Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Lomba Traktor
Malam di Sukamaju yang seharusnya menjadi ajang unjuk bakat internasional, kini resmi berubah menjadi ajang
Bersih-bersih massal Bau cat merah, aroma bensin dari mesin traktor Harun, dan bau sangit kabel terbakar menyatu dengan harum gorengan bakwan Bude Wati yang baru saja diangkat dari penggorengan.
Listrik memang sudah padam, namun bara persaingan di hati Koko Sen, Harun Dubai, dan Daren justru semakin membara. Di bawah temaram cahaya obor yang dipasang Jamal di sekeliling lapangan, suasana makan bersama itu terasa seperti gencatan senjata di medan perang meraih hati Jamila
Koko Sen duduk di atas bangku plastik sambil sibuk menggosok telapak tangannya yang masih berwarna merah jambu akibat cat semprot. Di sampingnya, Harun Dubai sedang meratapi jubah putihnya yang kini terlihat seperti warna-warni festival holi.
"Harun," bisik Koko Sen sambil melirik Jamila yang sedang asyik mengobrol dengan Daren di teras.
"Kita tidak bisa membiarkan si Bule itu menang hanya karena dia punya suara bariton dan tampang melankolis."
Harun Dubai mendengus, mencoba membersihkan sisa debu cat dari kumisnya.
"Aku setuju, Koko. Dia itu seperti pencuri di malam hari. Diam-diam menghanyutkan. Di Dubai, orang seperti dia sudah aku suruh jaga unta di tengah gurun."
"Besok," Koko Sen mencondongkan tubuhnya,
"Di perlombaan traktor tahunan Sukamaju, kita harus habisi dia. Aku punya traktor merek Naga Sakti yang sudah aku modifikasi pakai knalpot racing toko bangunanku."
Harun tersenyum licik.
"Modifikasi lokalmu tidak ada apa-apanya, Koko. Aku sudah menelepon asistenku di Dubai. Besok pagi, sebuah mesin turbin kecil akan tiba. Kita pasang di traktor sawah milik Mang Oded yang aku sewa. Kita namakan dia The Desert Storm."
Mereka berdua bersalaman, membentuk aliansi tidak suci demi menggulingkan dominasi Daren yang tampak terlalu sempurna di mata Jamila.
Dilema Daren dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Sementara itu, Daren sedang memetik gitar akustiknya pelan di dekat Jamila. Meskipun senarnya putus satu, melodi yang dihasilkan tetap terdengar magis.
"Maaf soal kekacauan tadi, Mil," ucap Daren rendah.
"Aku tidak menyangka sistem suaranya bisa mengeluarkan suara... lucu."
Jamila tertawa kecil, suara tawanya membuat jantung Daren berdegup lebih kencang daripada saat ia tampil di panggung tadi.
"Itu biasa di Sukamaju, Daren. Di sini, kalau tidak ada sabotase, namanya bukan hiburan. Tapi, jujur, suaramu tadi bagus sekali. Lagu itu... untuk siapa?"
Daren terdiam sejenak. Ia menatap langit Sukamaju yang penuh bintang.
"Untuk seseorang yang aku temukan di tempat yang tidak terduga. Seseorang yang membuatku ingin berhenti berkeliling dunia dan menetap di satu desa kecil yang nyaman."
Jamila tersipu. Namun, sebelum suasana menjadi semakin romantis, sebuah bayangan besar menutupi mereka. Engkong Malik berdiri di sana dengan sarung yang disampirkan di bahu dan wajah yang masih menyisakan bercak cat merah di ujung telinganya.
"Heh, Bule! Jangan cuma pintar nyanyi," tegur Engkong Malik tegas.
"Besok ada lomba membajak sawah. Kalau kamu laki-laki sejati, tunjukkan kalau kamu bisa mengurus tanah, bukan cuma mengurus senar gitar. Kalau kamu kalah sama Koko Sen atau si Harun Sorban itu, jangan harap bisa ngajak Jamila nonton layar tancap di kecamatan!"
Daren terpaku. Membajak sawah? Baginya, tanah adalah sesuatu yang ia lihat di majalah geografi, bukan sesuatu yang harus ia injak dengan kaki telanjang sambil mengendalikan mesin besar yang berisik.
