkulai. Mati.

Sekar mengusap kepala hewan malang itu. Rasa sedih yang mendalam tiba-tiba berubah menjadi kemarahan. Kemarahan yang panas, sepanas cincin di jarinya yang tiba-tiba berdenyut kuat.

Poseidon tidak hanya menyerang manusia. Dia menyiksa makhluk-makhluk yang tidak berdosa. Dia merusak tatanan alam yang sudah berjalan harmonis selama berabad-abad di tanah ini.

"Kamu marah?"

Suara itu berat, serak, dan terdengar seperti gesekan dua batu kali.

Sekar tersentak, menoleh ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya rombongan sapi yang terus berjalan gontai menuruni bukit.

"Siapa di sana?" teriak Sekar, tangannya meraba saku, mencari selendang luriknya.

"Di atas sini, Cah Ayu."

Sekar mendongak.

Di dahan pohon pinus tua yang menjulang di seberang jalan, bertengger sosok yang membuat lutut Sekar lemas.

Makhluk itu berbadan manusia, tapi berkepala burung elang Jawa. Bulu-bulunya cokelat keemasan, jambulnya tegak angkuh. Ia tidak memakai baju, hanya kain poleng (kotak-kotak hitam putih) yang melilit pinggangnya. Di tangannya, ia memegang tombak pendek.

Garuda? Bukan. Ini Banaspati? Bukan juga.

Makhluk itu melompat turun. Gerakannya seringan kapas, mendarat tanpa suara di aspal. Tingginya hampir dua meter. Mata elangnya yang tajam menatap Sekar, lalu beralih ke cincin di jari Sekar.

"Abdi dalem Keraton rupanya," ucap makhluk itu. Paruhnya tidak bergerak saat bicara, suaranya langsung bergema di kepala Sekar. "Sudah lama sekali anak-anak dari dataran rendah tidak main ke sini. Biasanya kalian cuma kirim bunga dan doa."

"Siapa... Tuan?" tanya Sekar, berusaha sopan meski jantungnya mau meledak.

"Aku penjaga batas hutan utara," jawab makhluk itu. Ia berjalan mendekati bangkai anak sapi tadi, menyentuhnya dengan ujung tombak. "Kyai Rajawali, kalau kau butuh nama. Tapi nama tidak penting sekarang."

Kyai Rajawali menatap ke arah puncak gunung yang tertutup asap. "Gunung sedang demam tinggi. Cacing-cacing laut itu masuk lewat pembuluh darahnya, menyuntikkan racun garam. Kalau dibiarkan, Bapak Merapi akan batuk. Dan kalau Bapak batuk sekarang... uhuk... habis kita semua."

"Itu sebabnya saya ke sini, Kyai," kata Sekar cepat. "Gusti Pangeran Suryo mengutus saya. Saya harus... saya harus melakukan sesuatu."

"Melakukan apa?" Kyai Rajawali memiringkan kepalanya, gerakan khas burung yang aneh. "Kamu cuma manusia kecil. Kamu tidak punya api. Kamu tidak punya sayap. Apa yang bisa kamu lakukan melawan Dewa Asing itu?"

Sekar terdiam. Ia menatap tangannya yang kotor oleh debu dan air liur sapi. Apa yang bisa ia lakukan?

"Saya punya ini," Sekar mengangkat tangannya, menunjukkan cincin hijau itu. "Dan saya punya marah."

Kyai Rajawali menatap cincin itu lama. Lalu, perlahan, ia tertawa. Suara tawanya melengking seperti jeritan elang.

"Marah. Bagus. Marah itu bahan bakar. Tapi marah saja tidak cukup. Kamu butuh wadah."

Makhluk itu berbalik badan, memunggungi Sekar.

"Ikut aku. Jangan lambat. Hutan di atas sana sudah berubah. Pohon-pohonnya bukan lagi pohon pinus. Mereka sudah jadi karang."

