NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilih Dosa

Junia tak pernah membayangkan hidupnya akan berada pada titik itu. Setelah dipecat dari toko pakaian dan dituduh mencuri, ia berkali-kali mencoba mencari pekerjaan lain. Ia mendatangi warung, toko kecil, laundry, tempat fotokopi, kios pulsa, hingga beberapa restoran cepat saji.

“Maaf, Nak… toko Ibu sudah punya karyawan,” ucap seorang ibu penjaga warung sambil menggeleng pelan.

Junia hanya tersenyum, menahan getir. Ia memeluk tas kecilnya dan berjalan menyusuri trotoar kota itu tanpa arah. Sore semakin redup. Uang pemberian Om Handi sudah menipis. Gaji dari kerja sebelumnya pun tidak banyak. Untuk makan sehari-hari saja sudah menjadi perjuangan, apalagi untuk hidup.

Malam itu, Junia duduk di halte. Lampu jalan menyala pucat. Mobil-mobil melintas seperti dunia yang tidak peduli. Ia meletakkan dagunya di lutut sambil menahan dingin yang menusuk.

Dari kejauhan, seorang wanita memakai lipstik merah dan mantel tipis berdiri sambil menghisap rokok. Wanita itu memperhatikan Junia cukup lama sebelum mendekat.

“Kamu dari tadi di sini?” tanyanya.

Junia mengangguk pelan. “Iya, Tante.”

Si wanita menghembuskan asap rokoknya. “Kamu kerja di mana?”

“Sudah nggak kerja.”

“Hm…” wanita itu memperhatikan penampilan Junia dari atas ke bawah. “Cantik. Matamu bagus. Kulitmu juga bersih.”

Junia terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu tinggal di mana?” tanya wanita itu lagi.

“Saya punya rumah kecil di dekat sini,” jelas Junia.

“Kamu sedang cari kerja?” tanyanya memastikan.

“Kok tau, Tante?” tanya Junia heran.

Wanita itu tertawa kecil lalu menunjuk map cokelat yang Junia pegang. “Bukannya itu surat lamaran kerja?” tanyanya.

Junia tersenyum canggung lalu mengangguk pelan. “Iya Tante…” jawabnya.

Wanita itu mengangguk pelan seolah sudah memahami segalanya. Lalu tanpa basa-basi ia duduk di samping Junia, “Kalau kamu butuh uang, Tante bisa bantu.”

Junia mengangkat wajahnya cepat. “Bantu gimana?”

Wanita itu tidak menjawab langsung. Ia menarik napas, “Ada pria-pria kaya yang suka perempuan muda. Mereka bayar mahal. Kamu cantik, kamu masih muda… kamu bisa dapat uang banyak dan kamu bisa hidup enak,” ucap wanita itu lembut.

Junia membeku. Ia tahu ke mana percakapan itu menuju.

“Aku… bukan perempuan kayak gitu, Tante,” jawab Junia lirih.

Wanita itu hanya tersenyum tipis. “Tidak ada perempuan yang lahir untuk ‘kayak gitu’, Nak. Kadang hidup yang memaksa.” Ia membuang puntung rokoknya, “Kalau kamu berubah pikiran, Tante ada di sini.” Ia menyerahkan kartu nama miliknya di tangan Junia.

Wanita itu pergi, meninggalkan Junia sendiri di halte itu dengan pikiran yang semakin gelap.

 

Hari-hari setelahnya justru semakin berat. Junia mencoba lagi mencari pekerjaan, tapi nihil. Ia sempat bekerja sebagai pengangkut barang di pasar. Namun uang itu hanya cukup untuk menunda lapar saja.

Sejak subuh, tubuh kecil Junia sudah menyelinap di antara lorong-lorong pasar. Tangannya dipenuhi belanjaan milik para pembeli. Upahnya tidak seberapa—hanya lima ribu sampai sepuluh ribu sekali angkut, tapi cukup untuk membuat perutnya tidak melilit saat malam datang.

Junia tampak keberatan membawa barang belanjaan itu. Sementara di depannya seorang wanita berpakaian modis, melangkah dengan santai menuju ke mobilnya. Namun tiba-tiba saja Junia jatuh terpeleset karena lantai yang sedikit licin oleh sisa hujan dan sampah sayur.