Di sudut lain, Jerry sedang berada dalam misi hidup dan mati. Ia berhasil menggiring Kayla ke dekat pohon mangga, jauh dari kerumunan warga. Jerry merasa inilah saatnya ia menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar teknisi WiFi yang sering tersangkut jemuran.
"Kayla," ujar Jerry dengan suara yang dibuat seberat mungkin.
"Internet itu luas, tapi hatiku cuma seluas sinyal WiFi yang aku kunci pakai password nama kamu."
Kayla mengerjapkan mata, menahan tawa.
"Mas Jerry, gombalannya sudah basi. Tadi saja Mas Jerry jatuh gara-gara sarung Nyai Yati. Itu sinyal apa coba?"
"Itu sinyal... sinyal perlindungan!" bela Jerry panik.
"Aku sengaja jatuh supaya Nyai Yati tidak marah melihat anak-anak lari-larian. Aku berkorban, Kayla!"
Tiba-tiba, Cintya muncul dari balik kegelapan dengan membawa piring berisi bakwan.
"Oh, jadi pengorbanan ya, Mas? Terus pulsa yang kemarin Mas Jerry kirim ke aku itu maksudnya pulsanya nyasar atau gimana?"
Jerry berkeringat dingin.
"Itu... itu pulsa promo, Cintya! Beli satu gratis satu, nah yang gratisnya aku kasih ke kamu!"
"Halah! Dasar buaya WiFi!" seru Cintya sambil melengos pergi.
Kayla tertawa lepas melihat wajah Jerry yang pucat pasi.
"Sudahlah Mas Jerry, besok bantu aku saja di sawah. Siapa tahu Mas bisa bantu pasang pengusir burung otomatis pakai sensor gerak."
Mata Jerry berbinar.
"Siap, Nona Kayla! Apapun demi pertanian digital Sukamaju!"
Keanehan malam itu tidak berhenti di situ. Salina, yang tadi sempat kerasukan musik eksperimental di panggung, kini terlihat sedang melakukan ritual aneh di pinggir sungai dekat sawah. Arjuna, suaminya, mengikutinya dengan perasaan waswas.
"Sal, ayo pulang. Sudah malam. Anak-anak sudah tidur di rumah Nyai," bujuk Arjuna.
Salina tidak menjawab. Ia sedang menata batu-batu kali membentuk lingkaran.
"Jun, jangan ganggu. Aku sedang mencari inspirasi untuk lagu baru. Aku merasa suara katak di sawah ini punya harmoni yang belum dipahami dunia. Ini adalah musik Post-Sukamaju Core."
Arjuna memijat pelipisnya.
"Tapi kenapa harus pakai kostum daster rumbai-rumbai begitu, Sal? Orang lewat bisa jantungan dikira orang-orangan sawah."
"Ini fashion, Jun! Estetika penderitaan!" jawab Salina tegas.
Tiba-tiba, dari arah semak-semak, terdengar suara mesin yang menderu pelan. Salina dan Arjuna membeku. Terlihat dua sosok misterius sedang mendorong sesuatu yang ditutupi terpal hitam besar menuju gudang Mang Oded.
"Itu bukan Koko Sen sama Harun, kan?" bisik Arjuna.
"Mereka sedang menyiapkan senjata rahasianya untuk acara besok," gumam Salina.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan gagah di ufuk timur, menyinari hamparan sawah Sukamaju yang berlumpur. Warga sudah berkumpul di pematang sawah. Bau lumpur dan asap solar memenuhi udara.
Tiga traktor sudah berjejer di garis start.
Traktor Naga Sakti (Koko Sen): Dicat emas dengan stiker api di sampingnya. Knalpotnya mengeluarkan suara menggelegar yang membuat burung-burung pipit beterbangan ketakutan.
Traktor The Desert Storm (Harun Dubai): Terlihat sangat futuristik dengan tambahan pipa-pipa besi dan sebuah kipas turbin kecil yang diikat paksa di bagian belakang. Harun memakai kacamata hitam pilot dan sorban yang diikat kencang agar tidak terbang.