Tanpa menunggu jawaban, Kyai Rajawali melesat lari menembus hutan, mendaki lereng terjal dengan kecepatan yang mustahil dikejar manusia biasa.

Tapi Sekar tidak punya pilihan. Ia mengencangkan ikatan jariknya, lalu berlari mengejar.

Saat mereka masuk semakin dalam ke hutan lindung, Sekar melihat apa yang dimaksud oleh sang penjaga.

Pohon-pohon pinus di sini... membatu. Kulit kayunya berubah menjadi tekstur kasar seperti batu karang laut. Daun-daun jarumnya menjadi keras dan tajam seperti duri landak laut. Dan di antara dahan-dahannya, bukan lumut yang tumbuh, melainkan anemon-anemon laut berwarna-warni yang melambai-lambai di udara kering, seolah mereka sedang berada di dalam air.

Hutan ini sedang tenggelam ke atmosfer laut purba.

"Jangan sentuh apapun!" peringatan Kyai Rajawali terdengar di kepala Sekar. "Anemon itu beracun. Sekali sentuh, kulitmu akan melepuh selamanya."

Sekar berlari zig-zag menghindari akar-akar pohon yang kini berbentuk seperti tentakel gurita raksasa yang menggeliat-geliat di tanah. Hutan ini hidup. Hutan ini bermusuhan.

Tiba-tiba, Kyai Rajawali berhenti mendadak di depan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik semak belukar—semak yang kini berubah menjadi rumput laut raksasa.

"Masuk," perintahnya.

"Ke dalam sana?" Sekar ragu. Gua itu gelap gulita dan menguarkan hawa panas.

"Itu satu-satunya jalan pintas menuju Bunker Kaliadem. Di sana, di titik tertinggi yang bisa dicapai manusia, 'jantung' serangan mereka berada," jelas Kyai Rajawali. "Mereka memasang pasak raksasa di sana untuk memompa air laut."

Sekar menelan ludah. Bunker Kaliadem. Tempat perlindungan dari awan panas yang kini justru menjadi pusat ancaman.

"Kamu tidak ikut, Kyai?"

Kyai Rajawali menggeleng. Ia mengangkat tombaknya, menunjuk ke langit.

Dari balik kabut asap putih, terlihat bayangan-bayangan bersayap turun. Bukan burung. Itu adalah makhluk-makhluk bersayap kulit seperti kelelawar, tapi berwajah wanita. Harpy. Pasukan udara Poseidon (atau mungkin pinjaman dari saudaranya, Hades).

"Tamu-tamu bersayap itu butuh sambutan," kata Kyai Rajawali, matanya berkilat ganas. "Pergilah, Cah Ayu. Jadilah kerikil yang menyumbat mesin mereka."

Dengan teriakan perang yang memekakkan telinga, Kyai Rajawali melompat ke udara, terbang menyongsong gerombolan Harpy yang menukik turun. Pertempuran udara pecah di atas kepala Sekar.

Sekar tidak membuang waktu. Ia menerobos masuk ke dalam gua gelap itu.

Di dalam, udara terasa sesak dan lembap. Dinding gua berlendir. Dan sayup-sayup, dari kedalaman lorong batu itu, Sekar mendengar suara... mesin?

Bukan. Itu bukan mesin. Itu suara detak jantung.

DUM... DUM... DUM...

Suara itu lambat, berat, dan basah. Seperti jantung raksasa yang dipaksa memompa cairan yang bukan darah.

Sekar meraba dinding gua, menggunakan cahaya redup dari cincinnya sebagai penerang. Ia berjalan menuju jantung kegelapan, menuju bunker di mana nasib Yogyakarta akan ditentukan.

Dan di dalam kegelapan itu, sepasang mata merah menyala mengawasinya dari langit-langit gua.

Seekor kepiting raksasa, penjaga lorong bawah tanah, sedang menunggu mangsanya lewat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!