“Hei, kamu nggak apa-apa?” wanita itu tampak panik saat melihat Junia. Namun rasa paniknya berubah saat melihat sebuah kotak yang jelas bukan dari pedagang pasar. Kotak itu baru saja dibeli dari showroom barang kolektor di pusat kota, tapi ikut diletakkan bersama barang pasar karena terburu-buru.

Kotak itu terlepas dan menghantam lantai dengan suara tumpul dan dalam. Kotak itu jatuh, satu sudutnya menghantam beton dengan benturan keras. Sudut tutupnya membuka sedikit, memperlihatkan sekilas kilau logam di dalamnya.

“Astaga! Jam tangan suami saya!” ujar wanita itu panik. Sialnya ia melepas pelindung busa yang seharusnya bisa melindungi jam itu.

“Kamu menjatuhkan barang kolektor yang baru saya ambil pagi ini. Jam tangan edisi Swiss, jumlah produksinya terbatas. Harga satu unit… seratus dua puluh juta rupiah.”

Junia membulatkan matanya saat mendengar angka itu.

“Se-ra-tus du-a pu-luh ju-ta?” Junia tergagap.

“Iya. Dan saya nggak bisa memaklumi hal ini hanya karena kamu tidak mampu. Kamu paham maksud saya, kan?” tanya wanita itu.

“Jadi apa yang harus saya lakukan, Tante?” tanya Junia.

Kejadian itu membuat Junia harus mengganti rugi. Untung saja wanita itu mempercayai Junia tidak akan kabur dan akan bertanggung jawab. Tapi masalahnya adalah, ia tidak tau di mana mendapatkan uang sebanyak itu.

Junia menatap anak-anak membeli es krim di depan toko, matanya fokus pada lembar-lembar uang yang berpindah di tangan kasir. Dunia terasa begitu ringan untuk semua orang—kecuali dirinya.

Uang sepuluh ribu yang ia pegang hanya cukup untuk makan malam ini saja. Lalu bagaimana dengan esok dan seterusnya? Bagaimana dengan hutang ratusan juta yang ia miliki secara mendadak. Ia juga tidak berani kembali ke area pasar untuk meminta makanan pada Bude Dija, sebab ia yakin mereka pasti sudah tidak menyukainya.

Malam harinya Junia duduk di halte, seperti biasanya. Junia memang sering duduk di sana hanya untuk merenung. Namun kali ini wanita itu ada di sana lagi. Masih dengan mantel tipis, lipstik merah, dan rokok di sela jarinya.

“Biasanya dia nggak ada…” batin Junia saat melihat wanita itu.

“Kita ketemu lagi,” sapanya dengan senyuman tipisnya.

Junia tidak menjawab. Ia hanya duduk di samping wanita itu. Setelah beberapa lama, akhirnya ia membuka suara, “Tante… tawaran kemarin itu… masih ada?”

Wanita itu tidak langsung tersenyum. Tidak juga terlihat senang. Ia hanya menatap Junia lama sekali, seolah memastikan bahwa gadis itu benar-benar paham konsekuensinya.

“Kamu yakin?” tanyanya.

Junia menunduk. “Aku… nggak punya siapa-siapa lagi, Tante. Aku cuma butuh uang untuk bertahan hidup.”

“Tante paham kamu memilih pekerjaan ini bukan karena kamu ingin, tapi karena kamu membutuhkan uang,” ujar wanita itu. “Nanti suatu hari, kamu mungkin benci dirimu sendiri.”

Junia menggigit bibirnya. Air matanya jatuh begitu saja. “Aku butuh uang Tante, nggak sedikit.”

Wanita itu mengangguk pelan. “Baik. Mulai sekarang panggil saya Mami Geni. Ingat! Setelah masuk ke dalam dunia ini, kamu tidak bisa keluar dengan mudah.”

“Aku paham…” lirih Junia.

Junia berdiri, menenteng tas kecilnya. Setiap langkah terasa berat, seperti mengubur seseorang dirinya sendiri. Sejak malam itu, dimulailah hidup baru yang tidak pernah Junia bayangkan. Ia ingin menolak dan mencari cara lain untuk mendapatkan uang, namun ia tidak punya opsi lain.

“Ayah… Bunda… Maafin Jun. Mulai sekarang Junia putri kalian sudah tidak ada. Dia ikut mati bersama kalian dalam kecelakaan itu,” batin Junia.

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!