Traktor Klasik (Daren): Traktor tua milik Engkong Malik yang mesinnya harus diengkol sepuluh kali baru menyala. Daren memakai kaos oblong dan celana pendek, tampak siap meski terlihat canggung memegang tuas traktor.
Jamal berdiri di tengah dengan bendera kotak-kotak.
"Aturannya simpel! Siapa yang paling cepat membajak satu petak sawah ini sampai rata dan kembali ke garis finish, dia pemenangnya!"
"Ingat," bisik Koko Sen ke Harun.
"Saat di tikungan pertama, kita jepit si Bule."
Harun mengangguk.
"Aktifkan turbin di putaran kedua!"
"SATU... DUA... TIGA! JALAAAN!" teriak Jamal.
BREEEMMM! DOR! DOR!
Traktor Koko Sen melesat lebih dulu, menyemburkan lumpur ke arah penonton yang langsung membuat Bude Wati teriak karena gorengannya terkena cipratan. Harun Dubai menyusul di belakang, turbinnya mulai berputar mengeluarkan suara siulan tinggi seperti pesawat jet hendak lepas landas.
Daren tertinggal di belakang. Traktor tuanya batuk-batuk mengeluarkan asap hitam tebal.
"Ayo, Daren! Jangan mau kalah sama mesin rongsokan!" teriak Engkong Malik dari pinggir sawah sambil mengacungkan tongkatnya.
Di tengah sawah, drama dimulai. Koko Sen mencoba memotong jalan Daren dengan manuver tajam. Namun, karena knalpot racingnya terlalu berat, traktornya justru miring ke satu sisi.
"Harun! Sekarang!" teriak Koko Sen.
Harun menekan sebuah tombol merah di stangnya. WUUUUSSSHHH! Turbin kecilnya menyala. Traktor Harun melesat gila-gilaan, namun karena tenaganya terlalu besar dan lumpurnya terlalu lembek, traktor itu bukannya maju malah berputar di tempat seperti gasing raksasa.
"Aaaaaah! Aku pusing! Gurun pasir berputar!" teriak Harun Dubai yang mulai kehilangan arah.
Lumpur dari traktor Harun menyemprot ke segala arah, mengenai Koko Sen yang sedang berusaha menyeimbangkan traktornya. Kini Koko Sen benar-benar mandi lumpur, tidak ada lagi warna emas di traktor maupun bajunya.
Daren, dengan ketenangan seorang pengembara, melihat celah. Ia tidak terburu-buru. Ia mengikuti alur tanah yang paling padat. Perlahan tapi pasti, traktor tuanya melewati Harun yang masih berputar-putar dan Koko Sen yang sedang sibuk membersihkan matanya dari lumpur.
Namun, kejutan sesungguhnya datang dari arah samping.
Sesosok traktor mini yang digerakkan oleh remote kontrol meluncur dengan lincah di antara mereka. Itu adalah traktor rakitan Jerry!
"Lihat ini! Pertanian presisi!" seru Jerry dari pinggir sawah sambil memegang remote kontrol canggih. Traktor mini itu membajak dengan sangat rapi dan cepat.
"Heh, Jerry! Itu curang! Itu bukan traktor, itu mainan!" teriak Jamal.
Tiba-tiba, traktor Jerry menabrak batu besar dan melontar ke udara, mendarat tepat di atas jubah Harun Dubai yang sedang berputar.
GUBRAK!
Kekacauan total terjadi. Harun terjatuh dari traktornya ke dalam lumpur sedalam paha. Koko Sen terperosok ke selokan irigasi karena silau terkena pantulan matahari dari kacamata Harun yang terbang.
Daren sampai di garis finish dengan wajah tenang, meski bajunya penuh bintik lumpur. Ia turun dari traktor dan menghampiri Jamila yang berdiri terpaku.
"Sepertinya," ucap Daren sambil mengatur napas,
"Tanah Sukamaju lebih ramah padaku daripada mesin-mesin canggih mereka."
Engkong Malik mendekat, memeriksa hasil bajakan Daren.
"Rapi. Lambat, tapi rapi. Kamu lulus ujian pertama, Bule."
Jamila tersenyum, memberikan segelas teh manis hangat kepada Daren.